Share

BAB 2

Author: Svara Laksmi
last update publish date: 2026-02-26 12:05:17

Percakapan dengan Hans mengendap di benak Mila untuk beberapa hari. Mila sedang di tengah-tengah mencuci baju ketika terlintas keberanian di dalam hatinya. Diraihnya ponsel dari meja dekat kamar mandi lalu melangkah mengambil dompet dari tasnya. Jemarinya mengetik lalu menekan tombol kirim sebelum keberaniannya itu menguap.

Mila menatap ponselnya beberapa saat, menunggu balasan. Kakinya hampir melangkah ketika ponselnya bergetar.

Ok, jam 7 malam ya gue jemput di warung.

Senyumnya mengembang. Setelah membalas kembali pesan itu, Mila melanjutkan mencuci bajunya sambil bersenandung. Berharap ada perubahan yang lebih baik pada kehidupannya ini.

Sorenya, jam di warung Mang Jeki belum di angka 7 tapi Mila sudah siap. Mila perlu waktu lama untuk menentukan baju mana yang bisa dia pakai di antara koleksinya yang tidak seberapa itu.

Hans datang tepat waktu.

Mobil sedan putih berhenti di depan warung Mang Jeki dengan lampu depan yang masih menyala. Mila yang sedang duduk di bangku panjang langsung berdiri, berpamitan pada Jeki.

Hans keluar dari mobil. “Yuk.”

Mila meyakinkan hatinya sekali lagi sebelum melangkah ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa sunyi. Mobil itu meluncur pelan menuju jalan utama. Mila menatap keluar jendela. Lampu-lampu dari kendaraan yang lewat memantul di kaca mobil.

Hans melirik sekilas.

“Santai aja, Mil.”

Mila berdecak, “Ya gimana.. Lo juga misterius banget.”

Hans tertawa kecil lalu bertanya, “Mau dengerin musik ngga?”

Mila hanya mengangkat bahunya. Dengan satu tangan Hans meraih layar audio di dashboard mobilnya. Jemarinya menelusuri beberapa pilihan lagu sebelum akhirnya mengetuk salah satunya.

Beberapa detik kemudian alunan musik pelan memenuhi kabin mobil. Dentuman bass yang lembut mengalun dari speaker, diikuti suara vokal yang rendah dan santai.

Hans menaikkan volumenya sedikit. Tidak terlalu keras, cukup untuk mengisi keheningan di antara mereka.

Beberapa menit kemudian mereka berhenti di depan sebuah resto kecil yang tidak terlalu ramai. Suasananya hangat dengan lampu-lampu kuning diantara tanaman-tanaman di sekitarnya.

Setelah parkir, mereka pun melangkah masuk. Hans melayangkan pandangan sekilas dan memilih meja di sudut ruangan. Seorang pelayan datang membawa menu.

Hans melihat Mila, “Lo dulu.”

Mila membaca sekilas. “Spaghetti aja deh.”

Hans mengangguk pada pelayan.

“Sama. Dua.”

Setelah mencatat semua pesanan mereka, pelayan pun pergi. Hans menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Mila.

“Gini ya, Mil,” ujar Hans memulai pembicaraan, “Gue punya kenalan.”

“Tempatnya lagi buka lowongan.”

Mila terdiam, berpikir lalu bertanya, “Kerja apa?”

Hans tidak langsung menjawab.

“Tugas lo temenin tamu, ngobrol, minum, karaoke..bikin tamu happy..”

Mila mengerutkan kening.

“Lady Companion, Mil” jawab Hans melihat kebingungan Mila.

“Kerjanya.. cuma gitu?” tanya Mila dengan nada ragu.

Hans menarik napas dalam-dalam. “Awalnya.”

“Terus?” tanya Mila sambil memperhatikan wajah Hans.

Hans menatapnya lekat-lekat. “Kadang ada yang minta lebih.”

Mila terdiam sebentar. Potongan informasi itu tersusun di benaknya. Mata Mila sedikit menyipit ketika memastikan, “tidur bareng maksud lo?”

Hans menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat alisnya.

“Makanya gue bilang pikir dulu.”

Pelayan datang membawa makanan mereka. Piring diletakkan di meja. Aroma pasta hangat langsung memenuhi udara. Mila menatap makanannya beberapa detik sebelum kembali fokus pada Hans.

“Kenapa lo nawarin ini ke gue?”

Hans memutar garpunya di piring. “Karena lo cocok.”

Mila nyaris tertawa, “Ini gue harus tersinggung atau tersanjung ya?”

Sambil mengunyah pelan, Hans mengangkat bahunya. Senyuman tipis mengukir wajahnya.

“Ya anggap aja..jalan keluar?” katanya setelah menelan makanannya.

Mila kembali terdiam. Dia mulai makan perlahan, tapi pikirannya jelas tidak di piring itu.

Hans memperhatikannya sebentar.

“Gue nggak maksa, Mil.”

Mila mengangkat kepala.

“Kalau lo nggak mau, ya udah. Gue cuma kasih jalan.”

Beberapa detik mereka makan dalam diam.

Akhirnya Mila berkata, “Kalau gue mau?”

“Nanti gue kasih kontaknya,” jawab Hans seraya menghabiskan makanannya.

Mila mengangguk pelan.

Di dalam kepalanya, berbagai suara saling bersahutan.

***

 

Tak menunggu lama, beberapa hari setelah Mila menghubungi kontak yang diberikan Hans, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Tugas pertamanya. Mila membaca dengan cermat. Hadir di lokasi jam 6 sore.

Ketika Mila sampai di lokasi, tempat itu ramai. Mila menghampiri supervisornya Toni untuk absen lalu diarahkan ke sebuah ruangan yang lebih private. Mila tidak sendiri, ternyata ada dua rekannya yang juga ditugaskan bersamanya. Mila bersyukur dalam hati, setidaknya untuk awalan ini nasib baik masih berpihak padanya.

Mereka melewati orang-orang yang sedang menikmati live music, minum sambil bersenda gurau, pelayan berlalu lalang dengan sigap mengantar pesanan.

Toni membuka pintu ruangan dan menyapa tamu-tamu, “Silakan, pak Arman.”

Pak Arman tersenyum lebar menyambut, membentangkan kedua tangannya sambil berdiri, “Ini dia yang kita tunggu.”

Satu ruangan terbahak setuju. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung Pak Arman dan 2 temannya. Begitu Mila masuk, terasa lebih sejuk daripada ruangan di luar tadi. Satu layar TV besar sedang menampilkan video karaoke sesuai pilihan lagu mereka. Tapi tidak ada satupun yang sedang bernyanyi.

Setelah Toni beranjak pergi dan menutup pintu, Pak Arman memberi kode pada temannya untuk menurunkan cahaya lampu menjadi lebih remang. Lalu tangannya yang gemuk menarik pergelangan tangan Mila untuk duduk di sebelahnya. Mila melirik kedua rekannya yang sudah berpengalaman, mempelajari dengan cepat apa yang harus dilakukannya.

Mila pun segera menyesuaikan. Duduk berdekatan, membiarkan pinggulnya dirangkul, bahunya dibelai halus, rambutnya dimainkan. Awalnya Mila risih, namun membayangkan uang yang akan dia terima setelah 4 jam ini, Mila pun memasang senyuman terbaiknya. Memainkan matanya, memperhalus gerakan badannya, dan merespon apa yang dilakukan Pak Arman dengan santai.

Ketika wajah Pak Arman terlalu dekat dengan wajahnya sampai Mila bisa merasakan hembusan napas pria tua itu, Mila hanya diam. Mematung. Di sampingnya, rekannya hanya mengangguk, memberi kode untuk tidak menjauhkan diri.

Mila pun hanya memejam matanya, menahan perasaan malu bercampur keinginan berontak. 

Pak Arman menghirup napas dalam-dalam, "Kamu wangi sekali, Mila."

Mila hanya tersenyum, memaksa air matanya untuk kembali masuk. 

Ketika 4 jam terlama dalam hidupnya itu berlalu, Mila menghembuskan napas panjang. Ditatapnya uang yang masuk. Mila pun mendongak ke arah langit, entah harus berterima kasih atau memohon ampun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Mila   BAB 8

    Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.Alkohol.Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.“Mil,” panggilnya.Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.“Mil.”Kali ini tubuh Mila bergerak sedikit. Kepalanya bergeser dari sandaran sofa dan nyaris terkulai ke samping. Sebelum benar-benar kehilangan keseimbangan, tangan Riven sudah lebih dulu terangkat menahan bahunya.Hangat. Ringan. Dan terasa rapuh.Untuk sepersekian detik, Riven menyadari betapa mudahnya tubuh itu ia kendalikan. Refleks genggaman tangannya berubah menjadi lebih hati-hati.Mila mengerang pelan, matanya masih tertutup. Riven tidak langsung melepaskan bahunya. Baru setelah beberapa deti

  • Luka Mila   BAB 7

    Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Memin

  • Luka Mila   BAB 6

    Terlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.Malam ini lo di-request Pak Hendra. Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.Andin sedang membantu

  • Luka Mila   BAB 5

    Bukan Mila namanya kalau ada tantanganngga dia tantangin. Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepimenjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada priaitu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanyafokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.Lampu jalan yang remang-remang munculsesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semaktinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, danderetan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?”tanya Mila tiba-tiba.Riven tidak langsung menoleh.“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”Mila mendengus. “Gue serius.”“Gue juga.”Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai k

  • Luka Mila   BAB 4

    Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugasextendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukanabsen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek onlineuntuk pulang.Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor.Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikitpucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Nohbelum kesapu."Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkantatapannya pada Mila, “dari mane lo?”“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk dikursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.Mila menoleh pada pon

  • Luka Mila   BAB 3

    Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya semingguhanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerimanotifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebihdari 1 slot.“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang seringbareng.Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedangmembereskan barang-barang di lockernya.Mila mengerutkan kening, “Tip?”Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanyaterbelakak.“Buset,” gumam Mila tipis.Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketikaToni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napasdalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batinMila.“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekanseruangannya untuk masuk.4 jam kali ini, Mila merasa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status