Se connecterPesawat perintis yang membawaku kembali ke Labuan Bajo bergoyang hebat dihantam badai kecil di atas perairan Komodo. Perutku mual, bukan hanya karena guncangan udara, tapi karena rahasia yang kini berdenyut di dalam rahimku. Aku meraba perutku yang masih rata di balik daster batik yang kini sudah bersih, namun tetap terasa berat. Di sana, ada sebuah kehidupan yang tidak tahu bahwa ayahnya sedang lumpuh dan ibunya baru saja melewati neraka di bawah tanah Bogor.Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas dan bau garam menyambutku seperti pelukan seorang kawan lama yang kasar. Aku tidak menunggu jemputan mewah. Aku berjalan keluar bandara, menyeret tas ransel kusamku, menuju sebuah puskesmas kecil di pinggiran kota.Di sana, di sebuah kamar dengan dinding yang catnya sudah mengelupas dan bau karbol yang menusuk, aku menemukan duniaku yang sesungguhnya.Fajar duduk di atas kursi roda tua yang bannya sudah gundul. Ia menatap ke luar jendela, ke arah laut yang biru, namun matanya kosong.
Ruang bawah tanah di rumah Bogor ini mendadak terasa seperti peti mati yang luas. Cahaya lampu neon di atas kepala kami berkedip-kedip, mengeluarkan bunyi dengung listrik yang menyakitkan telinga. Aku berdiri mematung, menatap Bramantyo Subroto yang berdiri tegak dengan tongkat peraknya—pria yang selama sepuluh tahun ini menipu dunia dengan kursi rodanya.Di layar ponsel yang ia genggam, aku melihat Fajar. Suamiku. Pria yang dulu begitu gagah, kini terikat di kursi kayu di sebuah gudang gelap di Labuan Bajo. Kepalanya terkulai, darah mengering di sudut bibirnya, dan di sampingnya... Bumi, anakku, sedang menangis tanpa suara karena mulutnya dilakban hitam. Di dada mereka, melingkar kabel-kabel merah dan hijau dengan timer digital yang terus berdetak mundur.05:59... 05:58..."Kau pikir kau cerdas, Kinan?" Bramantyo melangkah maju, suara ketukan tongkatnya di lantai semen terdengar seperti detak jantung maut. Tuk... tuk... tuk... "Kau pikir akuntansi bisa menyelamatkanmu dari realita
Bunyi roda pesawat yang menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti palu godam yang menghantam dadaku. Aku kembali ke Jakarta. Kota yang lampunya gemerlap tapi hatinya lebih dingin dari ruang mayat. Aku turun dari pesawat bukan sebagai menantu terhormat keluarga Subroto, melainkan sebagai seorang pesakitan. Rambutku yang biasanya tertata rapi kini kusam, daster batiku tertutup jaket pinjaman Bima yang baunya apek, dan mataku... mataku menyimpan rahasia yang paling kelam.Di pintu kedatangan, sebuah mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu. Pintu terbuka, dan Aris—anjing setia Bramantyo—tersenyum meremehkan."Selamat datang kembali ke realita, Nyonya Kinan," sindirnya sembari membukakan pintu. "Tuan Besar sudah menunggu di rumah Bogor. Beliau bilang, mawar yang layu tetap mawar, asalkan tahu cara bersimpuh."Aku tidak menjawab. Sepanjang perjalanan menuju Bogor, aku hanya menatap pantulan wajahku di kaca mobil yang gelap. Aku terlihat seperti mayat hidup. Tapi di balik tatap
Lantai semen Puskesmas Labuan Bajo ini terasa sangat dingin di telapak kakiku yang tanpa alas. Aku duduk di bangku kayu panjang yang sudah reyot, menatap bayanganku sendiri di kaca jendela yang buram oleh uap hujan. Di balik pintu kayu bercat putih yang sudah mengelupas di depanku, Fajar sedang diperiksa. Suara erangan tertahannya sesekali menembus celah pintu, menghujam jantungku lebih tajam daripada peluru Maria.Bumi tertidur di sampingku, kepalanya bersandar di pahaku yang masih berbekas noda lumpur dan darah kering. Napas anakku berat, sesekali ia mengigau menyebut nama "Ayah". Aku mengusap rambutnya yang kasar karena air garam, mencoba memberikan ketenangan yang aku sendiri pun tidak memilikinya."Nan..."Bima muncul dari arah koridor, wajahnya kusam, matanya merah karena kurang tidur. Ia menyodorkan sebuah ponsel tua dengan layar yang retak. "Lihat ini. Kabar buruknya belum selesai."Aku melihat layar itu. Pesan singkat dari bank pusat: Akses akun dibekukan atas permintaan
Suara ledakan di dermaga itu masih menyisakan denging panjang di telingaku, sebuah frekuensi tinggi yang membuat kepalaku serasa mau pecah. Asap hitam bergulung-gulung ke langit Labuan Bajo yang mulai jingga, membawa bau solar terbakar dan kayu manis yang hangus. Aku berlari. Kakiku yang telanjang menghantam aspal yang masih menyimpan panas matahari siang, terasa seperti menginjak bara api, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sesak di dadaku."BUMIII!" jeritanku pecah, tenggelam dalam deru api yang melahap kapal-kapal nelayan.Di ujung dermaga yang sudah retak dan berasap, aku melihatnya. Maria Subroto. Wanita itu berdiri tegak dengan gaun putih yang melambai tertiup angin laut, tampak seperti malaikat maut yang baru saja bangkit dari kubur. Di pelukannya, Bumi meronta-ronta, tangisan anakku itu terdengar parau, tercekik oleh asap dan ketakutan."Berhenti di situ, Kinan!" suara Maria melengking, tajam seperti pisau yang menggores kaca. Ia berdiri tepat di tepian
Udara malam di Labuan Bajo biasanya membawa aroma laut yang menenangkan, tapi malam ini, bau yang masuk ke lubang hidung Kinan adalah bau solar dari mesin berat dan asap dari ban bekas yang dibakar warga di depan pagar proyek. Di dalam tenda plastik yang pengap, cahaya lampu minyak bergoyang-goyang, melemparkan bayangan raksasa yang menakutkan ke dinding terpal.Kinan duduk di atas tikar pandan yang anyamannya sudah mulai terlepas. Di pangkuannya, kepala Fajar bersandar. Suaminya itu memejamkan mata, namun Kinan tahu Fajar tidak tidur. Rahangnya mengeras setiap kali terdengar suara dentuman alat berat dari balik bukit. Tangan Kinan yang kasar karena air garam mengusap kening Fajar, mencoba mengusir panas demam yang kembali menyerang saraf-saraf lumpuhnya."Nan... kau dengar itu?" bisik Fajar tanpa membuka mata. "Suara ekskavator itu... kedengarannya seperti mereka sedang menggali kubur untuk kita semua.""Mereka cuma menggali lubang untuk kesombongan mereka sendiri, Dit," jawab Kin
Pagi itu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Udara di luar pengadilan terasa gerah, namun di dalam Ruang Sidang Utama, pendingin ruangan yang mendengung rendah menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang. Kinan duduk di kursi kayu panjang barisan terdepan. Di sam
Pagi itu, langit Jakarta seolah enggan menampakkan wajahnya. Mendung menggantung rendah, membuat suasana kota terasa seperti lukisan kusam yang hampir luntur. Kinan melangkah keluar dari lobi apartemennya dengan perasaan yang tidak menentu. Di tasnya, tersimpan rapi berkas-berkas tambahan untuk sid
Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.Mbak
Rumah Sakit Medika pukul dua dini hari. Lorongnya tampak seperti koridor panjang menuju alam lain—dingin, remang, dan hanya diisi oleh suara mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah. Kinan berjalan perlahan. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menghasilkan gema yang seo







