LOGINSepekan setelah insiden di puskesmas, nama Nadin perlahan kembali pulih. Bahkan, beberapa orang mulai melihatnya dengan sorot mata berbeda.
Di pasar, seorang ibu menyapanya sambil tersenyum. "Bu Bidan, terima kasih ya waktu itu sudah bantu penyuluhan. Sekarang saya lebih rajin kontrol kehamilan." Nadin terkejut, lalu mengangguk sopan. "Sama-sama, Bu. Semoga ibu dan bayinya sehat selalu." Di dalam hati, Nadin merasakan sesuatu yang hangat. Ia tak menyangka, penyuluhan sederhana bisa berdampak begitu besar. Dan yang lebih mengejutkan, kabar tentang ketelatenannya sampai ke telinga camat. Nadin dipanggil untuk ikut rapat koordinasi kesehatan desa. "Bidan Nadin ini aktif di lapangan. Kita perlu contoh seperti beliau," kata Bu Lilis memperkenalkan. Nadin hanya menunduk, pipinya memerah menahan malu sekaligus bangga. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dihargai bukan hanya sebagai tenaga honorer, tapi sebagai seseorang yang punya peran penting. Namun begitu langkahnya memasuki rumah, dunia terasa berbeda. Mertuanya sedang duduk menonton televisi, wajahnya datar. Begitu melihat Nadin, ia langsung berkomentar. "Katanya kamu dipanggil camat, ya? Jangan senang dulu. Itu paling juga karena mereka butuh orang yang mau kerja gratisan. Kamu kan nggak bisa nolak." Nadin diam, menahan napas. Ingin sekali ia menjawab, tapi ia tahu setiap kata hanya akan berbalik jadi senjata. Rama yang sedang duduk di samping ibunya hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Rasa bangga Nadin seketika luruh. Apa gunanya pujian dari luar, jika di rumah sendiri ia tetap dianggap remeh? Luka nya terasa makin dalam Malam itu, Nadin memberanikan diri bicara lagi dengan Rama. "Ram, kamu nggak bangga sedikit pun sama aku?" suaranya lirih. Rama menoleh, agak bingung. "Bangganya kenapa? Karena dipanggil camat?" Nadin menahan air mata. "Karena aku berusaha keras. Karena orang lain bisa lihat aku berharga. Aku cuma... pengen kamu lihat juga." Rama terdiam lama, lalu akhirnya berkata, "Nad, aku bangga kok. Tapi kamu juga harus ngerti, aku di posisi sulit. Ibu tuh gampang tersinggung. Kalau aku terlalu membela kamu, bisa-bisa aku malah jadi musuh di rumah sendiri." Nadin menatapnya tajam. "Jadi, kamu lebih takut dimusuhi Ibu daripada kehilangan aku?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Rama tak sanggup menjawab. Bagi Nadin, keheningan itu lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar mertuanya. Hari-hari berikutnya, Nadin semakin aktif di puskesmas dan kegiatan desa. Ia sering pulang sore karena harus mendampingi penyuluhan di dusun-dusun terpencil. Tubuhnya lelah, tapi hatinya lebih hidup. Suatu sore, setelah selesai mengisi penyuluhan tentang gizi balita, seorang bapak mendekatinya. "Bu Bidan, terima kasih ya. Anak saya dulu sering sakit-sakitan. Sekarang sudah jauh lebih sehat setelah saya ikuti saran Ibu." Nadin tersenyum dan menatap bapak itu dengan tulus. "Saya senang sekali mendengarnya, Pak. Itu semua karena Bapak dan Ibu mau berusaha untuk anak." Ucapan itu sederhana, tapi Nadin merasa seperti mendapat energi baru. Di luar rumah, ia diterima. Di luar rumah, ia punya arti. Namun, setiap kali pulang, ia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit. Pertengkaran di Rumah yang seolah tidak pernah ada habisnya. Suatu malam, mertua benar-benar marah. Nadin baru pulang lewat jam delapan malam setelah menghadiri rapat kesehatan di balai desa. "Dasar istri nggak tahu diri! Pulang malam kayak orang nggak punya rumah. Apa kamu kira jadi bidan honorer itu lebih penting daripada ngurus suami?" bentak bu Rahayu dengan mata tajam nya. Nadin terdiam sejenak, tubuhnya gemetar. "Maaf, Bu. Tadi rapatnya agak lama." "Alasan! Kalau kamu lebih pilih kerjaan daripada keluarga, buat apa tinggal di sini?!" Rama yang duduk di ruang tamu mencoba menengahi. "Bu, jangan gitu. Rapatnya memang penting." Mertua langsung menoleh tajam. "Kamu diam, Rama! Jangan bela dia terus!" Untuk pertama kalinya, Rama tidak diam. Ia berdiri, wajahnya tegang. "Aku nggak bisa diam, Bu. Nadin itu istriku. Apa pun pekerjaannya, dia sudah berusaha yang terbaik. Aku bangga sama dia." Keheningan menyelimuti ruangan. Nadin menatap Rama dengan mata berkaca-kaca, tak percaya ia akhirnya berani berkata begitu. bu Rahayu terperangah, lalu berdiri sambil menunjuk Rama. "Jadi sekarang kamu lebih pilih dia daripada Ibu?" Rama menunduk, suaranya pelan tapi mantap. "Aku pilih jadi suami yang baik. Itu kewajibanku, Bu." Nadin hampir tak sanggup menahan air matanya. Kata-kata itu sederhana, tapi baginya sangat berarti Di kamar, Nadin duduk di tepi ranjang, masih terisak. Rama mendekat, mengusap bahunya. "Aku minta maaf, Nad. Selama ini aku terlalu diam. Aku pikir kalau aku diam, keadaan bisa tenang. Tapi ternyata aku malah nyakitin kamu." Nadin menggeleng, matanya sembab. "Aku nggak butuh kamu melawan Ibu. Aku cuma butuh kamu berdiri di sampingku. Supaya aku nggak merasa sendirian." Rama menggenggam tangannya erat. "Mulai sekarang, aku janji. Aku nggak akan biarin kamu sendirian lagi." Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Nadin bisa tidur dengan hati lebih tenang. Meski ia tahu badai belum usai, setidaknya kini ia punya sandaran. Beberapa minggu kemudian, Nadin menerima undangan untuk menghadiri acara kesehatan tingkat kabupaten. Namanya disebut sebagai salah satu tenaga kesehatan yang aktif menggerakkan masyarakat. Nadin nyaris tak percaya. Seorang bidan honorer yang sering diremehkan ternyata bisa mendapat pengakuan sebesar itu. Di acara itu, ia menerima piagam penghargaan. Tepuk tangan bergemuruh saat namanya dipanggil. Nadin berjalan ke depan dengan langkah gemetar, matanya berkaca-kaca. "Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tapi untuk semua tenaga kesehatan yang bekerja dengan hati," ucapnya di podium. Saat itu, Nadin merasa dirinya benar-benar berarti. pejuangan dan ketulusan nya dalam melayani masyarakat seolah benar benar dihargai dan tidak dipandang sebelah mata. Namun seperti biasanya begitu ia pulang dengan membawa piagam, reaksi di rumah berbeda. Mertuanya hanya melirik sekilas. "Paling itu cuma kertas. Bisa buat beli beras juga nggak." Nadin terdiam. Ia tidak marah, tidak menangis. Ia hanya tersenyum tipis. "Iya, Bu. Tapi buat saya, ini artinya besar." Rama berdiri di belakangnya, memegang bahunya. "Ibu, piagam ini tanda Nadin dihargai orang lain. Kita harus bangga." bu Rahayu mendengus. "Hmmmm. Terserah!." Meski ucapan itu dingin, kali ini Nadin tidak merasa runtuh. Ia sudah punya pijakan pengakuan dari masyarakat, dari rekan kerja, dan kini sedikit demi sedikit, dari suaminya. Malam itu, Nadin menulis lagi di buku catatannya: (Aku mulai berdiri, bukan karena orang lain berubah, tapi karena aku sendiri yang memilih untuk tidak jatuh lagi. Orang boleh meremehkan, tapi aku tahu nilai diriku. Dan sekarang, aku tidak sendirian) Di luar, suara jangkrik bersahutan. Nadin menutup bukunya, lalu menatap Rama yang sudah terlelap. Senyum kecil muncul di bibirnya. Meski badai masih ada, Nadin kini punya alasan untuk bertahan. Nadin menarik napas panjang, merasakan hangatnya udara malam menenangkan hatinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa sebagai bidan honorer yang diremehkan, tapi sebagai seorang perempuan yang punya arti. Dengan tekad baru, Nadin berjanji pada dirinya. "Aku tidak akan kalah lagi!."Keesokan paginya, saat bertemu Nadin di dapur, Bu Rahayu hanya berdiri terpaku beberapa detik. Nadin menunduk, berusaha menyembunyikan sembab matanya, lalu melanjutkan mengiris bawang. Bu Rahayu ingin membuka mulut, mengatakan sesuatu, apa saja. Tapi lidahnya kelu. Yang keluar justru hanya kalimat dingin"Kalau nggak kuat tinggal di sini, nggak usah dipaksakan." Nadin menoleh, senyum terpaksa pun akhirnya kembali menghiasi wajah cantiknya."aku tidak pernah merasa tidak kuat bu, rumah ini rumah suamiku yang artinya rumah ku juga. aku nyaman disini bu." ucapnya, ya walaupun sedikit berbohong.pada kenyataan nya rumah ini tidak nyaman untuk Nadin, namun dia tidak punya pilihan lain. kembali pindah dan mencari kontrakan hanya akan membuang waktu saja, pada akhirnya mereka harus kembali ke rumah tersebut karena Rama anak satu satunya bu Rahayu."Huh,,," Bu Rahayu mendengus sebal. Namun begitu masuk ke kamarnya lagi, Bu Rahayu menepuk dahinya sendiri. Kenapa mulut ini selalu bicara keba
Suasana rumah mendadak panas. Nadin menahan tangisnya. Ia ingin pergi dari ruangan itu, tapi kakinya seakan terpaku. Rasanya hampa, seperti terjebak di antara dua sisi ingin tetap sabar demi suami, tapi juga lelah diperlakukan seolah selalu salah. Malam itu, rumah yang biasanya riuh dengan suara keluarga mendadak hening. Tegangan di antara tiga orang itu menggantung, tak ada yang mau mengalah. Malam itu, setelah makan malam yang hambar, Bu Rahayu masih duduk di ruang tengah. Wajahnya masam, matanya tajam ke arah Nadin yang sedang membereskan piring. Rama mencoba mengalihkan suasana dengan menyalakan televisi, tapi jelas tidak berhasil. "Nad," suara Bu Rahayu akhirnya pecah, dingin, "sebenarnya kamu itu mau apa sih? Jadi istri Rama, atau jadi orang besar yang dikejar-kejar pejabat?" Sendok di tangan Nadin hampir jatuh. Ia menoleh, wajahnya pucat. "Bu, saya nggak pernah-" "Tolong jangan banyak alasan!" potong Bu Rahayu keras. "Dari dulu saya nggak pernah percaya sama perempu
Pagi itu, udara desa masih lembap. Embun menempel di dedaunan, ayam-ayam berkokok bersahutan, dan suara ibu-ibu terdengar riuh di warung Bu Minah. Warung kecil di pinggir jalan itu memang jadi pusat segala macam kabar-dari harga cabai sampai urusan rumah tangga orang. "Eh, sudah dengar belum? Istrinya Rama pulang dari kota dapat piagam." "Piagam apa? Piagam lomba masak?" "Bukan. Katanya penghargaan dari dinas kesehatan. Peserta terbaik, gitu." "Lha, kok bisa? Baru juga kerja di puskesmas, sudah hebat. Jangan-jangan ada orang dalam." Tawa kecil terdengar. Satu orang menyahut dengan nada lebih rendah, seakan membisikkan rahasia besar. "Kabarnya, Nadin dekat sama pejabat waktu pelatihan. Makanya dapat penghargaan." "Ya Allah, jangan-jangan bener? Kasihan Rama kalau begitu." Bisik-bisik itu makin lama makin keras. Semakin jauh cerita berpindah dari mulut ke mulut, semakin banyak bumbu ditambahkan. Yang awalnya hanya gosip soal "ada orang dalam" berubah menjadi tudingan ya
Hari-hari pelatihan berjalan padat. Nadin belajar banyak hal baru teknik persalinan modern, penanganan gawat darurat, sampai manajemen program kesehatan desa. Ia kagum dengan bidan lain dari berbagai daerah. Namun setiap malam, ia selalu menyempatkan menelepon Rama. "Ram, aku capek banget hari ini, tapi aku senang bisa belajar banyak," suaranya riang di telepon. "Bagus, Nad. Aku bangga sama kamu, kamu pasti bakalan jadi bidan yang hebat setelah ini. selamat ya," jawab Rama lembut. "Terimakasih Ram, doain aku terus ya." "tentu saja aku bakalan doain terus Nad, aku akan selalu jadi orang nomor satu yang selalu mendoakan kamu." ucap Rama, walaupun sejujurnya saat ini Rama mulai merindukan istrinya itu. Tapi, di rumah, gosip semakin ramai. Beberapa tetangga mendatangi Bu rahayu. "Bu, katanya Nadin satu hotel sama bidan-bidan lain? Hati-hati lho, jauh dari suami..." "Eh, kalau perempuan pergi jauh, biasanya macam-macam, Bu." Bu Rahayu menahan wajahnya tetap tegar, tapi dalam
Pagi itu, Nadin berangkat lebih awal ke puskesmas. Sejak statusnya berubah menjadi pegawai kontrak daerah, tanggung jawabnya makin besar. Ia ditunjuk sebagai koordinator program kesehatan ibu dan anak di wilayahnya. Sebuah langkah penting, yang sekaligus menuntut lebih banyak tenaga dan pikiran. Di sisi lain, Bu Rahayu sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat. Meski tubuhnya lemah, suaranya masih sering tajam. Suatu sore, ketika Nadin pulang kerja dengan seragam rapi, Bu Rahayu menatapnya lama. "Kamu kerja terus, kapan punya anak?" suaranya dingin, tapi menusuk. Nadin tercekat. Pertanyaan itu kembali menghantam luka lamanya. pernikahan nya baru berjalan satu tahun, Nadin dan Rama masih belum juga dikaruniai buah hati. Nadin berusaha tersenyum. "Insya Allah, Bu... kalau Allah kasih rezeki, pasti ada waktunya." Namun Bu Rahayu mendengus, seolah tidak puas dengan jawaban itu. "Ibu cuma takut, kamu sibuk ngejar karier sampai lupa kewajiban. Perempuan itu kodratnya ngurus
Di malam pertama setelah pulang, Rama menemani ibunya di kamar. sementara Nadin duduk di kursi ruang tamu, menunggu sambil menahan kantuk. Ketika Rama keluar, ia mendekat. "Gimana, Ram? Ibu sudah tidur?" Rama mengangguk. "Iya, Nad. Dia masih keras kepala, tapi aku lihat tadi dia nggak menolak waktu kamu bantuin tadi siang. Itu langkah kecil, kan?" Nadin tersenyum tipis. "Iya... meski rasanya masih jauh." ucap Nadin dengan helaan napas berat nya.meskipun sudah berusaha bersikap sebaik mungkin, bahkan diam saat di rendahkan namun nyata nya hati bu Rahayu belum sepenuh nya terbuka.untuk terus menjaga dan merawat sang mertua selama proses pemulihan, Rama dan Nadin memutuskan untuk tingal dirumah itu lagi sampai bu rahayu benar benar pulih. Beberapa hari kemudian, Bu Rahayu duduk di teras rumah, menatap halaman. Nadin keluar membawa teh hangat. "Bu, ini teh. Biar badan lebih hangat." Bu Rahayu awalnya tidak merespons. Namun saat Nadin hendak kembali, suaranya terdengar pelan. "T







