Home / Male Adult / MALAM GILA DI RANJANG MERTUA / TUMBANG DI TENGAH BADAI

Share

TUMBANG DI TENGAH BADAI

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-05-02 21:49:49

Lucia sudah berdiri mematung tak jauh di belakang Rama. Dan benar saja, sosok di depan pria itu memang Alya.

​"Ram?" lirih Alya. Suara itu seketika menarik fokus Rama kembali pada perempuan di hadapannya.

​Hening melanda. Situasi semakin kacau dan menyesakkan. Rama kini terhimpit di antara dua perempuan; yang satu lokal, yang satu bule, sementara badai salju mulai mengamuk tanpa ampun.

​Tubuh kokoh Rama yang sudah dipaksakan bergerak melampaui batas, ditambah syok suhu ekstrem yang tak pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PAPA RAMA?

    ​"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. ​Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. ​Ting! ​Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. ​Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. ​Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   APAKAH MUNGKIN?

    ​Dua hari telah berlalu. Kondisi Rama membaik dengan cepat hingga ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Anehnya, sejak Lucia dipanggil oleh Tansri hari itu, wanita bule tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat Rama dan Alya mengunjungi toko bunga peninggalan mendiang ibu Rama, Lucia tetap tidak terlihat. ​Alya sempat ingin bertanya, namun rasa sungkan menahannya. Di hotel pun, Lucia seolah hilang ditelan bumi. Alya berusaha menepis prasangka buruk; ia tidak ingin memikirkan hal negatif tentang apa yang mungkin dilakukan besannya terhadap asisten tersebut. ​"Kenapa, Bu?" tanya Rama yang rupanya menyadari raut gelisah di wajah mertuanya. ​Alya menggeleng pelan, lalu jemarinya menyentuh satu tangkai bunga lili yang putih bersih. "gak apa-apa, Ram. Bunga ini cantik sekali..." ​"Bawa saja, Bu. Jika Ibu mau, aku akan memenuhi seluruh mansion kita dengan bunga lili seperti ini," sahut Rama sungguh-sungguh. ​Alya terkekeh, namun ia menyimpan kembali bunga

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KETAKUTAN DI MATA LUCIA

    Ceklek. ​Pintu kamar rawat inap itu kembali terbuka. Ketiganya menoleh serentak. Sosok Tansri berdiri di sana dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Sang ayah akhirnya sampai. ​"Ram, bagaimana kabarmu?" tanya Tansri seraya menduduki kursi yang diberikan oleh Alya. Alya sendiri memilih untuk berdiri, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu. ​"Terima kasih, Al," ucap Tansri singkat pada besannya. Alya hanya menunduk dan mengangguk sopan, Lucia mengerang dalam hati; ia merasa kalah cepat dalam mengambil hati sang tuan besar. ​"Papa mau bicara," ucap Tansri sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Lucia mengerti bahwa pembicaraan ini bersifat pribadi. ​"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan," sahut Lucia cepat. Ia khawatir Alya akan kembali mencuri perhatian Tansri jika mereka tetap di sana. ​"Pa, saya keluar dulu," pamit Alya yang langsung disambut anggukan oleh Tansri. ​Setelah pintu tertutup rapat, Tansri menatap tajam ke arah pintu kayu tersebut. "Ada apa, Pa?" tanya Rama pelan. ​

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   SIAPA YANG SALAH?

    Matahari mengintip malu-malu di balik cakrawala, menyinari sisa-sisa amukan badai salju yang semalam suntuk melumpuhkan kota-kota di Eropa. Gedung-gedung megah kini tertutup jubah putih yang tebal, membeku dalam keheningan pagi. ​Di dalam kamar rumah sakit yang hangat, Rama perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lembut Alya . Senyum manis tak pernah luruh dari bibir mertuanya itu, seolah berusaha menghalau sisa-sisa ketegangan semalam. ​Dokter mengatakan Rama mengalami hipotermia ekstrem. Beruntung, Lucia sigap menghubungi layanan darurat dan membawanya ke rumah sakit tepat saat Rama tumbang di tengah badai. ​"Bu... masih marah?" tanya Rama dengan suara yang sangat lemah. ​Alya menggeleng pelan. Ia menyendokkan makanan rumah sakit yang hambar itu ke mulut Rama. "Tidak, Sayang. Sudahlah, lupakan saja. Maafin Ibu, ini semua salah..." ​"Salahku!" sela Rama cepat, menatap mata Alya dengan intens. ​Alya terdiam sejenak, namun senyumnya kembali merekah meski t

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   TUMBANG DI TENGAH BADAI

    Lucia sudah berdiri mematung tak jauh di belakang Rama. Dan benar saja, sosok di depan pria itu memang Alya. ​"Ram?" lirih Alya. Suara itu seketika menarik fokus Rama kembali pada perempuan di hadapannya. ​Hening melanda. Situasi semakin kacau dan menyesakkan. Rama kini terhimpit di antara dua perempuan; yang satu lokal, yang satu bule, sementara badai salju mulai mengamuk tanpa ampun. ​Tubuh kokoh Rama yang sudah dipaksakan bergerak melampaui batas, ditambah syok suhu ekstrem yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, akhirnya mencapai titik nadir. Pertahanannya runtuh. ​Bruk! ​"RAMA!" pekik kedua perempuan itu bersamaan saat melihat tubuh Rama ambruk ke atas tumpukan salju yang dingin. ​**** ​"Mana uangnya? Mau bayar pakai uang atau tubuh? Aku hanya memberikan dua pilihan yang sebelumnya kamu tawarkan padaku!" ​Suara Indra memantul dingin di dinding mansion mewah milik Nadia—tempat yang seharusnya menjadi zona nyaman Rama. ​Setelah berbagai pertimbangan pelik, Nadia ak

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PENCARIAN

    Rama mendadak menghentikan langkah. Jantungnya yang sempat mencelos kembali berdenyut perih saat menyadari sosok yang ia dekati ternyata bukan Alya. Perempuan asing itu menoleh dengan raut kaget, mendapati wajah Rama yang sudah sepucat mayat. ​"Are you okay, Mister?" tanya perempuan itu khawatir. ​Rama membalas dengan anggukan kaku. “Yes, I’m okay,” jawabnya singkat. Ia segera meminta maaf sedalam-dalamnya karena telah mengganggu, lalu bergegas menjauh. Namun sebelum pergi, matanya sempat melirik mantel yang dikenakan orang asing itu—begitu mirip dengan yang biasa dipakai ibu mertuanya. ​Ia mengerang, tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih. "Jika aku tak menemukan Alyaku, aku gak akan pernah memaafkan diriku sendiri," lirihnya terengah-engah di tengah hantaman angin yang semakin kencang. ​"Ya Tuhan, Kamu di mana, Bu?!" batinnya menjerit. Ia mendongak, menatap langit yang mulai memuntahkan butiran salju ke wajahnya yang membeku. ​Rama kehilangan arah. Tak ada ja

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   DENDAM YANG TAK TERBALASKAN

    Perjalanan menuju Surabaya itu dipenuhi aura kegelapan yang pekat. Di dalam mobil, Tan Sri bukan lagi sosok CEO yang tenang; ia adalah seorang pria yang kehilangan arah, yang jiwanya telah lama mati bersama mendiang istrinya, Lili,ibu kandung Rama yang sesungguhnya. Penyesalan yang teramat besar a

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   NADIA OH NADIA

    Sementara itu, di sudut lain kota, suasana rumah terasa sangat sunyi dan dingin sedingin es. Alya baru saja terbangun. Ia melangkah turun ke lantai bawah, matanya sedikit menyipit saat melihat meja makan sudah terhidang sarapan yang masih mengepul hangat. Senyum tulus terukir di wajahnya yang letih

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PERTEMUAN

    ​Hari demi hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Sikap Rama terhadap Nadia berubah total; ia menjadi sosok yang sangat dingin dan tidak terjangkau. Rama hanya menunjukkan sisi hangat dan manisnya kepada Alya, itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi di belakang Nadia. Di depan istrinya, R

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KECUPAN YANG MENENANGKAN

    Alya membuka pintu kamarnya dengan sisa tenaga yang ada. Tangannya masih bergetar hebat, dan meski ia berusaha menahan isak tangisnya, suara sesenggukan itu tetap lolos, menyayat kesunyian lorong. Air mata yang terus mengalir membasahi pipinya membuat sosok wanita berdarah Belanda itu tampak begit

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status