Beranda / Rumah Tangga / MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI / Bubur Sumsum dan Harga Diri yang Lumat

Share

Bubur Sumsum dan Harga Diri yang Lumat

Penulis: Pena itu
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 00:40:59

Sinar matahari pagi menusuk lewat celah ventilasi dapur yang berdebu. Kinan sudah berdiri di depan kompor sejak pukul lima subuh. Matanya masih terasa berat, kelopaknya bengkak karena tangis yang ia tumpahkan di bawah shower semalam. Namun, rasa kantuk itu dipaksa hilang oleh perintah yang dijatuhkan Aris sebelum memejamkan mata semalam: “Buatin Ibu bubur sumsum.”

​Tangan Kinan dengan telaten mengaduk tepung beras dan santan di dalam panci. Ia harus memastikan apinya kecil, agar buburnya lembut dan tidak menggumpal. Aroma gurih santan mulai menguar, tapi bagi Kinan, bau itu terasa mual. Ia teringat rendang semalam yang akhirnya hanya berakhir di tempat sampah karena hatinya terlalu sakit untuk menyentuh makanan itu lagi.

​“Aduh, Nan! Itu santannya kurang kental! Kamu ini niat masak buat Ibu atau nggak, sih?”

​Suara melengking Bu Ratmi tiba-tiba memecah keheningan dapur. Wanita tua itu muncul dengan daster daster batik mahal—yang Kinan tahu betul dibeli menggunakan kartu kredit Aris—sambil berkacak pinggang.

​Kinan menarik napas panjang, mencoba menekan emosi yang sudah sampai ke tenggorokan. “Ini sudah pakai dua kelapa, Bu. Sudah pas kok takarannya.”

​“Pas menurut kamu, bukan menurut Ibu!” Bu Ratmi mendekat, merebut sendok kayu dari tangan Kinan dan mencicipi sedikit bubur yang masih setengah matang itu. “Tuh, kan! Kurang garam. Kamu itu kalau masak jangan pelit bumbu. Aris itu kerja keras cari uang, masa istrinya masak buat mertua aja nggak becus.”

​Kinan hanya diam. Ia mengambil kembali sendok kayunya. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena menahan diri agar tidak menyiramkan bubur panas itu ke wajah mertuanya.

​Tak lama kemudian, Aris muncul. Ia sudah rapi dengan kemeja kantornya, wangi parfum citrus yang segar memenuhi ruangan. Ia langsung menghampiri ibunya, mencium pipinya dengan penuh kasih.

​“Pagi, Bu. Gimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Aris lembut.

​“Gimana mau nyenyak, Ris. Kasurnya agak keras, punggung Ibu jadi pegal semua. Terus ini, istrimu masak bubur kayaknya kurang niat. Encer begini,” keluh Bu Ratmi sambil memasang wajah memelas.

​Aris menoleh ke arah Kinan. Senyum lembut yang tadi ia berikan pada ibunya seketika hilang, diganti dengan tatapan penuh teguran. “Nan, kan aku sudah bilang, buatkan yang spesial buat Ibu. Beliau itu jarang ke sini, mbok ya dilayani dengan baik.”

​“Aku sudah usaha, Mas,” jawab Kinan lirih. “Aku bangun jam lima buat ini.”

​“Ya semua istri juga bangun jam lima, Nan. Nggak usah merasa paling berjasa,” timpal Aris dingin.

​Mereka akhirnya duduk di meja makan. Kinan menyajikan bubur sumsum itu ke mangkuk porselen terbaik yang mereka punya—mangkuk yang sebenarnya Kinan simpan hanya untuk acara spesial. Bu Ratmi makan dengan lahap, meski mulutnya tetap tak henti-hentinya mengkritik rasa masakan Kinan.

​Di tengah sarapan yang penuh ketegangan itu, Aris mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kerjanya. Ia menyodorkannya ke arah Bu Ratmi.

​“Ini apa, Ris?” tanya Bu Ratmi, meski matanya sudah berbinar penuh harap.

​“Ini bonus proyek kecil kemarin, Bu. Ibu pakai saja buat beli perhiasan atau jalan-jalan sama teman-teman Ibu ke pengajian. Aris nggak mau Ibu kekurangan.”

​Kinan tertegun. Matanya menatap amplop tebal itu. Pikirannya langsung melayang ke tagihan listrik rumah mereka yang sudah nunggak dua bulan, dan cicilan mesin cuci yang bulan lalu Aris bilang “nanti dulu ya, Nan, uangnya lagi pas-pasan.”

​“Mas...” suara Kinan tercekat. “Bukannya kamu bilang uang bonus itu buat bayar tunggakan listrik sama servis motor aku?”

​Aris menghentikan suapannya. Ia menatap Kinan dengan tatapan tidak suka. “Nan, uang itu bisa dicari nanti. Ini buat Ibu. Masa kamu tega lihat Ibu nggak punya pegangan uang? Kamu itu jangan jadi istri yang matre, semua-semua dihitung.”

​“Bukan matre, Mas. Tapi itu kebutuhan rumah tangga kita!” suara Kinan naik satu oktav.

​“Sudah, sudah!” Bu Ratmi menggebrak meja pelan. “Ris, lihat tuh istrimu. Masa Ibu dikasih uang sedikit saja dia sudah marah-marah? Ibu ini yang melahirkan kamu, Ris. Yang nyusuin kamu. Masa sekarang Ibu dianggap beban sama istrimu?”

​“Nggak, Bu. Ibu bukan beban. Kinan cuma lagi sensitif saja,” ujar Aris sambil mengusap tangan ibunya, lalu ia beralih ke Kinan dengan nada mengancam. “Nan, masuk ke kamar. Jangan bikin keributan di depan Ibu.”

​Kinan merasa jantungnya seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia berdiri, meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke kamar dan membanting pintu pelan. Ia tidak ingin menangis lagi, tapi air mata itu tetap saja luruh.

​Di dalam kamar, Kinan mencoba menenangkan diri. Ia merapikan tempat tidur, dan saat itulah ia melihat jas kantor Aris yang tersampir di kursi. Berniat ingin mencucinya, Kinan meraba saku jas tersebut.

​Tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah buku kecil.

​Kinan mengeluarkannya. Itu adalah buku tabungan bank swasta yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Dengan tangan gemetar, Kinan membuka halaman demi halaman. Matanya membelalak lebar.

​Di sana tertera saldo yang sangat besar. Jauh lebih besar dari tabungan bersama mereka yang isinya hanya recehan. Namun yang membuat jantung Kinan seolah berhenti berdetak adalah nama yang tertera di kolom penerima transfer otomatis setiap bulannya.

​Bukan namanya. Bukan juga nama Bu Ratmi.

​Transfer Otomatis: Dana Pendidikan – Tiara Putri.

​Kinan terdiam. Tiara adalah anak dari Kakak perempuan Aris, keponakan kesayangan Aris yang sekolah di sekolah internasional mahal. Selama ini, Aris selalu mengeluh tidak punya uang untuk mengajak Kinan makan di luar atau sekadar membelikan Kinan baju baru, tapi ternyata dia secara rahasia membiayai kemewahan keponakannya.

​Kinan tertawa kecil, tawa yang terdengar mengerikan di telinganya sendiri. Ia merasa seperti badut yang menari di atas panggung penderitaannya sendiri. Ia hemat mati-matian, memilah-milah belanjaan di pasar demi selisih lima ratus perak, sementara suaminya membuang uang jutaan rupiah untuk orang lain tanpa pernah berdiskusi dengannya.

​Pintu kamar terbuka. Aris masuk untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Ia melihat Kinan sedang memegang buku tabungan itu.

​Wajah Aris seketika pucat, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah.

​“Siapa yang kasih izin kamu buka-buka privasi aku?!” bentak Aris sambil menyambar buku itu dari tangan Kinan.

​“Privasi? Kita suami istri, Ris! Kamu bilang uang kita pas-pasan, tapi kamu sanggup bayar sekolah Tiara yang sebulan bisa buat makan kita tiga bulan? Kenapa kamu bohong sama aku?”

​“Itu urusan aku! Tiara itu darah daging aku, dia masa depan keluarga kami. Kamu nggak usah ikut campur!”

​“Lalu aku apa, Ris? Aku ini istrimu atau cuma pajangan di rumah ini? Aku yang nemenin kamu dari nol, tapi sekarang kamu perlakukan aku kayak sampah sisa!”

​Aris mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kinan. “Dengar ya, Kinan. Kamu itu cuma orang asing yang masuk ke keluarga kami. Jangan pernah coba-coba mengatur ke mana uangku pergi. Kalau kamu nggak suka, pintu keluar terbuka lebar.”

​Kinan terpaku. Kalimat itu lebih tajam dari sembilu. Orang asing. Lima tahun melayani, lima tahun mengabdi, ternyata di mata Aris, dia tetaplah orang asing.

​Aris pergi begitu saja, meninggalkan Kinan yang luruh ke lantai. Di luar, terdengar suara Bu Ratmi yang tertawa renyah sambil menonton televisi, menikmati bubur sumsum buatan "orang asing" yang baru saja dihancurkan hatinya.

​Kinan memeluk lututnya. Di dalam kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk. Ia tidak akan lagi menjadi racun yang diam. Jika Aris menganggapnya orang asing, maka ia akan benar-benar menjadi asing yang paling berbahaya bagi mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Saldo Akhir Matahari Terbit

    Lembah Dirgantara kembali memanggil, namun kali ini bukan sebagai tempat pembantaian, melainkan sebagai saksi bisu penghakiman terakhir. Aku berdiri di puncak bukit yang menghadap langsung ke fasilitas server pusat The Orchard. Di kepalaku, angka-angka itu tidak lagi terasa seperti beban; mereka adalah orkestra yang siap meledak. Meskipun ingatanku tentang masa kecil masih samar, ingatanku tentang cara mencintai Fajar dan cara menghancurkan iblis sudah kembali dengan tajam.​"Kinan, kamu yakin?" Fajar berdiri di sampingku, tangannya menggenggam senapan dengan urat-urat yang menegang. "Begitu kamu memasukkan kode itu ke pemancar utama, tidak ada jalan kembali. Seluruh jaringan mereka akan mati, tapi posisimu akan terpampang di setiap radar mereka."​Aku menatapnya, lalu menyentuh bekas luka di pelipisnya. "Aspal tidak pernah bertanya apakah ia siap menahan beban truk, Dit. Ia hanya melakukannya. Sekarang giliranku menjadi fondasi untuk masa depan kita."​Kami bergerak dalam senyap. Rey

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Angka yang Tertinggal di Bawah Bantal

    Pagi di pedalaman Flores datang dengan suara burung-burung liar yang terdengar asing di telingaku. Aku terbangun di atas dipan kayu, menatap langit-langit pondok yang terbuat dari jalinan bambu. Pikiranku masih terasa seperti hamparan salju yang putih dan dingin—tidak ada jejak kaki, tidak ada arah, hanya kekosongan yang luas. Namun, ada satu hal yang berbeda pagi ini. Ada sebuah perasaan gelisah yang merambat di ujung syarafku, seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal di bawah bantal, sesuatu yang penting tapi tidak bisa kujangkau.​Aku meraba ke samping. Tempat tidur itu sudah dingin. Pria yang memanggil dirinya Fajar itu sudah tidak ada. Aku segera duduk, rasa panik mendadak menyengat ulu hatiku. Dalam kekosongan memori ini, Fajar adalah satu-satunya jangkarku. Jika dia hilang, aku akan hanyut dalam samudra amnesia yang tidak bertepi.​"Fajar...?" panggilku lirih.​Pintu pondok terbuka pelan. Fajar masuk dengan membawa nampan bambu berisi ubi rebus dan dua gelas teh yang masih menge

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Harapan Baru

    Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.​Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa.​"Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar.​"Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Mengeja Nama di Atas Awan

    Dunia ini terasa terlalu terang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil helikopter terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk mataku. Aku mengerjap, mencoba mengenali ruang sempit yang bergetar hebat ini. Bau avtur yang tajam dan suara deru baling-baling yang memekakkan telinga seharusnya membuatku takut, tapi anehnya, hatiku terasa kosong. Benar-benar kosong. Seperti sebuah neraca yang baru saja di-reset ke angka nol sebelum transaksi pertama dimulai.​Aku menoleh ke samping. Seorang pria dengan wajah yang dipenuhi debu dan bekas luka sedang menatapku. Matanya merah, bengkak, seolah-olah ia baru saja kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Ia menggenggam tanganku begitu erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap menjadi udara.​"Nan... kamu dengar aku?" suaranya serak, bergetar di sela deru mesin.​Aku menatap tangannya yang kasar, lalu menatap matanya yang memohon. Aku tahu pria ini. Bukan dengan otakku, tapi dengan sesuatu yang jauh di d

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan Sang Pemangsa

    Lembah Dirgantara malam ini tidak tampak seperti tanah leluhur yang agung. Ia tampak seperti luka yang menganga di wajah Sumatera. Lampu-lampu sorot dari menara pengawas The Orchard membelah kegelapan kabut, menciptakan garis-garis cahaya yang dingin dan tajam seperti pisau bedah. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang digali paksa menyengat hidungku. Di bawah kaki kami, tanah yang dulu menjadi tempatku berlari mengejar capung, kini tertutup oleh beton-beton raksasa fasilitas pemurnian data ilegal.​Aku melangkah maju, tanganku digenggam erat oleh Fajar. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang kasar sedikit berkeringat. Ini bukan ketakutan, ini adalah kewaspadaan seorang pelindung yang tahu bahwa ia sedang memasuki sarang naga.​"Nan, kalau terjadi sesuatu, jangan lihat ke belakang. Berlari saja ke arah gerbang barat," bisik Fajar tepat di telingaku.​Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang kusimpan untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Darah di Atas Saldo

    Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa makin tipis, seolah-olah tanah Flores sendiri enggan memberikan ruang bagi rahasia yang kami bawa. Aku berlari dengan kaki yang terasa seperti dipimpin oleh memori yang bukan milikku. Di depanku, Ibu bergerak seperti bayangan—tangkas, dingin, dan asing. Aku menatap punggungnya, mencoba mencari sosok wanita yang dulu sering mengajariku cara membuat sambal terasi di dapur sempit kami di Jakarta. Namun, yang kulihat hanyalah seorang prajurit yang sedang pulang dari pengasingan.​"Kakek...?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh penolakan. "Maksud Ibu, Kakek Ibrahim? Pria yang fotonya selalu Ibu simpan di dalam alkitab tua itu? Pria yang Ibu bilang mati sebagai pahlawan di perbatasan?"​Ibu berhenti mendadak di ujung lorong yang berbatasan dengan dinding gua karang. Ia berbalik, cahaya lampu LED kecil di dinding menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kuyu.​"Pahlawan hanyalah label bagi pemenang, Kinan," suara Ibu terdengar seperti ges

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status