Masuk"Mungkin sudah saatnya kita menutup total jalur ilegal bagi para pendaki yang mau naik ke arah Kawah Ratu melewati desa kita, Pak RT. Meresahkan, dan ini bukan kejadian yang pertama kali. Kita harus menjaga agar desa kita terhindar dari hal-hal maksiat seperti ini," kata Ustadz Agum, nadanya terdengar berat dan prihatin.
Kang Badar, sang ketua karang taruna Desa Cialas, yang duduk d
Siang itu, Ocoh sedang berjongkok di atas dingklik kayu di pojokan dapur, di area mencuci piringnya yang sederhana. Berukuran dua kali dua meter dengan lantai ubin semen yang selalu basah.Di tengah kesibukannya, telinga Ocoh tiba-tiba menangkap suara gesekan halus. Seseorang mendadak duduk berjongkok tepat di sampingnya, lalu ikut mengulurkan tangan membantu membasuh piring.Ocoh menoleh. Sosok yang sangat ia kenal berada di sana. Putri kandungnya, Mirah."Mirah?" panggil Ocoh bingung.Ada ganjalan aneh yang merayapi dadanya. Seperti ada logika yang salah di kepalan
Bersamaan dengan itu, semilir angin sejuk berembus lembut dari lereng Gunung Salak, menerpa pepohonan kamboja di Pemakaman umum Desa Cialas. Angin itu terasa begitu dingin dan menenangkan, seolah menyapu habis sisa-sisa ketegangan dan keraguan di hati setiap orang yang hadir, termasuk Iis yang kini tertunduk bisu.Prosesi pemakaman pun berlanjut tanpa kendala. Papan penutup dipasang, dan tanah ditimbunkan kembali dengan lancar.Sebagai penutup, Ustadz Agum memimpin doa di samping nisan yang baru ditancapkan. Doa meluncur dari bibirnya dengan begitu indah, meresap, dan menyejukkan hati.Satu per satu pelayat mulai melangkah pulang meninggalkan pemakaman. Danu sempat melambaikan tangan terakhir di atas pusara istriny
Merasa privasi dan nama baik keluarganya tersentil di depan umum, Kang Sodiq, kakak almarhumah Mirah melangkah maju dengan wajah merah padam."Ustadz! Maksudnya apa ini?!" tanya Sodiq dengan nada kesal. "Masa lagi berduka gini malah bahas utang? Tega-teganya orang-orang nagih hutang di saat adik saya belum juga dikubur! Enggak lihat-lihat keadaan banget!""Kang Sodiq, tenang dulu..." pangkas Ustadz Agum dengan nada tenang namun memikul ketegasan syariat. "Ini bukan untuk mempermalukan almarhumah, Kang. Menyelesaikan perkara utang-piutang sebelum jenazah dikuburkan itu wajib hukumnya. Jika lalai, kasihan Neng Mirah. Hal ini bisa memberatkan perjalanannya di alam selanjutnya ... Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasululla
Jari-jemari Mirah mengatup kaku dalam kepalan erat. Mak Acih mencoba merenggangkannya secara perlahan, tetapi telapak tangan itu tetap membatu. Seolah-olah jenazah di hadapannya sedang menahan sesuatu hingga enggan meluruskan jemari.Mak Acih tertegun. Namun, tanpa menampakkan rasa panik, ia mulai memijat-mijat pergelangan dan punggung tangan Mirah, berharap kaku di persendian itu melunak."Neng, bantu Emak pijat tangan yang satunya," panggil Mak Acih pelan pada Neneng.Neneng langsung mendekat dan menuruti perintah bibinya. Namun, setelah beberapa saat dipijat, usaha mereka tak membuahkan hasil sedikit pun. Padahal, berdasarkan pengalaman puluhan tahun Mak Acih memandikan jenazah, pijatan lembut di titik persendian sela
"Tapi Mak ... maaf-maaf ya, Neneng jadi ingat. Soal... utang-utangnya Teh Mirah gimana, ya? Mak kan tahu sendiri, warga sini banyak yang diutangin sama almarhumah.""Nyah, da gimana lagi...""Padahal orang-orang udah pada tahu, Teh Mirah kalau janji bayar suka meleset. Tapi kalau dia udah datang, ngomongnya manis, ngerayu sambil melas-melas, ada aja warga yang luluh terus ngasih pinjaman. Heran Neneng mah."Mak Acih menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman samar yang sarat akan keprihatinan. Di dalam hati, ia membenarkan perkataan Neneng. Jangankan warga lain, Mak Acih sendiri pun tak luput dari kelincahan tutur kata almarhumah semasa hidup.
Siang hari di Desa Cialas. Cuaca saat itu sedang mendung menggantung. Jarum jam di dinding baru menunjukkan pukul sebelas lewat beberapa menit. Mak Acih merebahkan tubuh rentanya di atas balai-balai ruang tengah, berniat meluruskan pinggang sebentar sembari menunggu kumandang azan Zuhur.Semilir angin dingin yang terbawa dari lereng Gunung Salak lembut mengelus wajahnya, hingga Mak Acih tak sengaja tertidur pulas.Tok! Tok! Tok!Mak Acih terjaga saat mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang. Ia mengerjap-ngerjapkan mata yang masih terasa berat, lalu bergegas bangun untuk membukakan pintu.Di ambang pintu, berdiri sosok perempuan mu
“Bowo mengeluh pada saya, ia kerap dihantui oleh arwah Entin. Indri juga kerap didatangi, ya, Ndri?” tanya Herman pada Indri yang mengangguk lemah.“Anak bungsu saya juga sering mendadak sakit panas. Sudah diminumi obat, panasnya enggak turun-turun. Baru sembuh kalau saya berikan air y
Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya







