Share

Ibu Pertama

Author: Goresantinta
last update publish date: 2026-10-02 06:29:55

"Itu adalah istri pertama," bisiknya akhirnya. "Ibu kandungku."

Pelukan Adrian mengerat. Terlalu erat sampai aku sulit bernapas. Tapi bukan karena tenaganya. Karena ketakutannya. Ini pertama kalinya aku melihat Adrian takut pada sesuatu di rumahnya sendiri.

"Cermin itu tidak seharusnya jatuh," kata Adrian dengan suara pelan, nyaris seperti ia bicara pada dirinya sendiri. "Dia tidak pernah bisa keluar dari taman."

Aku masih menatap kain putih yang menutupi cermin itu. Kain itu bergerak. Pelan. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAHAR DARAH KE-13   Bisikan Terakhir Adrian

    "Halo, Ibu."Bayi di ayunan ketiga belas itu masih menatapku. Matanya hitam semua, tanpa putih. Tertawa.Aku memeluk perutku erat. Perutku sakit sekali. Akar emas dari pusarku masih menusuk ke dalam, menusuk bayi cahaya di dalam rahimku."LEPAS ANAKKU!" teriakku.Adrian tidak menunggu lagi. Cahaya merah di tangannya meledak terang."JANGAN SENTUH ISTRIKU!"DUAR!Cahaya merah itu menghantam ayunan ketiga belas. Ayunan itu terbakar. Bayi bermata hitam itu menjerit. Bukan jeritan bayi, tapi jeritan laki-laki tua. Gunawan."ADRIAN! KAU MELAWAN AYAHMU SENDIRI!"Dari dalam cermin, Gunawan juga menjerit kesakitan. Cermin yang meleleh itu retak.Clara langsung menarik tanganku."Elodie! Sekarang! Selagi pintunya retak!""Perutku sakit sekali.""Jangan lihat perutmu! Lihat aku!" bentak Clara. Ia menampar pipiku pelan. "Tarik napas! Ingat, kamu belum melahirkan! Anakmu masih di dalam! Yang di ayunan itu cuma bayangan. Kalau kamu percaya dia sudah lahir, kamu akan benar-benar melahirkan di sini

  • MAHAR DARAH KE-13   Wadah

    Tangan yang memegang pergelangan kakiku masih dingin. Wajahku sendiri dari dalam tanah masih tersenyum."Selamat datang di ayunanmu yang sebenarnya, Elodie," bisiknya."LEPAS!" Aku menendang.Adrian langsung menarikku. "Jangan lihat dia, Elodie!"Tapi Ibu Pertama mengangkat tangannya. Tanah di bawah wajah itu bergetar, dan tangan pucat itu meleleh jadi akar hitam yang rontok."Sudah cukup," kata Ibu Pertama pelan. Suaranya bergetar. "Jangan takutkan dia lagi."Aku masih gemetar. Perutku besar sekali, urat emasnya berdenyut cepat.Ibu Pertama menatap perutku lama, lalu menatap Adrian."Adrian, kamu belum pernah cerita ke istrimu bagaimana kamu lahir, kan?" tanya Ibu Pertama.Adrian terdiam. Rahangnya mengeras. "Ibu, jangan sekarang.""Justru harus sekarang," potong Clara. Gaun putihnya kotor oleh tanah. "Sebelum taman memilih untuknya. Dia harus tahu kenapa perutnya sakit terus. Kenapa anaknya bisa ngomong."Aku menatap Adrian. "Adrian, apa maksudnya?"Adrian menunduk. Cahaya merah di

  • MAHAR DARAH KE-13   Ibu Pertama

    "Itu adalah istri pertama," bisiknya akhirnya. "Ibu kandungku."Pelukan Adrian mengerat. Terlalu erat sampai aku sulit bernapas. Tapi bukan karena tenaganya. Karena ketakutannya. Ini pertama kalinya aku melihat Adrian takut pada sesuatu di rumahnya sendiri."Cermin itu tidak seharusnya jatuh," kata Adrian dengan suara pelan, nyaris seperti ia bicara pada dirinya sendiri. "Dia tidak pernah bisa keluar dari taman."Aku masih menatap kain putih yang menutupi cermin itu. Kain itu bergerak. Pelan. Seolah ada angin dari baliknya, padahal jendela kamar tertutup rapat."Adrian, dia menatapku. Wanita di ayunan ketiga belas itu wajahnya tertutup akar, tapi aku merasa dia-""Jangan sebut namanya," potong Adrian cepat. "Jangan pikirkan dia. Dia mendengar dari dalam pikiran."Tiba-tiba urat emas di perutku berdenyut lagi. Tidak sakit seperti tadi, tapi bergetar halus."Ibu, dia sudah menunggu lama," bisik suara kecil dari dalam perutku. Suaranya jernih, tidak lagi mengantuk. "Ibu pertama bilang, k

  • MAHAR DARAH KE-13   Malam Kedua

    Perutku tidak lagi rata.Setelah pernikahan darah itu, perutku sempat mengecil. Tapi di hari kedua, ia kembali membesar. Lebih cepat. Lebih besar.Sekarang terlihat seperti hamil sembilan bulan.Dan yang paling mengerikan, aku tidak lagi sendirian di dalam kepalaku."Ibu, aku lapar."Aku terbangun tengah malam karena suara itu. Bukan suara Adrian. Bukan juga suara dua belas pengantin. Suara itu datang dari dalam perutku sendiri. Kecil, serak, seperti anak kecil yang berbisik di dalam air.Aku memegangi perutku yang bergerak pelan. Kulitku yang pucat kini dipenuhi urat-urat emas tipis, sama persis seperti akar gelang duri mawarku. Urat itu berdenyut, seirama dengan detak jantungku, dan satu detak lain yang jauh lebih cepat di dalamnya."Ibu, beri aku makan.""Adrian! Adrian cepat bangun!"Aku panik dan mengguncang tubuh Adrian yang tidur di sampingku. Sejak pernikahan darah, dia tidak lagi tidur di sofa. Dia tidur memelukku. Satu tangannya selalu siaga di atas perutku.Adrian langsung

  • MAHAR DARAH KE-13   Malam Pertama Sebagai Nyonya Blackwood

    Darah Adrian masih terasa di bibirku. Manis, bau besi dan mawar busuk.Lingkaran darah di lantai kamar tiga belas itu perlahan mengering, meresap ke dalam kayu hitam, meninggalkan bekas ukiran mawar yang menyala redup. Sama seperti gelang duri di tanganku.Sunyi.Setelah jeritan dua belas pengantin itu berhenti dan semua pintu di koridor tertutup sendiri dengan suara yang menggema, kamar ini kembali sunyi.Adrian berlutut di depanku. Pergelangan tangannya yang tadi robek masih mengucurkan darah hitam, tapi lukanya perlahan menutup sendiri. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan tatapan dingin tuan rumah. Tapi tatapan seorang suami yang takut kehilangan istrinya."Kamu sudah melakukannya," bisiknya pelan."Kamu sudah jadi Nyonya Blackwood yang sah. Sekarang rumah ini tidak bisa menolakmu. Mereka juga tidak bisa mengambil paksa lagi."Aku menatap perutku yang rata. Aku mengusapnya pelan. Urat emas tipis dari gelangku masih terlihat samar di bawah kulit

  • MAHAR DARAH KE-13   Pernikahan Darah

    "Pernikahan dengan darah? Apa maksudmu?" bisikku. Perutku yang sudah sebesar hamil lima bulan itu terasa berat, panas, dan terus bergerak-gerak seperti ada kuku yang menggaruk dari dalam.Gedoran di luar semakin brutal.BRAK!Retakan di pintu kayu hitam itu semakin lebar. Asap hitam Adrian mulai menipis. Aku bisa melihat bayangan dua belas gaun putih di balik celah pintu, semuanya merapat, semuanya mengerikan."Mereka tidak akan bertahan lama!" geram Adrian. Matanya merah padam, urat-urat hitam mulai muncul di lehernya. Ia tidak lagi terlihat seperti pria tampan yang menikahiku. Ia terlihat seperti penjaga rumah ini yang sebenarnya.Tanpa ragu, ia merobek pergelangan tangannya sendiri dengan kuku jarinya yang tiba-tiba memanjang dan hitam mengkilat.Darah merah pekat, hampir hitam, langsung mengucur deras. Tetesannya jatuh ke lantai kayu hitam dan mendesis, seperti air yang jatuh di atas bara."Di keluarga Blackwood, gelang hanya untuk mengikat jiwa. Tapi darah untuk mengikat rahim,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status