Beranda / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / TEROR SETAN GANCET (Bab. 11)

Share

TEROR SETAN GANCET (Bab. 11)

Penulis: Diah Pitasari
last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 11:00:32

Ghea dan Dini melipat tangan di dada dengan gurat wajah muak, sementara Fauzi dan Hadi beberapa kali membuang muka dengan helaan napas kesal. Mereka semua merasa diseret ke dalam pusaran masalah hukum, interogasi, dan sanksi adat, hanya karena nafsu sepasang kekasih tak tahu malu ini.

"Kami... kami cuma mau cari angin segar, Pak," gumam Arman, suaranya bergetar, mencoba mencari alasan pa

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 7)

    RT Madun menyampaikan laporan Mak Acih pada Ustadz Agum, mengenai berkurangnya stok kain kafan.“Ya sudah, dikafaninya tunggu Kaling datang saja.” Maman, salah seorang warga memberi saran.“Tidak perlu seperti itu. Dalam kondisi darurat seperti sekarang, diperbolehkan membungkus jenazah hanya dengan satu lapis kain saja, tidak usah sampai berlapis-lapis seperti mengafani jenazah dalam kondisi normal. Malah kalau benar-benar tidak ada kafan sama sekali, bisa menggunakan kain apa saja, kain batik misalnya. Sebab, penggunaan kain kafan berwarna putih, adalah sunah dan kebiasaan saja.” Ustadz Agum menjelaskan panjang lebar di sela-sela kegiatannya memandikan jenazah korban longsor.Ia tak

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 6)

    Sore itu, Mak Acih sudah memandikan empat jenazah. Rasa lelah mulai mendera, fisik tuanya tak lagi bisa diajak berkompromi. Udara dingin pegunungan makin membuatnya tak sanggup melanjutkan proses pemandian. Ia meminta Neneng untuk bertukar posisi. Namun sebelumnya, ia ingin memandikan jenazah Edoh dan Cicih terlebih dahulu untuk yang terakhir.Mak Acih terpaku. Menatap jenazah Edoh si putri sulung yang terbaring kaku di hadapannya. Cahaya mata pertama bersama sang suami, yang sampai kini belum jelas keberadaannya.Masih jelas dalam ingatan. 45 tahun lalu, saat pertama kali memandikan Edoh yang masih bayi merah, membasuh tubuhnya dengan air hangat dan sabun, lalu mengeringkannya dengan hati-hati.Sesekali ia bercand

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 5)

    “Tolong carikan Abah. Dalam keadaan apa pun. Emak mau melihat Abah buat yang terakhir kali. Cari di tempat korban selamat juga,” pesan Mak Acih saat melepas Nanang dan Jaya, untuk mencari korban longsor yang lain.Surip tidak ikut, karena ia ingin membantu mengurus jenazah Edoh dan Cicih.Sementara Mak Acih, atas perintah RT Madun, segera bersiap untuk memandikan jenazah korban, selagi jasad mereka masih dalam keadaan bagus. Lebih cepat, lebih baik.Warga desa yang selamat, ikut bahu membahu menanggapi bencana ini.Ada yang membantu membuat dapur umum. Ada yang membantu mencari korban di bawah reruntuhan.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 4)

    “Mak! Emak!” tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil namanya.Mak Acih menoleh, dan mendapati Samih, Nanang, dan Jaya, suami Samih berlari menghampirinya dengan wajah panik. Mata mereka sembab karena menangis.Tanpa banyak kata, mereka langsung saling memeluk, berangkulan, seraya menangis sesenggukan, berbagi beban kesedihan bersama“Teh Edoh. Cicih. Mereka semua meninggal.” Mak Acih berkata tergagap. Mendengar nama Edoh dan Cicih disebut, Samih langsung berteriak histeris, meraung-raung memanggil-manggil nama Almarhumah kakak dan sang keponakan.Sampai Mak Acih akhirnya turun tangan, ia memeluk tubuh sang putri era

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 3)

    Mak Acih langsung menangis histeris kala mendapati kenyataan, bahwa tubuh perempuan muda yang terbaring tak bernyawa itu benar adalah Cicih, anak kedua Edoh.Mak Acih memeluk tubuh itu erat sambil menangis memanggil-manggil nama sang cucu perempuan kesayangannya. Sayangnya, Cicih sudah tak lagi bernyawa, kendati Mak Acih sudah berusaha keras membangunkan sang cucu dari tidur panjangnya yang abadi.Beberapa orang penduduk datang membawa tandu sederhana yang terbuat dari dua ruas bambu yang dihubungkan dengan dua bambu pendek pada bagian atas dan bawahnya, serta kain terpal pada bagian tengahnya.“Punten, Mak, jenazah Cicih mau dibawa ke tempat pengumpulan jenazah di sebelah sana.” Jaka, salah seorang yang dike

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 2)

    Mak Acih baru saja selesai salat, dan akan membuka mukenanya, ketika tiba-tiba bumi yang ia pijak terasa bergetar dengan diiringi suara berdebum keras yang menggema seantero desa. Mak Acih berteriak kencang, tak jadi membuka mukena, seraya berulang kali mengucap istigfar, sambil berlari menuju meja kayu yang ada di dekatnya, bersembunyi meringkuk di bawah meja itu. Getaran perlahan mereda, suara berdebum pun mulai menghilang. Takut-takut, Mak Acih merangkak keluar dari kolong meja, lalu berlari ke luar rumah dengan masih mengenakan mukena.Di luar sudah ramai oleh para tetangga, yang juga sama-sama berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah.Beberapa warga berteriak heboh seperti menyampaikan sesuatu. Mak Acih yang ma

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    RUMAH BARU UNTUK PARDI (Bag 1)

    Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status