ログインPerutku tidak lagi rata.Setelah pernikahan darah itu, perutku sempat mengecil. Tapi di hari kedua, ia kembali membesar. Lebih cepat. Lebih besar.Sekarang terlihat seperti hamil sembilan bulan.Dan yang paling mengerikan, aku tidak lagi sendirian di dalam kepalaku."Ibu, aku lapar."Aku terbangun tengah malam karena suara itu. Bukan suara Adrian. Bukan juga suara dua belas pengantin. Suara itu datang dari dalam perutku sendiri. Kecil, serak, seperti anak kecil yang berbisik di dalam air.Aku memegangi perutku yang bergerak pelan. Kulitku yang pucat kini dipenuhi urat-urat emas tipis, sama persis seperti akar gelang duri mawarku. Urat itu berdenyut, seirama dengan detak jantungku, dan satu detak lain yang jauh lebih cepat di dalamnya."Ibu, beri aku makan.""Adrian! Adrian cepat bangun!"Aku panik dan mengguncang tubuh Adrian yang tidur di sampingku. Sejak pernikahan darah, dia tidak lagi tidur di sofa. Dia tidur memelukku. Satu tangannya selalu siaga di atas perutku.Adrian langsung
Darah Adrian masih terasa di bibirku. Manis, bau besi dan mawar busuk.Lingkaran darah di lantai kamar tiga belas itu perlahan mengering, meresap ke dalam kayu hitam, meninggalkan bekas ukiran mawar yang menyala redup. Sama seperti gelang duri di tanganku.Sunyi.Setelah jeritan dua belas pengantin itu berhenti dan semua pintu di koridor tertutup sendiri dengan suara yang menggema, kamar ini kembali sunyi.Adrian berlutut di depanku. Pergelangan tangannya yang tadi robek masih mengucurkan darah hitam, tapi lukanya perlahan menutup sendiri. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan tatapan dingin tuan rumah. Tapi tatapan seorang suami yang takut kehilangan istrinya."Kamu sudah melakukannya," bisiknya pelan."Kamu sudah jadi Nyonya Blackwood yang sah. Sekarang rumah ini tidak bisa menolakmu. Mereka juga tidak bisa mengambil paksa lagi."Aku menatap perutku yang rata. Aku mengusapnya pelan. Urat emas tipis dari gelangku masih terlihat samar di bawah kulit
"Pernikahan dengan darah? Apa maksudmu?" bisikku. Perutku yang sudah sebesar hamil lima bulan itu terasa berat, panas, dan terus bergerak-gerak seperti ada kuku yang menggaruk dari dalam.Gedoran di luar semakin brutal.BRAK!Retakan di pintu kayu hitam itu semakin lebar. Asap hitam Adrian mulai menipis. Aku bisa melihat bayangan dua belas gaun putih di balik celah pintu, semuanya merapat, semuanya mengerikan."Mereka tidak akan bertahan lama!" geram Adrian. Matanya merah padam, urat-urat hitam mulai muncul di lehernya. Ia tidak lagi terlihat seperti pria tampan yang menikahiku. Ia terlihat seperti penjaga rumah ini yang sebenarnya.Tanpa ragu, ia merobek pergelangan tangannya sendiri dengan kuku jarinya yang tiba-tiba memanjang dan hitam mengkilat.Darah merah pekat, hampir hitam, langsung mengucur deras. Tetesannya jatuh ke lantai kayu hitam dan mendesis, seperti air yang jatuh di atas bara."Di keluarga Blackwood, gelang hanya untuk mengikat jiwa. Tapi darah untuk mengikat rahim,"
Aku terbangun karena mual.Bukan mual biasa. Mual yang naik dari perut sampai ke tenggorokan, asam, pahit. Aku langsung lari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tiga belas ini dan muntah.Tidak ada isi. Hanya cairan bening dan darah segar.Darah itu bukan dari tenggorokanku. Aku bisa merasakannya. Darah itu keluar dari dalam perutku.Adrian sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi. Entah sejak kapan dia ada di sana. Jas hitamnya sudah dilepas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung. Matanya kembali normal, hitam dengan semburat merah tipis, bukan hitam pekat seperti semalam."Kamu hamil," katanya. Datar. Bukan pertanyaan. Pernyataan.Aku membeku sambil masih memegangi kloset. Tangan yang ada gelang duri mawarnya gemetar."Apa maksudmu hamil? Kita bahkan belum melakukan apa pun semalam!" jeritku. Suaraku pecah karena panik.Adrian berjongkok di depanku. Ia meraih daguku dengan lembut, memaksaku menatapnya. Tangannya yang satu lagi menyentuh perutku yang masih rata di balik keba
"Elodie, putriku, buka pintunya."Suara itu lagi. Persis suara ibu. Serak, pelan, seperti orang yang sudah lama menangis di tengah hujan.Tanganku refleks ingin mendorong tangan Adrian yang membekap mulutku. Itu ibu. Ibu yang hutangnya dilunasi dengan menjualku ke Adrian."Shhh," bisik Adrian tepat di telingaku. Napasnya panas. Pelukannya semakin erat, tubuhku terkunci di dalam pelukannya di atas ranjang. "Dengar baik-baik, Elodie. Itu bukan ibumu."Aku menggeleng keras di dalam bekapannya. Air mataku membasahi jari-jarinya."Jika itu ibumu, bagaimana dia bisa tahu kamu di kamar nomor tiga belas?" bisik Adrian lagi. "Tidak ada seorang pun di desamu yang tahu denah rumah ini. Bahkan ayahmu."Kalimat itu membuatku membeku.Benar. Ayah hanya bilang aku akan dinikahkan dengan Tuan Blackwood yang kaya raya dari kota. Ayah tidak pernah menyebut koridor batu bata, lilin biru, atau kamar nomor tiga belas.Di luar pintu, suara itu berubah. Dari memanggil pelan menjadi menggedor.BRAK!"Elodie!
Koridor ini terasa tidak ada ujungnya. Di kiri kanan kami ada puluhan pintu kayu hitam. Semua tertutup rapat. Dari balik beberapa pintu, aku bisa mendengar suara-suara samar. Ada yang menangis pelan, ada yang tertawa cekikikan, ada yang menggaruk-garuk pintu dari dalam seperti ingin keluar."Jangan dengarkan," kata Adrian lagi tanpa menoleh. Seolah dia tahu aku mendengarnya.Sampai akhirnya kami berhenti di depan satu pintu di ujung paling akhir koridor. Pintu ini berbeda. Kayunya lebih baru, dan di atasnya terukir angka 13 dengan ukiran mawar yang sama seperti di gelangku.Kamar ketiga belas. Kamarku.Adrian mendorong pintu itu. Tidak terkunci.Di dalamnya aku tidak tahu harus berkata apa. Kamar ini indah. Terlalu indah untuk rumah semenyeramkan ini. Ranjang empat tiang dengan kelambu putih, perapian besar yang menyala hangat, meja rias dengan cermin besar, dan lemari pakaian penuh dengan gaun-gaun mahal. Jendelanya besar, menghadap ke taman yang gelap.Tapi ada yang salah.Di atas r







