MasukSinar matahari pagi menusuk lewat celah ventilasi dapur yang berdebu. Kinan sudah berdiri di depan kompor sejak pukul lima subuh. Matanya masih terasa berat, kelopaknya bengkak karena tangis yang ia tumpahkan di bawah shower semalam. Namun, rasa kantuk itu dipaksa hilang oleh perintah yang dijatuhkan Aris sebelum memejamkan mata semalam: “Buatin Ibu bubur sumsum.”
Tangan Kinan dengan telaten mengaduk tepung beras dan santan di dalam panci. Ia harus memastikan apinya kecil, agar buburnya lembut dan tidak menggumpal. Aroma gurih santan mulai menguar, tapi bagi Kinan, bau itu terasa mual. Ia teringat rendang semalam yang akhirnya hanya berakhir di tempat sampah karena hatinya terlalu sakit untuk menyentuh makanan itu lagi. “Aduh, Nan! Itu santannya kurang kental! Kamu ini niat masak buat Ibu atau nggak, sih?” Suara melengking Bu Ratmi tiba-tiba memecah keheningan dapur. Wanita tua itu muncul dengan daster daster batik mahal—yang Kinan tahu betul dibeli menggunakan kartu kredit Aris—sambil berkacak pinggang. Kinan menarik napas panjang, mencoba menekan emosi yang sudah sampai ke tenggorokan. “Ini sudah pakai dua kelapa, Bu. Sudah pas kok takarannya.” “Pas menurut kamu, bukan menurut Ibu!” Bu Ratmi mendekat, merebut sendok kayu dari tangan Kinan dan mencicipi sedikit bubur yang masih setengah matang itu. “Tuh, kan! Kurang garam. Kamu itu kalau masak jangan pelit bumbu. Aris itu kerja keras cari uang, masa istrinya masak buat mertua aja nggak becus.” Kinan hanya diam. Ia mengambil kembali sendok kayunya. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena menahan diri agar tidak menyiramkan bubur panas itu ke wajah mertuanya. Tak lama kemudian, Aris muncul. Ia sudah rapi dengan kemeja kantornya, wangi parfum citrus yang segar memenuhi ruangan. Ia langsung menghampiri ibunya, mencium pipinya dengan penuh kasih. “Pagi, Bu. Gimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Aris lembut. “Gimana mau nyenyak, Ris. Kasurnya agak keras, punggung Ibu jadi pegal semua. Terus ini, istrimu masak bubur kayaknya kurang niat. Encer begini,” keluh Bu Ratmi sambil memasang wajah memelas. Aris menoleh ke arah Kinan. Senyum lembut yang tadi ia berikan pada ibunya seketika hilang, diganti dengan tatapan penuh teguran. “Nan, kan aku sudah bilang, buatkan yang spesial buat Ibu. Beliau itu jarang ke sini, mbok ya dilayani dengan baik.” “Aku sudah usaha, Mas,” jawab Kinan lirih. “Aku bangun jam lima buat ini.” “Ya semua istri juga bangun jam lima, Nan. Nggak usah merasa paling berjasa,” timpal Aris dingin. Mereka akhirnya duduk di meja makan. Kinan menyajikan bubur sumsum itu ke mangkuk porselen terbaik yang mereka punya—mangkuk yang sebenarnya Kinan simpan hanya untuk acara spesial. Bu Ratmi makan dengan lahap, meski mulutnya tetap tak henti-hentinya mengkritik rasa masakan Kinan. Di tengah sarapan yang penuh ketegangan itu, Aris mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kerjanya. Ia menyodorkannya ke arah Bu Ratmi. “Ini apa, Ris?” tanya Bu Ratmi, meski matanya sudah berbinar penuh harap. “Ini bonus proyek kecil kemarin, Bu. Ibu pakai saja buat beli perhiasan atau jalan-jalan sama teman-teman Ibu ke pengajian. Aris nggak mau Ibu kekurangan.” Kinan tertegun. Matanya menatap amplop tebal itu. Pikirannya langsung melayang ke tagihan listrik rumah mereka yang sudah nunggak dua bulan, dan cicilan mesin cuci yang bulan lalu Aris bilang “nanti dulu ya, Nan, uangnya lagi pas-pasan.” “Mas...” suara Kinan tercekat. “Bukannya kamu bilang uang bonus itu buat bayar tunggakan listrik sama servis motor aku?” Aris menghentikan suapannya. Ia menatap Kinan dengan tatapan tidak suka. “Nan, uang itu bisa dicari nanti. Ini buat Ibu. Masa kamu tega lihat Ibu nggak punya pegangan uang? Kamu itu jangan jadi istri yang matre, semua-semua dihitung.” “Bukan matre, Mas. Tapi itu kebutuhan rumah tangga kita!” suara Kinan naik satu oktav. “Sudah, sudah!” Bu Ratmi menggebrak meja pelan. “Ris, lihat tuh istrimu. Masa Ibu dikasih uang sedikit saja dia sudah marah-marah? Ibu ini yang melahirkan kamu, Ris. Yang nyusuin kamu. Masa sekarang Ibu dianggap beban sama istrimu?” “Nggak, Bu. Ibu bukan beban. Kinan cuma lagi sensitif saja,” ujar Aris sambil mengusap tangan ibunya, lalu ia beralih ke Kinan dengan nada mengancam. “Nan, masuk ke kamar. Jangan bikin keributan di depan Ibu.” Kinan merasa jantungnya seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia berdiri, meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke kamar dan membanting pintu pelan. Ia tidak ingin menangis lagi, tapi air mata itu tetap saja luruh. Di dalam kamar, Kinan mencoba menenangkan diri. Ia merapikan tempat tidur, dan saat itulah ia melihat jas kantor Aris yang tersampir di kursi. Berniat ingin mencucinya, Kinan meraba saku jas tersebut. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah buku kecil. Kinan mengeluarkannya. Itu adalah buku tabungan bank swasta yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Dengan tangan gemetar, Kinan membuka halaman demi halaman. Matanya membelalak lebar. Di sana tertera saldo yang sangat besar. Jauh lebih besar dari tabungan bersama mereka yang isinya hanya recehan. Namun yang membuat jantung Kinan seolah berhenti berdetak adalah nama yang tertera di kolom penerima transfer otomatis setiap bulannya. Bukan namanya. Bukan juga nama Bu Ratmi. Transfer Otomatis: Dana Pendidikan – Tiara Putri. Kinan terdiam. Tiara adalah anak dari Kakak perempuan Aris, keponakan kesayangan Aris yang sekolah di sekolah internasional mahal. Selama ini, Aris selalu mengeluh tidak punya uang untuk mengajak Kinan makan di luar atau sekadar membelikan Kinan baju baru, tapi ternyata dia secara rahasia membiayai kemewahan keponakannya. Kinan tertawa kecil, tawa yang terdengar mengerikan di telinganya sendiri. Ia merasa seperti badut yang menari di atas panggung penderitaannya sendiri. Ia hemat mati-matian, memilah-milah belanjaan di pasar demi selisih lima ratus perak, sementara suaminya membuang uang jutaan rupiah untuk orang lain tanpa pernah berdiskusi dengannya. Pintu kamar terbuka. Aris masuk untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Ia melihat Kinan sedang memegang buku tabungan itu. Wajah Aris seketika pucat, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah. “Siapa yang kasih izin kamu buka-buka privasi aku?!” bentak Aris sambil menyambar buku itu dari tangan Kinan. “Privasi? Kita suami istri, Ris! Kamu bilang uang kita pas-pasan, tapi kamu sanggup bayar sekolah Tiara yang sebulan bisa buat makan kita tiga bulan? Kenapa kamu bohong sama aku?” “Itu urusan aku! Tiara itu darah daging aku, dia masa depan keluarga kami. Kamu nggak usah ikut campur!” “Lalu aku apa, Ris? Aku ini istrimu atau cuma pajangan di rumah ini? Aku yang nemenin kamu dari nol, tapi sekarang kamu perlakukan aku kayak sampah sisa!” Aris mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kinan. “Dengar ya, Kinan. Kamu itu cuma orang asing yang masuk ke keluarga kami. Jangan pernah coba-coba mengatur ke mana uangku pergi. Kalau kamu nggak suka, pintu keluar terbuka lebar.” Kinan terpaku. Kalimat itu lebih tajam dari sembilu. Orang asing. Lima tahun melayani, lima tahun mengabdi, ternyata di mata Aris, dia tetaplah orang asing. Aris pergi begitu saja, meninggalkan Kinan yang luruh ke lantai. Di luar, terdengar suara Bu Ratmi yang tertawa renyah sambil menonton televisi, menikmati bubur sumsum buatan "orang asing" yang baru saja dihancurkan hatinya. Kinan memeluk lututnya. Di dalam kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk. Ia tidak akan lagi menjadi racun yang diam. Jika Aris menganggapnya orang asing, maka ia akan benar-benar menjadi asing yang paling berbahaya bagi mereka.Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang laki-laki yang wajahnya sengaja dibuat nelangsa: Aris.Aris datang bukan dengan tangan kosong. Di sampingnya ada Mbak Ratna yang terus-menerus mengusap air mata buaya dengan ujung jilbabnya, dan di depan mereka tergeletak sebuah map cokelat berisi foto-foto yang sudah disiapkan dengan licik.Bapak Kinan, Pak subroto, duduk di sudut ruangan dengan punggung yang bungkuk, seolah beban langit baru saja jatuh menimpa pundaknya. Wajahnya yang legam karena puluhan tahun bertani kini tampak pucat pasi. Ia tidak berani menatap mata tetangga-tetangganya. Malu. Sebuah kata yang lebih mematikan daripada peluru bagi orang tua di kampung."Pak Subroto," suara Pak Kades memecah ke
Apartemen yang ditawarkan Bima ternyata hanyalah sebuah unit studio kecil di pinggiran kota. Dindingnya bercat putih gading yang sudah sedikit mengelupas di sudut plafon. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah kasur tipis tanpa dipan, satu lemari kecil yang pintunya berderit saat dibuka, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah rel kereta api.Bima sudah pulang satu jam lalu setelah memastikan Kinan punya air minum dan mengunci pintu dengan benar. Kini, Kinan duduk bersila di atas kasur yang masih berbau plastik toko itu. Sunyi. Sangat sunyi sampai suara detak jam tangannya terdengar seperti dentuman palu.Ia menatap tas pakaiannya yang tergeletak pasrah di sudut ruangan. Hanya itu yang ia punya. Beberapa potong kemeja kerja, celana kain, pakaian dalam, dan satu mukena yang warnanya sudah mulai kusam. Ia tidak membawa perhiasan, tidak membawa perabotan, bahkan ia meninggalkan foto pernikahannya yang terbingkai indah di atas nakas rumah Aris. Ia tidak butuh wajah
Dunia di luar rumah Aris ternyata terasa begitu asing bagi Kinan. Duduk di jok mobil Bima yang harum kayu cendana, Kinan merasa seperti narapidana yang baru saja menghirup udara bebas namun paru-parunya masih terasa penuh debu penjara. Ia menatap lututnya yang lecet, darahnya sudah mengering, meninggalkan bekas merah kecokelatan yang perih saat terkena AC mobil."Minum dulu, Kin. Kamu gemetaran," Bima menyodorkan sebotol air mineral yang dinginnya pas. Suaranya rendah, tidak menuntut penjelasan segera. Itu yang Kinan butuhkan—ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.Kinan meneguk air itu perlahan. Tenggorokannya yang tadi serasa tersumbat batu kerikil perlahan mulai melonggar. "Terima kasih, Bim. Maaf... aku berantakan sekali.""Jangan minta maaf buat sesuatu yang bukan salahmu," jawab Bima sambil memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari lingkungan rumah Aris. "Aku antar kamu ke tempat yang aman. Ada apartemen kecil milik kantorku yang sedang kosong. Kamu bisa tinggal di sana sementa
Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak sudi menyentuh sampah-sampah itu. Biarlah Aris atau Ibunya yang membereskannya, atau biarlah rumah itu membusuk sekalian.Kinan duduk di meja kecil di pojok kamarnya. Ia membuka laptop, menekan tombol power, dan menunggu logo sistem muncul. Hari ini adalah tenggat waktu pengiriman laporan keuangan perusahaan garmen milik klien Maya. Nilai kontraknya cukup untuk membayar uang muka kontrakan kecil di pinggir kota. Kinan butuh uang itu. Sangat butuh.Namun, saat ia mencoba menyambungkan koneksi ke Wi-Fi rumah, simbol sinyal di pojok layar tetap silang merah.No Internet Connection.Kinan mengerutkan dahi. Ia memeriksa router yang terletak di ruang tengah, tepat di bawah meja televisi. Kabeln
Malam itu, mendung menggantung rendah di langit, membuat udara terasa pengap dan lembap. Kinan baru saja selesai mandi dan berniat melanjutkan pekerjaannya di laptop ketika ia mendengar suara beberapa motor dan mobil berhenti di depan rumah. Biasanya, jam segini rumah sudah sepi. Firasatnya mulai tidak enak. Suara tawa yang dipaksakan dan langkah kaki yang berat memenuhi ruang tamu.Kinan membuka pintu kamar sedikit. Di sana, di ruang tamu yang lampunya dinyalakan semua hingga terang benderang, sudah duduk melingkar keluarga besar Aris. Ada Mbak Ratna dengan suaminya yang berperut buncit, ada Pakde mulyo—kakak tertua Bu Ratmi yang dikenal paling kolot—dan tentu saja, Aris yang duduk tertunduk di samping ibunya yang kembali memakai drama "kompres dahi"."Kinan! Sini kamu!" teriak Mbak Ratna saat melihat bayangan Kinan di pintu kamar. Suaranya melengking, penuh otoritas yang dibuat-buat.Kinan menarik napas panjang. Ia mengembuskan napas lewat mulut, mencoba menstabilkan detak jantun
Keheningan di rumah itu terasa sangat pekak. Tidak ada suara denting piring yang beradu dengan riuh, tidak ada gumam doa Kinan saat menyetrika baju di pojok ruangan. Sejak kejadian tamparan itu, Kinan benar-benar menjalankan perannya sebagai "orang asing". Ia tetap di rumah, tapi jiwanya seperti sudah pindah ke dimensi lain. Ia hanya memasak untuk dirinya sendiri, mencuci bajunya sendiri, dan menghabiskan sisa waktunya di depan laptop di dalam kamar yang pintunya selalu ia kunci dari dalam.Aris gelisah. Ternyata, kehilangan layanan seorang istri jauh lebih menyiksa daripada kehilangan uang di dompet. Ia harus mencari kaos kakinya sendiri yang entah terselip di mana, ia harus menelan roti tawar kering karena Bu Ratmi hanya bisa menyuruh tanpa bisa memasak, dan yang paling parah, ia kehilangan akses terhadap "ketenangan" yang biasanya disediakan Kinan tanpa ia minta.Pagi itu, Aris sengaja tidak langsung berangkat kantor. Ia duduk di meja makan, menatap Kinan yang sedang menyeduh kop







