ログインSejak diusir papanya Dhani, Fajar berupaya kuliah, dia ingin merubah nasib. Dia banting tulang dan dengan susah payah bisa kuliah.
Kemarin Fajar baru saja di wisuda, kali ini dia pulang ke desa sekalian mengantarkan mamah-nya ke desa. Dalam dialeg khas daerahnya memang bukan mama panggilan untuk Ibu, melainkan MAMAH.
Saat di desa oleh ibunya, Fajar dikenalkan pada Mayza Zianisa Lastyanto atau yang biasa hari-hari dipanggil Nisha. Tapi beberapa teman gaul yang akrab dengannya kadang suka memanggil Shasi dari singkatan dua patah namanya mayZA ZIanisa. Dari kata ZAZI itulah tercetus panggilan Shasi.
Tapi hanya teman yang sangat dekat tahu panggilan itu, bahkan Fajar juga tak tahu. Perkenalan Fajar dan Nisha dilanjut sampai mereka menikah walau Nisha tahu tak ada cinta dari Fajar. Tak salah kalau Nisha mengatakan MAHAR TANPA CINTA untuk ikatan pernikahannya dengan Fajar.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Demi menghormati ibunya yang sudah melamar maka Nisha menerima lamaran tersebut, jadilah delapan tahun lalu mereka menikah. dua tahun kemudian lahirlah Naffa.
“Kamu seriusan nggak mau diantar?” tanya Fajar dengan lembut pada Nisha.
“Nggak perlu Kang. Aku sama anak-anak saja. Ditemani sama Budiman,” ucap Nisha sambil membereskan baju ganti anak-anaknya.
“Aku bisa lho antar kamu,” tawar Fajar basa basi.
“Enggak perlu. Enggak apa apa. Aku pulang sekolah langsung kok. Jadi anak-anak juga masih pakai seragam saja biar lebih cepat.”
Semalam Nisha sudah pamit pada Fajar akan pulang ke rumah orang tuanya di hari Jumat. Sudah satu minggu dia menahan emosi dalam dadanya.
‘Pantas saja istri keduanya tak peduli kalau Fajar tidak tidur menginap di rumahnya. Karena istri mudanya itu tahu setiap pagi Fajar datang ke sekolah itu mengantarkan Naffa lalu habis itu mereka entah ke mana sebelum akhirnya Fajar ke kantor. Itu yang Menik ucapkan kalau Fajar selalu menunggu mamanya lalu mereka pergi bersama.’
‘Pasti dia akan senang kalau aku pulang ke kampung, dia akan leluasa menginap di rumah istri muda yang lebih tua dari aku itu,’ batin Nisha.
Tadi di depan Fajar, Nisha hanya membawa sedikit baju ganti. Begitu Fajar pergi mengantar Naffa sekolah, Nisha langsung packing baju sangat banyak dalam dus dan koper. Semua ijazah dia bawa, perhiasan serta surat rumah ini, juga surat tanah kantor Fajar yang atas namanya semua dia bawa.
Hanya surat mobil yang bukan atas namanya. Dia kosongkan semua pakaian dan mainan kedua anaknya. Semua langsung diangkat oleh Budiman dengan mobil bak.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Jam 09.00 Nisha meninggalkan rumah yang telah dia kosongkan dari barangnya juga barang anak-anak dan barang Budiman adiknya. Semua surat penting anak-anak juga sudah dia bawa. Nisha naik mobil sewaan agar nyaman pulang bersama putra putrinya.
Selama ini memang Nisha tak pernah diberi gaji bulanan karena Fajar bukan pegawai. Fajar itu awalnya marketing sehingga setiap ada uang masuk dia masukkan ke rekeningnya, dia beri Nisha uang rutin tiap minggu. Setiap Jumat sore dia kasih uang rutin untuk Nisha jadi memang bukan uang gaji bulanan sehingga Nisha tak pernah tahu berapa uang yang ada di rekening Fajar. Yang penting semua kebutuhan rumah tangga selalu terpenuhi. Itu saja prinsip Nisha sejak dulu.
Seiring berjalannya waktu mereka bisa membeli rumah ini dan tanah untuk kantor yang menggunakan nama Nisha. Fajar bilang itu memang hak Nisha karena dengan cinta Nisha mereka bisa berhasil membangun usaha.
Karena hanya Fajar yang tahu berapa isi rekeningnya, otomatis mau punya istri berapa pun Fajar tak akan takut Nisha tahu dananya berkurang. Karena jatah mingguan Nisha selalu full tanpa kurang satu rupiah pun. Tak pernah diketahui berapa uang yang dia miliki.
Sebenarnya kampungnya Nisha tak terlalu jauh dari Jakarta, ada di Lebak Banten. Dari Jakarta tak terlalu lama. Menjelang ashar dia sudah tiba di rumah kedua orang tuanya. Tentu saja orang tuanya kaget karena Nisha tak mengabari bahwa dia akan datang bersama anak-anak. Nisha lama karena dia harus menyembunyikan barang-barangnya dulu dari orang tuanya. Dia datang hanya bawa satu koper kecil baju untuk dia bertiga anak-anaknya dan Ujang atau Budiman hanya bawa baju di ransel bututnya.
Kalau Nisha datang dengan barang, orang tuanya bisa langsung pingsan. Itu sebabnya Nisha mengantar semua barang miliknya dan milik anak-anak ke suatu tempat yang telah lima hari lalu dia persiapkan. Kepergiannya hari ini bukan tanpa perencanaan. Begitu tahu kebenaran perselingkuhan Fajar, dia langsung bertindak.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kunaon atuh datang nggak bilang-bilang Teteh? Kenapa juga anak-anak masih pakai baju seragam?” tanya sang ambu dengan kecerewetannya yang khas.
“Aku sengaja pulang sekolah langsung berangkat ke sini Ambu. Jadi nggak buang waktu. Anak-anak kalau sudah di rumah nanti mereka ganti baju segala macam buang waktu, malah akhirnya malas berangkat,” jawab Nisha memeluk erat perempuan pujaan hatinya itu.
Rumah orang tua Fajar juga tak terlalu jauh dari rumah kedua orang tua Nisha. Sejak Fajar SMA, ayahnya Aditya Danoeswan sudah tak ada. Yang ada tinggal ibunya yaitu Widyawati.
“Kalian mandi sama nenek ya. Bunda mau ke rumah enin dulu,” kata Nisha pada Naffa dan Zahran.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Nisha datang ke rumah ibu mertuanya, tentu saja disambut dengan senang hati oleh sang ibunda dia berikan oleh-oleh yang sengaja dia bawa buat sang ibu mertua.
“Tumben Eneng ke sini nggak bilang-bilang dan kenapa nggak sama Fajar?” tanya Widya mengusap kepala menantunya.
“Kang Fajar sibuk. Aku kangen saja sama Mamah, jadi aku ke sini sendirian. Biarin saja lah nggak apa-apa,” balas Nisha dengan senyum manis.
“Aku cuma mau minta, besok Mamah datang ke rumah Ibu ya, pas jam makan siang. Kita makan siang bareng. Sudah lama banget nggak makan sambel oncomnya Mamah. Meni’ sono,” ucap Nisha.
“Ya besok Mamah akan ke sana pagi, sekalian sambil masak dan main sama cucu-cucu Mamah,” kata bu Widya, ibunya Fajar.
Mereka pun ngobrol dan sebelum maghrib Nisha pulang. Dia lajukan motornya pelan-pelan menikmati damainya suasana desa tempat kelahirannya. Desa yang tentram.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Acara makan siang ini super rame tentu saja semua bahagia karena Nisha pulang bersama Budiman adiknya juga Naffa dan Zahran.
“Jang, habis ini kamu bawa anak-anak keluar. Teteh mau bicara sama ambu dan bapak juga mamah,” pesan Nisha.
“Iya Teh,” kata Budiman yang biasa dipanggil Ujang itu. Dia tahu pedihnya luka hati kakak tercintanya. Mereka dua bersaudara dan sejak kecil selalu saling berbagi cerita.
“Ambu, Bapak punten kalau kedatangan abdi teh di sini gangguin Ambu sama Bapak.” ucap Nisha ketika mereka sudah duduk santai di bale belakang, ada banyak kursi bambu di sekitar bale.
“Mamah, punten karena kedatangan abdi di sini ngerepotin Mamah karena kemarin Eneng minta Mamah makan siang di sini, malah tadi Mamah ikutan masak dulu,” Nisha berupaya sopan.
“Aku cuma mau cerita, tapi Mamah sama Ambu tolong tekan emosinya.”
“Hari Jumat yang lalu, bukan Jumat kemarin. Naffa pulang sedih. Dia bilang temannya habis punya papa baru. Kalau hanya sekedar punya papa baru tentu dia tidak akan sedih. Yang bikin Naffa sedih, papa baru temannya adalah ayahnya Naffa, yaitu Fajar!”
“Alhamdulillah,” ucap semua yang hadir saat itu. Pengajian empat bulan kehamilan Nisha yang berlangsung dengan sangat mewah dan megah sudah selesai semua tamu juga sudah diberi tanda kenang-kenangan.“Bapak, Ibu dan Saudara para hadirin yang terhormat,” kata seorang artis lokal yang menjadi MC di acara pengajian tersebut.“Alhamdulillah acara pengajian yang dilakukan oleh bapak Yaka dan ibu Nisha telah berhasil kita selesaikan dengan sangat lancar. Kali ini kita akan sampai pada acara berikut yaitu acara yang kita sebut GENDER REVEAL, yaitu suatu acara yang diadopsi dari kebudayaan Barat tentang memberitahu atau mengumumkan jenis kelamin dari bayi yang dikandung oleh ibu Nisha,” para tamu tak mengira ada acara tambahan ini. Mereka kira tinggal menonton hiburan dari artis lokal saja.
Nisha hanya mendengarkan apa yang suaminya katakan pada Naffa melalui telepon saat Ujang berada di sekolah putrinya. Tak bisa dia bayangkan apa Fajar akan sebijaksana itu mendidik Naffa? Gadis kecil berusia sembilan tahun itu menuruti semua nasihat Yaka sang pujaan hati.Dengan mengangkat daada dia datang ke rumah duka. Tak ada takut, tak ada gentar.“Assalamu’alaykum Kek, Aku adalah wakil dari mommy dan daddy yang saat ini tidak bisa hadir, karena adik Zahran sakit panas sehingga mommy terlalu lelah untuk perjalanan jauh.”“Terima kasih ya Sayang. Kamu mau datang ke rumah enin,” kata Umar.Selesai salim pada beberapa tetua di sana, Naffa duduk di sebelah jenazah neneknya. Di seberangnya duduk Fajar. Naffa sendirian tidak bersama Ujang. Ujang hanya memantau saja karena sejak tadi Fajar sudah di ultimatum oleh Lastyanto jangan pernah dekati Naffa bila tak ingin dihajar oleh Yaka dan Ujang.Naffa membaca ay
“Ikuti saran imammu! kamu tidak boleh membantah,” kata Lastyanto pada Nisha saat putrinya ingin ikut ke Banten. Barusan Raihana diberitahu oleh pembantu rumah tangga Widya yang mengatakan mereka menemukan Widya pingsan di kamarnya dan ada beberapa amplop di meja kamarnya. Tapi mereka bilang mereka tidak akan pegang amplop-amplop itu. Sekarang Widya sedang dibawa ke rumah sakit. Itu yang Raihana terima.“Kamu di rumah saja Mom. Tidak baik buat kondisi emosi. Biar Daddy saja yang berangkat. Daddy akan mewakili kamu sebagai mantan menantunya. Kalau ada yang mengatakan bahwa kamu tidak peduli sama dia, Daddy yang akan pasang badan untuk kamu. Bukan kamu tidak mau berangkat, tapi kamu tidak boleh berangkat. Daddy nggak mau emosi merusak kamu sedang hamil. Bukan karena dia anak aku tapi memangibu hamil siapa pun jangan sampai terlalu stres. tidak baik buat kehamilanmu.”≈≈≈≈≈
Malam Nisha sudah memberitahu pada Naffa dan Zahran bahwa besok pagi jam 09.00 akan pengajian di Sarawak untuk calon adik mereka, jadi Nisha dan Yaka tidak mau anak-anak tidak siap. Kalau mereka mau duduk manis, duduk. Tapi kalau tidak, mereka tidak boleh ribut karena pengajian akan cukup lama minimal dua jam dan yang tak disangka oleh Yaka adalah mertuanya datang untuk menghormati pengajian yang dilakukan oleh ibunya.Sejak kemarin Lastyanto dan Raihana memang datang. Mereka tentu saja senang dan menghargai ucap syukur Ibu Dzakiyah atas kehamilan Nisha dan mengadakan pengajian di sana.Semalam Nisha sudah mengatakan pada Raihana acara pengajian empat bulan akan diadakan di Banten dan dia minta undangannya dibuat lebih banyak dari pengajian biasa karena Yaka mau pengajiannya itu pengajian akbar.Sehabis itu tidak ada acara lagi sampai kelahiran. Itu yang keluarga Yaka lakukan sejak kehamilan pertama Naura. Jadi tidak ada pengajian seperti kalau di Jawa ada acara mitoni atau nujuh bul
“Nggak bisa Bu, kali ini aku akan menentang Ibu, Ibu bikin saja lalu nanti aku dan Shasi juga anak-anak akan hadir melalui live streaming.Kami akan menerima ucapan doa dari semua yang hadir melalui live streaming.”“Kali ini aku nggak akan membiarkan Shasi terbang. Mungkin kalau dia akan tidak enak sama Ibu, jadi dia akan mengiyakan saat Ibu bilang akan mengadakan pengajian syukuran kehamilan. Tapi aku tidak. Jadi sekarang kita permudah saja semuanya.”“Aku hadir secara live streamingdengan anak-anak. Aku dan Shasi akan duduk manis sejak pengajian dibuka sampai pengajian selesai. Kami akan datang dalam bentuk visual,” kata Yaka tegas. Dia tak ingin Shasi merasa tak enak diri pada ibu mertuanya dan mengiyakan akan terbang ke Sarawak.Dzakiyah memang langsung bilang akan mengadakan pengajian syukur bahwa diberitahu kalau Nisha mulai hamil.“Dan ingat, nanti acara pengajian empat
“Daddy kenapa?” tanya Naffa yang sekarang sudah duduk di kelas dua SD. Dia sekolah di sekolah internasional school di Jakarta. Begitu pun Zahran sekolah di internasional school sama dengan kakaknya.Naffamelihat daddy-nya sangat pucat dan keluar keringat dingin.“Entah Teh. Kok Daddy pusing banget ya,” keluh Yaka.Naffa langsung mengambil ponsel di tasnya, dia sudah mempunyai ponsel dan memang diwajibkan punya ponsel buat anak di sekolah internasional. Tapi ponsel nanti dikumpulkan di ruang penyimpanan saat jam pelajaran. Ponsel sangat dibutuhkan oleh seorang anak untuk menghubungi keluarganya atau orang yang menjaga bila butuh sesuatu atau minta antar jemput diluar jadwal yang biasa.“Kenapa Sayang?” kata Nisha yang baru akan bersiap berangkat ke kantor. Sesuai kebiasaan Nisha berangkat bila semua anak sudah berangkat sekolah. Sarapan dan makan malam masih hasil masakan Nisha. Tak boleh ada yang berubah kalau hal
Fajar kaget mendengar dugaan sang mamah. Ya, dia dan Dhani belum mencetak foto pernikahan untuk dipasang di dinding. Dari mana Menik mendapatkan semua itu? Dan mengapa Menik sengaja memperlihatkan semua langsung pada Naffa, bukan pamer pada teman lain atau gurunya?Dan Fajar membenarkan, f
“Fajar?” sapa seorang ibu muda, Fajar ingat dua hari lalu dia baru bertemu dengan dua orang sahabatnya ketika SMA. Pertemuan dua hari lalu itu membuatnya sangat menyesal menikah dengan Dhani. Tapi begitu mengingat Dhani, semua info tentang apa pun langsung sirna dan dia langsung tak bisa berkutik d
“Tapi kan kamu tahu. Status aku. Punya anak istri. Nggak mungkin aku tidur malam di sini. Pasti nanti istriku curiga,” ucap Fajar mulai tancap gas. Fajar mempercepat memacu senapannya.“Iya, tapi kan, tapi kan,” kata Dhani tak tahu harus bicara apa. Konsentrasinya bukan ke pokok pembicaraan mereka.
Karena kegencaran Widya dan Raihana menjodohkan, Fajar dan Nisha akhirnya menikah satu tahun sejak mereka berkenalan.Sekarang pernikahan mereka sudah berjalan 7 tahun lebih sedikit. putri pertama Naffa lahir dua tahun setelah menikah yaitu saat usia Nisha 21 tahun karena saat menikah umur Nisha







