LOGINSemakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya seminggu hanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerima notifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebih dari 1 slot.
“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang sering bareng.
Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedang membereskan barang-barang di lockernya.
Mila mengerutkan kening, “Tip?”
Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”
Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanya terbelakak.
“Buset,” gumam Mila tipis.
Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketika Toni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batin Mila.
“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekan seruangannya untuk masuk.
4 jam kali ini, Mila merasa sedikit lebih nyaman dari biasanya. Pria yang ditemaninya hampir sama umurnya dengan dia. Teman-temannya pun tidak terlalu rusuh. Tidak seperti pria-pria yang lebih tua dan terlalu tinggi omongannya. Rekan kerja Mila juga tampak menikmati sesi kali ini.
“Kalau mau extend, gimana ya?” tanya Noval pada Mila sambil menyodorkan ponselnya.
Mila mengerutkan kening, menoleh pada rekan kerjanya.
“Oh, klik ini saja,” kata rekannya membantu dengan sigap, “Sini aku bantu. Mau sama siapa?”
Noval menoleh pada temannya, “Mau lo?”
Temannya mengangguk sambil meneguk minumannya.
“Lo berdua, tapi kita nanti pisah ya,” kata Noval.
“Beres,” ujar rekannya, mengklik menu ini itu lalu menyerahkan ponsel kembali pada Noval.
4 jam berlalu. Lampu dinyalakan lebih terang. Botol-botol kosong dan piring-piring setengah kosong berserakan di meja.
“Extend, ya” kata Noval ketika Toni muncul di pintu untuk menutup sesi.
“Yuk Mil, ganti baju,” ajak rekan kerja Mila sambil keluar ruangan.
Toni mengangguk lalu berbicara pada Noval dan temannya, menjelaskan detail dan membiarkan Mila dan rekannya untuk keluar ruangan menuju ruang locker.
Di ruangan locker, Andin sudah rapi. Bersiap pulang. ”Bareng nggak?” ajaknya.
“Extend, Ndin,” kata rekan kerja Mila sebelum bergegas untuk berganti baju.
Andin terkikik bersemangat lalu menghampiri Mila yang juga bergegas untuk ganti baju.
“Lo masih punya ini kan,” kata Andin, menunjukkan bungkusan kecil di tasnya.
Mila membelakakan mata, menggeleng. Andin memberikan miliknya beberapa bungkus sambil berkata, “bawa dulu aja punya gue.”
Jantung Mila serasa berhenti. Andin menatap Mila dalam-dalam. Lalu memegang kedua bahunya sambil lebih mendekat, berbisik pelan. “Lo belom pernah?”
Mila menggeleng pelan. Andin masih menatapnya, bingung harus berkata apa. Sempat terbersit rasa ragu pada hatinya, namun cepat ditepisnya dan membalas tatapan Andin.
“Ngga apa-apa, Ndin,” ujar Mila berusaha menguatkan diri, “Lo kan udah kasih gue ini.”
“Pakai kalau mereka mau,” pesan Andin masih berbisik sebelum kemudian memberikan bungkusan lain, “Minum ini kalau mereka ngga mau pakai.”
“Ya udah,” kata Andin sambil melambai pergi, “Kabarin gue ya kalau ada apa-apa.”
Mila pun mengangguk, menyelesaikan touch up nya tepat ketika Toni datang untuk mengarahkan mereka kembali.
***
Noval mengemudikan mobilnya dengan santai sambil memimpin percakapan. Mila berusaha membuat tubuhnya santai. Hatinya mengucap kalimat-kalimat penguat diri sambil fokus merespon apa yang Noval bicarakan.
Pintu apartement Noval sedikit berdenyit ketika pria itu mendorongnya pelan lalu mempersilakan Mila masuk. Mila menyapu pandangannya pada apartemen tipe studio yang ditempati Noval. Sedikit berantakan namun masih lebih rapi daripada kamar kost-annya.
Noval membuka kulkas mininya, menyodorkan minuman kemasan botol pada Mila, “ini atau ini?”
Mila mengambil minuman pilihannya, membuka tutupnya yang masih tersegel lalu meminumnya sedikit. Novalpun melakukan hal yang sama pada minuman di tangan satunya.
“Kamar mandi di sana ya,” ujar Noval seraya meletakkan minumannya di meja.
Mila melangkah menuju kamar mandi, entah apa yang harus dia siapkan selain hatinya. Di hadapan cermin di dalam kamar mandi itu, Mila memejamkan matanya sebentar. Menguatkan hatinya sekali lagi lalu melangkah keluar. Mendapati Noval yang sudah merapikan kasurnya, menyalakan pendingin ruangan dan mengulurkan tangannya pada Mila. Alunan musik pelan terdengar mengisi ruangan.
“Tangan kamu dingin banget,” ujar Noval ketika tangan mereka bertaut, menarik Mila lembut ke pelukannya.
“Airnya dingin pas cuci tangan,” jawab Mila mencari alasan.
Padahal bukan itu.
Mila dapat merasakan detak jantungnya yang semakin kencang. Denyutnya seolah sampai ke ubun-ubun. Setiap tarikan napas terasa semakin sesak.
Noval meraih saklar lampu, menurunkan cahayanya sebelum menahan rahang Mila dengan tangannya, mencium pipinya sebelum pindah ke bibirnya, pelan, hati-hati. Seolah memberi kesempatan bagi Mila untuk mundur, jika ia mau.
Mila sempat ragu sepersekian detik sebelum akhirnya membalasnya pelan.
Ketika kepala Mila mendarat di bantal yang empuk, wangi pelembut kain tercium samar. Pendingin ruangan yang baru dinyalakan mulai membuat udara terasa lebih dingin.
Wajah Noval semakin mendekat, rambutnya sesekali menyentuh pipi Mila ketika dia menunduk. Ketika Mila menarik napas dalam-dalam, hidungnya bisa mencium aroma parfum yang dikenakan pria itu. Bibir Noval menyentuh leher Mila perlahan. Lalu menyesapnya semakin dalam, membuat napas Mila tertahan sejenak.
Ada rasa menggelitik di dalam perutnya ketika gerakan bibir pria itu sedikit kuat.
Perlahan Mila merasakan sentuhan tangan Noval merayap di balik bajunya, membelai kulitnya semakin ke atas lalu menyusup ke dalam branya.
“Ahhh,” desah Mila tanpa bisa ditahannya ketika sensasi aneh itu muncul begitu jari Noval menyentuh ujung-ujungnya.
Napas pria itu semakin memburu ketika mendengar desahan Mila.
“Lo belum pernah ya, Mil?” bisik Noval di antara napasnya yang memburu. Matanya menatap Mila, membuat ia semakin merasa aneh.
Mila menggigit bibir bawahnya, sedikit bingung mau menjawab apa.
“Rasanya beda,” ujar Noval lagi sambil mengusap buah dada Mila dan mendaratkan bibirnya. Mila pun kembali mengerang pelan dan meliukkan punggungnya. Sentuhan pria itu membuat jari-jari Mila berpindah berpegangan pada bahu Noval lalu bergerak ke kedua sisi wajah pria itu.
Mata Mila terpejam ketika perlahan satu per satu lembaran kain terlepas dari tubuhnya sehingga tak ada lagi sekat diantara mereka.
“Mau pakai?” tanya Mila disela-sela napasnya yang mulai tak beraturan.
Noval menggelengkan kepala, tangannya bergerak diantara kaki Mila, menemukan apa yang pria itu inginkan dan melanjutkan gerakannya.
Mila merasa dirinya terjebak antara akal sehat dan ketakutannya untuk berontak. Dengan sekuat tenaga, Mila menutup pikirannya yang mulai bersaut-sautan.
Pria itu lalu menahan kedua tangan Mila ketika ia refleks mendorong tubuh Noval pelan.
“Relax aja, Mil” desisnya sambil perlahan mendorong masuk.
Napas Mila tercekat ketika sensasi yang baru pertama Mila rasakan, menjalar di bawah kulitnya sampai ke titik terujung syaraf-syarafnya. Tubuhnya tersentak. Sekali, dua kali, berkali-kali.
Pada akhirnya Mila tidak punya pilihan selain menyesuaikan ritme-nya, membiarkan tubuhnya merespon pada tiap gerakannya. Disela suara erangan tertahan dan napasnya, Mila berusaha memusatkan pikirannya langit-langit kamar, bayangan siluet di tembok, dan kembali memejamkan mata sampai semuanya berakhir.
Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali
Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke
Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening
Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa
Mila tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyisir rambutnya dengan jari. Mencoba meredakan kegalauan di hatinya.“Lo selalu ngomong kayak semua ini gede banget,” gumamnya berusaha terdengar ringan. “Padahal mungkin nggak se-serius itu.”Hans tidak tersenyum. Ia hanya menatap Mila.“Kalau nggak serius,” katanya pelan, “…gue nggak akan repot jagain lo, Mil.”Mila memiringkan kepalanya, matanya menyipit meragukan ucapan Hans yang bersandar lagi di kursinya, seolah tidak peduli apakah Mila tetap menuntut jawabannya atau tidak.“Terserah lo,” kata pria itu santai.Mila mendengus.“Gue udah cape nebak-nebak,” jawabnya. “Mending lo kasih tau gue deh, Hans.”Hans tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Mila beberapa detik lebih lama, seolah memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.“Lo keras kepala juga ya,” gumamnya.Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Tatapannya turun ke arah tulang selangka Mila.“Tato ini bukan hiasan, Mil. Bukan ju
Pintu mobil tertutup di belakangnya. Mila melangkah cepat sampai di seberang jalan. Pikirannya kosong atau terlalu penuh, Mila sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia tidak punya rencana apapun mau berkata apa pada pria itu.Riven berdiri di depan minimarket, ponsel di tangannya. Jaket gelap yang ia pakai terlihat familiar. Seolah waktu tidak bergerak sejak terakhir kali mereka bertemu.Mila menahan napasnya menatap punggung pria itu sebelum membuka suara dan memaksa mulutnya memanggil nama itu.“Riv…”Riven menoleh lalu membalikkan badannya. Menatap Mila dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Mila dengan tindakannya.“Mil? Lo… Gue… tiba-tiba banget lo ada di sini?”Mila memaksakan tawa yang malah jadi terdengar aneh. “Gue liat lo, jadi pikir nyamperin aja.”Riven mengangguk. Tangannya menggenggam dua gelas kopi. Tatapan Mila turun pada gelas yang dipegang Riven. Ada dua.“Lo sendirian?” tanya Riven.Mila mengangguk lalu menggeleng, “Gue abis kerja…”Riven menatap Mila dengan tatapan
Mila berbaring dengan Alex di atas tubuhnya. Bibir pria itu menelusuri setiap jengkal lehernya sebelum bertemu dengan bibirnya. Gerakannya pasti, seolah tahu apa yang diinginkannya. Ciuman Alex semakin dalam, menuntut Mila untuk membalas gerakannya sebelum menariknya lebih dekat dan melepasnya tiba-
Kening Mila berkerut ketika ia membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya hanya ada satu baris tulisan tangan. Nomor telepon dan huruf R di bagian bawahnya. Mila menatap kertas itu beberapa detik.Lalu mendengus kecil. “Kurang kerjaan banget.”Namun perlahan, senyumnya merekah. Mila melipat kembali ke
“Coba Tir!!” pekik Mila. “Bilang sama gue, kalau lo ngga akan baper.”Sahabatnya itu, Tiara, menatap Mila dengan mata berbinar seolah dia sendiri yang mengalaminya. Siang itu, Mila sudah tidak sanggup lagi menahan semua gejolak dalam hatinya. Begitu mereka bertemu untuk makan siang bareng, Mila pun
Mobil hitam Riven melaju santai di jalanan utama yang mulai lengang. Langit malam tampak kelabu dengan awan yang menggantung rendah, membuat cahaya lampu kota terlihat lebih redup dari biasanya.Mila menoleh ke luar jendela.Deretan gedung perkantoran berdiri tinggi di sisi jalan. Sebagian lampunya







