LOGINBunyi roda pesawat yang menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti palu godam yang menghantam dadaku. Aku kembali ke Jakarta. Kota yang lampunya gemerlap tapi hatinya lebih dingin dari ruang mayat. Aku turun dari pesawat bukan sebagai menantu terhormat keluarga Subroto, melainkan sebagai seorang pesakitan. Rambutku yang biasanya tertata rapi kini kusam, daster batiku tertutup jaket pinjaman Bima yang baunya apek, dan mataku... mataku menyimpan rahasia yang paling kelam.Di pintu kedatangan, sebuah mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu. Pintu terbuka, dan Aris—anjing setia Bramantyo—tersenyum meremehkan."Selamat datang kembali ke realita, Nyonya Kinan," sindirnya sembari membukakan pintu. "Tuan Besar sudah menunggu di rumah Bogor. Beliau bilang, mawar yang layu tetap mawar, asalkan tahu cara bersimpuh."Aku tidak menjawab. Sepanjang perjalanan menuju Bogor, aku hanya menatap pantulan wajahku di kaca mobil yang gelap. Aku terlihat seperti mayat hidup. Tapi di balik tatap
Lantai semen Puskesmas Labuan Bajo ini terasa sangat dingin di telapak kakiku yang tanpa alas. Aku duduk di bangku kayu panjang yang sudah reyot, menatap bayanganku sendiri di kaca jendela yang buram oleh uap hujan. Di balik pintu kayu bercat putih yang sudah mengelupas di depanku, Fajar sedang diperiksa. Suara erangan tertahannya sesekali menembus celah pintu, menghujam jantungku lebih tajam daripada peluru Maria.Bumi tertidur di sampingku, kepalanya bersandar di pahaku yang masih berbekas noda lumpur dan darah kering. Napas anakku berat, sesekali ia mengigau menyebut nama "Ayah". Aku mengusap rambutnya yang kasar karena air garam, mencoba memberikan ketenangan yang aku sendiri pun tidak memilikinya."Nan..."Bima muncul dari arah koridor, wajahnya kusam, matanya merah karena kurang tidur. Ia menyodorkan sebuah ponsel tua dengan layar yang retak. "Lihat ini. Kabar buruknya belum selesai."Aku melihat layar itu. Pesan singkat dari bank pusat: Akses akun dibekukan atas permintaan
Suara ledakan di dermaga itu masih menyisakan denging panjang di telingaku, sebuah frekuensi tinggi yang membuat kepalaku serasa mau pecah. Asap hitam bergulung-gulung ke langit Labuan Bajo yang mulai jingga, membawa bau solar terbakar dan kayu manis yang hangus. Aku berlari. Kakiku yang telanjang menghantam aspal yang masih menyimpan panas matahari siang, terasa seperti menginjak bara api, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sesak di dadaku."BUMIII!" jeritanku pecah, tenggelam dalam deru api yang melahap kapal-kapal nelayan.Di ujung dermaga yang sudah retak dan berasap, aku melihatnya. Maria Subroto. Wanita itu berdiri tegak dengan gaun putih yang melambai tertiup angin laut, tampak seperti malaikat maut yang baru saja bangkit dari kubur. Di pelukannya, Bumi meronta-ronta, tangisan anakku itu terdengar parau, tercekik oleh asap dan ketakutan."Berhenti di situ, Kinan!" suara Maria melengking, tajam seperti pisau yang menggores kaca. Ia berdiri tepat di tepian
Udara malam di Labuan Bajo biasanya membawa aroma laut yang menenangkan, tapi malam ini, bau yang masuk ke lubang hidung Kinan adalah bau solar dari mesin berat dan asap dari ban bekas yang dibakar warga di depan pagar proyek. Di dalam tenda plastik yang pengap, cahaya lampu minyak bergoyang-goyang, melemparkan bayangan raksasa yang menakutkan ke dinding terpal.Kinan duduk di atas tikar pandan yang anyamannya sudah mulai terlepas. Di pangkuannya, kepala Fajar bersandar. Suaminya itu memejamkan mata, namun Kinan tahu Fajar tidak tidur. Rahangnya mengeras setiap kali terdengar suara dentuman alat berat dari balik bukit. Tangan Kinan yang kasar karena air garam mengusap kening Fajar, mencoba mengusir panas demam yang kembali menyerang saraf-saraf lumpuhnya."Nan... kau dengar itu?" bisik Fajar tanpa membuka mata. "Suara ekskavator itu... kedengarannya seperti mereka sedang menggali kubur untuk kita semua.""Mereka cuma menggali lubang untuk kesombongan mereka sendiri, Dit," jawab Kin
Suara mesin pesawat baling-baling yang membawa mereka kembali ke Labuan Bajo terdengar seperti dengung lebah yang marah di telinga Kinan. Di sampingnya, Fajar duduk di kursi roda khusus yang dipasang di kabin, wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong ke hamparan laut biru di bawah sana yang dulu adalah "kantornya". Bahunya masih dibalut penyangga, namun yang paling menyakitkan bagi Kinan bukan luka tembak itu, melainkan kaki Fajar yang kini hanya bisa terkulai diam, tak lagi mampu merasakan getaran lantai pesawat.Bumi tertidur di pangkuan Kinan, jemari kecilnya mencengkeram daster batik ibunya seolah takut jika ia melepasnya, ia akan kembali ke vila mawar hitam yang dingin itu."Nan..." suara Fajar lirih, nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Kenapa kita balik ke sini? Aku... aku nggak bisa jadi nelayan lagi. Aku cuma bakal jadi beban di atas perahu Pak Haji."Kinan menggenggam tangan Fajar, merasakan dinginnya kulit suaminya yang tak lagi terbakar matahari. "Kita nggak balik buat
Lampu lobi Rumah Sakit Medika Sentul terasa terlalu terang, menyakitkan mata Kinan yang sudah sembap dan merah karena terus-menerus terpapar angin badai dan air mata. Bau di sini bukan lagi antiseptik yang menenangkan, melainkan bau kematian yang tertunda. Kinan berdiri mematung di samping brankar Fajar yang sedang didorong tergesa-gesa oleh empat perawat menuju ruang bedah trauma."Dit... Fajar..." bisik Kinan, tangannya yang gemetar terlepas dari pinggiran brankar saat pintu ganda otomatis itu tertutup dengan bunyi suuutt yang final.Ia sendirian di koridor yang dingin itu. Bumi sudah diamankan oleh Bima di ruang tunggu anak, meski bocah itu terus memanggil "Ibu" dengan suara yang menyayat hati. Kinan menunduk, menatap daster batiknya. Kain itu bukan lagi berwarna cokelat sogan, melainkan merah tua kehitaman. Darah Fajar. Darah suaminya yang selama ini ia kira adalah saudara sedarahnya.Lalu, sebuah suara roda yang berderit memecah kesunyian koridor.Kinan menoleh. Di ujung loro
Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe
Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah
Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak s
Pagi itu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Udara di luar pengadilan terasa gerah, namun di dalam Ruang Sidang Utama, pendingin ruangan yang mendengung rendah menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang. Kinan duduk di kursi kayu panjang barisan terdepan. Di sam







