로그인Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri.
Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina. Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata. "Kopi, Kapten?" Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu milik Karina. Namun, saat ia menoleh, yang berdiri di sana adalah Ririn dengan senyum ramahnya yang khas. Devran tersenyum getir sambil menggeleng pelan, menerima cangkir kopi itu. "Makasih, Rin." Melihat gelagat aneh sang kapten yang tampak linglung dan senyum-senyum sendiri, Ririn tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda. "Lagi mikirin apa sih, Kapten? Serius banget kayaknya, sampai saya masuk aja nggak sadar." Devran berdehem, mencoba kembali ke mode profesionalnya. "Nggak ada. Cuma lagi ingat Eric aja. Biasanya kalau dia ada di sini, kokpit ini nggak bakal pernah sepi. Ada saja cerita lucunya soal Vivian atau Noel." Ririn mengangguk-angguk kecil, pura-pura percaya. Namun, sebagai sesama kru yang sudah lama bekerja dengan Devran, ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Devran tidak kosong karena sedih; tatapan itu berisi sesuatu yang lebih hangat. Kayaknya Kapten lagi jatuh cinta, batin Ririn curiga, namun ia memilih untuk menyimpan pikiran itu rapat-rapat. ......................................... Di kediaman mewah milik Dewi-ibunda Ferdi-suasana terasa sunyi dan suram. Ferdi duduk terpekur di tepi tempat tidur, matanya yang cekung menatap potret pernikahannya dengan Karina. Di foto itu, mereka tampak begitu bahagia, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Kini, kebahagiaan itu terasa seperti dongeng kuno yang menyakitkan. Pintu kamar terbuka. Viola, sang kakak, masuk dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin sambil membawa segelas jus jeruk. Ia duduk di samping adiknya, meletakkan tangan di bahu Ferdi dengan gerakan penuh simpati. "Fer, jangan terus-terusan begini. Kamu mesti realistis," ucap Viola lembut namun berbisa. "Aku dengar dari teman-teman aku, Karina sekarang makin sering terlihat dekat sama pilot. Namanya juga pramugari, Fer. Apalagi dia lagi di puncak karier. Cowok-cowok di sana jauh lebih mapan dan... sehat." Ferdi meremas pinggiran seprai. Kata-kata itu menghujam jantungnya. "Karina nggak mungkin kayak gitu, Mbak." "Kamu jangan naif," potong Viola cepat. "Sekarang coba pikir pake logika. Kamu cacat, nggak kerja, dan cuma jadi beban. Sedangkan dia? Dia terbang tinggi setiap hari. Kamu cuma bakal minder kalau memaksakan diri buat terus sama dia. Jarak kalian sekarang itu antara langit dan bumi." Viola tersenyum puas saat melihat bahu Ferdi semakin merosot. Ia tahu benar cara menghancurkan mental adiknya. Jika membuat Ferdi membenci Karina tidak mempan, maka ia akan membuat Ferdi merasa tidak berharga di hadapan Karina. Rasa rendah diri adalah racun yang lebih mematikan daripada kemarahan. "Mbak rasa... Dela lebih cocok buat kamu, Fer. Dia gadis rumahan, lembut, dan dia nggak akan pernah bikin kamu ngerasa minder karena dia bakal fokus urus kamu dan rumah tangga. Nggak kayak Karina yang pikirannya cuma kerja dan terbang," lanjut Viola. Ferdi hanya terdiam. Hatinya berat, sesak oleh cinta yang masih menggebu untuk Karina, namun kini bercampur dengan rasa malu dan putus asa yang mulai mengakar. ...................................... Pukul tiga sore, Kantor Pusat Samudera Airline bergetar oleh amarah sang penguasa. Brak! Renata menggebrak meja kerjanya hingga beberapa dokumen berhamburan. Laporan tentang pembatalan terbang Eric tanpa izin resmi menjadi sumbu yang memicu ledakan emosinya. "Pingkan! Hubungi Eric sekarang! Bilang sama dia, kalau dia nggak muncul dalam satu jam, surat pemecatannya sudah ada di meja saya!" teriak Renata pada sekretarisnya. Di sofa seberang meja kerja Renata, Hengki duduk santai sambil menyesap anggur merah dari gelas kristal. Ia menatap Renata dengan senyum remeh yang tak disembunyikan. "Nggak usah kaget, Ren. Eric berani begitu karena ada suami kamu yang pasang badan. Devran yang ngajarin mereka buat nggak patuh sama aturan kamu." Renata mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Bayangan wajah Devran yang menantangnya tadi pagi di kamar kembali muncul, memicu rasa panas di dadanya. "Dia pikir dia siapa berani melawan gue?" Hengki bangkit, berjalan mendekati Renata yang kini berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan lembayung senja Jakarta yang mulai berbayang. "Udah saatnya permainan ini diselesaikan, Ren. Kasih aku kuasa penuh buat tendang si Devran, dan semuanya bakal beres." Renata menoleh, menatap Hengki dengan tatapan tajam dan dingin. "Gue nggak butuh perintah dari lo, Hengki. Urusan Devran itu urusan pribadi gue. Dia adalah hutang masa lalu yang harus gue tagih sendiri. Sekarang, lo balik ke ruangan lo. Gue mau sendiri." Senyum di wajah Hengki memudar, digantikan oleh gurat ketersinggungan yang dalam. Ia merasa usahanya untuk memanipulasi Renata selalu membentur tembok ego wanita itu. Dengan hati dongkol, Hengki meninggalkan ruangan sang CEO tanpa kata. 'Lihat saja nanti, Renata. Suatu hari lo bakal bertekuk lutut dan memohon bantuan gue,' sumpahnya di dalam hati. Sepeninggal Hengki, ketenangan yang dicari Renata tak kunjung datang. Ia memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan Devran saat memenjarakan tubuhnya di tengah ranjang pagi tadi. Tatapan Devran yang penuh kebencian namun sangat dominan itu membuat jantungnya berdebar secara tidak wajar. Renata membenci perasaan itu-perasaan kehilangan kendali atas dirinya sendiri di hadapan pria yang seharusnya ia hancurkan. "Sialan!" Renata berteriak frustrasi, menyapu semua barang di atas mejanya hingga hancur berantakan di lantai. "Gue bakal bikin lo hancur, Devran! Gue bakal bikin lo mati pelan-pelan!" Sementara itu, di unit apartemennya yang sepi, Karina sedang mencuci piring dengan gerakan lambat. Pikirannya melayang pada pertemuan menyakitkan dengan Ferdi siang tadi. Kata 'cerai' terus terngiang, menusuk-nusuk kesadarannya bagaikan tombak. Karina tersentak saat tiba-tiba bel pintu berbunyi. Harapan kecil muncul di hatinya. Apakah itu Ferdi? Apa dia kembali untuk menarik ucapannya? Dengan terburu-buru, ia mengeringkan tangannya dan berlari menuju pintu. Namun, begitu pintu terbuka, senyumnya lenyap. Hengki berdiri di sana, menyeringai dengan tatapan lapar saat melihat Karina hanya mengenakan daster rumahan yang sederhana namun menonjolkan lekuk tubuhnya. Tanpa menunggu izin, Hengki menerobos masuk ke dalam unit apartemen yang sempit itu. "Apartemen yang mungil," komentar Hengki dengan nada meremehkan sambil memindai seisi ruangan. "Cocok buat pramugari yang lagi butuh donatur." Karina merasa gugup dan terintimidasi. "Pak Hengki... ada keperluan apa datang ke sini?" "Bikin minuman dulu sana, saya haus," perintah Hengki tanpa rasa segan, lalu duduk di sofa seolah itu adalah miliknya sendiri. Karina, yang merasa tidak enak untuk menolak atasan maskapainya, bergegas ke dapur untuk membuat kopi. Saat ia kembali dan meletakkan cangkir itu di meja, sebuah tangan kasar tiba-tiba mencekal lengannya. Dalam satu tarikan kuat, Karina terjatuh tepat di pangkuan Hengki. "Pak Hengki! Apa-apaan ini?!" Karina memekik kaget, berusaha meronta dan bangkit dengan wajah merah padam karena marah dan malu. Hengki menyeringai, "Nggak usah sok suci. Kamu tahu kan, karier kamu ada di tangan saya? Kalau kamu mau nuruti kemauan saya, saya bisa pastikan kamu jadi pramugari paling sukses di Samudera Airline. Gaji besar, jadwal terbang enak... kamu cuma perlu bersikap 'baik' sama saya." Karina terpaku, matanya membelalak menatap wajah Hengki yang begitu dekat. Ia menyadari bahwa ia baru saja terjebak dalam perangkap predator yang lebih berbahaya dari apa yang ia bayangkan.Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten
Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye
Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup
Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru
Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili
Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris







