Share

Bayi di Ambang Pintu

Author: Pena itu
last update publish date: 2026-03-10 19:56:09

Tiga minggu telah berlalu sejak badai di Pelabuhan Tanjung Priok. Jakarta bagi Kinan kini terasa seperti mimpi buruk yang ia kunci rapat dalam sebuah kotak besi dan ia buang ke dasar laut. Ia memilih pulang. Kembali ke rumah kayu Bapak di desa, di mana satu-satunya suara yang membangunkannya adalah kokok ayam dan deru angin yang menyisir daun jati.

​Pagi itu, Kinan sedang menjemur kain di samping rumah. Tangannya yang dulu terbiasa memegang pena mahal dan laporan audit, kini mulai kasar karena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Epilog — Aspal yang Berbunga

    Labuan Bajo, 2041.​Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah retakan menjadi taman. Pagi ini, udara Bajo terasa begitu manis, seolah-olah laut sengaja mencuci dirinya sendiri untuk menyambut fajar yang baru. Aku berdiri di beranda rumah panggung kami, menghirup aroma kopi robusta yang bercampur dengan harum mawar merah yang mekar sempurna di sepanjang pagar. Mawar itu bukan lagi mawar hitam yang menyeramkan milik Maria; mereka adalah mawar merah darah yang segar, ditanam di atas tanah yang dulu pernah hangus terbakar.​Aku meraba bekas luka di bahu kananku—sebuah garis tipis yang kini sudah memudar, namun tetap terasa nyata di bawah jemariku. Luka itu adalah sertifikat kelulusanku dari sekolah kehidupan yang kejam. Di sampingku, sebuah papan nama kayu jati yang baru dipasang berkilat tertimpa cahaya matahari: "Pustaka Dirgantara & Kedai Aspal."​"Ibu, neraca bulan ini sudah selesai. Ada selisih dua ribu rupiah di kolom logistik, tapi aku sudah menemukannya. Itu biaya parki

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Bara di Lembah Dirgantara

    Udara di Lembah Dirgantara tidak sehangat Labuan Bajo. Di sini, angin pegunungan bertiup menusuk tulang, membawa aroma pinus yang basah dan bau sangit dari gubuk-gubuk warga yang mulai dijilat api. Aku berdiri di tengah alun-alun desa, dikelilingi oleh pria-pria yang sorot matanya lebih tajam dari parang yang mereka genggam. Di tanganku, sertifikat tanah itu terasa berat, seolah ribuan nyawa leluhurku sedang menekan telapak tanganku agar tidak goyah.​Barata melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi gesekan bot di atas tanah berbatu yang terdengar seperti lonceng kematian. Bekas luka bakar di lehernya berkilat terkena cahaya obor, memberikan kesan mengerikan pada wajahnya yang kaku. Ia menatapku, bukan dengan amarah, tapi dengan rasa penasaran yang dingin.​"Arga Dirgantara punya keberanian yang bodoh, dan rupanya dia mewariskannya padamu, Kinan," suara Barata parau, seperti gesekan dua batu kali. "Kamu tahu apa yang terjadi pada orang berani di lembah ini? Mereka menjadi pu

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Tanah yang Memanggil

    Labuan Bajo hari ini terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang membuat telingaku berdenging karena waspada. Sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan laut, memantulkan cahaya perak yang menyilaukan mata, namun di dalam dadaku, mendung dari masa lalu ayahku belum sepenuhnya beranjak. Aku berdiri di dermaga kayu di depan warung, memandangi gulungan kertas tua yang diberikan Paman Aris semalam. Kertas itu berbau debu, tanah basah, dan rahasia yang terkubur selama dua puluh lima tahun.​"Nan, kopinya. Jangan dibiarkan dingin, nanti rasanya asam seperti pikiranmu," suara Fajar memecah lamunanku.​Ia berjalan menghampiriku, kali ini tanpa menyeret kakinya sama sekali. Ada kekuatan baru di langkahnya sejak kejadian di Jakarta. Ia meletakkan cangkir kaleng berisi kopi hitam pekat di atas pagar dermaga. Aroma robusta yang kuat menyengat hidungku, memberikan sedikit rasa sauh di tengah badai emosi yang berkecamuk.​"Dit, apa kita benar-benar harus melakukan ini?" tanyanya pelan sembari men

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kembali ke Garis Awal

    Jakarta di jam empat pagi adalah sebuah kota yang sedang mencuci dirinya sendiri. Hujan gerimis yang turun sejak semalam menyisakan uap tipis di atas aspal Menteng yang hitam mengkilap. Aku duduk di kursi depan mobil van Bima, menyandarkan kepalaku yang berdenyut hebat pada kaca jendela yang dingin. Bahu kananku sudah dibebat perban darurat oleh Bima, rasanya seperti disulut api setiap kali mobil menghantam lubang jalanan. Namun, rasa perih itu justru membuatku merasa hidup. Ia menjadi bukti fisik bahwa malam ini bukan sekadar mimpi buruk yang panjang.​Di kaca spion tengah, aku bisa melihat bayangan Fajar. Ia duduk di lantai mobil, memeluk Bumi dan Langit yang tertidur lelap di atas tumpukan selimut kumal. Wajah Fajar tampak sepuluh tahun lebih tua dalam semalam; ada garis-garis kelelahan yang dalam di keningnya, dan jelaga hitam masih membekas di sudut bibirnya. Tangannya yang kasar tak henti-hentinya mengusap rambut Bumi, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa putra sulungnya itu b

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pesta di Atas Luka

    Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya.​"Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.​Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pesta di Atas Luka

    Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya.​"Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.​Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sandiwara di Ujung Botol

    Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.​Mbak

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Benalu yang Kehilangan Pohon

    Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Arang di Wajah Bapak

    Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Darah di Atas Ombak

    Suara mesin perahu yang mati mendadak menyisakan kesunyian yang mengerikan, hanya menyisakan suara ombak yang menghantam lambung kayu dengan ritme yang terdengar seperti lonceng kematian. Di tengah kegelapan Samudra Hindia, di bawah langit yang tanpa bintang, Kinan merasa dunia menyempit hanya selu

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status