로그인Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugas extendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.
Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukan absen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek online untuk pulang.
Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor. Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.
“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikit pucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.
Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Noh belum kesapu."
Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkan tatapannya pada Mila, “dari mane lo?”
“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk di kursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.
“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.
Mila menoleh pada ponsel di tangannya, “Oiya, lupa gue”.
“Udah pergi kerja dia?”
Jeki mengangguk. Menunggu Mila untuk bercerita. Namun Mila terlalu lelah untuk membahas sesuatu yang justru ingin dia lewati tanpa benar-benar mengingat detailnya.
“Gue ngantuk, Jek,” pamit Mila, bangkit dari duduknya lalu melambai pada Jeki.
“Tar siangan kalau mau makan, ke warteg yak,” seru Jeki, “Ada udang balado noh."
“Mewah amat,” balas Mila sambil tersenyum lebar pada Jeki sebelum benar-benar melangkah menuju kost-annya.
Di tangannya, Mila membuka ponsel lalu memilih mode libur 3 hari pada aplikasi kerjanya. Kata “disetujui” muncul membuat Mila bisa menarik napas dalam-dalam.
Mila sendiri merasa, selama kerja menjadi Lady Companion, dia cukup tersiksa. Ada kalanya dia merasa senang, ada kalanya dia juga merasa hina. Namun, ada berbagai pengalaman unik yang mungkin baru pertama kali dirasakan oleh gadis itu.
Tiga bulan pertama bekerja di tempat itu terasa seperti kursus kilat tentang manusia.
Mila belajar bahwa tidak semua tamu datang dengan tujuan yang sama. Sebagian hanya ingin minum dan tertawa, sebagian ingin didengar, sebagian lagi datang membawa kesepian yang tidak mau mereka akui.
Di malam-malam awal, Mila masih merasa canggung.
Tangannya bergerak kaku ketika menuangkan minuman. Senyumnya terlalu dipaksakan. Kadang dia lupa harus menatap mata tamu atau malah terlalu lama menatap sampai membuat mereka salah paham.
Tapi di tempat seperti ini memaksa Mila belajar dengan cepat. Dalam hitungan minggu, Mila mulai mengerti ritmenya.
Ada tamu yang datang setiap Jumat malam, pria paruh baya dengan perut sedikit buncit dan jam tangan yang mahal. Dia selalu meminta Mila duduk di sebelahnya, lalu memesan minuman yang sama.
Tapi yang dia lakukan hanya satu.
“Dengerin gue bentar ya, Mil.”
Mila mengangguk.
Pria itu lalu mulai bercerita panjang tentang bisnisnya, tentang istrinya yang menurutnya tidak pernah mengerti pekerjaannya, tentang anaknya yang lebih memilih kuliah di luar negeri daripada meneruskan usahanya.
Mila hanya sesekali menyelipkan komentar.
“Iya ya, Pak.”
Atau, “Serius?”
Kadang pria itu bahkan lupa Mila ada di sana. Dia bercerita tanpa putus, mengeluarkan seluruh isi kepalanya. Ketika malam selesai, dia selalu memberi tip besar.
“Thanks ya, Mil. Lo enak diajak ngobrol.”
Mila hanya tersenyum. Dia tahu kadang seseorang sebenarnya hanya butuh didengar.
Banyak juga malam-malam yang lebih sulit. Pria yang terlalu banyak minum, terlalu banyak bicara, terlalu kasar, dan ada yang tangannya terlalu cepat bergerak. Yang memaksa, yang meminta lebih. Mila belajar mengelak dengan halus, mengganti topik perbincangan, mengalihkan perhatian, atau hanya tersenyum sambil berkata, “Pelan-pelan, Pak.”
Setiap malam seperti permainan membaca orang. Siapa yang aman. Siapa yang harus dijaga jaraknya. Siapa yang sebaiknya dihindari.
Perlahan Mila mulai menguasainya.
banyak omong, banyak tingkah, banyak mau.
Ketika Mila masuk ke ruangan itu bersama Toni, Riven langsung menoleh.
Tatapannya mengunci, lama.
Mila berjalan mendekat lalu menyapanya seperti dia menyapa tamu-tamu lain, “Halo..”
Riven berdiri sedikit dari sofa. Sopan. Di belakang, Toni keluar meninggalkan mereka dan menutup pintu pelan.
“Riven.”
“Mila.”
Biasanya setelah itu tamu akan langsung menyuruh duduk dekat mereka. Tapi Riven malah menunjuk kursi di seberangnya.
“Duduk sana aja.”
Mila duduk.
Ada jarak hampir satu meter di antara mereka.
Riven menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Gue baru pertama ke sini.”
“Oh ya?”
Riven mengangguk.
“Kita bisa nyanyi bareng,” ujar Mila seraya bergerak mengambil remote dan berniat untuk menunjukkan list lagu.
Riven menggeleng, “It’s ok. Gue cuma mau ngobrol kok..”
Mila menghentikan gerakan tangannya yang sedang menekan tombol-tombol di remote lalu meletakkannya di meja.
“Ok, kalau itu yang lo mau..” katanya dengan nada pengertian.
Riven menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas dalam-dalam. Mila memperhatikan pria itu.
Dia tidak mencoba mendekat. Tidak meraih tangan Mila. Tidak menyentuhnya. Bahkan ketika Mila sengaja duduk sedikit lebih santai. Riven hanya menatapnya seolah mempelajari setiap gerakannya.
“Lo punya spot favorit ngga?”
Mila harus berpikir ulang mendengar pertanyaan itu. Keningnya berkerut, takut salah tangkap.
“Spot?” Mila balik bertanya.
“Iya,” ulang Riven, “Kalau lo ke resto misalnya.. lo cenderung akan pilih spot paling pojok. Misal lo ke toilet yang sepi, lo akan pilih bilik paling pojok.. atau kalau lagi sumpek, lo pergi ke suatu tempat..”
Mila tertawa, “Oh, gue pikir spot.. apaan.”
Riven terdiam sesaat sebelum menyadari maksud Mila, lalu ikut tertawa.
“Ya kalau lo mau jawab spot itu juga ngga apa-apa,” katanya masih dengan sisa tawanya.
Diawali itu, mereka lalu mengobrol tentang banyak hal. Tentang musik, tempat makan, hidup di kota yang semuanya serba terburu-buru ini. Tanpa terasa sesinya pun selesai. Toni membuka pintu untuk memberi tanda waktu mereka hampir habis, Riven hanya mengangguk.
Dia berdiri, “Thanks ya.”
Mila juga berdiri, mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Next time, gue mau lo tau jawaban gue..” kata Riven.
Mila memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat. Lalu tertawa, “Oh, soal spot?”
Riven mengangguk sambil menerima secarik kertas bukti transaksi dari Toni yang sibuk merapikan bawaannya, mesin EDC, kertas-kertas, dan buku menu dari ruangan lain.
“Iya.”
“Ada menu extend loh, Riv.. nanti lo bisa tunjukin spot favorit lo ke gue,” goda Mila, mencoba memperpanjang waktunya.
Riven terdiam. Tampak berpikir. Jarinya mengusap keningnya lalu menoleh pada Mila dan berakhir pada Toni yang berdiri menunggu di ambang pintu.
“Extend deh,” kata Riven pada Toni seolah tidak memiliki pilihan lain.
Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.Alkohol.Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.“Mil,” panggilnya.Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.“Mil.”Kali ini tubuh Mila bergerak sedikit. Kepalanya bergeser dari sandaran sofa dan nyaris terkulai ke samping. Sebelum benar-benar kehilangan keseimbangan, tangan Riven sudah lebih dulu terangkat menahan bahunya.Hangat. Ringan. Dan terasa rapuh.Untuk sepersekian detik, Riven menyadari betapa mudahnya tubuh itu ia kendalikan. Refleks genggaman tangannya berubah menjadi lebih hati-hati.Mila mengerang pelan, matanya masih tertutup. Riven tidak langsung melepaskan bahunya. Baru setelah beberapa deti
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Memin
Terlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.Malam ini lo di-request Pak Hendra. Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.Andin sedang membantu
Bukan Mila namanya kalau ada tantanganngga dia tantangin. Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepimenjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada priaitu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanyafokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.Lampu jalan yang remang-remang munculsesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semaktinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, danderetan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?”tanya Mila tiba-tiba.Riven tidak langsung menoleh.“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”Mila mendengus. “Gue serius.”“Gue juga.”Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai k
Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugasextendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukanabsen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek onlineuntuk pulang.Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor.Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikitpucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Nohbelum kesapu."Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkantatapannya pada Mila, “dari mane lo?”“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk dikursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.Mila menoleh pada pon
Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya semingguhanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerimanotifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebihdari 1 slot.“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang seringbareng.Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedangmembereskan barang-barang di lockernya.Mila mengerutkan kening, “Tip?”Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanyaterbelakak.“Buset,” gumam Mila tipis.Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketikaToni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napasdalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batinMila.“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekanseruangannya untuk masuk.4 jam kali ini, Mila merasa s







