Share

Bab 3

Author: Novi R
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-08 08:13:48

Hujan semakin deras ketika pintu mobil hitam itu terbuka.

Ardi melangkah keluar—jas mahal, rambut rapi, aroma parfum mahal yang dulu Anggi hafal. Cahaya lampu parkiran memantulkan wajah yang pernah ia cintai selama tujuh tahun. Wajah yang kini terasa seperti mimpi buruk.

Raka berdiri refleks di depan Anggi, melindungi.

“Pergi,” suara Ardi datar. “Ini urusan kami berdua.”

“Urusan kalian?” Raka mendengus. “Dua bulan dia berjuang sendirian. Di mana kamu waktu itu?”

Ardi menatap Raka tajam, tapi kemudian pandangannya beralih ke perut Anggi yang membesar.

“Kamu benar-benar akan kabur membesarkan anakku dengan laki-laki lain?” Nada suaranya merendahkan. “Kalian pikir aku tidak mencari kalian?”

Anggi tertawa hambar.

“Kau mencari, atau keluargamu takut skandal?”

Ardi terdiam.

Sebuah jawaban yang tidak terucap sudah cukup menjadi bukti.

“Anggi masuk mobil,” perintah Ardi. “Kita bicara di tempat lain.”

“Aku tidak ikut denganmu.” Anggi menggeleng. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Kau tidak punya pilihan.” Ardi memberi isyarat pada sopir.

Raka bereaksi cepat. “Hei! Dia bilang tidak mau!”

“Ini masalah keluarga,” sahut Ardi tajam.

“Dia bukan keluargamu.”

Raka berdiri tegak, sorot matanya tidak gentar.

Dan untuk pertama kalinya Anggi melihat seseorang—selain dirinya—berani menghadapi Ardi.

Ardi menatap Anggi lekat, kemudian bersuara pelan namun menusuk.

“Aku ingin hakku sebagai ayah.”

Kata itu menghantam dada Anggi lebih keras dari apa pun yang pernah ia dengar.

Ayah?

Tujuh tahun bersama Anggi, Ardi bahkan tidak pernah membicarakan ingin punya keluarga. Tapi sekarang, ketika kenyamanan dan reputasinya terancam… ia menuntut hak?

Air mata Anggi memanas. “Kau menolak menikahiku. Kau memilih perempuan lain—demi uang, demi nama baik keluarga. Lalu sekarang kau mau anak ini?”

“Aku tidak pernah bilang tidak mau anak ini. Aku hanya…”

Ardi mengejap, mencari kata-kata.

“…punya kewajiban lain.”

“Ya. Jadi lakukan kewajibanmu di sana. Dengan istrimu.” Anggi membalas dengan suara pecah.

Ardi melangkah ke depan, tapi Raka menahan dadanya.

“Jangan sentuh dia.”

Suara Raka dalam, hampir geraman.

Ardi menatap Raka dengan tatapan menilai.

“Kamu siapa? Pacarnya sekarang?”

Bukan kalimat itu yang menyakiti Anggi.

Tapi caranya mengucapkan kata pacar seperti ejekan, seperti Anggi perempuan murah yang berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki lain.

“Aku orang yang nggak akan ninggalin Anggi waktu dia jatuh,” jawab Raka mantap.

Anggi mengepalkan tangan. Itu pertama kalinya seseorang membelanya dengan kata-kata sekuat itu.

Ardi mendengus, tidak terima. “Kamu pikir kamu lebih baik? Kamu bisa kasih apa? Uang? Nama baik?”

Raka menatap Ardi lurus. “Aku bisa kasih sesuatu yang kamu nggak punya—rasa hormat.”

Anggi akhirnya bersuara di antara mereka berdua.

“Ardi, dengarkan aku. Aku tidak butuh uangmu. Aku tidak butuh namamu. Aku hanya ingin damai.”

“Damai?” Ardi mendekat selangkah. “Aku akan memberikan semuanya. Rumah, biaya persalinan, asuransi. Tapi kamu dan anak ini harus ikut aku.”

Anggi menahan napas.

Itu bukan tawaran.

Itu ancaman dibungkus perhatian.

“Aku tidak pergi denganmu,” Anggi mengucapkan setiap kata dengan jelas. “Aku tidak akan membesarkan anakku di rumah yang penuh kebohongan.”

Nada Ardi berubah dingin. “Kamu pikir kamu bisa melarangku melihat anakku?”

“Aku tidak melarangmu melihat,” Anggi membalas cepat. “Aku melarangmu menghancurkan hidupnya seperti kau menghancurkan hidupku.”

Ardi kehilangan kendali, suara meninggi. “Aku bisa lapor polisi. Kamu membawa kabur anak di kandunganmu tanpa sepengetahuan ayah biologisnya.”

Anggi menatapnya tak percaya.

“Aku tidak kabur,” suaranya nyaris berbisik. “Aku diusir oleh keadaan yang kau ciptakan.”

Hening.

Hanya suara hujan dan lampu neon klub yang berkedip.

Raka akhirnya bersuara, pelan tapi tajam.

“Kalau kamu benar peduli sebagai ayah, kamu akan memastikan ibunya sehat. Bukan membuat dia stress seperti ini.”

Ardi menatap Raka, wajahnya mengeras. “Sudah selesai ceramahnya?”

Tanpa peringatan, Ardi meraih tangan Anggi—keras.

“Aku bilang ikut aku.”

“Lepaskan!” Anggi mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Ardi kuat.

Raka spontan menarik Ardi dari Anggi.

“Dia tidak mau ikut.”

Dalam sepersekian detik, kedua laki-laki itu saling dorong.

“Tanganmu—LEPASKAN!” seru Anggi.

Ardi menoleh ke Anggi… dan dalam sorotan matanya, ada sesuatu yang lebih gelap daripada ambisi:

“Aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa namaku. Aku tidak akan dipermalukan.”

Anggi terpaku.

Jadi ini intinya—reputasi

Bukan anak.

Bukan cinta.

Bukan tanggung jawab.

BRAK!

Raka mendorong Ardi hingga terhuyung.

“Kalau kamu sentuh dia lagi,” suara Raka rendah, bergetar, “aku akan pastikan kamu menyesal.”

Ardi menyeka rahangnya yang terkena dorongan, lalu menatap Anggi.

“Kalau kamu pergi bersama dia…”

Ardi menunjuk Raka dengan tatapan dingin.

“…kau tidak akan pernah melihat anakmu hidup tenang.”

Anggi menegang, seluruh tubuh gemetar.

Ardi masuk ke mobil.

“Anggi. Ini peringatan terakhir.”

Pintu mobil tertutup keras.

Mobil hitam itu melaju pergi, menembus hujan—meninggalkan ancaman yang menggantung di udara.

Anggi jatuh terduduk di trotoar. Raka cepat menunduk di sampingnya.

“Anggi, lihat aku.”

Tangan Raka di bahunya, hangat, stabil.

“Aku ada di sini. Aku nggak ke mana-mana.”

Perut Anggi tiba-tiba mengeras.

Rasa sakit merambat di bagian bawah perutnya.

“Rak…” napasnya memburu.

“Aku… sakit…”

Raka panik. “Anggi? Anggi, lihat aku. Apa kamu kontraksi?”

Anggi menggenggam lengan Raka kuat-kuat, wajahnya pucat.

“Aku… air… sesuatu keluar…”

Mata Raka membesar.

“Anggi. Jangan bilang—”

Anggi terisak, tubuhnya lemas.

“Rak… ketuban aku pecah.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Luka di Ujung Senja   Bab 120

    Waktu berjalan Tidak ada peristiwa besar yang menandai perubahan, tidak ada kejadian yang membuat semuanya terasa berbeda dalam satu hari. Tapi justru di situlah sesuatu tumbuh—pelan, diam, dan menetap. Rafa mulai jarang berdiri lama di depan papan. Bukan karena ia tidak peduli lagi. Tapi karena ia tidak lagi butuh memastikan dirinya “baik-baik saja” setiap waktu. Kadang ia hanya lewat, membaca sekilas, lalu lanjut. Dan itu cukup. — Suatu pagi di sekolah, Rafa datang lebih awal. Gerbang masih setengah terbuka, halaman belum ramai. Ia berjalan pelan menuju Sudut Napas. Tempat itu kosong. Seperti biasanya di pagi hari. Ia duduk di kursi, meletakkan tas di sampingnya. Udara masih dingin. Dan untuk beberapa menit, ia hanya duduk tanpa tujuan. Tidak menunggu siapa pun. Tidak memikirkan apa pun. Hanya… ada. Langkah kaki terdengar dari jauh. Rafa menoleh. Ternyata Arman. “Kamu pagi banget,” kata Arman sambil duduk di sebelahnya. “Iya… lagi pengen aja,” jawab Rafa. Mere

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 116

    Beberapa minggu berlalu tanpa terasa. Perubahan yang dulu terasa besar, kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sudut Napas tetap ada, kelompok kecil tetap berjalan, dan papan emosi di rumah terus bertambah tulisan—kadang satu kalimat, kadang hanya satu kata. Rafa tidak lagi menghitung hari sejak ia mulai belajar “tidak selalu harus ada”. Ia hanya menjalani. Dan justru karena itu, ia mulai melihat hal-hal yang dulu terlewat. — Suatu pagi di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kejadian besar, tapi karena pengumuman di papan mading. Ada tulisan dari pihak sekolah: “Minggu depan akan diadakan Hari Ekspresi Diri.” Di bawahnya ada penjelasan: siswa boleh menampilkan karya apa pun—tulisan, gambar, musik, atau bentuk ekspresi lainnya. Rafa membaca cukup lama. Dika muncul di sampingnya. “Kamu bakal ikut?” tanyanya. Rafa mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kamu kan punya banyak yang bisa ditulis.” Rafa tersenyum kecil. “Banyak yang dirasain, iya. Tapi n

  • Luka di Ujung Senja   Bab 115

    Hari-hari berikutnya Rafa mulai menyadari bahwa hidupnya tidak lagi berputar hanya di sekitar Sudut Napas atau cerita orang lain. Ada ruang lain yang perlahan kembali muncul: tugas sekolah, obrolan ringan dengan teman, bahkan rasa bosan yang dulu terasa asing. Suatu sore, ia duduk di kamar, menatap buku matematika yang terbuka sejak tadi. Belum disentuh. Ia menghela napas. “Dulu aku pengen punya waktu kosong,” gumamnya pelan. “Sekarang dikasih… malah bingung mau ngapain.” Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Di luar kamar, Anggi mengetuk pelan. “Masuk ya?” “Masuk.” Anggi membuka pintu, membawa dua gelas teh. “Kamu kelihatan lagi mikir,” katanya sambil duduk di kursi. “Aku lagi nggak ada yang harus dikerjain… tapi malah nggak tenang,” jawab Rafa jujur. Anggi mengangguk. “Karena kamu terbiasa sibuk dengan orang lain.” Rafa menatapnya. “Terus sekarang harus gimana?” “Belajar diam tanpa merasa bersalah,” jawab Anggi sederhana. Rafa menyandarkan punggungnya ke dinding. “K

  • Luka di Ujung Senja   Bab 87

    Hujan malam itu tidak berhenti sampai dini hari. Bukan deras, tapi cukup lama untuk membuat udara pagi terasa berat, seperti dunia belum sepenuhnya bangun. Anggi sudah duduk di meja makan dengan secangkir teh ketika ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia hampir membiarkannya, tapi entah kenap

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
  • Luka di Ujung Senja   Bab 95

    Pagi berikutnya datang dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan—seperti dunia sengaja menurunkan volumenya. Anggi duduk di teras dengan secangkir teh, menyadari sesuatu yang baru: untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia bangun tanpa langsung mengecek ponsel. Itu bukan karena masala

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • Luka di Ujung Senja   Bab 89

    Akhir pekan datang dengan matahari yang terlalu cerah untuk ukuran hati yang masih pelan-pelan menyesuaikan. Rafa sudah berdiri di depan jendela sejak pagi, seperti satpam kecil yang menunggu tamu penting. “Jam berapa Dito sampai?” tanyanya untuk ketiga kali. “Kalau kamu tanya lagi, mobilnya mun

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
  • Luka di Ujung Senja   Bab 93

    Beberapa minggu berlalu, dan hidup tidak kembali seperti sebelum semua ini terjadi. Ia berubah bentuk—lebih pelan, lebih sadar, seperti rumah itu sekarang punya denyut sendiri. Di kalender dapur, Anggi menandai tanggal kecil dengan pulpen biru. “Besok sidang mediasi pertama,” katanya pelan pada

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status