Beranda / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 2. Rahasia Kelam Kapten Devran

Share

Chapter 2. Rahasia Kelam Kapten Devran

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-04-13 19:51:32

Kabin pesawat Airbus A320 milik Samudera Airline itu bermandikan cahaya mood lighting biru keunguan yang mewah. Aroma parfum mahal dan kopi yang baru diseduh memenuhi udara, menciptakan ilusi ketenangan di ketinggian 35.000 kaki.

Namun, bagi Karina, ketenangan itu hanyalah kulit luar yang membungkus badai di dalam dadanya.

Setiap kali ia tersenyum pada penumpang, ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di ruang ICU rumah sakit Jakarta, di samping tubuh kaku Ferdi yang menolak menatapnya.

"Terima kasih, silakan dinikmati," ucap Karina lembut sambil menyodorkan segelas air mineral kepada seorang pengusaha di kursi business class.

Di balik tirai pembatas menuju kokpit, Kapten Devran Mahendra berdiri menyandar, sedang meninjau manifes penerbangan bersama Eric, kopilotnya. Namun, fokus Devran tidak sepenuhnya pada kertas di tangannya.

Melalui celah tirai yang sedikit terbuka, matanya yang tajam dan jernih terus mengikuti gerak-gerik Karina.

Ada sesuatu pada wanita itu-mungkin cara ia menyembunyikan kesedihan di balik sorot matanya yang redup, atau bagaimana senyumnya terlihat begitu tulus meski tampak rapuh.

"Manis banget, ya kan?" Eric tiba-tiba berbisik, menyadari arah pandang Devran.

Devran hanya berdehem kecil, berusaha tetap terlihat berwibawa. "Fokus, Ric. Kita lepas landas sepuluh menit lagi nih."

Saat pesawat sudah stabil di jalur jelajah, insiden kecil terjadi di baris keempat. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang tampak licin meraih tangan Karina saat ia sedang menyajikan kopi. Remasan itu terlalu erat, terlalu lama untuk disebut sebuah ketidaksengajaan.

"Mbak, kayaknya kopinya kurang manis. Mungkin karena bukan kamu yang kasih susu." Lelaki itu berbisik dengan nada menggoda yang menjijikkan. "Boleh minta nomor kamu? Ya... Buat konsultasi penerbangan selanjutnya?"

Karina terkejut. Jantungnya berdegup kencang, rasa mual mendesak ke tenggorokannya.

Bayangan wajah Renata yang tajam dan peringatan tentang "pramugari kecentilan" langsung terlintas di benaknya. Dengan gerakan halus namun tegas, ia menarik tangannya.

"Mohon maaf, Bapak. Kebijakan perusahaan melarang kami memberikan informasi pribadi. Kalau ada keluhan mengenai layanan, silakan hubungi pusat bantuan kami," jawabnya dengan suara bergetar yang berusaha ia jaga agar tetap datar.

Karina segera berbalik, melangkah cepat menuju bagian belakang pesawat. Ia merasa butuh membasuh tangan itu, membasuh rasa tidak nyaman yang merayap di kulitnya.

Di dalam toilet yang sempit, ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengalir di sela jarinya. Ia menatap cermin, melihat pantulan dirinya yang tampak asing.

Mengapa semuanya terasa begitu berat?

Saat ia membuka pintu toilet untuk kembali bertugas, langkahnya terhenti. Sosok tinggi tegap Devran berdiri di sana, menghalangi jalan. Di lorong yang sempit dan sepi itu, kehadiran Devran terasa begitu mendominasi.

"Kamu nggak pa-pa?" suara Devran rendah, bergaung di dinding lorong.

Karina menunduk, jantungnya kini berdegup karena alasan yang berbeda-ketakutan. "S-saya nggak pa-pa, Kapten. Permisi, saya harus kembali bekerja."

"Tunggu," Devran mengulurkan tangan, tidak menyentuh, namun cukup untuk membuat Karina terpaku. "Saya lihat kejadian tadi. Penumpang itu kasar, tapi kamu menanganinya dengan sangat profesional."

Karina memberanikan diri menatap Devran. Di bawah lampu lorong yang temaram, wajah pilot itu terlihat sangat tampan, namun ada kehangatan yang tak terduga di sana.

"Makasih, Kapten. Tapi tolong... jangan sampai Bu Renata tahu tentang kejadian kecil tadi. Saya nggak mau ada masalah."

Devran tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa pahit. "Jangan kuatir. Rahasia kamu aman sama aku. Oh, dan kita belum kenalan secara resmi. Aku Devran."

Ia mengulurkan tangan.

Karina ragu sejenak, membayangkan jika ada pramugari lain atau bahkan kamera pengawas yang menangkap momen ini. Namun, ia tak ingin terlihat tidak sopan. Ia menjabat tangan Devran sejenak.

"Karina Prameswari, Kapten."

"Nama yang cantik, secantik orangnya," gumam Devran saat Karina menarik tangannya dan bergegas pergi.

Devran berdiri di sana, menghirup sisa aroma parfum bunga lili yang ditinggalkan Karina, merasa ada sesuatu yang bergetar di hatinya yang selama ini beku.

......................................

Di ruang kemudi yang dipenuhi pendar instrumen digital, suasana terasa berat. Eric, yang biasanya banyak bercanda, kini hanya menatap kosong ke kegelapan langit malam di luar jendela kokpit.

"Gue mau cerai sama Vivian, Dev," ucap Eric tiba-tiba, memecah kesunyian.

Devran menoleh, terkejut. "Cerai? Ada masalah apa, Ric? Bukannya kalian baru aja ngerayain anniversary ke tiga tahun, kan?"

Eric menghela napas panjang, suaranya sarat dengan keputusasaan. "Dia nggak bisa berhenti, Dev. Belanja, pesta sosialita, pamer di media sosial... semua duit gue habis buat nutupin gaya hidupnya. Anak kami masih balita, tapi dia lebih sering sama baby sitter daripada ibunya sendiri. Gue ngerasa kayak mesin ATM, bukan seorang suami."

Devran terdiam. Kata-kata Eric seperti cermin yang dipantulkan ke wajahnya sendiri. Di mata dunia, pernikahan Devran dan Renata adalah power couple yang sempurna. Pilot berbakat dan CEO cantik.

Namun, di balik pintu rumah mereka yang megah, kenyataannya jauh lebih gelap.

Sejak ayah Renata meninggal dan wanita itu mengambil alih kepemimpinan Samudera Airline setahun yang lalu, ego Renata tumbuh setinggi gunung. Ia tidak lagi melihat Devran sebagai teman hidup, melainkan sebagai aset yang bisa ia kendalikan.

"Lo beruntung bisa terbang karena uang gue, Devran," suara Renata yang melengking seringkali terngiang di telinga Devran saat mereka bertengkar. "Tanpa maskapai ini, lo cuma pilot biasa yang nggak punya apa-apa."

Devran mengepalkan tangannya di atas kendali pesawat. Ia tersiksa. Ia merindukan kehangatan, merindukan penghargaan, dan merindukan cinta yang tulus-sesuatu yang kini ia lihat sekilas pada sosok Karina yang rapuh.

Ia menyadari bahwa meski hidup dalam kemewahan, ia dan Eric berada di kapal yang sama; kapal yang perlahan tenggelam dalam samudera kesepian.

.................................

Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Hang Nadim, Batam, tepat pukul tiga dini hari. Suasana bandara sangat sepi, hanya ada beberapa petugas darat yang berlalu-lalang.

Setelah semua penumpang turun, para kru mulai bersiap untuk menuju hotel tempat mereka beristirahat.

Karina sedang berada di toilet kru, memperbaiki riasan wajahnya yang mulai luntur akibat kelelahan dan air mata yang sempat jatuh tanpa sengaja saat ia teringat Ferdi di tengah penerbangan.

"Karina, lo beneran nggak mau ikut ke rumah Om gue?" Ririn muncul di ambang pintu toilet, membawa tasnya. "Rumahnya luas, kok. Kita bisa istirahat lebih tenang di sana daripada di hotel."

Karina tersenyum tipis. "Terima kasih banyak tawaran baiknya, Mbak Ririn. Tapi aku lebih baik di hotel saja, nggak mau merepotkan. Lagi pula, aku pingin segera menghubungi rumah sakit di Jakarta."

"Ya sudah kalau begitu. Sampai ketemu besok ya, jangan lupa istirahat," Ririn melambai dan pergi.

Karina kembali menatap cermin. Ia menghela napas, mencoba membuang segala beban di pundaknya. Tiba-tiba, ia melihat siluet seorang pria muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakangnya.

Karina tersentak, hampir menjatuhkan maskaranya.

Kapten Devran?

Pilot itu tampak acuh, seolah tidak menyadari keberadaan Karina. Ia melangkah maju ke wastafel di sebelah Karina, menggulung lengan kemejanya yang putih bersih, dan mencuci tangan.

Suasana menjadi sangat kikuk. Karina merasa oksigen di toilet itu mendadak menipis.

"K-kapten... saya permisi dulu," ucap Karina terbata-bata. Ia segera menyambar tas kecilnya dan hendak kabur secepat mungkin.

Namun, sebelum ia bisa melangkah keluar, sebuah tangan yang kuat namun lembut mencekal lengannya. Karina mematung. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia perlahan menoleh, dan matanya langsung terkunci oleh tatapan intens Devran.

Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Dalam jarak sedekat itu, Karina bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau sabun dari tubuh Devran. Ada sesuatu dalam tatapan Devran yang membuatnya merasa... dimengerti.

Devran perlahan melepaskan cekalannya, namun tangannya beralih mengambil sebuah benda kecil dari atas wastafel yang tadi tertutup tas Karina. Sebuah dompet kecil bermotif bunga.

"Ini punya kamu, kan? Tertinggal di wastafel," ucap Devran dengan suara rendah yang menggetarkan.

Ia mengulurkan dompet itu sambil tersenyum-senyum yang kali ini tidak pahit, melainkan sangat manis dan menenangkan.

Karina menerima dompet itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Kapten. Maaf... saya ceroboh."

"Segera istirahat, Karina. Kamu kelihatan lelah banget," ucap Devran lembut. Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Karina yang masih berdiri terpaku, mengatur napasnya yang menderu.

Di keheningan dini hari di Batam, Karina menyadari satu hal; hidupnya yang sudah rumit karena Ferdi dan keluarga mertuanya, kini akan menjadi jauh lebih berbahaya karena kehadiran seorang pria bernama Devran Mahendra.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

    Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 14. Jatuhnya Airbus A380

    Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

    Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 12. Hati Yang Rapuh

    Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

    Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

    Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status