Share

Bab 6

Author: Dian Wahyu
last update publish date: 2026-02-27 13:08:06

"Di mana putraku?" Seorang wanita datang bertanya kepada sekretaris putranya setelah mendapatkan kabar pernikahan Azael dari bawahannya.

Merasa tidak dianggap dan putranya itu mengambil keputusan sesuka hati tanpa meminta persetujuan darinya terlebih dahulu, meski sebenarnya dirinya tidak melarang jika putranya menikah dalam waktu dekat, namun tetap saja harus ada hal yang harus mereka bicarakan.

"Pak Azael ada di dalam, Nyonya," sang sekretaris langsung berdiri dan mempersilahkan ibu dari bosnya untuk masuk ke ruangan dengan pintu besar tersebut.

Datang dengan wajahnya yang cukup angkuh, wanita itu langsung melesat dan melihat putranya sedang sibuk membaca berkas-berkas di atas meja.

"Ibu dengar kau sudah menikah? Bagaimana mungkin kau tidak mengabarkan hal sepenting ini padaku? Apa setelah pulang dari luar negeri sikapmu jadi sesuka hati?"

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari sang ibu, Azael menarik napas dan menjawab, "Aku ingin membicarakannya namun belum punya waktu, Bu."

"Belum punya waktu katamu? Apa kau pikir menikah hanya tentang dua orang saja?!" Wanita tersebut menaikkan nada bicaranya karena putranya terkesan tidak menghormati dirinya kali ini.

Azael menarik napas dan membalas, "Duduklah, Bu, aku akan bicara."

Akhirnya wanita tersebut menurunkan sedikit emosinya dan dirinya lantas menatap ke arah putranya itu dengan pandangan yang masih serius, "Seperti apa wanita yang membuatmu langsung menikahinya tanpa persetujuanku?"

Azael berdiri dan membenahi jasnya, cepat atau lambat ibunya akan tahu dan kehidupannya ini benar-benar tidak memiliki privasi karena tembok pun juga punya telinga.

"Dia sahabatku di sekolah menengah, kami memutuskan menikah karena memang sudah saling suka sejak lama," jelasnya seraya berjalan dan duduk di sofa tepat di depan ibunya.

Monica, janda kaya raya yang merupakan ibu dari Azael itu benar-benar heran dengan keputusan putranya yang terkesan asal dan tidak berpikir panjang, ia pun menanyakan satu hal pasti yang terus berkecamuk di otaknya, "Apa wanita itu hamil sampai-sampai kau langsung menikahinya?"

Sudah jelas jika prasangka buruk ibunya pasti hanya seputar itu, namun jelas saja bukan hal tersebut masalahnya, "Kami menjalin komunikasi jarak jauh, Bu. Dia tidak hamil, lagi pula bagaimana caranya dia hamil kalau aku baru pulang beberapa hari yang lalu?"

Hanya kekhawatiran Monica, wanita itu kemudian menarik napas dan berkata, "Biarkan aku bertemu dengan istrimu!"

Azael menganggukkan kepalanya dan dirinya memang akan membawa Clara untuk menemui ibunya, seharusnya seperti itu dari awal, namun pernikahannya dengan sahabatnya sangat mendadak sehingga mereka belum sempat mengambil keputusan untuk menemui keluarganya.

"Aku akan membawanya menemuimu, Bu. Aku juga berharap Ibu tidak menyusahkannya atau berekspektasi tinggi tentangnya," balas Azael.

Monica tentu saja memiliki kriteria khusus dalam memilih menantu, dirinya juga sedikit kecewa karena putranya ini mengambil tindakan impulsif dan tidak pernah dirinya kira sebelumnya. Monica bahkan tidak ingat wajah gadis itu jika memang teman lama putranya di bangku sekolah menengah dulu.

"Baiklah, atur saja waktunya dan lain kali katakan semuanya padaku tentang keputusanmu, Azael! Kau hampir membuat ibumu serangan jantung!" ujar Monica dengan raut wajah masih kesal.

Lelaki itu mengangguk lagi, sekarang hanya perlu membawa Clara menemui sang ibu, setelah itu mereka harus membicarakan rencana selanjutnya.

***

Memasuki waktu petang, Clara keluar dari pintu utama perusahaan milik keluarganya dan pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang sedang bersandar di sebuah mobil lalu memberikan tatapan dengan senyuman.

"Azael?"

Pria tersebut sebelumnya tidak mengatakan akan menjemputnya, ditambah lagi di tangan Azael membawa seikat bunga yang sudah dihias dengan pita cantik.

Clara memberikan senyumannya dan kemudian berjalan mendekat, berpikir jika bunga itu untuknya, "Kenapa datang menjemputku? Aku membawa mobil sendiri."

Pria itu benar-benar memberikan seikat bunga tersebut kepadanya, membuat Clara langsung menerimanya dan menghirup kelopak mawar merah intinya ada di tangannya.

"Kau adalah istri dari pewaris Delvaric Grup, Clara. Apa kata orang jika kau masih pergi bekerja dan mengemudi seorang diri?" Azael memberikan senyuman lagi dan mempersilakan istrinya untuk segera masuk ke mobil.

"Terima kasih bunganya, tapi tak seperti biasanya kau datang kemari. Apakah ada suatu hal yang ingin kau sampaikan?"

Jujur saja, mereka belum tinggal bersama hingga sang kakek pun sempat bertanya-tanya tentang hubungan keduanya yang tidak nampak seperti suami istri. Selama beberapa hari juga Clara memberikan alasan jika Azael harus keluar kota dan dirinya belum terbiasa tinggal seorang diri, maka dari itu memilih untuk menemani kakeknya.

"Ibuku ingin bertemu denganmu," jelas Azael.

Penjelasan itu membuat Clara merasakan jantungnya yang berdegup kencang karena baru pertama kali bertemu dengan ibu Azael, takutnya keputusannya untuk menagih utang malah membuat ibu dari pria ini membencinya.

"Apa beliau marah dengan tindakan kita?" tanyanya dengan raut wajah yang kurang nyaman karena bagaimanapun juga Azael adalah pewaris tunggal dan tidak boleh memilih istri secara asal.

"Tidak, ibuku hanya ingin bertemu denganmu dan kita akan makan malam bersama," balas Azael santai.

Jantung Clara seakan lepas dari tempatnya, yang mendadak bingung harus berkata apa karena merasa bersalah juga, ditambah masuk ke keluarga Azael bukan rencananya sejak awal, semuanya ia lakukan hanya demi merubah takdirnya sendiri.

Apa ia egois? Clara terus memikirkannya, namun semuanya telah terjadi dan ini adalah kehendaknya. Seharusnya dirinya memang berterima kasih terhadap Azael yang membantunya tanpa banyak bertanya.

***

"Ooh, ini Clara?"

Bertemu di sebuah restoran elite, pada akhirnya makan malam itu terlaksana juga dan membuat Clara hanya bisa tersenyum lalu menyapanya, "Selamat malam, Nyonya Delvaric."

"Kaku sekali, kau adalah istri dari putraku, tak masalah memanggilku ibu," ujarnya dengan tatapan biasa.

Mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur dan Azael telah menikahi Clara, wanita tersebut juga tidak mau menjadi mertua yang terlalu kejam di pertemuan pertama mereka.

Kemudian, Azael yang bisa melihat ketegangan ini lantas mencairkan suasana dengan berkata, "Aku berharap Ibu menerimanya sebagai menantu, Clara adalah pilihanku."

Sebenarnya Monica masih kecewa dengan pilihan putranya, namun melihat wajah Clara yang cantik membuatnya sedikit terhibur meskipun dirinya tetap harus mencari tahu seperti apa karakter dari menantunya ini.

"Haa... Baiklah, Azael. Ibu mengerti dan tentu saja menerima Clara karena memang dia pilihanmu," balasnya sembari menyesap anggur merah yang ada di atas meja sebagai pelengkap makan malam mereka.

Ada perasaan lega di dada Clara karena tidak ada drama dirinya ditolak oleh mertuanya sendiri, meski ia harus tetap menjaga image agar tetap baik.

"Oh iya, kapan kalian berencana memiliki anak?"

Baru juga lega, Clara melebarkan matanya karena pertanyaan ini terlalu spontan dan membuatnya kaget, "Ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 399 - TAMAT

    Setahun setelah kabar meninggalnya Erick dan juga disusul oleh Aretha, semuanya nampak berjalan seperti biasa dan pasangan suami istri itu sama sekali tidak memikirkan hal-hal yang masih berhubungan dengan masa lalu. Di pinggir pantai saat sore hari di mana matahari mulai terbenam membuat keduanya bisa menikmati suasana yang begitu hangat dan menjadikan perasaan itu jauh lebih baik. "Sudah setahun semenjak hari itu, apa kau telah merasa lega?"Pertanyaan dari suaminya lantas membuat Clara menganggukkan kepalanya, "Ya. Aku sangat lega."Tidak ada yang harus mereka khawatirkan, tentunya hidup jauh lebih baik dan kini perusahaan berjalan seperti biasa dengan banyak pencapaian yang mereka lakukan berdua. Nyatanya takdir itu benar-benar bisa diperbaiki setelah sang wanita bangun dan mengubah semuanya. Azael mengajak wanita itu untuk berdansa dengan pelan, kaki telanjang mereka disapu oleh ombak yang membuat keduanya merasa jauh lebih hangat. Senyuman itu menjadi hiasan utama hingga sang

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 398

    Dipindahkan ke ruangan khusus setelah mengetahui fakta bahwa Erick dinyatakan meninggal karena perbuatan yang telah dilakukan oleh Aretha.Wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah dan bahkan dirinya tertawa ketika kedua polisi membawanya dengan tangan yang diborgol, ditambah lagi penuntutan yang dilakukan oleh Edo semakin memberatkan hukumannya. Namun, lagi-lagi Aretha sama sekali tidak takut dan wanita itu justru menantang hal apapun yang ada di depannya. "Orang yang telah kau bunuh akan dimakamkan hari ini. Apa sekarang kau merasa bersalah atas seluruh hal yang terjadi?"Ketika pertanyaan itu mendatangi Aretha, wanita tersebut sama sekali tidak merasa bersalah dan dirinya kemudian berkata, "Dunia tidak bisa menghukum kesalahannya, biarkan saya saja yang melakukan hal itu."Awalnya pihak kepolisian juga menyuruh Aretha untuk melakukan pemeriksaan jiwa, namun nyatanya wanita ini jauh lebih gila dari dugaan dan pada akhirnya dipindahkan ke ruang isolasi. Ketika menaiki undakan t

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 397

    Ketika si pemilik mobil keluar dari sana, Clara langsung menyadari bahwa orang yang datang adalah suaminya sendiri dan hal itu membuat senyumnya langsung lebar sehingga ia langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan. Azael memang sibuk dan bilang tidak bisa datang, namun pria tersebut tidak ingin kehilangan momen ini sehingga dirinya tetap meluangkan waktu dan juga memberikan ucapan selamat untuk istrinya yang sangat membanggakan. "Bukankah kau bilang tidak datang?" Clara yang menyambutnya dengan pelukan lantas bertanya seperti itu kepada pria yang sudah banyak melakukan segalanya untuknya. Azael membalasnya dengan pelukan yang hangat dan pria itu juga membawa sesuatu, "Tidak mungkin aku tak datang ke acara penting istriku."Kalimat itu terucap dengan senyuman yang diberikan oleh Clara, ditambah lagi Azael yang kemudian melepaskan pelukan lalu mengeluarkan sesuatu dari mobilnya. Se-bucket bunga yang begitu indah dan membuat wanita itu kembali tersenyum karena hari ini banyak sekal

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 396

    "Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir telah berkata lain. Putra Anda tidak bisa kami selamatkan dan kami turut berduka cita ... "Ketika sang dokter mengatakan hal tersebut kepada Edo, pria tua yang hanya memiliki putranya tersebut lantas melebarkan matanya dan kedua lututnya langsung merasa lemas."Apa?"Nada bicaranya langsung rendah dan pria itu kemudian jatuh di atas lantai dengan kedua lutut yang masih menopangnya, berpikir jika telinganya salah dengar karena dirinya tidak mau mendengar tentang kabar duka ini. Sang dokter hanya bisa menatapnya karena dirinya bahkan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan lagi sesaat setelah pasien yang diantarkan ke rumah sakit ini tak bernapas.Bisa jadi pendarahan yang terjadi selama perjalanan sempat melukai urat yang ada pada leher sehingga hal ini tidak bisa membuat mereka berbuat banyak. Jikalau selamat pun, kondisinya tidak akan sebaik saat masih normal, apalagi matanya juga sudah tidak berfungsi dengan baik. Edo

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 395

    Memang sulit untuk bicarakan lagi setelah seluruh hal yang terjadi, namun Erick tetap mendekat untuk berbicara kepada wanita tersebut. Ketika mengetahui bahwa satu-satunya orang yang membuat hidupnya hancur ingin berbicara dengannya, Aretha langsung berdiri dan menjauh. Wanita itu sebenarnya memiliki sebuah pemikiran, namun dari kemarin belum mengatakan apa-apa sehingga dirinya lantas malas untuk menanggapi sang mantan."Aku tidak mau berbicara denganmu entah alasan apa yang kau bawa," ujar Aretha yang masih sibuk dengan rajutan di tangannya. Namun, Erick tidak menyerah sehingga pria itu pun berkata, "Aku tahu. Tapi, kali ini aku ingin berbicara denganmu."Balik memandang pria di depannya, Aretha kemudian mengalihkan tatapannya pada tangga yang bisa membawa mereka untuk berbicara di atap kantor ini. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya kemudian, mencoba untuk memberikan kesempatan kepada pria ini jika ingin berbicara padanya. Erick menghela napas, "Aku hanya mau minta maaf pad

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 394

    Ketika janji itu terucap dengan dua orang yang memulai kembali kehidupan lama mereka, seluruh orang bertepuk tangan untuk menyambut hal tersebut dan semuanya juga nampak bahagia. Sorakan membuat mempelai saling berpandangan setelah bibir itu mengucapkan janji pernikahan, rasanya seperti menjalani sebuah kehidupan yang baru dan sampai akhirnya Azael berucap kepada istrinya dengan nada lembut, "Aku berjanji akan menjagamu lebih baik lagi dan tidak akan membiarkanmu melalui semuanya sendiri."Ketika kalimat itu terucap, Clara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Aku juga berjanji tidak akan meninggalkanmu lebih dulu atau berbuat seperti yang telah terjadi kemarin."Ketika hati saling memaafkan, mereka berdua saling tersenyum lalu hal ini membuat tatapan mereka bertemu dan wajah yang mulai mendekat, membuat sebuah ciuman yang begitu mesra di depan banyak orang. Ketika bibir tersebut saling menempel, banyak sekali orang-orang yang bertepuk tangan dengan riuh serta menyambut kehidupan

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 124

    "Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau tidak perlu terlalu khawatir dengan apa yang terjadi, apalagi masih ada aku yang selalu ada untukmu!" tekan Azael.Pria itu tahu bahwa istrinya tidak boleh memikirkan sesuatu yang berat, bahkan belum mengizinkan Clara untuk berangkat ke kantor. Mana mungkin dir

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 123

    Sampai di tempat itu, tempat di mana Aretha mengatakan bahwa wanita tersebut bertemu dengan seorang penjaga makam yang mengatakan semuanya. Clara keluar dari mobil tersebut dan memandang ke arah suaminya, pria itu bahkan setia mengantarnya dan bersikap biasa karena tahu bahwa sang istri memang men

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 122

    "Seorang penjaga makam dan beliau mengatakan bahwa kau sudah melanggar aturan!" ujar Aretha.Clara yang langsung paham bahwa penjaga makam kala itu mengetahui tentang apa yang terjadi, serta menceritakan segalanya padanya tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Aretha juga."Penjaga makam?""Iya. D

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 81

    "Dipecat?" Aretha melebarkan matanya ketika pagi ini dirinya mendapatkan sebuah surat pemecatan dari Clara yang membuatnya benar-benar tidak mengerti. Sementara sang sahabat yang sudah lama bersama wanita itu semenjak kuliah terlihat memberikan tatapan tegas seolah telah mengetahui seluruh hal yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status