LOGINDominic melepas cengkramannya, ia menatap tak penuh minat pada Janna. Sementara, Janna memeluk tubuhnya sendiri, ia takut pada suara guntur.
"Tanpa perlengkapan dan persediaan makanan, kau tak akan mampu bertahan hidup di luar Pandos. Kematianmu akan sia-sia."Dominic mengira Janna ketakutan mendengar fakta mengerikan tentang alam di luar Pamdos sebelum mencapai kampung halaman Janna di Hosmer.Hujan mengguyur Pamdos dengan deras. Dominic ingin menghukum Janna tanpa menyentuh fisik istrinya."Kau seharusnya berterima kasih telah menikah dengan pejabat militer, hidupmu lebih terjamin dibanding seumur hidup bertahan di stratum Royusha!" teriak Dominic di tengah suara keras hujan.Merasa cukup, Dominic meninggalkan Janna yang mulai terisak-isak dan gemetaran sambil mengusap-usap lengan sendiri. Sebelum membalik tubuhnya, suara gelegar guntur dan sambaran kilat membuat Janna melonjak lalu memeluk Dominic yang mendadak membeku di tempat."Jangan tinggalkan... aku. Aku... ta... takut guntur...," ucap Janna terbata-bata, ia mencengkram pakaian Dominic yang basah dan menyurukkan kepalanya ke dada Dominic.Dominic bisa merasakan efek kejut pada tubuh istrinya, hanya saja, ia tidak menyangka Janna yang keras begitu lemah bila berhadapan dengan suara guntur.Tangisan Janna menyatu dengan alam, meninggalkan kesan pilu dan pedih. Janna seperti memiliki pengalaman buruk di balik bahana guntur."Menjauhlah," ucap Dominic seraya mendorong Janna. Perempuan yang sedang dilanda panik dan takut tidak bersedia lepas dari Dominic. Ia terus-menerus menggenggam pakaian depan Dominic.Hujan semakin deras bak senang melihat lakon Dominic dan Janna dalam kehidupan nyata.Tidak ambil waktu lama, mengingat hujan tak akan berhenti Dominic memiringkan tubuh Janna lalu menggendong di depan badan. Dominic menerobos hujan hingga tiba di kamar pribadi mereka."Ganti pakaiannya," perintah Dominic pada pelayan yang bertugas. Ia menyerahkan Janna pada pelayan.Dominic lantas keluar kamar menuju satu ruangan khusus yang menyediakan keperluan untuk dirinya.Janna lunglai di dekat tempat tidur, tubuhnya masih gemetar, pelayan kasihan melihat kondisi Janna yang terlihat tidak baik-baik saja."Nyonya, maaf, saya akan membantu Nyonya berganti pakaian."Janna memandang pelayan yang bertutur baik padanya sedari awal ia berada di kediaman Dominic. Janna bangkit dengan sisa tenaganya.Usai berpakaian, Janna dibaringkan di ranjang agar beristirahat. Pelayan telah mengobati telapak tangan Janna dengan membungkusnya agar tidak infeksi.Dominic kembali masuk ke dalam ruangan pribadinya usai bertukar pakaian. Ia melihat Janna tertidur lelah dalam posisi meringkuk. Hujan telah mereda di luar, tanpa guntur dan kilat."Perempuan merepotkan," ujar Dominic memandang sosok Janna.Tidak ada pilihan lain, pria itu bergabung di sebelah Janna lalu membalik tubuh membelakangi istrinya.Keesokan hari, Janna bangun terlambat. Ia buru-buru turun untuk membasuh diri."Selamat pagi, Nyonya." Seorang pelayan menyapa dirinya. Janna tersentak, kadang ia masih sering lupa kalau bukan lagi di kampung halamannya.Biasanya Janna tanpa bantuan bisa mengurus diri sendiri, tetapi kini jasa pelayan sesuatu hal wajib di Pamdos untuk istri pejabat."Selamat pagi. Maaf aku terlambat bangun."Di sana ada dua orang pelayan, mereka saling pandang, merasa tidak enak hati. Hal jarang dan tidak diperbolehkan seorang keluarga pejabat meminta maaf pada orang yang statusnya di bawah, seperti pada pelayan."Nyonya tidak perlu meminta maaf, kami akan membantu Nyonya. Hari ini jadwal Nyonya dan Jenderal untuk berpergian ke Seaco," jelas pelayan muda seusia Janna, bernama Kana."Di mana Jenderal?""Telah lebih dulu ke ruang makan," jawab pelayan yang satu, lebih tua usianya bernama Mala.Janna teringat kejadian semalam, dimana ia mendekati dan tidak melepas Dominic saat guntur menyambar bumi. Rasanya kepala Janna mengecil, Dominic bisa-bisa salah paham dengan apa yang terjadi.Padahal, Janna hanya butuh teman untuk melewati ketakutan akan suara gelegar guntur.Mungkin nanti aku akan menjelaskan padanya, batin Janna."Mari bantu aku," ucap Janna pada Kana dan Mala.Tidak begitu lama, Janna selesai berpakaian sesuai tata aturan berpakaian bagi perempuan stratum Armyasa. Pakaian tertutup yang sangat sopan dilengkapi hiasan kepala dan aksesori mewah di tubuhnya."Nyonya Janna sangat cantik," puji Kana melihat di cermin.Janna tertawa riang, biasanya tubuhnya kumal karena terbiasa kerja ke ladang keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Pamdos, tidak ada pekerjaan berat yang dilakukan oleh Janna.Janna menuju ruang makan dengan anggun. Di seberang meja terlihat Dominic dengan wajah dingin seperti bosan menunggu kehadiran Janna.Pelayan menyiapkan makanan untuk keduanya, mereka menyantap dalam keadaan hening. Tidak ada percakapan sapa sekedar menanyakan keadaan."Kendaraan dan semua perlengkapan telah siap. Kau jangan terlalu lama, itu membuang-buang waktu. Aku tunggu di halaman depan."Dominic enggan berjalan beriringan bersama Janna, walau sebenarnya Janna telah selesai menyantap makanannya."Mungkin tidak seorang pun gadis di kesultanan ini yang ingin dipersunting olehnya," gerutu Janna yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.Janna menaiki kereta kuda yang mampu menampung dua orang, hanya saja kini Janna seorang diri. Dominic memilih menunggangi Jud, kuda palomino kesayangannya.Dengan senang hati Janna duduk di kereta mewah yang baru pertama kali ia naiki.Menuju Seaco membutuhkan waktu seharian, kereta akan tiba pada sore menjelang malam.Separuh perjalanan telah mereka lalui, Janna tertidur di dalam kereta.Mendadak prajurit dan Dominic diserang sekelompok orang berpedang, bercadar, berpakaian serba hitam.Dengan sigap prajurit melindungi Dominic dan kereta kuda berisi Janna. Perkelahian fisik tidak terelakkan, Dominic belum melihat siapa pemimpin dari komplotan bersenjata itu.Sayangnya, ia tidak membawa karabin. Setahunya, jalan menuju Seaco termasuk aman, hanya hewan buas yang mungkin bisa mengganggu perjalanan. Itu pun jarang, bila yang melalui jalan itu cukup banyak orang.Mendengar suara bilah pedang berdenting, Janna terbangun dari tidurnya. Ia mengintip dari sela kereta dan terkejut mendapati suasana di luar seperti medan peperangan.Seseorang merangsek masuk ke kereta lalu menangkap pergelangan tangan Janna dengan cepat. Janna ingin berteriak, mulutnya dibekap agar diam."Ini aku, tenanglah." Pria itu membuka cadarnya, ternyata Xaviery, teman masa kecil Janna.Lantas, Janna memeluk Xaviery erat-erat, betapa Janna merindukan Xaviery."Aku akan membawamu."Janna mengangguk, maniknya berbinar bahagia.Berita mengenai kematian anak sultan dan permaisuri, sampai ke telinga Janna dari pelayan setianya. "Hukum kesultanan ini tidak adil, anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban, padahal mereka sendiri tidak meminta dilahirkan seperti itu," ujar Janna pada suaminya saat mereka akan beristirahat malam.Dominic mempererat rangkulan pada isterinya, Janna pun merangsek ke dalam dada suaminya."Hukum itu berlaku turun-temurun, semenjak nenek moyang kita," timpal Dominic tak ingin isterinya gelisah mengenai sesuatu yang tidak bisa diubah begitu saja."Harus ada pemimpin yang menghargai kehidupan!" balas Janna menjauh dari suaminya, melipat kedua tangan di depan dada, tanda tidak setuju pada Dominic. Pria itu terkekeh lalu menarik kembali isterinya mendekat dengan lembut."Tidak ku sangka, isteriku memiliki pemikiran yang manusiawi," kekehnya lagi.Janna mencubit kecil perut Dominic hingga pria itu menjerit terkejut."Mengapa Jenderal tertawa, seakan-akan meremehkan," keluh Janna yang masi
"Kau harus mengakui obat ini milikmu!" ucap Neha dengan ekspresi memaksa."Ta... tapi, saya tidak tahu ini obat apa." Penolakan Calista membuat Neha geram."Kalau kau tidak mengakuinya, aku akan memastikan keluargamu saat ini tidak akan hidup tenang!"Ancaman permaisuri Neha membuat Calista merinding, tanpa disadari air mata mengucur deras.Neha berteriak memanggil prajurit untuk membawa Calista pada Sultan Bayezidan."Permaisuri tidak saya sangka, permaisuri begitu kejam!" ucap Calista yang menyesal menjadi pelayan Neha.Calista diseret ke hadapan Sultan Bayezidan. Di hadapan para prajurit dan pejabat kesultanan, Calista diminta untuk mengakui obat milik siapa dan untuk apa.Sewaktu Calista angkat bicara, mendadak Neha bersuara, "Obat itu untuk penggugur kandungan, Yang Mulia!"Ruangan tiba-tiba riuh lantaran keterkejutan mereka semua. "Apakah kau sedang dalam keadaan mengandung?" tanya Sultan Bayezidan diikuti suasana hening.Calista ragu-ragu menjawab. Salah menjawab akan fatal ak
Berita tentang kelahiran putra permaisuri dan Sultan sampai di telinga Janna."Kalian siapkan hadiah untuk Permaisuri," perintah Janna pada Kana dan Mala. Mereka saling berpandangan seolah-olah ingin menyampaikan hal lain.Janna memperhatikan gerak tubuh berbeda dari kedua pelayannya. "Mengapa? Pergilah? Aku akan menyampaikan nanti seorang diri," jelasnya."Ma... maaf, Nyonya." Kana angkat suara. "Tapi, anak yang dilahirkan permaisuri tidak seperti anak normal lainnya."Kana dan Mala bergantian menceritakan kabar yang telah pasti kebenarannya itu."Lalu masalahnya ada di mana? Meskipun tubuh bayi seperti itu, dia tetap manusia yang harus dicintai." Janna malah teringat pada putranya yang terpaksa harus dipisahkan dari mereka. "Peraturan di kesultanan, anak dalam keadaan demikian dianggap tidak layak hidup, Anggapan kesultanan di masa depan ia juga tidak mampu bertahan hidup, sehingga di masa bayi ini..." Mala ragu-ragu menyampaikan. "Teruskan!" perintah Janna."Bayi itu akan dibunuh
Permaisuri Neha meraung-raung di kamarnya sendiri, semua pelayan dan prajurit yang mengetahui kabar tentang kelahiran anak permaisuri tertunduk seolah-olah ikut merasakan kesedihannya.Sementara itu, Sultan Bayezidan berjalan pelan bolak balik, tetapi geraknya tak menandakan ketenangan."Mengapa bisa seperti ini?!" hardiknya pada medikus yang membantu persalinan. Keringat mengucur di pelipis medikus, ia langsung berlutut di hadapan pemimpin kesultanan Yagondaza.Sultan memutuskan berbicara empat mata pada medikus."Maa... maafkan, Sultan, ini di luar dugaan," ucapnya terbata-bata. "ini bisa diduga terjadi selama kehamilan," lanjutnya tertunduk takut."Maksudmu apa?!" Sultan Bayezidan menarik baju bahu medikus yang membuatnya hampir mati gemetar."Kekurangan anggota tubuh ini bisa dijelaskan terjadi selama kehamilan permaisuri lalu, Jenderal" jelasnya."Bukankah permaisuri telah melewati proses pemeriksaan sifat unggul? Anak-anak terdahulu tidak ada lahir seperti itu!" ingat Sultan Bay
Setelah kunjungan Neha di kediaman rumah putih, Janna banyak diam. Pikirannya dipenuhi dengan ucapan Neha berulang-ulang.Tangisan putranya membuat Janna sadar bila bocah kecil itu hampir terlepas darinya. Cepat-cepat Janna memperbaiki posisi anaknya yang diberi nama Harry Freud."Maafkan Ibu, Harry," ucapnya.Tidak lama Dominic masuk ke kamar. "Kalian ada di sini rupanya.""Apakah Jenderal mencariku?" tanya Janna dengan raut senang.Dominic duduk di samping Janna. "Aku dengar dari pelayan, permaisuri Neha mengunjungimu."Paras Janna berubah. "Ya," jawabnya pendek tak semangat."Apa yang kalian bicarakan?""Hanya menanyakan kabar saja," sahut Janna. Dominic memandang istrinya yang tengah sibuk dengan Harry."Kau tak bisa membohongiku," nilai Dominic lalu mengambil alih putra mereka, Dominic mengayun Harry yang senang diperlakukan demikian."Apakah Jenderal akan mempercayai ceritaku?" Janna tertawa kecil. "Permaisuri teman lama Jenderal, pasti saja Jenderal sulit percaya dengan apa yan
"Apa yang membawamu mendatangi kediamanku, Jenderal?" tanya Sultan Bayezidan saat mereka saling berhadapan. Dominic membungkuk memberi hormat, hanya saja irama jantungnya mulai tak karuan. Terasa sulit untuk menjawab, bahkan menelan ludah pun. Dominic tidak siap dengan seribu alasan mengunjungi kediaman tanpa kehadiran Sultan di sana. Namun, ia harus tetap menjawab. Dominic mengangkat badan, sewaktu mulutnya terbuka, dari arah pintu Neha muncul. "Yang Mulia," ucapnya memberi hormat, "aku meminta Jenderal Dominic datang kemari untuk menanyakan kabar Janna, dan aku memberikan bingkisan hiburan untuk Janna yang masih bersedih, tetapi Jenderal Dominic lupa membawanya," lanjut Neha dengan tenang dan lancar, ia tertawa kecil sembari mengulurkan bingkisan dengan kedua tangannya. Paras Sultan Bayezidan yang semula datar berubah terisi senyuman. "Ambillah, kami ingin menghibur kalian. Pasti apa yang kalian alami begitu berat." Dominic masih berpikir tentang Neha dan Sultan, mereka s
Dominic memukuli pria yang mengaku sebagai ketua dari kelompok yang menjarah penginapan-penginapan di barat Seaco."Siapa yang menyuruh kalian melakukannya?!" Dominic tidak sabar sebab pria itu dianggap mengelak sedari awal."Sudah ku katakan Jenderal, kami tidak disuruh siapa-siapa."Dominic tidak sab
"Aku akan pergi mengunjungi barat Seaco. Pelayan pribadimu telah tiba, mereka akan membantu," ucap Dominic pada Janna yang masih menatap tak suka.Janna enggan untuk menanggapi, ia malah bersyukur Dominic akan pergi bila perlu untuk seterusnya."Aku akan kembali saat matahari terang. Bila kau ingin be
Janna dan Dominic tiba di tujuan saat matahari telah merunduk ke perpaduan. Jud pun terlihat lelah setelah membawa dua insan suami istri di atas tubuhnya.Dominic menarik jubah militer dari Janna lalu memakainya."Selamat datang, Jenderal," sapa seorang penjaga penginapan tempat Janna dan Dominic a
Pertarungan antara prajurit Dominic dan kelompok bersenjata memakan korban jiwa. Dominic tidak pernah mengira kalau perjalanan bulan madu direcoki oleh pihak tak bertanggung jawab.Janna dibawa dengan kuda tunggangan hitam milik Xaviery. Dominic menangkap suara ringkikan kuda lalu ia melompat ke tu







