LOGINMatahari baru saja naik ketika Nadin bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan sederhana nasi hangat, tempe goreng, dan sayur bening bayam.
Ia sengaja bangun lebih pagi supaya mertua tidak mengeluh lagi. Namun, bahkan usaha itu pun tetap berujung pada cercaan. "Kamu pakai minyak goreng ini lagi?" suara bu Rahayu terdengar tajam dari belakang. merek minyak goreng yang memang cukup mahal namun Nadin merasa minyak itu bagus untuk kesehatan. "Apa kamu nggak lihat harganya makin mahal? Kamu itu boros, Nad. Kalau terus kayak begini, gaji Rama habis cuma buat nutupin keborosanmu." Nadin menoleh pelan, mencoba tetap tenang. "Maaf, Bu. Saya kira masih cukup untuk beberapa hari." "Alasan! Kamu memang nggak bisa diandalkan. Kalau cuma ngurus dapur aja nggak becus, gimana bisa disebut istri yang baik? Percuma kerja di puskesmas kalau rumah tangga sendiri berantakan." Nadin menggigit bibirnya, menahan kata-kata yang hampir meluncur. Ia tahu, apa pun jawabannya hanya akan memperburuk keadaan. Rama yang baru keluar kamar langsung mendengar "Bu, jangan gitu. Nadin sudah berusaha kok. Kalau ada yang kurang, bilang baik-baik, jangan dengan kata-kata yang bikin sakit hati." bu Rahayu menoleh tajam, matanya berkilat. "Kamu sekarang selalu bela dia, ya? Sudah lupa siapa yang melahirkanmu?" Rama terdiam. Rasa bersalah dan kemarahan bercampur di wajahnya. Nadin bisa merasakan pertempuran batin dalam diri suaminya antara bakti seorang anak dan kewajiban seorang suami. Siang harinya, saat Nadin sedang menyapu ruang tengah, ia mendengar mertuanya berbicara di telepon dengan suara cukup keras untuk terdengar ke seluruh rumah. "Iya, aku bilang dari dulu kan, Nadin itu nggak pantas buat Rama. Dia cuma bidan honorer, nggak jelas masa depannya. Anak orang lain aja banyak yang lebih terhormat. Tapi Rama keras kepala." Nadin berhenti menyapu. Jantungnya berdetak cepat, matanya panas. Ia sudah sering mendengar kata-kata itu, tapi entah kenapa kali ini rasanya lebih menyakitkan. Mungkin karena sudah berkali-kali ia berusaha membuktikan diri, tapi selalu saja gagal di mata mertuanya. Tangannya gemetar saat ia kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang, dan memeluk bantal erat- erat. "Sampai kapan aku harus begini?" bisiknya. Esok harinya Nadin pulang agak terlambat dari puskesmas karena ada pasien melahirkan. Begitu masuk rumah, ia langsung disambut tatapan dingin. "Baru pulang? Jam berapa ini? Kamu pikir rumah ini hotel?" suara bu Rahayu sinis dan lantang. "Maaf, Bu. Ada pasien melahirkan. Saya nggak bisa pulang sebelum kondisi ibunya stabil." bu Rahayu menepuk meja dengan keras. "Alasan lagi! Kamu kira kerjaanmu itu lebih penting daripada keluarga? Kalau kamu lebih pilih puskesmas daripada rumah ini, mending kamu pergi sekalian!" Nadin tercekat. Kata-kata itu seperti tamparan keras. Ia menoleh pada Rama yang duduk di kursi ruang tamu, menunduk, wajahnya tegang. "Ram..." suara Nadin bergetar, penuh harap. Namun Rama hanya diam. Hening yang panjang membuat air mata Nadin jatuh tanpa bisa ditahan. Ia lalu masuk kamar dengan langkah gemetar. Malam itu, pertengkaran semakin memanas. bu Rahayu duduk di ruang tamu, wajahnya dingin. "Rama, dengerin Ibu baik-baik. Kalau kamu terus bela istrimu, jangan salahkan Ibu kalau Ibu usir kalian berdua dari rumah ini. Ibu nggak mau nama keluarga rusak karena dia." Rama menelan ludah. "Bu, Nadin nggak pernah bermaksud bikin malu. Dia kerja demi nolong orang." "Kerja apa? Honorer? Gajinya aja nggak cukup buat beli minyak goreng. Hanya bikin ribut dan bikin kamu susah." Suasana hening, hanya terdengar detak jam dinding. Rama menunduk lama sebelum akhirnya berkata, suaranya serak, "Kalau memang harus keluar, aku siap, Bu. Tapi aku nggak akan ninggalin Nadin." bu Rahayu terperangah, wajahnya merah padam. "Kamu berani melawan Ibu?!" Rama hanya menunduk, tapi tangannya mengepal erat. Nadin yang mendengar percakapan itu dari balik pintu kamar menangis sejadi-jadinya. Kamar yang Jadi Saksi Di kamar, Nadin duduk di ranjang, menatap Rama dengan mata bengkak. "Ram... apa kita benar-benar harus pergi?" Rama menunduk, lalu menggenggam tangan istrinya. "Aku belum tahu caranya, Nad. Aku masih bingung harus mulai dari mana. Tapi aku tahu satu hal aku nggak mau kehilangan kamu." Air mata Nadin jatuh deras. Kata-kata itu manis, tapi juga menakutkan. Karena artinya, badai sesungguhnya baru akan dimulai. Malam itu, Nadin teringat awal pernikahannya dengan Rama. Bagaimana dulu ia berharap bisa diterima sebagai bagian keluarga. Bagaimana ia tersenyum gugup saat pertama kali masuk rumah ini, membawa harapan sederhana untuk dicintai dan dihargai. Namun, harapan itu kini runtuh, berganti luka demi luka. "Apakah aku salah menikah dengan Rama?" pikirnya sesak. Tapi segera ia menggeleng, karena meski sakit, ia tahu Rama juga berjuang. Keesokan harinya, masalah baru muncul. Salah satu tetangga datang, wajahnya penuh gosip. "Nadin, katanya kamu sering pulang malam ya? Waduh, kasihan Rama kalau istrinya sibuk terus. Rumah tangga harusnya diutamakan, lho." Nadin hanya tersenyum kaku. "Saya cuma pulang terlambat kalau ada pasien darurat, Bu." jawab Nadin tegas. Namun, ia tahu kata-kata itu akan menyebar lebih cepat daripada angin. Dan siapa lagi kalau bukan mertuanya yang akan menambahkan bara pada api gosip itu. Beberapa hari kemudian, Rama akhirnya mengajak bicara serius. "Nad, aku udah mikir. Kalau kita terus tinggal di sini, kita nggak akan pernah tenang. Ibu nggak akan pernah benar-benar nerima kamu. Lebih baik kita cari kontrakan kecil dulu, meski sederhana." Nadin terdiam, hatinya campur aduk. Ia lega sekaligus takut. "Kalau Ibu marah besar gimana, Ram? Kalau kamu dianggap anak durhaka?" Rama menghela napas panjang. "Aku udah siap nerima semua itu. Aku capek lihat kamu terus disakiti. Aku nggak bisa diem lagi." Air mata Nadin kembali jatuh. Kali ini bukan karena luka, tapi karena haru. Malam yang Mengguncang Suara gaduh terdengar dari ruang tamu. Nadin yang baru saja menutup buku catatannya bergegas keluar. Ia melihat mertua sedang berbicara dengan tetangga, nada suaranya keras. "Lihat sendiri, kan? Menantuku itu kerja seenaknya, pulang malam, bikin rumah nggak tenang. Kalau bukan karena aku, rumah ini sudah hancur!" Tetangga hanya mengangguk-angguk, lalu berpamitan. Begitu pintu tertutup, Rama menatap ibunya dengan wajah kecewa. "Bu, kenapa harus cerita begitu ke orang lain? Nadin nggak salah." "Rama! Kamu makin berani sama Ibu ya? Semua ini karena perempuan itu! Kalau kamu pintar, kamu sudah tinggalkan dia sejak lama." Nadin berdiri kaku, hatinya nyaris hancur. Namun, kali ini ia tak menunduk lagi. Dengan suara pelan tapi mantap, ia berkata, "Bu, saya tahu saya bukan menantu yang sempurna. Tapi saya tidak akan berhenti berusaha. Kalau Ibu tetap tidak bisa menerima saya, biarlah waktu yang membuktikan." bu Rahayu terdiam, wajahnya memerah karena marah bercampur gengsi. Rama melangkah mendekat, berdiri di samping Nadin. "Kami akan tetap bersama, Bu. Apapun yang terjadi." Nadin menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar berdiri berdampingan dan saling melindungi.Keesokan paginya, saat bertemu Nadin di dapur, Bu Rahayu hanya berdiri terpaku beberapa detik. Nadin menunduk, berusaha menyembunyikan sembab matanya, lalu melanjutkan mengiris bawang. Bu Rahayu ingin membuka mulut, mengatakan sesuatu, apa saja. Tapi lidahnya kelu. Yang keluar justru hanya kalimat dingin"Kalau nggak kuat tinggal di sini, nggak usah dipaksakan." Nadin menoleh, senyum terpaksa pun akhirnya kembali menghiasi wajah cantiknya."aku tidak pernah merasa tidak kuat bu, rumah ini rumah suamiku yang artinya rumah ku juga. aku nyaman disini bu." ucapnya, ya walaupun sedikit berbohong.pada kenyataan nya rumah ini tidak nyaman untuk Nadin, namun dia tidak punya pilihan lain. kembali pindah dan mencari kontrakan hanya akan membuang waktu saja, pada akhirnya mereka harus kembali ke rumah tersebut karena Rama anak satu satunya bu Rahayu."Huh,,," Bu Rahayu mendengus sebal. Namun begitu masuk ke kamarnya lagi, Bu Rahayu menepuk dahinya sendiri. Kenapa mulut ini selalu bicara keba
Suasana rumah mendadak panas. Nadin menahan tangisnya. Ia ingin pergi dari ruangan itu, tapi kakinya seakan terpaku. Rasanya hampa, seperti terjebak di antara dua sisi ingin tetap sabar demi suami, tapi juga lelah diperlakukan seolah selalu salah. Malam itu, rumah yang biasanya riuh dengan suara keluarga mendadak hening. Tegangan di antara tiga orang itu menggantung, tak ada yang mau mengalah. Malam itu, setelah makan malam yang hambar, Bu Rahayu masih duduk di ruang tengah. Wajahnya masam, matanya tajam ke arah Nadin yang sedang membereskan piring. Rama mencoba mengalihkan suasana dengan menyalakan televisi, tapi jelas tidak berhasil. "Nad," suara Bu Rahayu akhirnya pecah, dingin, "sebenarnya kamu itu mau apa sih? Jadi istri Rama, atau jadi orang besar yang dikejar-kejar pejabat?" Sendok di tangan Nadin hampir jatuh. Ia menoleh, wajahnya pucat. "Bu, saya nggak pernah-" "Tolong jangan banyak alasan!" potong Bu Rahayu keras. "Dari dulu saya nggak pernah percaya sama perempu
Pagi itu, udara desa masih lembap. Embun menempel di dedaunan, ayam-ayam berkokok bersahutan, dan suara ibu-ibu terdengar riuh di warung Bu Minah. Warung kecil di pinggir jalan itu memang jadi pusat segala macam kabar-dari harga cabai sampai urusan rumah tangga orang. "Eh, sudah dengar belum? Istrinya Rama pulang dari kota dapat piagam." "Piagam apa? Piagam lomba masak?" "Bukan. Katanya penghargaan dari dinas kesehatan. Peserta terbaik, gitu." "Lha, kok bisa? Baru juga kerja di puskesmas, sudah hebat. Jangan-jangan ada orang dalam." Tawa kecil terdengar. Satu orang menyahut dengan nada lebih rendah, seakan membisikkan rahasia besar. "Kabarnya, Nadin dekat sama pejabat waktu pelatihan. Makanya dapat penghargaan." "Ya Allah, jangan-jangan bener? Kasihan Rama kalau begitu." Bisik-bisik itu makin lama makin keras. Semakin jauh cerita berpindah dari mulut ke mulut, semakin banyak bumbu ditambahkan. Yang awalnya hanya gosip soal "ada orang dalam" berubah menjadi tudingan ya
Hari-hari pelatihan berjalan padat. Nadin belajar banyak hal baru teknik persalinan modern, penanganan gawat darurat, sampai manajemen program kesehatan desa. Ia kagum dengan bidan lain dari berbagai daerah. Namun setiap malam, ia selalu menyempatkan menelepon Rama. "Ram, aku capek banget hari ini, tapi aku senang bisa belajar banyak," suaranya riang di telepon. "Bagus, Nad. Aku bangga sama kamu, kamu pasti bakalan jadi bidan yang hebat setelah ini. selamat ya," jawab Rama lembut. "Terimakasih Ram, doain aku terus ya." "tentu saja aku bakalan doain terus Nad, aku akan selalu jadi orang nomor satu yang selalu mendoakan kamu." ucap Rama, walaupun sejujurnya saat ini Rama mulai merindukan istrinya itu. Tapi, di rumah, gosip semakin ramai. Beberapa tetangga mendatangi Bu rahayu. "Bu, katanya Nadin satu hotel sama bidan-bidan lain? Hati-hati lho, jauh dari suami..." "Eh, kalau perempuan pergi jauh, biasanya macam-macam, Bu." Bu Rahayu menahan wajahnya tetap tegar, tapi dalam
Pagi itu, Nadin berangkat lebih awal ke puskesmas. Sejak statusnya berubah menjadi pegawai kontrak daerah, tanggung jawabnya makin besar. Ia ditunjuk sebagai koordinator program kesehatan ibu dan anak di wilayahnya. Sebuah langkah penting, yang sekaligus menuntut lebih banyak tenaga dan pikiran. Di sisi lain, Bu Rahayu sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat. Meski tubuhnya lemah, suaranya masih sering tajam. Suatu sore, ketika Nadin pulang kerja dengan seragam rapi, Bu Rahayu menatapnya lama. "Kamu kerja terus, kapan punya anak?" suaranya dingin, tapi menusuk. Nadin tercekat. Pertanyaan itu kembali menghantam luka lamanya. pernikahan nya baru berjalan satu tahun, Nadin dan Rama masih belum juga dikaruniai buah hati. Nadin berusaha tersenyum. "Insya Allah, Bu... kalau Allah kasih rezeki, pasti ada waktunya." Namun Bu Rahayu mendengus, seolah tidak puas dengan jawaban itu. "Ibu cuma takut, kamu sibuk ngejar karier sampai lupa kewajiban. Perempuan itu kodratnya ngurus
Di malam pertama setelah pulang, Rama menemani ibunya di kamar. sementara Nadin duduk di kursi ruang tamu, menunggu sambil menahan kantuk. Ketika Rama keluar, ia mendekat. "Gimana, Ram? Ibu sudah tidur?" Rama mengangguk. "Iya, Nad. Dia masih keras kepala, tapi aku lihat tadi dia nggak menolak waktu kamu bantuin tadi siang. Itu langkah kecil, kan?" Nadin tersenyum tipis. "Iya... meski rasanya masih jauh." ucap Nadin dengan helaan napas berat nya.meskipun sudah berusaha bersikap sebaik mungkin, bahkan diam saat di rendahkan namun nyata nya hati bu Rahayu belum sepenuh nya terbuka.untuk terus menjaga dan merawat sang mertua selama proses pemulihan, Rama dan Nadin memutuskan untuk tingal dirumah itu lagi sampai bu rahayu benar benar pulih. Beberapa hari kemudian, Bu Rahayu duduk di teras rumah, menatap halaman. Nadin keluar membawa teh hangat. "Bu, ini teh. Biar badan lebih hangat." Bu Rahayu awalnya tidak merespons. Namun saat Nadin hendak kembali, suaranya terdengar pelan. "T







