Share

BAB 3

Author: Svara Laksmi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-26 12:07:13

Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya seminggu hanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerima notifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebih dari 1 slot.

“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang sering bareng.

Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedang membereskan barang-barang di lockernya.

Mila mengerutkan kening, “Tip?”

Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”

Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanya terbelakak.

“Buset,” gumam Mila tipis.

Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketika Toni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batin Mila.

“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekan seruangannya untuk masuk.

4 jam kali ini, Mila merasa sedikit lebih nyaman dari biasanya. Pria yang ditemaninya hampir sama umurnya dengan dia. Teman-temannya pun tidak terlalu rusuh. Tidak seperti pria-pria yang lebih tua dan terlalu tinggi omongannya. Rekan kerja Mila juga tampak menikmati sesi kali ini.

“Kalau mau extend, gimana ya?” tanya Noval pada Mila sambil menyodorkan ponselnya.

Mila mengerutkan kening, menoleh pada rekan kerjanya.

“Oh, klik ini saja,” kata rekannya membantu dengan sigap, “Sini aku bantu. Mau sama siapa?”

Noval menoleh pada temannya, “Mau lo?”

Temannya mengangguk sambil meneguk minumannya.

“Lo berdua, tapi kita nanti pisah ya,” kata Noval.

“Beres,” ujar rekannya, mengklik menu ini itu lalu menyerahkan ponsel kembali pada Noval.

4 jam berlalu. Lampu dinyalakan lebih terang. Botol-botol kosong dan piring-piring setengah kosong berserakan di meja.

“Extend, ya” kata Noval ketika Toni muncul di pintu untuk menutup sesi.

 “Yuk Mil, ganti baju,” ajak rekan kerja Mila sambil keluar ruangan.

Toni mengangguk lalu berbicara pada Noval dan temannya, menjelaskan detail dan membiarkan Mila dan rekannya untuk keluar ruangan menuju ruang locker.

Di ruangan locker, Andin sudah rapi. Bersiap pulang. ”Bareng nggak?” ajaknya.

“Extend, Ndin,” kata rekan kerja Mila sebelum bergegas untuk berganti baju.

Andin terkikik bersemangat lalu menghampiri Mila yang juga bergegas untuk ganti baju.

“Lo masih punya ini kan,” kata Andin, menunjukkan bungkusan kecil di tasnya.

Mila membelakakan mata, menggeleng. Andin memberikan miliknya beberapa bungkus sambil berkata, “bawa dulu aja punya gue.”

Jantung Mila serasa berhenti. Andin menatap Mila dalam-dalam. Lalu memegang kedua bahunya sambil lebih mendekat, berbisik pelan. “Lo belom pernah?”

Mila menggeleng pelan. Andin masih menatapnya, bingung harus berkata apa. Sempat terbersit rasa ragu pada hatinya, namun cepat ditepisnya dan membalas tatapan Andin.

“Ngga apa-apa, Ndin,” ujar Mila berusaha menguatkan diri, “Lo kan udah kasih gue ini.”

“Pakai kalau mereka mau,” pesan Andin masih berbisik sebelum kemudian memberikan bungkusan lain, “Minum ini kalau mereka ngga mau pakai.”

“Ya udah,” kata Andin sambil melambai pergi, “Kabarin gue ya kalau ada apa-apa.”

 Mila pun mengangguk, menyelesaikan touch up nya tepat ketika Toni datang untuk mengarahkan mereka kembali.

***

Noval mengemudikan mobilnya dengan santai sambil memimpin percakapan. Mila berusaha membuat tubuhnya santai. Hatinya mengucap kalimat-kalimat penguat diri sambil fokus merespon apa yang Noval bicarakan.

Pintu apartement Noval sedikit berdenyit ketika pria itu mendorongnya pelan lalu mempersilakan Mila masuk. Mila menyapu pandangannya pada apartemen tipe studio yang ditempati Noval. Sedikit berantakan namun masih lebih rapi daripada kamar kost-annya.

Noval membuka kulkas mininya, menyodorkan minuman kemasan botol pada Mila, “ini atau ini?”

Mila mengambil minuman pilihannya, membuka tutupnya yang masih tersegel lalu meminumnya sedikit. Novalpun melakukan hal yang sama pada minuman di tangan satunya.

“Kamar mandi di sana ya,” ujar Noval seraya meletakkan minumannya di meja.

Mila melangkah menuju kamar mandi, entah apa yang harus dia siapkan selain hatinya. Di hadapan cermin di dalam kamar mandi itu, Mila memejamkan matanya sebentar. Menguatkan hatinya sekali lagi lalu melangkah keluar. Mendapati Noval yang sudah merapikan kasurnya, menyalakan pendingin ruangan dan mengulurkan tangannya pada Mila. Alunan musik pelan terdengar mengisi ruangan.

“Tangan kamu dingin banget,” ujar Noval ketika tangan mereka bertaut, menarik Mila lembut ke pelukannya.

“Airnya dingin pas cuci tangan,” jawab Mila mencari alasan.

Padahal bukan itu.

Mila dapat merasakan detak jantungnya yang semakin kencang. Denyutnya seolah sampai ke ubun-ubun. Setiap tarikan napas terasa semakin sesak.

Noval meraih saklar lampu, menurunkan cahayanya sebelum menahan rahang Mila dengan tangannya, mencium pipinya sebelum pindah ke bibirnya, pelan, hati-hati. Seolah memberi kesempatan bagi Mila untuk mundur, jika ia mau.

Mila sempat ragu sepersekian detik sebelum akhirnya membalasnya pelan.

Ketika kepala Mila mendarat di bantal yang empuk, wangi pelembut kain tercium samar. Pendingin ruangan yang baru dinyalakan mulai membuat udara terasa lebih dingin.

Wajah Noval semakin mendekat, rambutnya sesekali menyentuh pipi Mila ketika dia menunduk. Ketika Mila menarik napas dalam-dalam, hidungnya bisa mencium aroma parfum yang dikenakan pria itu. Bibir Noval menyentuh leher Mila perlahan. Lalu menyesapnya semakin dalam, membuat napas Mila tertahan sejenak.

Ada rasa menggelitik di dalam perutnya ketika gerakan bibir pria itu sedikit kuat.

Perlahan Mila merasakan sentuhan tangan Noval merayap di balik bajunya, membelai kulitnya semakin ke atas lalu menyusup ke dalam branya.

“Ahhh,” desah Mila tanpa bisa ditahannya ketika sensasi aneh itu muncul begitu jari Noval menyentuh ujung-ujungnya.

Napas pria itu semakin memburu ketika mendengar desahan Mila. 

“Lo belum pernah ya, Mil?” bisik Noval di antara napasnya yang memburu.  Matanya menatap Mila, membuat ia semakin merasa aneh.

Mila menggigit bibir bawahnya, sedikit bingung mau menjawab apa.

“Rasanya beda,” ujar Noval lagi sambil mengusap buah dada Mila dan mendaratkan bibirnya. Mila pun kembali mengerang pelan dan meliukkan punggungnya. Sentuhan pria itu membuat jari-jari Mila berpindah berpegangan pada bahu Noval lalu bergerak ke kedua sisi wajah pria itu.

Mata Mila terpejam ketika perlahan satu per satu lembaran kain terlepas dari tubuhnya sehingga tak ada lagi sekat diantara mereka.

“Mau pakai?” tanya Mila disela-sela napasnya yang mulai tak beraturan.

Noval menggelengkan kepala, tangannya bergerak diantara kaki Mila, menemukan apa yang pria itu inginkan dan melanjutkan gerakannya.

Mila merasa dirinya terjebak antara akal sehat dan ketakutannya untuk berontak. Dengan sekuat tenaga, Mila menutup pikirannya yang mulai bersaut-sautan. 

Pria itu lalu menahan kedua tangan Mila ketika ia refleks mendorong tubuh Noval pelan.

“Relax aja, Mil” desisnya sambil perlahan mendorong masuk.

Napas Mila tercekat ketika sensasi yang baru pertama Mila rasakan, menjalar di bawah kulitnya sampai ke titik terujung syaraf-syarafnya. Tubuhnya tersentak. Sekali, dua kali, berkali-kali. 

Pada akhirnya Mila tidak punya pilihan selain menyesuaikan ritme-nya, membiarkan tubuhnya merespon pada tiap gerakannya. Disela suara erangan tertahan dan napasnya, Mila berusaha memusatkan pikirannya langit-langit kamar, bayangan siluet di tembok, dan kembali memejamkan mata sampai semuanya berakhir.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Luka Mila   BAB 92

    Dan benar saja.Di meja seberang sana, Riven sedang menatap lurus ke arahnya. Mila langsung menunduk dan jantungnya berdetak dengan cepat. Sial, umpatnya dalam hati.Kenapa harus ketemu di sini? Kenapa harus sekarang?“Kamu yakin ngga apa-apa?”Suara Adrian membuat Mila buru-buru menarik napas sebelum mengangguk kecil.“I’m okay.”Adrian terlihat belum sepenuhnya percaya, tapi pria itu tidak bertanya lagi. Ia kembali membahas isi presentasi sambil sesekali menunjukkan beberapa data di tabletnya.Mila mencoba fokus. Benar-benar mencoba. Namun percuma.Karena beberapa meja di seberang sana, keberadaan Riven terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Sesekali pria itu menoleh pada wanita di depannya. Mendengarkan. Menjawab seperlunya.Tapi beberapa kali pula, tanpa sengaja, mata mereka kembali bertemu. Dan setiap kali itu terjadi, Mila selalu jadi orang pertama yang mengalihkan pandangan.Aneh. Padahal yang salah bukan dia.Riven yang bilang akan menghubunginya begitu kembali dari luar kota.

  • Luka Mila   BAB 91

    Hari itu, Mila kembali menemani Adrian meeting dan seperti yang sudah ia duga, di hadapannya Hans dan Nadine duduk menatapnya tajam. Mila melirik Adrian yang tidak tahu apa-apa soal kegaduhan dalam hatinya. Pria itu sedang menjelaskan dengan serius tentang tahapan pekerjaan yang akan dilakukan oleh teamnya.“Selanjutnya akan dilanjutkan oleh Ibu Mila,” ujar Adrian seraya menyodorkan pointer.Mila mengambil pointer itu dari tangan Adrian lalu berdehem sejenak sebelum memulai presentasinya. Sekuat tenaga Mila berusaha tenang dan fokus. Awalnya suaranya sedikit pelan dan ragu namun perlahan semakin stabil.Sampai pada pertengahan, Mila menyorot sebuah garfik dengan pointernya. “Untuk fase awal, kita akan fokus di..”“Angkanya dari mana?”Suara Nadine memotong. Nadanya tidak keras, namun cukup untuk membuat kalimat Mila berhenti di tengah. Ruangan langsung terasa lebih sunyi.Mila menoleh. “Itu proyeksi dari data bulan sebelumnya…”“Bulan sebelumnya yang mana?” potong Nadine lagi, kali in

  • Luka Mila   BAB 90

    Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali

  • Luka Mila   BAB 89

    Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke

  • Luka Mila   BAB 88

    Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening

  • Luka Mila   BAB 87

    Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa

  • Luka Mila   BAB 21

    “Tapi jangan jauhin gue cuma karena lo pikir gue nggak akan ngerti kondisi lo, Mil.”Mila mendengus pelan setiap kalimat itu kembali terputar di kepalanya. Setelah berhari-hari mengendap, emosinya baru muncul. Apa iya pria itu akan ngerti? Akan menerima? Apa R

  • Luka Mila   BAB 19

    Mila tahu dia tidak bisa selalu berada di balik alasan “takut merepotkan” karena sudah jelas Riven berkata dia tidak masalah kalaupun direpotkan oleh Mila.Tapi semalam, Mila tidak mengabarkan pria itu jelas bukan karena takut merepotkan. Namun lebih ke memilih mengabaikannya d

  • Luka Mila   BAB 12

    Mila berbaring dengan Alex di atas tubuhnya. Bibir pria itu menelusuri setiap jengkal lehernya sebelum bertemu dengan bibirnya. Gerakannya pasti, seolah tahu apa yang diinginkannya. Ciuman Alex semakin dalam, menuntut Mila untuk membalas gerakannya sebelum menariknya lebih dekat dan melepasnya tiba-

  • Luka Mila   BAB 11

    Kening Mila berkerut ketika ia membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya hanya ada satu baris tulisan tangan. Nomor telepon dan huruf R di bagian bawahnya. Mila menatap kertas itu beberapa detik.Lalu mendengus kecil. “Kurang kerjaan banget.”Namun perlahan, senyumnya merekah. Mila melipat kembali ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status