로그인Bukan Mila namanya kalau ada tantangan ngga dia tantangin.
Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepi menjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada pria itu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanya fokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.
Lampu jalan yang remang-remang muncul sesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semak tinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, dan deretan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.
“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?” tanya Mila tiba-tiba.
Riven tidak langsung menoleh.
“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”
Mila mendengus. “Gue serius.”
“Gue juga.”
Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.
“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”
“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”
“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai kesulitan untuk menyembunyikan rasa gelisahnya.
Riven hanya tertawa kecil.
Mobil akhirnya keluar dari jalan sempit itu dan berhenti di sebuah area parkir kecil di pinggir bukit. Tidak besar, hanya cukup untuk beberapa mobil. Ada warung kopi sederhana yang masih terang dan beberapa motor parkir di dekat pagar pembatas.
Seorang bapak dengan jaket tipis duduk di kursi plastik warung sambil menonton sesuatu di ponselnya. Asap dari gelas kopi panas naik perlahan di udara malam.
Di kejauhan, lampu kota membentang seperti lautan kuning keemasan. Mila membuka pintu mobil pelan. Angin malam langsung menyambut wajahnya.
Dia melangkah keluar, lalu berhenti.
“Wow.”
Riven menutup pintu mobil di sisi lain.
Mereka berjalan beberapa langkah menuju pagar pembatas yang menghadap ke kota.
Dari sana, seluruh kota terlihat seperti peta yang hidup. Jalan raya terlihat seperti garis cahaya panjang, mobil-mobil bergerak pelan seperti titik-titik kecil.
Mila menyandarkan siku di pagar.
“Ini spot lo?”
Riven berdiri di sampingnya, menjaga jarak seperti biasa.
“Iya.”
Mila menoleh padanya.
“Lo sering ke sini?”
“Kadang.”
Mila mengangguk, lalu kembali melihat ke arah kota. Angin malam membuat rambutnya sedikit berantakan.
“Bagus banget ya,” katanya akhirnya.
Riven tidak menjawab. Tapi senyum kecil muncul di sudut wajahnya, seolah puas melihat reaksi Mila. Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri di sana. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba Mila tidak dapat menahan tawanya.
“Kenapa?” tanya Riven melihat Mila cekikikan.
“Lucu ya,” kata Mila akhirnya.
“Apa?”
“Gue pikir tadi maksud lo itu spot yang lain.”
Riven menoleh sedikit.
“Yang lain?”
Mila menatapnya dengan ekspresi setengah menantang.
“Masa harus gue jelasin..”
Tak perlu lama, Riven ikut terbahak, “Lo dan pikiran kotor lo.”
“Lo dan kelakuan aneh lo..” balas Mila.
Riven menggeleng kecil sambil tersenyum.
Mila menoleh. Pria di sebelahnya itu tetap melihat ke arah lampu-lampu kota. Mila menatap bahu pria itu. Kepala Mila hanya setinggi bahunya. Rambut Riven sesekali menari kecil ditiup angin. Dari pinggir sih, lumayan.. batin Mila.
Tapi aneh. Biasanya pria yang membawanya keluar seperti ini selalu meminta lebih. Setidaknya berdiri dengan jarak dekat dan minimal menyentuh tangannya seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Riven tidak.
“Mil.”
“Hm?”
“Gue tau ini bakal kedengeran aneh.”
Mila tertawa kecil sambil sedikit memutar bola matanya. “Mulai lagi.”
“Waktu pertama kali gue liat lo,” kata Riven seolah tidak memperdulikan reaksi Mila. Pria itu menghela napas sebelum melanjutkan, “kayaknya gue langsung jatuh cinta sama lo.”
Kening Mila berkerut, matanya mengernyit. Terlalu sering dia menerima kalimat gombal yang serupa. Tapi entah kenapa, kali ini hatinya tidak langsung menepis.
“Lo bilang jatuh cinta sama gue?” ulang Mila memastikan. “Lo kenal gue berapa lama?”
“Belum ada setengah hari sih..”
Mila tertawa tidak percaya, “Lo serius?”
“Lo aja ngga sentuh gue dari tadi,” lanjut Mila, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Riven akhirnya menoleh pada Mila.
“Justru itu, Mil,” katanya, “Gue takut malah makin suka kalau gue nyentuh lo.”
Mila terdiam beberapa detik.
Angin malam lewat di antara mereka. Di kejauhan, sebuah pesawat melintas pelan, lampunya berkedip kecil di langit.
“Lo aneh ya,” kata Mila akhirnya.
Riven mengangguk, “memang.”
Mila tersenyum kecil, “Tapi spot lo lumayan.”
“Lumayan doang?”
Mila menunduk seraya menyingkirkan helaian rambutnya yang tertiup angin dan menyelipkannya di telinga.
“Untuk ukuran hampir dibunuh trus organ gue dijual sih, ini masih acceptable.”
Riven tertawa pelan, “Good to know.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Mila berdiri di samping seorang pria tanpa merasa sedang bekerja. Dia merasa menjadi seorang gadis semestinya, bukan perempuan “hina” yang bekerja di Lady Companion
Cinta Riven terasa tulus, meski Mila sendiri masih belum tahu apa Riven punya motif tersembunyi di baliknya.
Pun bagi Riven, Mila seharusnya sadar kalau dirinya ingin menyelamatkan Mila, apalagi Riven memiliki suatu rahasia yang mungkin Mila belum tahu, bahwa Mila adalah cinta pertama Riven, jauh sebelum pertemuan mereka ini.
Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.Alkohol.Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.“Mil,” panggilnya.Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.“Mil.”Kali ini tubuh Mila bergerak sedikit. Kepalanya bergeser dari sandaran sofa dan nyaris terkulai ke samping. Sebelum benar-benar kehilangan keseimbangan, tangan Riven sudah lebih dulu terangkat menahan bahunya.Hangat. Ringan. Dan terasa rapuh.Untuk sepersekian detik, Riven menyadari betapa mudahnya tubuh itu ia kendalikan. Refleks genggaman tangannya berubah menjadi lebih hati-hati.Mila mengerang pelan, matanya masih tertutup. Riven tidak langsung melepaskan bahunya. Baru setelah beberapa deti
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Memin
Terlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.Malam ini lo di-request Pak Hendra. Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.Andin sedang membantu
Bukan Mila namanya kalau ada tantanganngga dia tantangin. Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepimenjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada priaitu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanyafokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.Lampu jalan yang remang-remang munculsesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semaktinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, danderetan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?”tanya Mila tiba-tiba.Riven tidak langsung menoleh.“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”Mila mendengus. “Gue serius.”“Gue juga.”Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai k
Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugasextendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukanabsen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek onlineuntuk pulang.Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor.Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikitpucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Nohbelum kesapu."Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkantatapannya pada Mila, “dari mane lo?”“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk dikursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.Mila menoleh pada pon
Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya semingguhanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerimanotifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebihdari 1 slot.“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang seringbareng.Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedangmembereskan barang-barang di lockernya.Mila mengerutkan kening, “Tip?”Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanyaterbelakak.“Buset,” gumam Mila tipis.Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketikaToni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napasdalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batinMila.“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekanseruangannya untuk masuk.4 jam kali ini, Mila merasa s







