로그인
“Mau pakai?” tanya Mila disela-sela napasnya.
Pria itu menggelengkan kepala, melanjutkan gerakannya.
Mila merasa dirinya terjebak antara akal sehat dan ketakutannya untuk berontak. Dengan sekuat tenaga, Mila menutup pikirannya yang mulai bersaut-sautan.
Apartemen itu masih sunyi ketika semuanya selesai. Lampu kamar masih remang.
Mila duduk di ujung tempat tidur sambil merapikan bajunya. Tangannya bergerak lambat, seolah tubuhnya masih berusaha mencerna apa yang telah terjadi.
Di dekat jendela, seorang pria yang baru beberapa jam lalu dia kenal sedang menyalakan rokoknya dengan sangat santai.
Pria itu menoleh. Tatapan mereka bertemu sebentar sebelum dia mengambil ponselnya dari meja. Perlu beberapa detik sampai ponsel itu menampilkan menu yang diinginkannya.
“Nanti kapan-kapan gue booked lo lagi ya?”
Pertanyaan itu membuat Mila berhenti merapikan rambutnya.
“Oke,” jawab Mila singkat.
Pria itu menghisap rokoknya dalam-dalam. Jarinya mengetik sesuatu di ponselnya.
“Lumayan,” katanya santai. “Gue suka.”
Mila menatapnya lagi sebelum tangannya meraih tas kecilnya yang tergeletak di lantai dekat kaki kasur.
“Pastinya..” jawab Mila sambil meliriknya dan tersenyum penuh arti.
Pria itu tertawa kecil.
“Berarti kita ketemu lagi nanti.”
Mila hanya menjawabnya dengan anggukan. Ponsel di dalam tasnya terasa bergetar halus. Mila pun menarik keluar ponselnya, menatap layarnya. Notifikasi sejumlah nominal masuk.
“Thanks ya,” ujar Mila, mengangkat ponselnya sedikit.
Pria itu mengangguk kecil dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Mila menarik napas dalam-dalam, menyampirkan tasnya ke bahu, dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, dia melirik ruangan itu sekali lagi. Seprai yang kusut. Lampu ruangan yang redup. Pemandangan seperti itu akan dia lihat lagi nanti. Berkali-kali. Dengan orang yang berbeda, di kamar yang berbeda.
Tapi perasaan yang ada di dadanya malam itu… tidak akan pernah sama lagi.
Mila menahan semua gundah di hatinya dan berjalan dengan langkah panjang di lorong apartemen yang sepi. Tubuhnya yang lelah menunggu di depan lift yang akan membawanya turun.
Ketika pintu lift terbuka, cahaya putih dari dalamnya menyilaukan mata Mila sesaat. Dia menunduk, menunggu pintu itu menutup kembali.
Cahaya itu berkedip sebentar.
Sama seperti lampu neon yang berkedip di warung Mang Jeki malam itu. Malam ketika Mila pertama kali bertemu Hans.
***
Lampu neon warung Mang Jeki berkedip pelan.
Sudah lewat tengah malam, tapi warung kecil itu masih buka. Hanya ada dua meja yang terisi. Satu oleh seorang sopir ojek yang sedang menghabiskan nasi gorengnya, satu lagi oleh Mila.
Mila duduk setengah bersandar di kursi plastik sambil merokok. Matanya menatap ponsel di tangannya. Satu kaki dilipat ke kursi, satu lagi menggantung santai. Di hadapannya hanya ada segelas teh manis yang sudah tinggal setengah.
Mang Jeki sedang sibuk di belakang etalase ketika suara langkah kaki terdengar dari pintu masuk yang tidak ada pintunya.
“Mie kuah satu, Bang. Telor dua.”
Mang Jeki langsung menoleh.
“Oh, Bang Hans.”
Pria itu duduk di bangku kayu dekat etalase. Jaket hitamnya masih sedikit basah oleh sisa gerimis di luar.
Mila melirik sekilas. Awalnya hanya sekilas. Tapi pria itu juga menoleh lalu tatapan mereka mengunci. Mila menaikkan alis.
“Ngapain lo liat-liat?”
Pria itu tertawa kecil. “Galak amat.”
Mila hanya mendengus. Malas meladenin. Fokusnya kembali pada layar ponsel di tangannya. Lalu melirik sekilas ketika mang Jeki datang membawa mie yang kuahnya panas dan masih mengepul.
“Ini Bang.”
Hans mengangguk sambil mengambil sendok. Tapi matanya masih sesekali mengarah pada Mila.
“Lo kerja apa?” tanyanya tiba-tiba.
Mila terkekeh.
“Kenapa? Mau ngasih kerjaan?”
Hans meniup kuah mie sebelum menjawab.
“Mungkin.”
Mila menyipitkan mata, mulai tertarik. Karena selama ini dia hanya mengandalkan kerjaan serabutan yang ngga jelas pemasukannya. Sudah saatnya dia mencari sesuatu yang lebih jelas.
“Mungkin gimana?”
Hans akhirnya menatap Mila lekat-lekat.
“Lo mau duit banyak?”
Pertanyaan itu membuat Mila tertawa. “Yah, Bang.. itu mah ngga usah ditanya lagi.”
Hans mengangguk kecil. “Tapi ada harga yang harus lo bayar.”
Mila mematikan rokoknya di asbak. “Semua juga gitu.”
Hans tersenyum tipis.
“Bedanya…” Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.“…lo harus siap ngorbanin banyak hal.”
Mila tidak mundur, malah semakin penasaran, “Contohnya ?”
Hans menatapnya lagi sebelum merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Diletakkannya di meja Mila.
“Gue kasih lo waktu untuk berpikir,” katanya, “Kalau sudah yakin, lo hubungi gue.”
Mila mengambil kartu itu. Membacanya pelan.
Hans.
Ketika Mila mengangkat kepalanya lagi, Hans sudah kembali fokus dengan makanannya. Sebenarnya Mila ingin bertanya lebih banyak namun entah kenapa ada sesuatu yang menahannya. Mila pun menyelipkan kartu itu di dalam dompetnya.
Saat itu, dia belum tahu.
Bahwa kartu kecil itu akan membuka pintu ke dunia yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.Alkohol.Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.“Mil,” panggilnya.Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.“Mil.”Kali ini tubuh Mila bergerak sedikit. Kepalanya bergeser dari sandaran sofa dan nyaris terkulai ke samping. Sebelum benar-benar kehilangan keseimbangan, tangan Riven sudah lebih dulu terangkat menahan bahunya.Hangat. Ringan. Dan terasa rapuh.Untuk sepersekian detik, Riven menyadari betapa mudahnya tubuh itu ia kendalikan. Refleks genggaman tangannya berubah menjadi lebih hati-hati.Mila mengerang pelan, matanya masih tertutup. Riven tidak langsung melepaskan bahunya. Baru setelah beberapa deti
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Memin
Terlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.Malam ini lo di-request Pak Hendra. Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.Andin sedang membantu
Bukan Mila namanya kalau ada tantanganngga dia tantangin. Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepimenjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada priaitu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanyafokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.Lampu jalan yang remang-remang munculsesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semaktinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, danderetan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?”tanya Mila tiba-tiba.Riven tidak langsung menoleh.“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”Mila mendengus. “Gue serius.”“Gue juga.”Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai k
Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugasextendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukanabsen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek onlineuntuk pulang.Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor.Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikitpucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Nohbelum kesapu."Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkantatapannya pada Mila, “dari mane lo?”“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk dikursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.Mila menoleh pada pon
Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya semingguhanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerimanotifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebihdari 1 slot.“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang seringbareng.Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedangmembereskan barang-barang di lockernya.Mila mengerutkan kening, “Tip?”Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanyaterbelakak.“Buset,” gumam Mila tipis.Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketikaToni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napasdalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batinMila.“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekanseruangannya untuk masuk.4 jam kali ini, Mila merasa s







