LOGINPercakapan dengan Hans mengendap di benak Mila untuk beberapa hari. Mila sedang di tengah-tengah mencuci baju ketika terlintas keberanian di dalam hatinya. Diraihnya ponsel dari meja dekat kamar mandi lalu melangkah mengambil dompet dari tasnya. Jemarinya mengetik lalu menekan tombol kirim sebelum keberaniannya itu menguap.
Mila menatap ponselnya beberapa saat, menunggu balasan. Kakinya hampir melangkah ketika ponselnya bergetar.
Ok, jam 7 malam ya gue jemput di warung.
Senyumnya mengembang. Setelah membalas kembali pesan itu, Mila melanjutkan mencuci bajunya sambil bersenandung. Berharap ada perubahan yang lebih baik pada kehidupannya ini.
Sorenya, jam di warung Mang Jeki belum di angka 7 tapi Mila sudah siap. Mila perlu waktu lama untuk menentukan baju mana yang bisa dia pakai di antara koleksinya yang tidak seberapa itu.
Hans datang tepat waktu.
Mobil sedan putih berhenti di depan warung Mang Jeki dengan lampu depan yang masih menyala. Mila yang sedang duduk di bangku panjang langsung berdiri, berpamitan pada Jeki.
Hans keluar dari mobil. “Yuk.”
Mila meyakinkan hatinya sekali lagi sebelum melangkah ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa sunyi. Mobil itu meluncur pelan menuju jalan utama. Mila menatap keluar jendela. Lampu-lampu dari kendaraan yang lewat memantul di kaca mobil.
Hans melirik sekilas.
“Santai aja, Mil.”
Mila berdecak, “Ya gimana.. Lo juga misterius banget.”
Hans tertawa kecil lalu bertanya, “Mau dengerin musik ngga?”
Mila hanya mengangkat bahunya. Dengan satu tangan Hans meraih layar audio di dashboard mobilnya. Jemarinya menelusuri beberapa pilihan lagu sebelum akhirnya mengetuk salah satunya.
Beberapa detik kemudian alunan musik pelan memenuhi kabin mobil. Dentuman bass yang lembut mengalun dari speaker, diikuti suara vokal yang rendah dan santai.
Hans menaikkan volumenya sedikit. Tidak terlalu keras, cukup untuk mengisi keheningan di antara mereka.
Beberapa menit kemudian mereka berhenti di depan sebuah resto kecil yang tidak terlalu ramai. Suasananya hangat dengan lampu-lampu kuning diantara tanaman-tanaman di sekitarnya.
Setelah parkir, mereka pun melangkah masuk. Hans melayangkan pandangan sekilas dan memilih meja di sudut ruangan. Seorang pelayan datang membawa menu.
Hans melihat Mila, “Lo dulu.”
Mila membaca sekilas. “Spaghetti aja deh.”
Hans mengangguk pada pelayan.
“Sama. Dua.”
Setelah mencatat semua pesanan mereka, pelayan pun pergi. Hans menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Mila.
“Gini ya, Mil,” ujar Hans memulai pembicaraan, “Gue punya kenalan.”
“Tempatnya lagi buka lowongan.”
Mila terdiam, berpikir lalu bertanya, “Kerja apa?”
Hans tidak langsung menjawab.
“Tugas lo temenin tamu, ngobrol, minum, karaoke..bikin tamu happy..”
Mila mengerutkan kening.
“Lady Companion, Mil” jawab Hans melihat kebingungan Mila.
“Kerjanya.. cuma gitu?” tanya Mila dengan nada ragu.
Hans menarik napas dalam-dalam. “Awalnya.”
“Terus?” tanya Mila sambil memperhatikan wajah Hans.
Hans menatapnya lekat-lekat. “Kadang ada yang minta lebih.”
Mila terdiam sebentar. Potongan informasi itu tersusun di benaknya. Mata Mila sedikit menyipit ketika memastikan, “tidur bareng maksud lo?”
Hans menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat alisnya.
“Makanya gue bilang pikir dulu.”
Pelayan datang membawa makanan mereka. Piring diletakkan di meja. Aroma pasta hangat langsung memenuhi udara. Mila menatap makanannya beberapa detik sebelum kembali fokus pada Hans.
“Kenapa lo nawarin ini ke gue?”
Hans memutar garpunya di piring. “Karena lo cocok.”
Mila nyaris tertawa, “Ini gue harus tersinggung atau tersanjung ya?”
Sambil mengunyah pelan, Hans mengangkat bahunya. Senyuman tipis mengukir wajahnya.
“Ya anggap aja..jalan keluar?” katanya setelah menelan makanannya.
Mila kembali terdiam. Dia mulai makan perlahan, tapi pikirannya jelas tidak di piring itu.
Hans memperhatikannya sebentar.
“Gue nggak maksa, Mil. Awalnya emang berat, tapi lo akan terbiasa, semua orang juga begitu.”
Mila mengangkat kepala, mulai mempertimbangkan tawaran itu.
“Kalau lo nggak mau, ya udah. Gue cuma kasih jalan.”
Beberapa detik mereka makan dalam diam.
Akhirnya Mila berkata, “Kalau gue mau?”
“Nanti gue kasih kontaknya,” jawab Hans seraya menghabiskan makanannya.
Mila mengangguk pelan.
Di dalam kepalanya, berbagai suara saling bersahutan.
***
Tak menunggu lama, beberapa hari setelah Mila menghubungi kontak yang diberikan Hans, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Tugas pertamanya. Mila membaca dengan cermat. Hadir di lokasi jam 6 sore.
Ketika Mila sampai di lokasi, tempat itu ramai. Mila menghampiri supervisornya Toni untuk absen lalu diarahkan ke sebuah ruangan yang lebih private. Mila tidak sendiri, ternyata ada dua rekannya yang juga ditugaskan bersamanya. Mila bersyukur dalam hati, setidaknya untuk awalan ini nasib baik masih berpihak padanya.
Mereka melewati orang-orang yang sedang menikmati live music, minum sambil bersenda gurau, pelayan berlalu lalang dengan sigap mengantar pesanan.
Toni membuka pintu ruangan dan menyapa tamu-tamu, “Silakan, pak Arman.”
Pak Arman tersenyum lebar menyambut, membentangkan kedua tangannya sambil berdiri, “Ini dia yang kita tunggu.”
Satu ruangan terbahak setuju. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung Pak Arman dan 2 temannya. Begitu Mila masuk, terasa lebih sejuk daripada ruangan di luar tadi. Satu layar TV besar sedang menampilkan video karaoke sesuai pilihan lagu mereka. Tapi tidak ada satupun yang sedang bernyanyi.
Setelah Toni beranjak pergi dan menutup pintu, Pak Arman memberi kode pada temannya untuk menurunkan cahaya lampu menjadi lebih remang.
“Sini Mil, duduk dekat aku,” kata Pak Arman seraya menarik pergelangan tangan Mila.
Mila ingin sedikit bergeser ketika pahanya menyentuh paha pria itu. Tapi Pak Arman malah melingkarkan tangannya di pinggul Mila. Membuatya tidak bisa kemana-mana.
Pria itu bernyanyi dengan nada yang tidak beraturan, menyodorkan mikrofon ke depan mulut Mila. Mila berusaha mengikuti semuanya sambil tersenyum, memainkan perannya sebaik mungkin.
“Kamu wangi banget deh,” ujar pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke Mila dan menghirup napas dalam-dalam. Jemari pria itu menelusuri lengan Mila halus, membuat Mila sedikit bergidik. Rasanya ia ingin bergeser menjauh namun rekan kerjanya hanya mengangguk kecil, memberi kode padanya untuk merespon tamunya dengan manis.
Maka Mila pun tersenyum, menggerakan kepalanya seolah menyukai sentuhan itu.
“Kadang ada yang minta lebih.” Mila ingat ucapan Hans waktu itu.
Mila pun menelan rasa jengahnya dan membiarkan Pak Arman duduk semakin dekat dan tangannya semakin kemana-mana.
Ketika 4 jam terlama dalam hidupnya itu berlalu, Mila menghembuskan napas panjang. Ditatapnya uang yang masuk. Mila pun mendongak ke arah langit, entah harus berterima kasih atau memohon ampun. Malam itu, Mila berjalan pulang ke kost-an dengan pikiran lebih penuh daripada sebelumnya.
Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali
Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke
Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening
Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa
Mila tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyisir rambutnya dengan jari. Mencoba meredakan kegalauan di hatinya.“Lo selalu ngomong kayak semua ini gede banget,” gumamnya berusaha terdengar ringan. “Padahal mungkin nggak se-serius itu.”Hans tidak tersenyum. Ia hanya menatap Mila.“Kalau nggak serius,” katanya pelan, “…gue nggak akan repot jagain lo, Mil.”Mila memiringkan kepalanya, matanya menyipit meragukan ucapan Hans yang bersandar lagi di kursinya, seolah tidak peduli apakah Mila tetap menuntut jawabannya atau tidak.“Terserah lo,” kata pria itu santai.Mila mendengus.“Gue udah cape nebak-nebak,” jawabnya. “Mending lo kasih tau gue deh, Hans.”Hans tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Mila beberapa detik lebih lama, seolah memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.“Lo keras kepala juga ya,” gumamnya.Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Tatapannya turun ke arah tulang selangka Mila.“Tato ini bukan hiasan, Mil. Bukan ju
Pintu mobil tertutup di belakangnya. Mila melangkah cepat sampai di seberang jalan. Pikirannya kosong atau terlalu penuh, Mila sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia tidak punya rencana apapun mau berkata apa pada pria itu.Riven berdiri di depan minimarket, ponsel di tangannya. Jaket gelap yang ia pakai terlihat familiar. Seolah waktu tidak bergerak sejak terakhir kali mereka bertemu.Mila menahan napasnya menatap punggung pria itu sebelum membuka suara dan memaksa mulutnya memanggil nama itu.“Riv…”Riven menoleh lalu membalikkan badannya. Menatap Mila dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Mila dengan tindakannya.“Mil? Lo… Gue… tiba-tiba banget lo ada di sini?”Mila memaksakan tawa yang malah jadi terdengar aneh. “Gue liat lo, jadi pikir nyamperin aja.”Riven mengangguk. Tangannya menggenggam dua gelas kopi. Tatapan Mila turun pada gelas yang dipegang Riven. Ada dua.“Lo sendirian?” tanya Riven.Mila mengangguk lalu menggeleng, “Gue abis kerja…”Riven menatap Mila dengan tatapan
Mila berbaring dengan Alex di atas tubuhnya. Bibir pria itu menelusuri setiap jengkal lehernya sebelum bertemu dengan bibirnya. Gerakannya pasti, seolah tahu apa yang diinginkannya. Ciuman Alex semakin dalam, menuntut Mila untuk membalas gerakannya sebelum menariknya lebih dekat dan melepasnya tiba-
Kening Mila berkerut ketika ia membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya hanya ada satu baris tulisan tangan. Nomor telepon dan huruf R di bagian bawahnya. Mila menatap kertas itu beberapa detik.Lalu mendengus kecil. “Kurang kerjaan banget.”Namun perlahan, senyumnya merekah. Mila melipat kembali ke
“Coba Tir!!” pekik Mila. “Bilang sama gue, kalau lo ngga akan baper.”Sahabatnya itu, Tiara, menatap Mila dengan mata berbinar seolah dia sendiri yang mengalaminya. Siang itu, Mila sudah tidak sanggup lagi menahan semua gejolak dalam hatinya. Begitu mereka bertemu untuk makan siang bareng, Mila pun
Mobil hitam Riven melaju santai di jalanan utama yang mulai lengang. Langit malam tampak kelabu dengan awan yang menggantung rendah, membuat cahaya lampu kota terlihat lebih redup dari biasanya.Mila menoleh ke luar jendela.Deretan gedung perkantoran berdiri tinggi di sisi jalan. Sebagian lampunya







