Home / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

Share

Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-04-19 21:41:31

Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri.

Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan.

Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.

Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup.

Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung.

Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata.

"Kopi, Kapten?"

Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu milik Karina. Namun, saat ia menoleh, yang berdiri di sana adalah Ririn dengan senyum ramahnya yang khas.

Devran tersenyum getir sambil menggeleng pelan, menerima cangkir kopi itu.

"Makasih, Rin."

Melihat gelagat aneh sang kapten yang tampak linglung dan senyum-senyum sendiri, Ririn tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda. "Lagi mikirin apa sih, Kapten? Serius banget kayaknya, sampai saya masuk aja nggak sadar."

Devran berdehem, mencoba kembali ke mode profesionalnya. "Nggak ada. Cuma lagi ingat Eric aja. Biasanya kalau dia ada di sini, kokpit ini nggak bakal pernah sepi. Ada saja cerita lucunya soal Vivian atau Noel."

Ririn mengangguk-angguk kecil, pura-pura percaya. Namun, sebagai sesama kru yang sudah lama bekerja dengan Devran, ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda.

Tatapan Devran tidak kosong karena sedih; tatapan itu berisi sesuatu yang lebih hangat. Kayaknya Kapten lagi jatuh cinta, batin Ririn curiga, namun ia memilih untuk menyimpan pikiran itu rapat-rapat.

.........................................

Di kediaman mewah milik Dewi-ibunda Ferdi-suasana terasa sunyi dan suram. Ferdi duduk terpekur di tepi tempat tidur, matanya yang cekung menatap potret pernikahannya dengan Karina.

Di foto itu, mereka tampak begitu bahagia, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Kini, kebahagiaan itu terasa seperti dongeng kuno yang menyakitkan.

Pintu kamar terbuka. Viola, sang kakak, masuk dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin sambil membawa segelas jus jeruk. Ia duduk di samping adiknya, meletakkan tangan di bahu Ferdi dengan gerakan penuh simpati.

"Fer, jangan terus-terusan begini. Kamu mesti realistis," ucap Viola lembut namun berbisa. "Aku dengar dari teman-teman aku, Karina sekarang makin sering terlihat dekat sama pilot. Namanya juga pramugari, Fer. Apalagi dia lagi di puncak karier. Cowok-cowok di sana jauh lebih mapan dan... sehat."

Ferdi meremas pinggiran seprai. Kata-kata itu menghujam jantungnya. "Karina nggak mungkin kayak gitu, Mbak."

"Kamu jangan naif," potong Viola cepat. "Sekarang coba pikir pake logika. Kamu cacat, nggak kerja, dan cuma jadi beban. Sedangkan dia? Dia terbang tinggi setiap hari. Kamu cuma bakal minder kalau memaksakan diri buat terus sama dia. Jarak kalian sekarang itu antara langit dan bumi."

Viola tersenyum puas saat melihat bahu Ferdi semakin merosot. Ia tahu benar cara menghancurkan mental adiknya.

Jika membuat Ferdi membenci Karina tidak mempan, maka ia akan membuat Ferdi merasa tidak berharga di hadapan Karina. Rasa rendah diri adalah racun yang lebih mematikan daripada kemarahan.

"Mbak rasa... Dela lebih cocok buat kamu, Fer. Dia gadis rumahan, lembut, dan dia nggak akan pernah bikin kamu ngerasa minder karena dia bakal fokus urus kamu dan rumah tangga. Nggak kayak Karina yang pikirannya cuma kerja dan terbang," lanjut Viola.

Ferdi hanya terdiam. Hatinya berat, sesak oleh cinta yang masih menggebu untuk Karina, namun kini bercampur dengan rasa malu dan putus asa yang mulai mengakar.

......................................

Pukul tiga sore, Kantor Pusat Samudera Airline bergetar oleh amarah sang penguasa.

Brak!

Renata menggebrak meja kerjanya hingga beberapa dokumen berhamburan. Laporan tentang pembatalan terbang Eric tanpa izin resmi menjadi sumbu yang memicu ledakan emosinya.

"Pingkan! Hubungi Eric sekarang! Bilang sama dia, kalau dia nggak muncul dalam satu jam, surat pemecatannya sudah ada di meja saya!" teriak Renata pada sekretarisnya.

Di sofa seberang meja kerja Renata, Hengki duduk santai sambil menyesap anggur merah dari gelas kristal. Ia menatap Renata dengan senyum remeh yang tak disembunyikan.

"Nggak usah kaget, Ren. Eric berani begitu karena ada suami kamu yang pasang badan. Devran yang ngajarin mereka buat nggak patuh sama aturan kamu."

Renata mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Bayangan wajah Devran yang menantangnya tadi pagi di kamar kembali muncul, memicu rasa panas di dadanya.

"Dia pikir dia siapa berani melawan gue?"

Hengki bangkit, berjalan mendekati Renata yang kini berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan lembayung senja Jakarta yang mulai berbayang.

"Udah saatnya permainan ini diselesaikan, Ren. Kasih aku kuasa penuh buat tendang si Devran, dan semuanya bakal beres."

Renata menoleh, menatap Hengki dengan tatapan tajam dan dingin. "Gue nggak butuh perintah dari lo, Hengki. Urusan Devran itu urusan pribadi gue. Dia adalah hutang masa lalu yang harus gue tagih sendiri. Sekarang, lo balik ke ruangan lo. Gue mau sendiri."

Senyum di wajah Hengki memudar, digantikan oleh gurat ketersinggungan yang dalam. Ia merasa usahanya untuk memanipulasi Renata selalu membentur tembok ego wanita itu.

Dengan hati dongkol, Hengki meninggalkan ruangan sang CEO tanpa kata. 'Lihat saja nanti, Renata. Suatu hari lo bakal bertekuk lutut dan memohon bantuan gue,' sumpahnya di dalam hati.

Sepeninggal Hengki, ketenangan yang dicari Renata tak kunjung datang. Ia memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan Devran saat memenjarakan tubuhnya di tengah ranjang pagi tadi.

Tatapan Devran yang penuh kebencian namun sangat dominan itu membuat jantungnya berdebar secara tidak wajar. Renata membenci perasaan itu-perasaan kehilangan kendali atas dirinya sendiri di hadapan pria yang seharusnya ia hancurkan.

"Sialan!" Renata berteriak frustrasi, menyapu semua barang di atas mejanya hingga hancur berantakan di lantai. "Gue bakal bikin lo hancur, Devran! Gue bakal bikin lo mati pelan-pelan!"

Sementara itu, di unit apartemennya yang sepi, Karina sedang mencuci piring dengan gerakan lambat. Pikirannya melayang pada pertemuan menyakitkan dengan Ferdi siang tadi. Kata 'cerai' terus terngiang, menusuk-nusuk kesadarannya bagaikan tombak.

Karina tersentak saat tiba-tiba bel pintu berbunyi. Harapan kecil muncul di hatinya. Apakah itu Ferdi? Apa dia kembali untuk menarik ucapannya?

Dengan terburu-buru, ia mengeringkan tangannya dan berlari menuju pintu. Namun, begitu pintu terbuka, senyumnya lenyap.

Hengki berdiri di sana, menyeringai dengan tatapan lapar saat melihat Karina hanya mengenakan daster rumahan yang sederhana namun menonjolkan lekuk tubuhnya. Tanpa menunggu izin, Hengki menerobos masuk ke dalam unit apartemen yang sempit itu.

"Apartemen yang mungil," komentar Hengki dengan nada meremehkan sambil memindai seisi ruangan. "Cocok buat pramugari yang lagi butuh donatur."

Karina merasa gugup dan terintimidasi. "Pak Hengki... ada keperluan apa datang ke sini?"

"Bikin minuman dulu sana, saya haus," perintah Hengki tanpa rasa segan, lalu duduk di sofa seolah itu adalah miliknya sendiri.

Karina, yang merasa tidak enak untuk menolak atasan maskapainya, bergegas ke dapur untuk membuat kopi. Saat ia kembali dan meletakkan cangkir itu di meja, sebuah tangan kasar tiba-tiba mencekal lengannya. Dalam satu tarikan kuat, Karina terjatuh tepat di pangkuan Hengki.

"Pak Hengki! Apa-apaan ini?!"

Karina memekik kaget, berusaha meronta dan bangkit dengan wajah merah padam karena marah dan malu.

Hengki menyeringai, "Nggak usah sok suci. Kamu tahu kan, karier kamu ada di tangan saya? Kalau kamu mau nuruti kemauan saya, saya bisa pastikan kamu jadi pramugari paling sukses di Samudera Airline. Gaji besar, jadwal terbang enak... kamu cuma perlu bersikap 'baik' sama saya."

Karina terpaku, matanya membelalak menatap wajah Hengki yang begitu dekat. Ia menyadari bahwa ia baru saja terjebak dalam perangkap predator yang lebih berbahaya dari apa yang ia bayangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 101. Pelabuhan Terakhir (ending)

    Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga tahun berlalu penuh dinamika, membawa perubahan mendalam bagi mereka yang bertahan.Pagi ini, udara di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita terasa berbeda bagi Karina Prameswari. Hari ini adalah hari kebebasannya.​Di dalam sel tahanan yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun, Karina berkemas pelan. Langkah kaki sipir terdengar mendekat untuk menjemputnya.Sebelum melangkah menuju pintu gerbang utama, Karina memeluk erat teman-teman satu selnya.Loli dan beberapa tahanan lain meneteskan air mata haru, melepaskan wanita yang selama ini menjadi sosok lembut di antara kerasnya dinding penjara.​Di sudut ruangan, Elen—sang penguasa sel yang bertubuh tinggi tegap—hanya berdiri membisu, menyaksikan perpisahan itu tanpa niat bergabung.Karina memutar tubuhnya, menatap Elen. Wanita yang dulu selalu menindasnya di awal masa tahanan itu telah berubah menjadi sosok pelindung terdepan bagi Karina selama tiga tahun terakhir.​Karina melangkah mendekat. "Kak E

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 100. Memori Di Musim Semi

    Di Pulau Batam, cuaca siang terasa terik.​Rain Gumilang berjalan tergesa-gesa menyusuri lobi lantai lima kantor cabang Miracle Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang baru saja diakuisisi oleh ayahnya dan belum sempat Rain kunjungi sebelumnya."Bos!" Reza berjalan setengah berlari di belakang Rain, membawa dua tas dokumen yang tebal. "Gue tahu lo juara lari maraton waktu di militer... tapi ini di kantor! Bisa nggak pelan dikit jalannya? Gue ngos-ngosan nih! Bos!"Rain tidak peduli dengan rengekan Reza. Ia harus sampai lebih dulu dari ayahnya. ​Namun, saat Rain hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat—​BRUK!​Rain berbenturan keras dengan seorang wanita yang berjalan cepat dari arah berlawanan.​Tumpukan folder dokumen, kertas laporan, dan tablet yang dibawa wanita itu seketika terlepas dan berhamburan berantakan di atas lantai marmer.​"Aww!" wanita itu merintih, refleks memegangi lengannya.​Wanita itu bernama Natasha. Berusia setara dengan Karina, Natasha memilik

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 99. Warisan Keluarga Masayu

    "Saya enggak bisa menerimanya, Pak Malik," ucap Devran lirih namun tegas.​Pak Malik terkejut. Eric yang duduk di samping Devran langsung melotot tak percaya."Kenapa, Pak Devran?" tanya Pak Malik terheran-heran. "Ini adalah hak hukum Anda sebagai suami sah beliau."​"Saya merasa jijik sama diri saya sendiri kalau menerima semua ini," bisik Devran dengan nada penuh penyesalan. "Selama tiga tahun menikah, saya gak pernah membahagiakan Renata. Pernikahan kami cuma diisi kebencian. Kalau saya ambil warisan ini sekarang... saya cuma akan kelihatan seperti pria brengsek yang mengeruk keuntungan dari kematian tragis istrinya sendiri. Tolong alihkan saja semuanya."​Pak Malik menghela napas berat. "Jika Anda menolak secara resmi, Pak Devran, maka sesuai klausul cadangan, seluruh aset keluarga Masayu akan dibekukan dan dialihkan ke yayasan sosial. Tapi... saya minta Anda pikirkan baik-baik."​Eric yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 98. Sesal Terakhir

    Pagi itu, udara Jakarta terasa luar biasa dingin. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon kamboja di Pemakaman Umum Tanah Kusir.Mobil-mobil mewah berwarna hitam berderet rapi di sepanjang bahu jalan kompleks pemakaman.Puluhan orang berseragam gaun dan setelan jas hitam berkumpul mengelilingi liang lahat yang masih menganga lebar, menunggu prosesi pemakaman dimulai.​Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di bangunan terbengkalai itu—malam yang diwarnai penyekapan, ledakan bom yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya jenazah kaku Renata Masayu di dalam kulkas.Hari ini, seluruh babak berdarah itu ditutup dengan keheningan yang abadi.​Devran berdiri paling depan di tepi liang lahat. Pria itu mengenakan kemeja dan jas hitam, matanya tertutup kacamata hitam untuk menyembunyikan sembap dan luka memar yang belum sepenuhnya pulih. Ia datang untuk mengantarkan mendiang istrinya ke peristirahatan terakhir.​Di dalam peti mati kayu jati berukir yang dihiasi hamparan mawar put

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 97. Penyesalan Mengusik Kenangan

    Berita penculikan kapten pilot Devran, ledakan bom di gedung tua yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya mayat tragis CEO Samudera Airlines, Renata Masayu di dalam kulkas perusahaannya sendiri, meledak menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media nasional siang itu.Seluruh Indonesia menahan napas; kenyataan bahwa sang CEO dibunuh secara keji oleh saudara kembar kandungnya sendiri yang selama ini disembunyikan dari publik menjadi skandal terbesar tahun ini.Di Lapas Wanita Cipinang, suasana kantin saat makan siang mendadak hening. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan breaking news mengenai kematian Renata Masayu.Karina, yang sedang duduk bersama Loli dan beberapa tahanan lain, menghentikan suapannya. Matanya menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya memucat, rasa syok mendalam merayapi dadanya.Loli menyenggol lengan Karina pelan, matanya membelalak. "Kar... bukannya itu mantan bos kamu di maskapai dulu? Si Renata Masayu yang terkenal galak i

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 96. Satu Kisah Tragis

    "Di mana Renata?! Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!" bentak Devran.Anggun hanya terdiam, gemetaran dalam ketakutan.Melihat rahasia besar terbongkar dan Anggun terpojok, Hexa bergerak secepat kilat. Ia menarik pistol otomatis dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Devran."Tutup mulutmu, Pilot!"Namun Devran yang terlatih tidak tinggal diam. Dengan refleks secepat angin, Devran memutar tubuhnya, mengayunkan tendangan lurus yang menghantam pergelangan tangan Hexa keras.BUK!Pistol terlempar ke udara dan terjatuh di lantai beton. Perkelahian fisik yang sengit tak terhindarkan. Devran dan Hexa saling banting, melayangkan pukulan mentah di tengah kepungan debu dan reruntuhan.Di sudut lain, Anggun yang panik luar biasa berlutut di depan bom waktu. Mengingat sedikit pengetahuan tentang peledak, jemarinya yang gemetar mencabut asal salah satu kabel berwarna merah.BZZZZT!Layar digital bom mendadak mati. Penghitung waktu berhenti tepat di angka 01:12.Pada saat yang bers

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status