Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / HUJAN DALAM MIMPI (Bab 3)

Share

HUJAN DALAM MIMPI (Bab 3)

Author: Diah Pitasari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-26 19:44:33

Hari kelima. 

Pencarian jenazah kembali dilakukan. Tim SAR dan aparat desa bertekad menemukan lebih banyak lagi korban yang tertimbun untuk dikebumikan secara layak.

“Mak, karena biasanya di hari ke 4 ini, jenazah korban sudah rusak, dan ada kemungkinan juga, mulai terkontaminasi bakteri, nanti dis

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 3)

    Hari kelima.Pencarian jenazah kembali dilakukan. Tim SAR dan aparat desa bertekad menemukan lebih banyak lagi korban yang tertimbun untuk dikebumikan secara layak.“Mak, karena biasanya di hari ke 4 ini, jenazah korban sudah rusak, dan ada kemungkinan juga, mulai terkontaminasi bakteri, nanti disucikannya dengan cara tayamum saja. Mak Acih juga harus pakai sarung tangan karet ini, ya, biar aman.” Ustadz Agum memberikan sekotak sarung tangan karet pada Mak Acih yang langsung mengangguk, dan memasukkannya ke dalam tas pandan.“Berapa orang lagi yang belum ditemukan, Ustad?” tanya Mak Acih.“Kira-kira lima be

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 2)

    “Subhanalloh, Aki Amin orang baik. Allohu Akbar.” Jaya tak henti bertasbih, mereka yang hadir di sana pun ikut bertasbih.Setelah itu, tanpa buang waktu lagi, karena sebentar lagi akan diadakan proses pemakaman masal, maka Mak Acih memutuskan untuk menyegerakan memandikan jenazah sang suami.Mak Acih, Samih dan Nanang, mulai menggosok setiap bagian tubuh Aki Amin. Surip dan Jaya, bagian menyirami.“Tangan inilah yang dulu Abah pakai untuk menghidupi kita.” Mak Acih menggosok bagian tangan kanan Aki Amin, lalu Samih yang berseberangan di bag

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 1)

    “Mak, Abah sudah ketemu!” teriaknya dari luar bilik pemandian jenazah perempuan.Mak Acih terpaku sesaat. Jantungnya berdetak kencang, sementara tubuhnya mendadak lemas. Samih dan keluarga Carwen, jenazah yang sedang dimandikan, langsung tanggap, dan memegangi tubuhnya agar tak terjatuh.“Nanti, Nang. Emak lagi tanggung,” sahut Mak Acih, dari dalam bilik pemandian.“Ternyata, jenazah Abah benar tertimbun pohon asem yang roboh, Mak.” Nanang berteriak lagi dari luar.“Iya, Nang,” sahut Mak Acih.“Sudah. Ema

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 8)

    “Tadi itu benar Teh Epih sama Anah, Mak?” tanya Samih khawatir, saat melihat Mak Acih dan Neneng memasuki bilik pemandian. Saat itu, ia sedang menggantikan Mak Acih memandikan jenazah salah seorang warga desa.“Iya, Mih.” Mak Acih tertunduk lesu. Mengusap air matanya yang kembali mengalir.Samih ikut menangis sesenggukan. Apa yang menjadi kekhawatirannya benar-benar terbukti. Sejujurnya ia ingin menangis berteriak-teriak untuk melegakan perasaan dan rasa sesak di dada, tapi ia meyakinkan diri, bahwa itu tak ada gunanya. Toh, tidak akan bisa menghidupkan kembali jasad sang kakak sepupu dan keponakan. Samih tetap meneruskan memandikan jenazah membantu sang Ibu, sementara Neneng berada di dalam rumah, bertugas mengafani jenazah.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 7)

    RT Madun menyampaikan laporan Mak Acih pada Ustadz Agum, mengenai berkurangnya stok kain kafan.“Ya sudah, dikafaninya tunggu Kaling datang saja.” Maman, salah seorang warga memberi saran.“Tidak perlu seperti itu. Dalam kondisi darurat seperti sekarang, diperbolehkan membungkus jenazah hanya dengan satu lapis kain saja, tidak usah sampai berlapis-lapis seperti mengafani jenazah dalam kondisi normal. Malah kalau benar-benar tidak ada kafan sama sekali, bisa menggunakan kain apa saja, kain batik misalnya. Sebab, penggunaan kain kafan berwarna putih, adalah sunah dan kebiasaan saja.” Ustadz Agum menjelaskan panjang lebar di sela-sela kegiatannya memandikan jenazah korban longsor.Ia tak

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 6)

    Sore itu, Mak Acih sudah memandikan empat jenazah. Rasa lelah mulai mendera, fisik tuanya tak lagi bisa diajak berkompromi. Udara dingin pegunungan makin membuatnya tak sanggup melanjutkan proses pemandian. Ia meminta Neneng untuk bertukar posisi. Namun sebelumnya, ia ingin memandikan jenazah Edoh dan Cicih terlebih dahulu untuk yang terakhir.Mak Acih terpaku. Menatap jenazah Edoh si putri sulung yang terbaring kaku di hadapannya. Cahaya mata pertama bersama sang suami, yang sampai kini belum jelas keberadaannya.Masih jelas dalam ingatan. 45 tahun lalu, saat pertama kali memandikan Edoh yang masih bayi merah, membasuh tubuhnya dengan air hangat dan sabun, lalu mengeringkannya dengan hati-hati.Sesekali ia bercand

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status