LOGINTerlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.
Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.
Malam ini lo di-request Pak Hendra.
Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.
Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.
Andin sedang membantu membuat gelombang pada rambutnya ketika Mila menggerutu soal Pak Hendra.
“Good luck deh,” komentar Andin sambil tertawa.
Mila hanya mendengus kesal dan menyelesaikan sapuan terakhir pada bulu matanya. Lalu mereka bergegas merapikan barang-barang. Mila sedang menyemprot parfumnya yang sudah hampir habis ketika Toni muncul di ambang pintu.
“Mil,” panggilnya sambil mengecek kertas di hadapannya. “Room 5 ya.”
Toni lalu memanggil 2 orang rekan kerja lain yang ditempatkan bersamaan dengan Mila.
Setelah melambai pamit pada Andin, Mila pun melangkah di belakang Toni. Mengikutinya sambil sesekali mengusap telapak tangannya yang mendadak berkeringat pada rok pendek yang dipakainya.
Begitu pintu ruangan dibuka, suara tawa langsung menyambutnya.
Pak Hendra duduk di tengah sofa panjang dengan gelas di tangannya. Di depan mereka, meja yang tidak terlalu besar itu sudah dipenuhi oleh botol beralkohol yang terbuka, bucket es, dan beberapa gelas yang isinya sudah hampir habis.
Di sebelah kanan dan kirinya ada dua pria lain yang terlihat tidak lebih sadar dari Pak Hendra.
“Wah ini dia!” seru Pak Hendra begitu melihat Mila masuk.
Tangannya langsung terangkat menyambut.
“Mila!”
Mila memasang senyum profesionalnya dan berjalan masuk.
“Selamat malam, Pak.”
Pak Hendra menarik tangan Mila supaya duduk di sebelahnya. Bau alkohol dari napasnya sudah terasa bahkan sebelum Mila duduk. Tanpa banyak bicara, Toni pun segera berlalu dan menutup pintu.
“Kita sudah buka botol nih,” kata Pak Hendra sambil menunjuk botol di meja dengan gerakan kepalanya.
Mila hanya tertawa sambil menyodorkan remote ketika tangan Pak Hendra bergerak hendak merangkul pinggulnya.
“Belum lengkap kalau belum pilih lagu dong,” ujar Mila seraya mengambil tangan Pak Hendra dengan gerakan halus dan meletakkan remote di tangan pria itu sehingga tidak jadi menyentuh pinggulnya.
Pak Hendra pun menatap remote di tangannya dan mengikuti kemauan Mila tanpa ragu. Berkali-kali matanya berpindah dari remote dan layar TV sambil mulutnya menanggapi komentar teman-temannya.
Tak jauh dari Mila, dua LC lain duduk menemani teman-teman Pak Hendra. Lagu lama dari layar karaoke pun mulai diputar. Salah satu temannya menepuk pundak LC yang duduk di sampingnya dan meminta untuk meredupkan cahaya lampu.
Merekapun bersaut-sautan menyanyi dengan nada yang berlarian. Bertumpuk dengan suara tawa dan celotehan canda. Mila sesekali ikut tertawa dan menanggapi meskipun matanya tak lepas memperhatikan setiap gerakan tamu-tamunya.
“Minum Mil..” katanya dengan nada mulai mengayun.
Beberapa kali Mila berhasil menghindarinya dengan berbagai trik. Namun kali ini tangannya terlambat menahan gerakan pria itu sehingga ketika gelas menyentuh bibirnya, pria itu langsung memiringkan gelasnya.
“Habiskan,” perintah Pak Hendra sambil menahan kepala Mila dengan tangan satunya.
Pak Hendra terbahak puas ketika Mila menegak habis isinya. Mila berusaha tetap tenang meskipun beberapa saat kemudian sensasi hangat menjalar di tenggorokannya.
Lampu remang di ruangan itu terasa sedikit lebih terang dari sebelumnya. Sinar dari layar TV berkedip-kedip, menerangi ruangan sesaat lalu menghilang lagi.
Diantara nyanyian, tangan Pak Hendra melingkar di pinggul Mila. sesekali menyelipkan tangannya di paha Mila dan mengusapnya. Mila sudah sedikit linglung sehingga malas untuk menepisnya. Pria itu pun menyodorkan mikrofon di depan mulut Mila sambil dia pun ikut mendekat. Meminta Mila ikut bernyanyi.
Mila tertawa kecil, memegang gagang mikrofon di atas tangan Pak Hendra. Merasa diberi lampu hijau, pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Mila.
“Pelan-pelan Pak..” gumam Mila sedikit mundur.
Tanpa menghiraukan ucapan Mila, pria dengan aroma alkoholnya itu malah mendaratkan kecupan di pipi Mila sambil tangannya masih mengusap paha Mila bagian dalam. Tangan Mila bergerak ke dada Pak Hendra, menahannya secara halus agar tidak semakin mendekat.
“Aku mau extend ya Mil,” gumam pria itu. Dari nadanya jelas sudah di tahap mabuk berat.
Mila hanya tersenyum. “Nanti coba bilang sama Toni ya..”
Pak Hendra mengangguk tanpak puas dengan jawaban Mila. Lalu kembali bernyanyi ketika lagu berganti dan disambut dengan sorak sorai teman-temannya. Mila pun terlepas dari pelukan pria itu dan bisa menghela napas lega.
Kedua rekan kerjanya hanya melirik penuh arti namun mereka sama-sama tahu tidak ada yang bisa dilakukan selain saling memberi kekuatan lewat tatapannya.
Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali
Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke
Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening
Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa
Mila tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyisir rambutnya dengan jari. Mencoba meredakan kegalauan di hatinya.“Lo selalu ngomong kayak semua ini gede banget,” gumamnya berusaha terdengar ringan. “Padahal mungkin nggak se-serius itu.”Hans tidak tersenyum. Ia hanya menatap Mila.“Kalau nggak serius,” katanya pelan, “…gue nggak akan repot jagain lo, Mil.”Mila memiringkan kepalanya, matanya menyipit meragukan ucapan Hans yang bersandar lagi di kursinya, seolah tidak peduli apakah Mila tetap menuntut jawabannya atau tidak.“Terserah lo,” kata pria itu santai.Mila mendengus.“Gue udah cape nebak-nebak,” jawabnya. “Mending lo kasih tau gue deh, Hans.”Hans tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Mila beberapa detik lebih lama, seolah memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.“Lo keras kepala juga ya,” gumamnya.Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Tatapannya turun ke arah tulang selangka Mila.“Tato ini bukan hiasan, Mil. Bukan ju
Pintu mobil tertutup di belakangnya. Mila melangkah cepat sampai di seberang jalan. Pikirannya kosong atau terlalu penuh, Mila sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia tidak punya rencana apapun mau berkata apa pada pria itu.Riven berdiri di depan minimarket, ponsel di tangannya. Jaket gelap yang ia pakai terlihat familiar. Seolah waktu tidak bergerak sejak terakhir kali mereka bertemu.Mila menahan napasnya menatap punggung pria itu sebelum membuka suara dan memaksa mulutnya memanggil nama itu.“Riv…”Riven menoleh lalu membalikkan badannya. Menatap Mila dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Mila dengan tindakannya.“Mil? Lo… Gue… tiba-tiba banget lo ada di sini?”Mila memaksakan tawa yang malah jadi terdengar aneh. “Gue liat lo, jadi pikir nyamperin aja.”Riven mengangguk. Tangannya menggenggam dua gelas kopi. Tatapan Mila turun pada gelas yang dipegang Riven. Ada dua.“Lo sendirian?” tanya Riven.Mila mengangguk lalu menggeleng, “Gue abis kerja…”Riven menatap Mila dengan tatapan
Mila berbaring dengan Alex di atas tubuhnya. Bibir pria itu menelusuri setiap jengkal lehernya sebelum bertemu dengan bibirnya. Gerakannya pasti, seolah tahu apa yang diinginkannya. Ciuman Alex semakin dalam, menuntut Mila untuk membalas gerakannya sebelum menariknya lebih dekat dan melepasnya tiba-
Kening Mila berkerut ketika ia membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya hanya ada satu baris tulisan tangan. Nomor telepon dan huruf R di bagian bawahnya. Mila menatap kertas itu beberapa detik.Lalu mendengus kecil. “Kurang kerjaan banget.”Namun perlahan, senyumnya merekah. Mila melipat kembali ke
“Coba Tir!!” pekik Mila. “Bilang sama gue, kalau lo ngga akan baper.”Sahabatnya itu, Tiara, menatap Mila dengan mata berbinar seolah dia sendiri yang mengalaminya. Siang itu, Mila sudah tidak sanggup lagi menahan semua gejolak dalam hatinya. Begitu mereka bertemu untuk makan siang bareng, Mila pun
Mobil hitam Riven melaju santai di jalanan utama yang mulai lengang. Langit malam tampak kelabu dengan awan yang menggantung rendah, membuat cahaya lampu kota terlihat lebih redup dari biasanya.Mila menoleh ke luar jendela.Deretan gedung perkantoran berdiri tinggi di sisi jalan. Sebagian lampunya







