MasukLa sixième année de notre mariage secret, son premier amour est revenue. J'ai décidé de partir avec notre enfant pour leur laisser le bonheur.
Lihat lebih banyakBau desinfektan di rumah sakit selalu terasa menyengat. Bahkan di bangsal VIP pun, aroma itu tetap tak bisa dihindari.
Crystal menatap kosong ke langit-langit di atas kepalanya. Hingga sekarang, dia masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah masuk ke dalam sebuah novel. Sebagai aktris lapis delapan belas, Crystal sebenarnya cukup puas dengan kehidupannya sebelumnya. Tentu saja, dia akan jauh lebih puas jika bayaran per proyeknya bisa lebih tinggi. Demi menabung cukup uang untuk masa pensiun secepat mungkin, Crystal hampir sepanjang tahun—nyaris tiga ratus enam puluh lima hari—berpindah-pindah dari satu kru ke kru lain. Hari itu, kebetulan jadwal syuting selesai lebih awal. Dia pun membuka tautan novel yang dikirim sahabatnya dan tanpa banyak pikir langsung mengkliknya. Tokoh pendukung wanita umpan meriam di novel itu bernama Crystal Jane, namanya mirip dengannya. Karena itu, dia membacanya dengan serius, bahkan sampai begadang demi menamatkan seluruh novel. Crystal Jane adalah putri tiri dari keluarga kaya, tapi hidupnya justru berantakan. Punya kartu bagus, tapi memainkannya dengan buruk. Saat membaca, Crystal tak bisa menahan diri untuk menghela napas. Sebaliknya, dia merasa dirinya justru memiliki kartu bagus dan mampu memainkannya dengan baik. Tanpa disangka, saat terbangun keesokan harinya, dia benar-benar menjadi Crystal Jane. Memikirkan hal itu saja membuat Crystal ingin menghela napas panjang. Di dunia aslinya, orang tuanya lebih menyukai anak laki-laki daripada anak perempuan. Untungnya, dia sudah membuat surat wasiat lebih dulu. Bahkan jika dia meninggal, hartanya tidak akan jatuh ke tangan orang tua dan adik laki-lakinya yang hanya menganggapnya sebagai mesin uang. Selain itu, dia juga masih punya saudara dan teman. Mereka seharusnya bisa segera pulih dari kepergiannya. Crystal tidak tahu apakah ini bentuk belas kasihan Tuhan—mengizinkannya merasakan kehidupan sebagai anak keluarga kaya. Anehya, sekarang dia justru merasa sangat tenang. Mungkin ini memang pilihan terbaik. Dari penolakan di awal hingga perlahan menerimanya sekarang, Crystal menarik napas dalam-dalam. Jika sudah terjadi, maka berdamailah dengannya. Yang perlu dia lakukan hanyalah satu, mengubah nasib buruk tokoh umpan meriam ini. Kabar baiknya, dia belum benar-benar berselisih dengan keluarga Alexander. Kabar buruknya, tubuh asli ini baru saja menandatangani kontrak dengan perusahaan hiburan seminggu yang lalu dan resmi memasuki industri hiburan. Memikirkan itu, Crystal kembali menghela napas panjang. Jika sudah hidup mewah, kenapa masih nekat masuk ke industri hiburan? Jawabannya ada di novel. Karena statusnya sebagai anak tiri keluarga Alexander, banyak orang di lingkaran hiburan meremehkannya. Melihat gadis-gadis lain dengan latar belakang keluarga yang jauh lebih biasa justru sukses besar, Crystal menjadi iri dan tidak puas. Termasuk kecelakaan mobil ini—semuanya direncanakan sendiri oleh tubuh asli. Dia berniat memanfaatkan kunjungan sekretaris Jasen Alexander untuk mengungkap “kebenaran”, sekaligus membeli naskah untuk menyebarkan berita bahwa dia adalah putri keluarga Alexander yang mengalami kecelakaan tragis. Crystal menepuk dadanya pelan. Untungnya, ini belum terlambat. Di dalam novel disebutkan bahwa kecelakaan ini adalah langkah pertama yang membuat Jasen mulai tidak menyukainya. Rencananya memang terlihat sempurna, tapi Crystal tahu—tipu daya sekecil apa pun tak mungkin lolos dari mata Jasen Alexander, pria yang telah bertahun-tahun bertarung di dunia bisnis. Dia menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Untungnya, tidak ada luka serius. Sang “saudari” tidak sampai bertindak terlalu kejam. Mengingat kejadian di rumah sakit kemarin, Crystal samar-samar ingat bahwa dia sempat pusing dan menyalahkan dirinya sendiri. Dia mengusap pelipisnya. Keberuntungannya tidak terlalu buruk. Setidaknya, dia masih memiliki ingatan lengkap tubuh aslinya. Garis waktu saat ini berada di awal cerita. Selama dia menjauh dari protagonis pria dan wanita, tetap low profile, dan tidak bertingkah seperti orang gila, akhir cerita seharusnya bisa diubah… bukan? Crystal masih ragu. Tiba-tiba terdengar ketukan tergesa di pintu. Sebelum dia sempat menjawab, pintu sudah terbuka dari luar. Bersamaan dengan itu, suara wanita yang dipenuhi kekhawatiran terdengar. “Crystal, kamu tidak apa-apa?” “Tidak apa-apa.” Crystal segera menggeleng, memberi isyarat agar Messa tidak khawatir. “Kamu mengalami kecelakaan mobil, dan masih bilang tidak apa-apa?” Messa menatapnya dengan kesal. Meski dokter sudah menjelaskan kondisinya, kekhawatiran itu tetap tidak bisa hilang. Dalam novel, Messa hanya muncul sekilas karena Crystal hanyalah tokoh pendukung. Namun sekarang, berhadapan langsung dengannya, Crystal justru merasa bersalah. “Aku hanya sedikit pusing. Seharusnya besok sudah bisa keluar dari rumah sakit,” kata Crystal sambil tersenyum. Messa menghela napas pelan. Dia mengenal putrinya lebih dari siapa pun. Saat dia menikah dengan Jasen, Crystal baru berusia lima belas tahun. Usia pubertas—masa di mana anak-anak mulai membandingkan diri mereka dengan orang lain. Messa tahu, Crystal diam-diam selalu bersaing dengan ketiga anak Jasen. Namun ketiganya adalah anak kebanggaan langit—terlahir dengan sendok perak di mulut. Crystal berbeda. Jika bukan karena Jasen, ibu dan anak itu tidak akan pernah hidup seperti sekarang. Messa selalu merasa seseorang harus tahu diri dan merasa cukup. Tapi setiap kali dia mengatakan itu, Crystal selalu tidak senang. Memikirkan hal itu membuat kepala Messa kembali terasa sakit. Dia merapikan selimut Crystal dan berkata ragu-ragu, “Crystal… bahkan kalau kamu masuk perusahaan Alexander dan mulai dari bawah, untuk apa? Bukankah kondisi sekarang sudah cukup baik?” Kata-kata itu membuat Crystal terdiam sejenak. “Masuk perusahaan Alexander?” “Jessica baru saja masuk perusahaan. Meskipun kalian sama-sama mulai dari bawah, tetap saja berbeda,” ujar Messa dengan hati-hati, takut ucapannya menyinggung. Meski semuanya menjalani pelatihan dasar, Jasen selalu membawa anak-anaknya menghadiri rapat tahunan Alexander Group. Banyak karyawan tentu tahu siapa pewaris sejati keluarga itu. ___Bersambung___Régine a veillé sans relâche au chevet de Hugues, Nicole refusant également de partir.Sept jours sont passés sans qu'il ne montre le moindre signe de réveil.« Maman, pourquoi papa ne se réveille toujours pas ? » a demandé Nicole, la voix rauque et les yeux gonflés par des jours de larmes.Le cœur serré, Régine lui a appliqué un gant froid sur les paupières : « Il se réveillera. »« J'ai peur… Je ne veux pas qu'il meure. »La voix étranglée, Régine a fait semblant de se fâcher : « Hugues ! Si tu ne te réveilles pas maintenant, nous ne te pardonnerons jamais ! »À ces mots, les doigts de l'homme ont tremblé et ses paupières ont battu faiblement. Il a ouvert péniblement les yeux et a murmuré : « Régine… Nicole… »« Maman ! Papa est réveillé ! »Nicole a couru vers lui, rayonnante : « Papa ! »« Désolé… de vous avoir inquiétées. »« C'est à nous de te remercier. De nous avoir sauvées », a dit Régine, les yeux brillants de larmes contenues.Hugues a esquissé un faible sourire, devinant qu
Régine a serré Nicole contre elle, son cœur battant à se rompre.« Laissez-nous partir, sinon je tue la grande puis la petite ! » a menacé un braqueur.Régine a senti une froideur à son cou. La lame venait d'effleurer sa peau.« Lâchez-les ! Prenez-moi en otage à la place ! » a hurlé Hugues en s'avançant derrière eux, « Je suis le PDG du groupe Gérard. Je peux vous faire sortir d'ici. »Les braqueurs n'étaient pas stupides : un homme adulte serait difficile à maîtriser. Ils ont refusé.Hugues a saisi alors une pierre à proximité et l'a fracassée violemment sur son avant-bras droit. Un craquement sinistre a retenti et son visage est devenu immédiatement livide.« Mon bras est cassé. Je ne résisterai pas. Si vous doutez, je peux briser le gauche aussi. Lâchez-les. Prenez-moi. »« M. Gérard… » a sangloté Nicole, les larmes aux yeux, « tu es blessé… »Régine elle-même a eu le cœur serré en voyant son bras mutilé, ses yeux rougissant.Un braqueur a vérifié son identité sur son téléphone, pu
« Régine, à quoi penses-tu ? » a demandé Hugues, la voyant le fixer sans un mot, « J'ai fait quelque chose de mal ? »« Non. Merci pour aujourd'hui, Nicole était ravie », a-t-elle répondu en secouant la tête et en l'accompagnant à la porte, « il se fait tard, rentre prudemment. »Hugues a bloqué la porte avant qu'elle ne se referme : « Régine, je suis le père de Nicole. M'occuper d'elle est normal. J'ai été ignoble autrefois, mais je change vraiment. »« Je vois », a-t-elle dit sobrement.Elle percevait effectivement ses efforts sincères envers Nicole.« Régine… Tu ne veux vraiment plus me donner une chance ? » Son regard brûlant d'amour s'est embué de larmes.Excepté le jour de son accident, Régine ne l'avait jamais vu pleurer.Cette vulnérabilité l'a émue, mais… elle n'était plus la femme assoiffée de son amour.« Nous n'avons pas besoin de cette chance. Je ne t'empêcherai pas d'être bon envers Nicole, mais entre nous, c'est terminé. Avec tes moyens, faire réduire la peine de Lara se
Nicole, serrant sa poupée, a fait semblant de ne pas avoir entendu : « Maman, partons. »« Je vous raccompagne. »Régine a refusé : « Ce n'est pas nécessaire, nous prendrons un taxi. »Hugues n'a pas insisté et les a regardées s'éloigner.Dès le lendemain matin, il s'est présenté dans le hall de leur hôtel, un bouquet de fleurs et une pâtisserie à la main. Dès qu'il les a vues apparaître, il s'est avancé : « Bonjour ! Avez-vous du temps aujourd'hui ? Puis-je vous inviter à déjeuner ? »« Désolée, nous sommes occupées », a répondu Régine en entraînant Nicole.Hugues ne s'est pas découragé. Restant sur place, il les a regardées s'éloigner.Il savait très bien que Régine ne lui pardonnerait pas facilement. Mais il n'abandonnerait. Chaque jour, il est venu les attendre dans le hall de l'hôtel, avec un cadeau différent, convaincu qu'il finirait par trouver ce qui leur plairait.Si Régine persistait à refuser, l'attitude de Nicole commençait à fléchir.« Maman, il est encore là ! » s'est ex
Après avoir regardé Nicole entrer à l'école maternelle, Régine s'est rendue directement dans un cabinet d'avocats.Elle a présenté le projet de divorce que Hugues avait préparé des années plus tôt, demandant s'il était toujours valable. Le document, rédigé avant leur mariage, ne portait aucune date
Un soir, pendant six années de leur mariage secret, Hugues Gérard a soulevé soudainement sa fille Nicole dans les airs pour la première fois. Les rires cristallins de la fillette de cinq ans ont empli le salon tandis qu'elle faisait signe à Régine, toute joyeuse : « Maman, on dirait que je vole ! »
Après un long silence, il a fini par hocher la tête : « D'accord. »Nicole a souri à travers ses larmes, a essuyé ses joues et a couru chercher une invitation qu'elle lui a tendue.« L'adresse et l'heure sont écrites ici. Ne sois pas en retard, d'accord ? » a-t-elle répété avec insistance.Hugues a
Après l'incident du parc, Hugues n'était jamais rentré chez eux. Régine et Nicole avaient tacitement cessé de mentionner son nom.L'anniversaire de Nicole approchait. Elles avaient préparé des invitations que la petite a distribuées à l'école à ses amies. Toutes ont accepté avec joie !Deux jours av












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
Ulasan-ulasan