Share

BAB 4

Author: Svara Laksmi
last update publish date: 2026-02-26 12:17:28

Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugas extendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.

Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukan absen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek online untuk pulang.

Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor. Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.

“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikit pucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.

Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Noh belum kesapu."

Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkan tatapannya pada Mila, “dari mane lo?”

“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk di kursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.

“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.

Mila menoleh pada ponsel di tangannya, “Oiya, lupa gue”.

“Udah pergi kerja dia?”

Jeki mengangguk. Menunggu Mila untuk bercerita. Namun Mila terlalu lelah untuk membahas sesuatu yang justru ingin dia lewati tanpa benar-benar mengingat detailnya.

“Gue ngantuk, Jek,” pamit Mila, bangkit dari duduknya lalu melambai pada Jeki.

“Tar siangan kalau mau makan, ke warteg yak,” seru Jeki, “Ada udang balado noh."

“Mewah amat,” balas Mila sambil tersenyum lebar pada Jeki sebelum benar-benar melangkah menuju kost-annya.

Di tangannya, Mila membuka ponsel lalu memilih mode libur 3 hari pada aplikasi kerjanya. Kata “disetujui” muncul membuat Mila bisa menarik napas dalam-dalam.

Mila sendiri merasa, selama kerja menjadi Lady Companion, dia cukup tersiksa. Ada kalanya dia merasa senang, ada kalanya dia juga merasa hina. Namun, ada berbagai pengalaman unik yang mungkin baru pertama kali dirasakan oleh gadis itu.

Tiga bulan pertama bekerja di tempat itu terasa seperti kursus kilat tentang manusia.

Mila belajar bahwa tidak semua tamu datang dengan tujuan yang sama. Sebagian hanya ingin minum dan tertawa, sebagian ingin didengar, sebagian lagi datang membawa kesepian yang tidak mau mereka akui.

Di malam-malam awal, Mila masih merasa canggung.

Tangannya bergerak kaku ketika menuangkan minuman. Senyumnya terlalu dipaksakan. Kadang dia lupa harus menatap mata tamu atau malah terlalu lama menatap sampai membuat mereka salah paham.

Tapi di tempat seperti ini memaksa Mila belajar dengan cepat. Dalam hitungan minggu, Mila mulai mengerti ritmenya.

Ada tamu yang datang setiap Jumat malam, pria paruh baya dengan perut sedikit buncit dan jam tangan yang mahal. Dia selalu meminta Mila duduk di sebelahnya, lalu memesan minuman yang sama.

Tapi yang dia lakukan hanya satu.

“Dengerin gue bentar ya, Mil.”

Mila mengangguk.

Pria itu lalu mulai bercerita panjang tentang bisnisnya, tentang istrinya yang menurutnya tidak pernah mengerti pekerjaannya, tentang anaknya yang lebih memilih kuliah di luar negeri daripada meneruskan usahanya.

Mila hanya sesekali menyelipkan komentar.

“Iya ya, Pak.”

Atau, “Serius?”

Kadang pria itu bahkan lupa Mila ada di sana. Dia bercerita tanpa putus, mengeluarkan seluruh isi kepalanya. Ketika malam selesai, dia selalu memberi tip besar.

“Thanks ya, Mil. Lo enak diajak ngobrol.”

Mila hanya tersenyum. Dia tahu kadang seseorang sebenarnya hanya butuh didengar.

Banyak juga malam-malam yang lebih sulit. Pria yang terlalu banyak minum, terlalu banyak bicara, terlalu kasar, dan ada yang tangannya terlalu cepat bergerak. Yang memaksa, yang meminta lebih. Mila belajar mengelak dengan halus, mengganti topik perbincangan, mengalihkan perhatian, atau hanya tersenyum sambil berkata, “Pelan-pelan, Pak.”

Setiap malam seperti permainan membaca orang. Siapa yang aman. Siapa yang harus dijaga jaraknya. Siapa yang sebaiknya dihindari.

Perlahan Mila mulai menguasainya.

banyak omong, banyak tingkah, banyak mau.

Ketika Mila masuk ke ruangan itu bersama Toni, Riven langsung menoleh.

Tatapannya mengunci, lama.

Mila berjalan mendekat lalu menyapanya seperti dia menyapa tamu-tamu lain, “Halo..”

Riven berdiri sedikit dari sofa. Sopan. Di belakang, Toni keluar meninggalkan mereka dan menutup pintu pelan.

“Riven.”

“Mila.”

Biasanya setelah itu tamu akan langsung menyuruh duduk dekat mereka. Tapi Riven malah menunjuk kursi di seberangnya.

“Duduk sana aja.”

Mila duduk.

Ada jarak hampir satu meter di antara mereka.

Riven menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Gue baru pertama ke sini.”

“Oh ya?”

Riven mengangguk.

“Kita bisa nyanyi bareng,” ujar Mila seraya bergerak mengambil remote dan berniat untuk menunjukkan list lagu.

Riven menggeleng, “It’s ok. Gue cuma mau ngobrol kok..”

Mila menghentikan gerakan tangannya yang sedang menekan tombol-tombol di remote lalu meletakkannya di meja.

“Ok, kalau itu yang lo mau..” katanya dengan nada pengertian.

Riven menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas dalam-dalam. Mila memperhatikan pria itu.

Dia tidak mencoba mendekat. Tidak meraih tangan Mila. Tidak menyentuhnya. Bahkan ketika Mila sengaja duduk sedikit lebih santai. Riven hanya menatapnya seolah mempelajari setiap gerakannya.

“Lo punya spot favorit ngga?”

Mila harus berpikir ulang mendengar pertanyaan itu. Keningnya berkerut, takut salah tangkap.

“Spot?” Mila balik bertanya.

“Iya,” ulang Riven, “Kalau lo ke resto misalnya.. lo cenderung akan pilih spot paling pojok. Misal lo ke toilet yang sepi, lo akan pilih bilik paling pojok.. atau kalau lagi sumpek, lo pergi ke suatu tempat..”

Mila tertawa, “Oh, gue pikir spot.. apaan.”

Riven terdiam sesaat sebelum menyadari maksud Mila, lalu ikut tertawa.

“Ya kalau lo mau jawab spot itu juga ngga apa-apa,” katanya masih dengan sisa tawanya.

Diawali itu, mereka lalu mengobrol tentang banyak hal. Tentang musik, tempat makan, hidup di kota yang semuanya serba terburu-buru ini. Tanpa terasa sesinya pun selesai. Toni membuka pintu untuk memberi tanda waktu mereka hampir habis, Riven hanya mengangguk.

Dia berdiri, “Thanks ya.”

Mila juga berdiri, mengangguk kecil sambil tersenyum.

“Next time, gue mau lo tau jawaban gue..” kata Riven.

Mila memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat. Lalu tertawa, “Oh, soal spot?”

Riven mengangguk sambil menerima secarik kertas bukti transaksi dari Toni yang sibuk merapikan bawaannya, mesin EDC, kertas-kertas, dan buku menu dari ruangan lain.

“Iya.”

“Ada menu extend loh, Riv.. nanti lo bisa tunjukin spot favorit lo ke gue,” goda Mila, mencoba memperpanjang waktunya.

Riven terdiam. Tampak berpikir. Jarinya mengusap keningnya lalu menoleh pada Mila dan berakhir pada Toni yang berdiri menunggu di ambang pintu.

“Extend deh,” kata Riven pada Toni seolah tidak memiliki pilihan lain.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Mila   BAB 90

    Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali

  • Luka Mila   BAB 89

    Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke

  • Luka Mila   BAB 88

    Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening

  • Luka Mila   BAB 87

    Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa

  • Luka Mila   BAB 86

    Mila tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyisir rambutnya dengan jari. Mencoba meredakan kegalauan di hatinya.“Lo selalu ngomong kayak semua ini gede banget,” gumamnya berusaha terdengar ringan. “Padahal mungkin nggak se-serius itu.”Hans tidak tersenyum. Ia hanya menatap Mila.“Kalau nggak serius,” katanya pelan, “…gue nggak akan repot jagain lo, Mil.”Mila memiringkan kepalanya, matanya menyipit meragukan ucapan Hans yang bersandar lagi di kursinya, seolah tidak peduli apakah Mila tetap menuntut jawabannya atau tidak.“Terserah lo,” kata pria itu santai.Mila mendengus.“Gue udah cape nebak-nebak,” jawabnya. “Mending lo kasih tau gue deh, Hans.”Hans tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Mila beberapa detik lebih lama, seolah memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.“Lo keras kepala juga ya,” gumamnya.Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Tatapannya turun ke arah tulang selangka Mila.“Tato ini bukan hiasan, Mil. Bukan ju

  • Luka Mila   BAB 85

    Pintu mobil tertutup di belakangnya. Mila melangkah cepat sampai di seberang jalan. Pikirannya kosong atau terlalu penuh, Mila sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia tidak punya rencana apapun mau berkata apa pada pria itu.Riven berdiri di depan minimarket, ponsel di tangannya. Jaket gelap yang ia pakai terlihat familiar. Seolah waktu tidak bergerak sejak terakhir kali mereka bertemu.Mila menahan napasnya menatap punggung pria itu sebelum membuka suara dan memaksa mulutnya memanggil nama itu.“Riv…”Riven menoleh lalu membalikkan badannya. Menatap Mila dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Mila dengan tindakannya.“Mil? Lo… Gue… tiba-tiba banget lo ada di sini?”Mila memaksakan tawa yang malah jadi terdengar aneh. “Gue liat lo, jadi pikir nyamperin aja.”Riven mengangguk. Tangannya menggenggam dua gelas kopi. Tatapan Mila turun pada gelas yang dipegang Riven. Ada dua.“Lo sendirian?” tanya Riven.Mila mengangguk lalu menggeleng, “Gue abis kerja…”Riven menatap Mila dengan tatapan

  • Luka Mila   BAB 31

    Kalau bisa memilih, sebenarnya Mila lebih suka melayani tamu yang jelas maunya apa. Mau curhat, mau menggoda, mau nyanyi tanpa di-judge, mau mabuk. Mila bisa terima itu semua. Sudah beratus-ratus tamu dia lewati.Tapi kali ini, tamunya membuat Mila harus menahan sabar.

  • Luka Mila   BAB 23

    Siang itu, Mila membuka ponselnya yang bergetar. Pesan dari Toni yang menginfokan dirinya off dua hari. Mila tahu, Hans yang melakukannya.Di bawah nama Toni, nama itu hadir. Pesan yang terakhir Mila baca.Lo jaga diri ya. See you soon.Mila menghela napas dalam-dala

  • Luka Mila   BAB 21

    “Tapi jangan jauhin gue cuma karena lo pikir gue nggak akan ngerti kondisi lo, Mil.”Mila mendengus pelan setiap kalimat itu kembali terputar di kepalanya. Setelah berhari-hari mengendap, emosinya baru muncul. Apa iya pria itu akan ngerti? Akan menerima? Apa R

  • Luka Mila   BAB 19

    Mila tahu dia tidak bisa selalu berada di balik alasan “takut merepotkan” karena sudah jelas Riven berkata dia tidak masalah kalaupun direpotkan oleh Mila.Tapi semalam, Mila tidak mengabarkan pria itu jelas bukan karena takut merepotkan. Namun lebih ke memilih mengabaikannya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status