بيت / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

مشاركة

Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

مؤلف: Dewa Amour
last update تاريخ النشر: 2026-04-13 19:54:52

Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra.

Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir.

Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna.

Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin.

Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi.

Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus.

Ia menarik laci kaca yang berisi deretan koleksi jam tangan mewah. Saat jemarinya memilih salah satu kronograf titanium, matanya kembali menatap cermin.

Tiba-tiba, ia melihat bayangan Karina di sana. Wanita itu mengenakan seragam pramugari lengkap, tersenyum begitu manis hingga lesung pipitnya terlihat.

Dalam fantasi liar akibat kesepian yang akut itu, ia merasa Karina melangkah mendekat, melingkarkan lengan di pinggangnya, dan memeluknya dari belakang dengan hangat.

Karina...

Devran memejamkan mata, seolah bisa mencium aroma lembut parfum Karina yang menenangkan.

"Ngapain lo? Lagi ngebayangin siapa?"

Suara cempreng nan sinis itu menyambar, menghancurkan fantasi Devran berkeping-keping.

Ia segera membuka mata dan memasang wajah dingin yang menjadi topeng andalannya. Di ambang pintu, Renata berdiri sambil bersedekap, menatap bayangan suaminya di cermin dengan senyum remeh yang menyakitkan.

Renata melangkah masuk, suara tumit sepatunya yang tajam beradu dengan lantai marmer. Ia berdiri di belakang Devran, ujung jarinya yang berpoles kutek merah darah menyentuh dada bidang Devran, menggerakkannya dengan perlahan, seolah sedang menilai sebuah barang dagangan.

"Percuma punya wajah ganteng dan badan sebagus ini, Dev," bisik Renata tepat di telinga Devran. "Kalau nggak pernah bener-bener ngerasain sentuhan intim perempuan. Hidup lo itu hampa."

Devran mengepalkan tangannya di samping paha, otot-otot rahangnya menegang. Hinaan itu adalah luka lama yang selalu dibuka paksa oleh Renata setiap pagi.

"Dan gue nggak akan pernah biarin lo ngerasain kenikmatan itu sama siapa pun, Devran. Inget itu," lanjut Renata, suaranya naik satu oktav namun penuh ancaman. "Sampe mati, lo cuma bakal ngerasain kesepian, depresi, dan frustrasi. Lo bakal mati sendirian di penjara emas yang gue buat ini."

Kemarahan yang telah lama dipendam Devran akhirnya meledak. Ia tidak bisa lagi hanya diam menjadi sasaran cacian. Sebelum Renata sempat berbalik untuk pergi dengan rasa kemenangan, Devran mencekal lengan istrinya itu dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat.

"Lepasin, Devran! Lo berani?!" teriak Renata terkejut.

Devran tidak menjawab. Ia menyeret Renata ke tengah kamar dan mendorongnya hingga wanita itu jatuh terlentang di atas kasur.

Dalam satu gerakan lincah, Devran merangkak naik, memenjarakan tubuh Renata di bawahnya. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Renata ke atas kasur dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Renata.

Mata keduanya bertatapan dalam jarak hanya beberapa sentimeter. Kebencian murni terpancar dari mata mereka masing-masing.

Renata, yang biasanya angkuh, tampak sedikit gemetar melihat kilatan gila di mata Devran yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Lo... lo bakal menyesal kalau berani nyentuh gue!" jerit Renata, berusaha menutupi ketakutannya.

Devran justru menyeringai tipis, sebuah seringai yang terasa lebih dingin dari es. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Renata, membuat napasnya terasa panas di kulit wanita itu, namun kemudian ia berhenti.

"Tenang aja, Renata," desis Devran pelan. "Gue nggak akan pernah nafsu sama perempuan rendahan macem lo. Nyentuh lo cuma bakal bikin gue ngerasa kotor."

Devran melepaskan cengkeramannya dan segera bangkit. Ia merapikan seragamnya yang sedikit kusut, lalu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi.

"Devran! Anj!ng lo!"

Di belakangnya, suara teriakan dan makian Renata pecah, memekakkan telinga, namun Devran terus berjalan dengan langkah tegap menuju bandara, mencoba mengusir rasa muak yang menyesakkan dada.

.....................................

Di belahan Jakarta yang lain, Karina turun dari taksi di depan gerbang megah rumah keluarga Ferdi. Ia merasa harus meminta kejelasan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merapikan pakaiannya dan melangkah mendekat. Pak Agung, petugas keamanan yang sudah mengenalnya sejak lama, segera menghampiri dengan wajah ramah namun tersirat rasa iba.

"Selamat siang, Pak Agung. Mas Ferdi ada di dalam?" tanya Karina penuh harap.

Pak Agung menggelengkan kepala pelan. "Aduh, Mbak Karina... barusan saja mobil Ibu Dewi dan Mbak Viona berangkat. Katanya mau ke Pemalang, Mbak."

Karina tertegun. "Pemalang? Buat apa ke sana, Pak?"

"Saya kurang tahu pastinya, Mbak. Tapi tadi barang-barahnya Mas Ferdi banyak yang dibawa. Kayaknya mau istirahat di sana," jawab Pak Agung.

Karina merasa seolah tanah tempatnya berpijak runtuh. Pemalang? Setahunya, Ferdi tidak memiliki kerabat dekat di sana. Kenapa mereka harus pergi sejauh itu tanpa memberi tahu dirinya?

Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Karina kembali masuk ke taksi. Di dalam kendaraan yang melaju, ia menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Hubungannya dengan Ferdi seolah ditarik paksa hingga ke titik putus oleh keluarga suaminya sendiri.

Sementara itu, di Bandara Soekarno-Hatta, Devran berjalan melintasi terminal bersama rombongan pilot lainnya. Di sampingnya, Eric tampak sangat gelisah, terus-menerus memeriksa ponselnya.

"Gue pusing, Dev. Vivian tiba-tiba nggak mau cerai. Dia ngancem mau bunuh diri kalau gue tetep ke pengadilan," keluh Eric, menyeka keringat dingin di dahinya.

"Lo harus hati-hati, Ric. Cewek kalau sudah nekat bisa ngelakuin apa aja. Jangan gegabah, tapi jangan juga mau disetir pake ancaman itu," saran Devran tenang, meski pikirannya sendiri masih kacau gara-gara Renata.

Tiba-tiba, ponsel Eric berdering. Wajahnya berubah pucat saat mendengar suara ibunya di seberang telepon. "Apa?! Vivian kabur ke Palembang bawa Noel?!" teriak Eric histeris. Noel adalah putra semata wayangnya yang masih berusia tiga tahun.

Eric nyaris jatuh lemas. "Dev, gue nggak bisa terbang hari ini. Gue harus cari anak gue ke Palembang!"

Devran menepuk bahu sahabatnya. "Tenang, Ric. Balik sekarang, urus masalah lo. Masalah administrasi dan Renata, biar gue yang pasang badan di kantor. Pergi sekarang!"

Eric menatap Devran dengan rasa terima kasih yang mendalam sebelum akhirnya melesat pergi secepat kilat menuju pangkalan taksi.

......................................

Karina tiba di unit apartemennya dengan perasaan yang sangat tidak menentu. Ia mencoba menghubungi nomor Ferdi berkali-kali, namun hanya suara mesin yang menjawab.

Nomor Viona dan Ibu Hana pun diblokir. Ia mondar-mandir di ruang tamu, meremas tangannya yang terasa dingin.Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.

Karina tersentak. Dengan langkah cepat ia menuju pintu dan membukanya. Matanya membelalak tak percaya saat melihat sosok di depannya.

Ferdi berdiri di sana, bertumpu pada sebuah tongkat penyangga. Wajahnya sangat pucat, matanya cekung, dan ia tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali Karina melihatnya.

"Mas Ferdi!" Karina langsung merangkul lengan suaminya, memapahnya masuk ke dalam dengan hati-hati.

Setelah mendudukkan Ferdi di sofa, Karina bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat. Ia kemudian duduk di samping suaminya, menatap wajah Ferdi seolah-olah pria itu adalah harta karun yang hilang dan baru saja ditemukan.

"Mas, kamu dari mana saja? Aku baru saja dari rumah Ibu, katanya kamu ke Pemalang..." Karina bicara cepat, air matanya mulai menggenang. "Kondisi kamu gimana? Masih sakit?"

Ferdi menatap Karina, namun tatapannya tidak lagi berisi kehangatan yang dulu sering ia berikan. Ada kekosongan dan kepahitan di sana. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan cangkir tehnya di meja tanpa menyentuhnya.

"Karina... aku datang ke sini cuma mau bilang satu hal," suara Ferdi terdengar parau dan dingin. "Aku akan segera menceraikan kamu."

Dunia Karina seolah meledak. "Mas... apa yang kamu bilang? Cerai? Kenapa?!"

"Lihat aku, Karina!" bentak Ferdi tiba-tiba, menunjuk kakinya yang pincang dengan tongkatnya. "Aku bukan lagi laki-laki yang pantas buat kamu. Aku nggak punya pekerjaan, aku cacat, aku cuma bakal jadi beban buat masa depan kamu yang masih panjang. Kamu itu cantik, kamu pramugari hebat. Kamu nggak seharusnya nanggung beban kayak aku!"

"Nggak, Mas! Aku nggak peduli soal itu! Kita bisa mulai dari nol lagi!" Karina histeris, mencoba meraih tangan Ferdi, namun Ferdi menepisnya dengan kasar.

"Berhenti, Karina! Jangan bikin ini lebih sulit!" Ferdi memaksakan diri untuk bangkit dengan tongkatnya. "Ibu dan Mbak Viona bener, kamu cuma bakal menderita kalau tetep sama aku. Aku nggak mau dikasihani!"

Dengan langkah terpincang-pincang dan napas yang memburu, Ferdi berjalan keluar dari pintu apartemen tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Karina jatuh terduduk di lantai, meraung-raung memanggil nama suaminya, sementara suara pintu yang tertutup rapat seolah menjadi dentuman lonceng kematian bagi mahligai rumah tangga yang selama ini ia perjuangkan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

    Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 14. Jatuhnya Airbus A380

    Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

    Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 12. Hati Yang Rapuh

    Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

    Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

    Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status