FAZER LOGINLabuan Bajo tahun 2031 bukanlah lagi pelabuhan sepi yang dulu menyembunyikan luka-lukaku. Kini, deru mesin kapal pesiar dan tawa turis asing menjadi musik latar setiap pagi. Namun, di sudut warung kami, "Warung Aspal & Madu", waktu seolah berjalan lebih lambat. Aku berdiri di ambang pintu, memandangi uap kopi yang menari-nari di udara lembap sisa hujan semalam. Lima tahun telah berlalu sejak api itu melalap gubuk lama kami, namun setiap kali aku mencium aroma kayu terbakar dari panggangan ikan, jantungku masih berdesir hebat. Trauma itu seperti noda tinta di atas kertas putih; ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya memudar menjadi abu-abu.Aku mengusap sudut mataku yang kini dihiasi garis-garis halus. Jejak dari ribuan malam yang kuhabiskan untuk menghitung angka-angka kecil agar kami bisa makan, dan ribuan siang yang kuhabiskan untuk mengawasi setiap orang asing yang turun dari dermaga. Di sampingku, Langit yang kini berusia lima tahun, sedang asyik di atas lantai semen yang din
Suara deburan ombak Labuan Bajo pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi terdengar seperti ancaman atau bisikan konspirasi, melainkan seperti nyanyian tua yang menenangkan. Aku berdiri di ambang pintu warung kami yang baru, menghirup aroma kayu jati yang masih segar bercampur dengan uap kopi tubruk yang baru saja kuseduh. Matahari baru saja mengintip dari balik bukit, menyirami aspal di depan warung dengan warna keemasan yang berkilau.Di sudut warung, Fajar sedang sibuk menata kursi. Langkahnya masih sedikit menyeret, dan tongkat kayu jati dengan ukiran komodo—hadiah dari warga kampung—selalu menemaninya. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Setiap kali ia melihatku, ada binar yang dulu sempat padam, kini menyala lebih terang daripada lampu mercusuar."Nan, kopinya jangan terlalu kental. Nanti perutmu makin mulas," tegur Fajar sembari tersenyum kecil. Ia menghampiriku, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas perutku yang kini sudah mencapai puncaknya."Anak ini suka ko
Suara sirine pemadam kebakaran terdengar jauh, meredam oleh deburan ombak yang menghantam karang Labuan Bajo. Aku masih bersimpuh di atas aspal yang panas, memandangi api yang mulai mengecil, menyisakan kerangka bambu gubuk kami yang hitam arang. Asapnya membumbung tinggi, berwarna kelabu pekat, membawa aroma kayu terbakar dan—aku tidak sanggup memikirkannya—bau sisa kehidupan suamiku.Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di lubang-lubang aspal yang memantulkan cahaya merah dari sisa api. Aku merangkak maju, mengabaikan teriakan Pak Haji yang baru saja turun dari bukit bersama Bumi. Lututku bergesekan dengan batu-batu tajam, daster batikku robek di bagian bawah, tapi aku tidak peduli."FAJAR!" suaraku hilang, hanya menyisakan bisikan parau yang tertelan angin laut.Aku sampai di depan reruntuhan pintu. Hawa panasnya masih menyengat wajahku, membuat bulu kudukku meremang. Aku mulai menggali abu panas itu dengan tangan kosong. Aku tidak butuh sekop. Aku ingin merasakan sisa-
Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi."Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.Aku berdiri per
Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa."Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar."Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam
Hutan Simarjarunjung malam itu tidak lagi sunyi. Suara tembakan menyalak, memantul di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi seperti raksasa hitam yang mengepung kami. Bau belerang dari mesiu bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang anyir. Aku berlari merayap di antara semak berduri, memeluk kotak besi itu seolah-olah itu adalah jantungku sendiri."Fajar! Di mana kamu?!" teriakku, suaranya parau, tenggorokanku terasa seperti terbakar karena air sungai yang tadi tertelan."Nan... di sini..."Suara itu lemah, muncul dari balik gundukan batu besar di dekat aliran sungai kecil. Aku bergegas mendekat, mengabaikan rasa perih di lututku yang terus menghantam akar pohon. Di sana, aku menemukan Fajar. Ia tergeletak dengan posisi miring, tangan kanannya masih memegang pistol tua yang asapnya masih mengepul, sementara kaki kirinya—kaki yang selama ini lumpuh—tampak tertekuk dengan posisi yang tidak wajar."Dit!" aku menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanganku gemetar
Pagi itu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Udara di luar pengadilan terasa gerah, namun di dalam Ruang Sidang Utama, pendingin ruangan yang mendengung rendah menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang. Kinan duduk di kursi kayu panjang barisan terdepan. Di sam
Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.Mbak
Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe
Rumah Sakit Medika pukul dua dini hari. Lorongnya tampak seperti koridor panjang menuju alam lain—dingin, remang, dan hanya diisi oleh suara mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah. Kinan berjalan perlahan. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menghasilkan gema yang seo







