เข้าสู่ระบบFajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.
Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan. Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah. Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti. Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari perubahan atmosfer pada diri majikan laki-laki mereka. Pagi ini, Devran tidak tampak seperti mayat hidup yang biasanya hanya menatap kosong ke cangkir kopi. "Pagi ini Pak Devran kelihatan semangat sekali ya, Bi," bisik Welas sambil meletakkan piring nasi goreng di meja. Devran tersenyum tipis-sebuah pemandangan langka di rumah itu. "Makasih, Welas." Setelah sarapan kilat, Devran segera menyambar tas penerbangannya dan meluncur ke bandara sebelum matahari benar-benar naik, dan yang paling penting, sebelum Renata terbangun. Beberapa jam kemudian, saat cahaya matahari mulai menerobos masuk ke ruang makan, Renata muncul dengan jubah sutra merahnya, diikuti Hengki yang tampak santai. Renata mengernyit saat mendapati kursi suaminya sudah kosong. "Mana si Devran?" tanyanya ketus pada Welas. "Pak Devran sudah berangkat ke bandara sejak pagi buta, Bu. Tadi Pak Devran kelihatan segar sekali, lebih fresh dan bersemangat dari biasanya," jawab Welas polos tanpa menyadari api yang mulai tersulut di mata majikannya. Renata terdiam, tangannya mencengkeram pinggiran meja. Ia benci fakta bahwa Devran masih bisa tersenyum di tengah "neraka" yang ia ciptakan. Ia ingin suaminya hancur, bukan justru terlihat bersemangat. Hengki yang duduk di sampingnya menyeringai, menyesap kopinya sambil memanasi suasana. "Pagi-pagi udah seger begitu? Jangan-jangan dia lagi ngejar cewek di belakang kamu, Ren. Laki-laki kalau sudah punya incaran baru biasanya memang jadi lebih rajin." Brak! Renata menggebrak meja makan hingga sendok dan garpu berdenting nyaring. Welas tersentak kaget dan menunduk dalam-dalam. "Kalau dia berani ngelirik cewek lain, apalagi sampai menyentuhnya, dia akan menyesal seumur hidup karena sudah dilahirkan!" desis Renata dengan suara rendah yang penuh ancaman. Hengki hanya tersenyum dingin, menikmati kehancuran emosi wanita di depannya. Ia tahu betul cara memainkan bidak-bidak di papan catur ini. ................................ Di sisi lain kota, Karina sedang mematut dirinya di depan cermin kecil di unit apartemennya. Seragam pramugari Samudera Airline membalut tubuhnya dengan sempurna. Sepuluh hari masa cuti yang penuh air mata telah berakhir. Hari ini adalah awal yang baru, dan ia bersumpah akan bekerja lebih profesional dari sebelumnya. Namun, saat ia memoleskan lipstik merah di bibirnya, bayangan Hengki yang masuk ke apartemennya beberapa malam lalu kembali menghantui. 'Saya bisa bantu kamu, tinggal nurut aja apa mau saya.' Kata-kata kotor laki-laki itu tentang kesuksesan yang bisa dibeli dengan harga diri membuat Karina mual. Malam itu, ia terpaksa berpura-pura mempertimbangkan tawaran busuk tersebut hanya agar Hengki segera pergi. "Aku memang lemah, nggak punya keluarga lagi, tapi aku bukan barang dagangan," gumam Karina pada bayangannya sendiri. Ia menarik napas dalam, mengunci rapat pintu apartemennya, seolah mengunci semua memori buruk tentang Ferdi dan keluarga mertuanya di dalam sana. Di depan gedung, sebuah taksi sudah menunggu. Ririn menyembulkan kepalanya dari jendela, berteriak penuh semangat. "Karina! Buruan!" Karina berlari kecil menuju taksi, menyambut pelukan hangat sahabatnya. Di dalam kendaraan yang melaju membelah sisa-sisa embun pagi, benteng pertahanan Karina runtuh. Ia menceritakan segalanya pada Ririn-tentang niat cerai Ferdi, tentang pengusiran keluarga mertuanya, dan betapa ia merasa sendirian di dunia ini. Ririn menggenggam tangan Karina erat. "Kar, dengar gue. Kalau laki-laki itu nggak bisa menghargai pengorbanan lo, dia nggak layak dapet air mata lo setetes pun. Sabar ya, pelan-pelan lo harus ikhlaskan. Fokus kerja dulu, uang adalah sahabat terbaik kita saat ini." .................................. Taksi menepi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang masih relatif sepi. Ririn tiba-tiba meringis, memegangi perutnya. "Aduh, Kar, gue kebelet pipis banget! Gue duluan ke toilet ya, lo tunggu di lobi atau langsung masuk aja!" Karina tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. "Iya, ganti baju sekalian sana!" Karina melangkah masuk ke lobi bandara sendirian. Langkah kakinya yang beradu dengan lantai marmer menimbulkan gema yang sunyi. Dari kejauhan, di deretan kursi tunggu yang kosong, ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal. Kapten Devran Mahendra. Devran duduk sendirian, tampak gelisah, terus-menerus membolak-balik ponsel di tangannya. Begitu Karina melihat siluet pria itu, ia merasakan getaran aneh yang sama lagi-sebuah debaran yang ia takuti. Karina berniat berputar arah, menghindari pertemuan yang hanya akan memperumit perasaannya. Namun, keberuntungan tidak berpihak padanya pagi ini. "Karina!" Suara bariton Devran memecah kesunyian koridor. Karina terpaksa berhenti dan berbalik perlahan. Devran sudah berdiri dan bergegas menghampirinya. Sebuah senyum tulus merekah di wajah sang Kapten saat mereka saling berhadapan. "Pagi, Kapten," sapa Karina dengan nada seformal mungkin, matanya menatap ujung sepatunya sendiri. "Pagi. Kamu datang terlalu awal," ucap Devran lembut. Matanya menatap wajah Karina dengan kenyamanan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Udah sarapan? Masih ada waktu satu jam sebelum kita briefing." "Sudah, Kapten. Terima kasih." Devran tidak menyerah begitu saja. Ia bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan di balik mata sayu Karina. "Temani saya kalau begitu. Saya butuh kafein untuk terbang ke Kalimantan nanti. Tolong ya?" Karina tidak bisa menolak permintaan halus sang atasan. Mereka akhirnya duduk di sebuah kantin bandara yang baru saja buka. Devran memesan dua cangkir kopi. Di tengah obrolan ringan, Devran memberanikan diri meraih jemari Karina yang diletakkan di atas meja. "Gimana luka bakar kamu? Sudah sembuh total?" tanyanya sambil pura-pura memeriksa punggung tangan Karina. Karina tersentak, jantungnya berdebar kencang saat kulit mereka bersentuhan. Ia buru-buru menarik tangannya. "Udah sembuh, Kapten. Makasih salepnya." Devran tersenyum, menyadari betapa sulitnya mendekati wanita ini. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar. "Gimana kondisi suami kamu? Dia pasti sangat beruntung punya istri yang begitu peduli seperti kamu." Karina terdiam, menunduk menatap uap kopi yang mengepul. Ia merasa miris mendengar kata "beruntung". Jika saja Devran tahu bahwa suaminya baru saja meminta cerai dan meninggalkannya dalam tumpukan tagihan rumah sakit. "Dia... dia sedang masa pemulihan, Kapten," jawabnya singkat, menelan pahitnya kenyataan. Sementara itu, dari arah toilet, Ririn berjalan celingukan mencari keberadaan sahabatnya. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di kantin. Ia tertegun melihat Karina duduk berhadapan dengan Devran. Lebih mengejutkan lagi, ia melihat Kapten Devran Mahendra-pria yang terkenal dingin dan jarang bicara-sedang tertawa lebar sambil menatap Karina dengan binar mata yang sangat berbeda. Ririn teringat saat melihat Devran tersenyum sendiri di kokpit beberapa hari lalu. Matanya membelalak, sebuah kesadaran menghantamnya. "Gila! Kapten Devran beneran suka sama Karina? Ini bukan cuma gawat, ini bisa jadi bencana gede kalo sampai ke telinga Bu Renata." Ririn berdiri mematung di kejauhan, menyadari bahwa badai yang lebih besar dari masalah rumah tangga Karina sedang mengintai di cakrawala penerbangan mereka hari ini.Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten
Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye
Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup
Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru
Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili
Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris







