LOGINPagi itu datang dengan cara yang tenang, seolah dunia sedang memberi jeda kecil sebelum kembali menuntut. Anggi terbangun lebih dulu, bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan tubuh yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Ia menatap langit-langit kamar, mendengar napas Rafa yang teratur dari kamar sebelah, dan desah Rendra yang masih setengah tidur di sisinya. Ada rasa damai yang tidak mencolok, tapi nyata. Anggi bangkit perlahan, membuat kopi, lalu duduk di meja makan dengan buku catatan terbuka—bukan untuk menulis, hanya untuk mengingat bahwa ia punya ruang jika ingin menuangkan isi kepala. Ia tidak menulis apa-apa pagi itu. Ia hanya menarik napas dan membiarkan pikirannya diam. Namun ketenangan jarang bertahan lama tanpa diuji. Telepon dari kantor masuk menjelang siang. Proyek baru, tenggat ketat, tim terbatas. Tantangan yang dulu akan langsung ia pikul sendiri. Kali ini, Anggi mendengarkan dengan saksama, lalu berkata, “Saya terima, tapi saya perlu tim tambahan dan penyesuai
Saat Rafa duduk di meja, ia menatap ibunya sambil mengunyah. “Bu, nanti sore aku latihan gambar, ya.” Anggi mengangguk. “Boleh. Jangan lupa istirahat.” Rafa tersenyum, mengangguk serius, seperti orang dewasa kecil yang paham batas. Pemandangan itu selalu membuat Anggi merasa waktu berjalan terlalu cepat dan terlalu lambat sekaligus. Setelah mengantar Rafa ke sekolah, Anggi menuju kantor dengan langkah mantap. Ada rapat besar hari itu—presentasi lanjutan dari proyek yang sempat membawanya ke Bandung. Ia tahu ini penting, bukan hanya bagi kariernya, tapi bagi kepercayaan yang ia bangun pada dirinya sendiri. Di ruang rapat, Anggi berdiri di depan layar, memaparkan ide dengan suara yang tenang. Ia tidak berusaha terdengar sempurna. Ia jujur pada data, jujur pada batasan, dan jelas pada solusi. Saat presentasi selesai, ruangan hening sejenak, lalu kepala-kepala mengangguk. “Bagus,” kata atasannya. “Kita lanjutkan.” Anggi duduk kembali, jantungnya berdetak cepat, tapi ada senyum kecil
Tidak ada jeda panjang setelah itu. Hidup kembali bergerak, seperti arus sungai yang tidak pernah benar-benar berhenti meski permukaannya tampak tenang. Anggi kembali ke rutinitas lama dengan kesadaran baru: ia tidak lagi menunggu badai untuk belajar bertahan. Beberapa bulan setelah kepulangannya, Rafa mulai berani bermimpi lebih keras. “Bu,” katanya suatu sore sambil menggambar, “kalau aku besar nanti, aku mau jadi arsitek.” Anggi tersenyum. “Kenapa arsitek?” “Soalnya aku mau bikin rumah yang kuat,” jawab Rafa polos. “Biar orang-orang di dalamnya nggak gampang roboh.” Anggi terdiam. Ia tahu, kata-kata itu tidak hanya tentang bangunan. Ia mencium kepala anaknya, menahan getar di dadanya. “Itu mimpi yang bagus,” katanya pelan. “Dan Ibu percaya kamu bisa.” Namun mimpi tidak selalu datang sendirian. Ia sering membawa ketakutan di punggungnya. Suatu malam, Anggi menerima telepon dari rumah sakit. Jadwal kontrol Rafa harus dimajukan lagi. Ada hasil pemeriksaan yang perlu dibahas le
Suatu pagi, Anggi berdiri lebih lama di depan cermin. Bukan untuk memastikan penampilannya, melainkan untuk membaca wajahnya sendiri. Ada garis lelah yang tidak hilang meski tidur cukup. Ada mata yang lebih tenang, tapi juga lebih jujur. Ia berangkat kerja dengan perasaan campur aduk—karena hari itu, ia harus mengambil keputusan yang tidak kecil. Perusahaan menawarkan relokasi sementara ke cabang lain. Enam bulan. Kesempatan memperluas karier. Tapi itu berarti jarak. Perjalanan. Perubahan ritme keluarga yang sudah susah payah mereka bangun. Anggi tidak langsung memberi jawaban. Malam itu, mereka bertiga duduk di meja makan. Rafa sedang antusias bercerita tentang proyek sainsnya. Rendra mendengarkan sambil sesekali menimpali. Anggi memperhatikan keduanya—momen sederhana yang dulu terasa mustahil. Setelah Rafa tidur, Anggi mengeluarkan topik itu. “Aku dapat tawaran relokasi,” katanya pelan. Rendra menatapnya. “Ke mana?” “Bandung. Enam bulan.” Hening. “Dan kamu… ingin
Musim kemarau datang tanpa banyak tanda. Hujan menghilang perlahan, digantikan panas yang kering dan langit pucat. Hidup Anggi juga terasa seperti itu—tidak berguncang, tidak pula sepenuhnya tenang. Ia berjalan di tengah hari-hari yang tampak biasa, namun menyimpan banyak penyesuaian kecil yang menguras energi. Setelah kepulangannya dari luar kota, Anggi menjadi lebih sadar akan batas. Ia tidak lagi menunda makan, tidak lagi memaksa diri hadir di setiap rapat. Beberapa rekan kerja mulai berbisik—tentang perubahan sikapnya, tentang ketegasannya yang baru. Dulu, bisik-bisik itu akan membuat Anggi gelisah. Kini, ia belajar membiarkannya lewat. Namun ujian tidak selalu datang dari luar. Suatu malam, Rendra pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya letih, bahunya turun. Ia meletakkan tas tanpa bicara, lalu duduk diam. Anggi memperhatikannya. “Hari yang berat?” Rendra mengangguk. “Proyekku ditunda. Ada restrukturisasi. Posisi aku… belum tentu aman.” Kalimat itu menghantam pelan tapi
Pernikahan tidak mengubah ritme hidup secara drastis. Tidak ada bulan madu panjang, tidak ada rumah baru yang langsung terasa sempurna. Anggi tetap bangun pagi untuk menyiapkan Rafa, tetap mengecek email kantor sebelum matahari benar-benar naik. Rendra tetap menyesap kopi dengan kebiasaan lamanya, hanya kini ada dua cangkir di meja. Yang berubah adalah kesadaran: mereka tidak lagi berjalan sejajar tanpa ikatan. Kini langkah mereka saling terkait. Dan keterikatan itu, pelan-pelan, menguji batas. Suatu sore, Anggi pulang lebih lambat dari biasanya. Rapat molor, klien meminta revisi mendadak. Ketika ia sampai rumah, Rafa sudah tertidur. Rendra menunggunya di ruang tamu, lampu temaram. “Kamu belum makan,” kata Rendra. “Aku nggak lapar,” jawab Anggi sambil melepas sepatu. Nada suaranya datar. Terlalu datar. Rendra memperhatikannya. “Kamu capek.” Anggi mengangguk, tapi tidak duduk. Ia mondar-mandir kecil, lalu berhenti. “Ren… aku takut kehilangan diriku lagi.” Kalimat itu jatuh ti







