MasukSetelah menjalani pemeriksaan di Polres dengan pendampingan dari RT Madun dan tim Jagawana dari Desa Cialas, pihak kepolisian meminta Aki Amin untuk ikut pergi ke rumah sakit tempat jenazah ditempatkan. Tujuannya adalah untuk mengonfrontasi barang bukti di lapangan, memastikan apakah baju yang ditemukan di TKP sama persis dengan baju yang pernah dipakai oleh pendaki yang ditemui Aki Amin beberapa waktu lalu. ![]()
Suasana seketika kacau oleh raungan tangis dan saling maki yang bersahut-sahutan. Beruntung, Aiptu Sumardi dan beberapa bintara polisi dengan sigap langsung berdiri di tengah-tengah, menengahi kedua belah pihak agar tidak terjadi benturan fisik."Cukup! Bapak, Ibu, tolong hormati tempat ini!" bentak Aiptu Sumardi dengan nada tinggi yang seketika membuat hening seisi ruangan, menyisakan suara sesenggukan yang menyayat hati. "Menyalahkan satu sama lain tidak akan membuat mereka hidup kembali. Saat ini, demi melengkapi proses identifikasi fisik awal, kami meminta satu orang perwakilan dari masing-masing keluarga untuk mengenali jenazah."Aiptu Sumardi menghentikan kalimatnya sejenak. Ia menatap wajah-wajah keluarga Vera dan Erik bergantian dengan pandangan yang sangat serius.
Setelah menjalani pemeriksaan di Polres dengan pendampingan dari RTMadundan tim Jagawana dari DesaCialas, pihak kepolisian meminta Aki Amin untuk ikut pergi ke rumah sakit tempat jenazah ditempatkan. Tujuannya adalah untuk mengonfrontasi barang bukti di lapangan, memastikan apakah baju yang ditemukan di TKP sama persis dengan baju yang pernah dipakai oleh pendaki yang ditemui Aki Amin beberapa waktu lalu."Aki, untuk memastikan tidak ada salah usut, kami butuh Aki ikut ke rumah sakit sekarang. Kami mau Aki melihat barang-barang, pakaian, atau taskerilasli milik korban yang baru diturunkan dari gunung oleh tim evakuasi. Apa pakaian yang melekat di jasad itu sama dengan pakaian yang Aki lihat sebulan lalu saat menegur mereka?" ujar Aiptu Sumardi seraya mengemas berkas-berkasnya.
"Mungkin sudah saatnya kita menutup total jalur ilegal bagi para pendaki yang mau naik ke arah Kawah Ratu melewati desa kita, Pak RT. Meresahkan, dan ini bukan kejadian yang pertama kali. Kita harus menjaga agar desa kita terhindar dari hal-hal maksiat seperti ini," kata Ustadz Agum, nadanya terdengar berat dan prihatin.Kang Badar, sang ketua karang taruna DesaCialas, yang duduk di sebelah mereka, mengangguk setuju. "Saya setuju, Pak RT. Kejadian begini cuma bikin nama desa kita jadi cemar dan jelek di luar sana."Ustadz Agum terdiam sejenak, ingatan subuh kemarin kembali melintas di kepalanya. "Aki Amin kemarin subuh bilang ke saya, kalau sebulan lalu beliau sempat bertemu rombongan pendaki yang naik ke Kawah Ratu berjumlah lima orang. Tapi, besoknya saat turun lagi melewati desa ... mereka
Ghea dan Dini melipat tangan di dada dengan gurat wajah muak, sementara Fauzi dan Hadi beberapa kali membuang muka dengan helaan napas kesal. Mereka semua merasa diseret ke dalam pusaran masalah hukum, interogasi, dan sanksi adat, hanya karena nafsu sepasang kekasih tak tahu malu ini."Kami... kami cuma mau cari angin segar, Pak," gumam Arman, suaranya bergetar, mencoba mencari alasan paling aman yang tersisa di kepalanya."Cari angin segar sampai masuk ke dalam belukar pekat begini?" potong Aiptu Sumardi, nadanya datar namun menghunjam. "Jangan berbelit-belit, Dek Arman. TimInafismenemukan beberapa patahan ranting kering yang posisinya rebah, juga ... kain yang dijadikan alas di dekat gundukan tanah mayat ini. Kamu tahu kan, memberikan keterangan palsu dalam penyelidikan pembunuhan atau
Mereka kembali hanyut dalam canda mesra, tanpa menyadari bahwa dari kegelapan pekat di balik batang pohon besar, ada dua pasang mata merah redup yang sedang mengintai. Tatapan itu begitu haus dan penuh harap, seolah sedang menuntun ego Arman dan Putri. Menghasut akal sehat sepasang kekasih itu, agar terhanyut dalam nafsu liar dan melakukan kekhilafan yang menyesatkan.Arman makin berani. Cuping hidungnya mengendus ceruk leher Putri. Embusan napasnya kian memburu, dan sang kekasih mulai terbuai, ikut membalas cumbuan Arman. Di sekeliling api unggun, teman-teman mereka masih asyik bernyanyi kecil, membiarkan sepasang kekasih itu bermesraan di sekitar mereka, seolah itu adalah suatu hal yang sudah biasa.Mereka sama sekali tidak menyadari kejanggalan di sudut gelap itu.
UstadzAgum dan Aki Amin berbincang tentang banyak hal selama perjalanan subuh itu. Namun, langkah kaki mereka mendadak melambat, saat melihat siluet beberapa orang yang mendekat dari arah depan. Enam anak muda. Tiga laki-laki dan tiga perempuan, berjalan beriringan ke arah mereka dengan mengenakan jaket tebal dan menggendong tas punggung besar khas pendaki gunung.UstadzAgum dan Aki Amin berhenti sejenak di tepi jalan setapak, menunggu rombongan itu melintas dekat mereka."Permisi, Pak. Maunumpanglewat," kata salah seorang pemuda yang berjalan paling depan dengan nada sopan. Lima temannya ikut mengangguk ramah sembari melempar senyum.UstadzAgum dan Aki Amin membalas senyuman itu.







