เข้าสู่ระบบ“Ibu?” sapa Yaka kaget. Dia tak percaya ada ibunya di ruang rawat. Dia langsung memberi salim pada ibunya.
Nisha pun juga sama, dia langsung memberi salim. Nisha tentu saja juga kaget ternyata ibu Dzakiyah adalah ibunya Yaka selama ini dia tidak tahu kalau ibu tersebut adalah ibu kekasihnya.
‘Apa ibu Dzakiyah akan mempertemukan bang Yaka dengan calonnya. Semoga pernikahan mereka tak berpengaruh pada perkembangan jiwa Naffa,’ Nisha mersiapkan
“Suster ini copy tentang test air yang diberikan oleh dokter Poengky, seperti yang suster lihat kemarin videonya,” kata Nisha ketika suster kepala masuk memeriksa dirinya. Sengaja itu Nisha lakukan karena dia benci dengan ulat bulu.“Astagfirullah, ternyata memang dokter Poengky sekotor itu,” kata suster kepala.“Jadi nggak salah kan Sus kalau feeling saya sebagai istri itu benar. Saya kok aneh ya merasa ada dokter seperti itu. Untung oleh suami saya akhirnya langsung dibuang tapi karena curiga dia langsung ambil lagi dan dibawa ke laboratorium.Kemarin memang Pak Yaka memperlihatkan videonya selintas saya tak percaya melihat hasil test ini,” ucap Nisha. Saat itu tak ada Yaka dan Naffa, Yaka membawa Naffa keluar dengan kursi roda agar anak itu tak bosan.“Hanya karena dia keponakan dari pemilik rumah sakit dia mau bertindak semau-maunya,” kata Nisha.“Kami baru tahu kalau dia keponakan pemilik rum
“Jadi dia anak Eiliyah?” kata Dzakiyah ketika bertemu dengan pemilik rumah sakit.Rupanya Ujang salah sebut dia dikira Yaka disuruh ke bagian administrasi padahal ditunggu oleh pemilik rumah sakit yang tidak ingin nama keponakannya rusak.Pemilik rumah sakit kaget melihat siapa tamunya kali ini. Dia kenal betul siapa Dzakiyah Hermawan atau waktu itu namanya belum Hermawan tapi masih Dzakiyah Zainuddin nama orang tua Dzakiyah.“Abang, sama seperti yang Nisha bilang tadi, jangan pernah kasih ruang buat ulat bulu itu.”Dr Harun Latuconsina direktur rumah sakit yang memanggil Yaka kaget karena ternyata Yaka datang bersama seorang ibu yang kenal dengan pemilik rumah sakit. Tadi memang dia meminta Yaka untuk menemuinya karena pemilik rumah sakit ingin bertemu dengan orang yang akan mengintimidasi dokter Poengky keponakannya.“Ibu kenal siapa bapak ini?” tanya Yaka kaget.“Sangat kenal. Kalau Ibu tida
“Ibu?” sapa Yaka kaget. Dia tak percaya ada ibunya di ruang rawat. Dia langsung memberi salim pada ibunya.Nisha pun juga sama, dia langsung memberi salim. Nisha tentu saja juga kaget ternyata ibu Dzakiyah adalah ibunya Yaka selama ini dia tidak tahu kalau ibu tersebut adalah ibu kekasihnya.‘Apa ibu Dzakiyah akan mempertemukan bang Yaka dengan calonnya. Semoga pernikahan mereka tak berpengaruh pada perkembangan jiwa Naffa,’Nisha mersiapkan hatinya berpisah dengan Yaka.“Ibu tahu dari mana Naffa dirawat di sini?” tanya Nisha pelan.“Ibu itu lagi kaget sama kalian!” tegur Dzakiyah.“Ibu cinta mati sama Nisha dan maunya Yaka hanya berjodoh dengan Nisha tak boleh dengan yang lain. Yaka cinta mati sama Shasi dan kami nggak ada yang tahu kalau kami berdua ini bersitegang mempertahankan bayangan masing-masing pada orang yang sama.”“Maksud ibu bagaimana?” tanya
“Maaf saya bicara dengan siapa ya?” tanya seorang di ujung telepon. Saat ini jam tiga dini hari, sudah 15 jam Nisha pergi.“Anda menghubungi saya, Anda ingin bicara dengan siapa?” tanya Lastyanto yang keluar terburu-buru dari toilet karena dia baru saja berwudhu hendak shalatmalam.“Kemarin ada pasien tak sadarkan diri dibawa ke klinik kami. Kami ingin menghubungi keluarganya, tapi dia tidak bawa identitas apa pun. Sedang kami coba menyalakan ponselnya juga tidak bisa karena pakai password. Kami coba dengan sidik jarinya tidak bisa. Ini pasien baru sadar dan berhasil membuka ponsel tapi dia belum bisa bicara,” jelas suara itu.“Bisa video call dengan nomornya, saya telepon ke nomor dia ya Pak,” ucap Lastyanto karena dia takut itu adalah Nisha.“Baik Pak silakan Bapak hubungi nomornya, akan kami terima video call menggunakan ponsel ibu yang pingsan, karena nomor ini tidak bisa video call. In
“Aku atau Bang Ilham nggak bisa temani Ibu, kami sedang sibuk,” sesal Naura saat dia bicara dengan ibunya yang sering dia dan Yaka sebut sebagai ibunda ratu.“Ibu bukan satu kali ini saja kan ke Jakarta? Biasa juga sendirian. Jadi kalian nggak usah ribut. Pokoknya Ibu berangkat besok pagi. Kamu carikan tiketnya dan ingat tidak usah lapor Yaka.“Baik, akan kami carikan,” kata Ilham.“Nanti dijemput di bandara sama Paman Rusdi biar dia yang antar Ibu ke rumah sakit langsung. Lalu barang-barang Ibu dibawa sama Paman Rusdi ke apartemen,” jelas Ilham.“Aku tak mau tinggal di apartemen. Carikan hotel di depan rumah sakit,” jawab ibunda ratu.“Baik, akan kami carikan hotel terdekat dengan rumah sakit,” jawab Ilham. Dia pun akan memerintah Rusdi untuk stand by 24 jam menemani ibu mereka. ≈≈≈≈≈“Tadi bagaimana sih kok bisa tiba-tiba Ibu mau berangkat ke Jakarta?” tanya Ilham.“Tadi kan Abang Yaka bilang bahwa Naffa sudah sadar, dia juga sudah lapar ke dokter jantung dan dokter jiwa anak. Dua
Sudah dua jam Nisha belum kembali ke ruangan, tentu saja Yaka kalang kabut karena sejak tadi Naffa sudah tidur. Ditelepon ponselnya tidak aktif, dia telepon ke ponselnya Lastyanto, apaknya Nisha bilang mereka sudah satu setengah jam di rumah. Tadi mereka tinggalkan Nisha di lobby rumah sakit, sedang Ujang atau Budiman posisinya berada di kantor. Yaka benar-benar kalang kabut, dia harus mencari ke mana tak mungkin dia meninggalkan Naffa sendirian.Dari Lastyanto, Yaka tahu Nisha sangat marah dan tersinggung pada dokter Poengky. Lastyanto menjelaskan tentang ketidakwajaran dokter Poengky.“Ada yang bisa dibantu Pak?” tanya suster lewat intercom begitu Yaka memencet bel.“Saya ingin bertemu dengan suster kepala, tapi saya sendirian di ruangan, sehingga tidak bisa menemui suster kepala di kantor perawatan,” kata Yaka ketika mendapat jawaban sehabis dia memencet bel.Suster kepala langsung tergopoh mendatangi ruangan Naffa.&ldqu
“Kamu jangan asal ngomong!” bentak Ambu. Dia tak ingin anaknya lancang terhadap imamnya.“Dengarkan saya bicara dulu. Nanti Ambu sama Mamah boleh marah atau mau usir saya saya nggak apa-apa,” kata Nisha berupaya mengatur emosinya.Widya pun berupaya menekan emosinya. Dia juga ingin marah pada menan
Sejak diusir papanya Dhani, Fajar berupaya kuliah, dia ingin merubah nasib. Dia banting tulang dan dengan susah payah bisa kuliah.Kemarin Fajar baru saja di wisuda, kali ini dia pulang ke desa sekalian mengantarkan mamah-nya ke desa. Dalam dialeg khas daerahnya memang bukan mama panggilan untuk Ib
Nisha tak percaya apa yang hari Jumat, Naffa laporkan ternyata benar.“Aku harus bertindak cermat. Aku tak boleh kalah. Aku perempuan kuat!” demikian Nisha berkata sejak tadi. Dia tak ingin matanya bengkak. Dia tak mau menangisi kegagalan rumah tangganya. Dia akan pikul semuanya.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈K
Fajar kaget mendengar dugaan sang mamah. Ya, dia dan Dhani belum mencetak foto pernikahan untuk dipasang di dinding. Dari mana Menik mendapatkan semua itu? Dan mengapa Menik sengaja memperlihatkan semua langsung pada Naffa, bukan pamer pada teman lain atau gurunya?Dan Fajar membenarkan, f







