Beranda / Romansa Dewasa / MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN / BAB 4 GADIS KOTA VS PEMUDA KAMPUNG

Share

BAB 4 GADIS KOTA VS PEMUDA KAMPUNG

Penulis: Jemyadam
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 22:17:33

"Akan kuberikan trial tiga bulan kau tidak perlu menggajiku!”

Seisi gudang mendadak hening. Bahkan debu serbuk kayu seolah menggantung di udara. Liam dan Chatrine saling menatap tajam, seperti musuh yang dipaksa berhadapan.

"Katakan dengan jujur, apa sebenarnya mau mu?" Liam menyipitkan mata. "Aku tidak suka lelucon dan drama. Aku masih punya banyak pekerjaan yang jauh lebih penting!"

Chatrine menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu dengan elegan, meski dalam hati ia ingin pingsan akibat jantung berdebar dan debu kayu.

"Aku benar-benar ingin bekerja di galerimu," jawabnya ringan, senyum tipis terbit di wajahnya. "Aku akan buktikan dalam tiga bulan, dan kau akan berterimakasih dengan kemajuan usahamu."

Chaterine Madison masih sangat percaya diri memegang kesombongan profesional. Padahal seandainya saat itu juga dia berani langsung mengaku jujur dengan tujuannya, mungkin detik itu juga Liam bakal menjadikan adegan kedua ciuman mereka dengan lebih panas dan intens.

Tidak masalah jika mereka harus bercinta di atas meja kayu. Chatrine bukan cuma cantik dan seksi, wanita pemberani juga bakal lebih menantang gairah ketika digigit kelemahannya.

Liam menatap lama. Lalu ia mendesah, memalingkan wajah, mengambil sebotol air dari meja, dan meneguknya tanpa mempedulikan kehadiran Chatrine lagi.

"Aku tidak punya tempat untuk menampung mu, pergilah!"

"Aku bisa hidup di manapun!" potong Chatrine cepat, dengan dagu terangkat angkuh.

Liam meletakkan mesin pemotongnya, menatap Chatrine dari kepala hingga kaki. Sekilas senyum sinis tersungging di sudut bibirnya.

"Dan kau masih pakai sepatu hak di lantai bengkel kayu. Kalau jatuh nanti, aku tidak mau repot-repot menolongmu."

Chatrine menahan diri agar tidak terprovokasi ketika diremehkan oleh pria kasar.

"Bahkan aku sudah berkeliling dunia dengan sepatu hak tinggi!" balasnya, lalu melirik kemeja abu-abu Liam yang basah dan kusut. "Berada di manapun semua harus tetap rapi!"

Liam terkekeh singkat, lalu mendekat sambil mengibaskan papan panjang, membuat serbuk kayu beterbangan. Serbuk itu langsung menempel di rambut dan pakaian mahal Chatrine.

"Hey!" Chatrine menjerit kecil, panik menepuk-nepuk rambut serta pakaiannya. "Astaga, ini Prada! Kau tahu berapa harga nya?!"

"Tidak tahu. Dan tidak peduli!" jawab Liam pendek, tapi matanya berkilat jengkel.

Chatrine mengerjap, lalu mendengus. Ia sadar, entah bagaimana, pria itu lagi-lagi berhasil membuatnya merasa... bodoh. Tapi di saat bersamaan, jantung Chatrine berdegup terlalu kencang untuk diabaikan. Chatrine sadar, dirinya telah berani mengambil resiko yang terlalu besar dan gila untuk datang ke Canterbury.

"Aku akan menunggumu selesai bekerja!" Chatrine tetap nekat berdiri di gudang, tidak mau kalah. "Aku akan ikut pulang bersamamu!"

Liam berhenti sebentar, menatap Chatrine dengan alis terangkat.

"Aku serius! Tidak ada apartemen seperti di New York, tidak ada hotel berbintang."

"Berhentilah meremehkan ku, jika keahlianmu baru sekedar memotong kayu!"

Ucapan Chatrine mulai membuat kepala Liam panas.

"Jangan anggap cuma dirimu yang paling hebat jika seumur hidup kau hanya tinggal di kota kecil!" Chatrine mendengus kesal.

Namun, meski kata-katanya penuh sarkasme, kedua matanya tak bisa berhenti mengikuti setiap gerak Liam, dari cara tangannya meraih papan kayu, menghidupkan mesin, mencengkeram hingga otot lengannya menegang dan tiba-tiba berhenti, mesin dimatikan, hening.

Sial!

Chatrine tahu ini akan jadi awal yang buruk.

Liam marah karena ucapannya...

Keheningan itu benar-benar keterlaluan. Chatrine bisa mendengar degup jantungnya sendiri lebih keras daripada suara mesin pemotong yang baru saja mati. Liam berdiri beberapa meter di depannya, suma diam, tapi sorot matanya tajam, seakan sedang menimbang-nimbang apakah Chatrine benar-benar gila... atau hanya sangat buruk dalam melucu.

Tiga detik.

Lima detik.

Delapan detik.

Chatrine mulai merasa, jeda sunyi itu lebih menegangkan daripada wawancara kerja pertamanya di Wall Street?

Dan tiba-tiba-Liam bergerak.

Liam meletakkan papan kayu ke samping, menepuk-nepuk debu di tangannya, lalu melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar mantap di lantai semen, membuat jantung Chatrine berloncatan seperti popcorn di dalam microwave.

Liam mendekat. Dia sungguh mendekat. Chatrine tidak boleh pingsan! Dia bukan gadis 17 tahun. Dia wanita dewasa. Tidak boleh payah menghadapi laki-laki.

"Jangan coba menakut-nakuti ku!" Chatrine merapatkan clutch bag ke dadanya, seperti perisai rapuh melawan kehadiran seorang pria dengan otot nyata, keringat asli, dan tatapan yang sama sekali tidak bercanda.

Liam berhenti hanya berjarak setengah meter. Cukup dekat untuk membuat parfum mewah Chatrine kalah telak oleh aroma kayu dan keringatnya yang maskulin.

"Aku tidak tahu apa yang lebih gila?" suara Liam rendah, hampir berbisik, "kau datang ke sini demi file yang bahkan tidak ada... atau kau benar-benar ingin melamar pekerjaan di gudang ini?"

Chatrine menegakkan dagu, meski lehernya terasa kaku. "Aku serius. Jangan meremehkan ku."

Liam mendekat sedikit lagi-hanya beberapa sentimeter jarak udara yang memisahkan wajah mereka.

Tatapannya menusuk, membuat bulu kuduk Chatrine meremang, sekaligus membuat perutnya terasa seperti terisi kepakan sayap kupu-kupu dan letupan pesta kembang api.

"Kau sadar, bukan?" Liam bergumam, suaranya setenang badai sebelum petir. "Di sini tidak ada ruang rapat ber-AC, tidak ada kursi kulit impor, tidak ada lift kaca dengan pemandangan kota. Hanya debu. Hanya kayu. Hanya aku!"

Kalimat terakhirnya membuat napas Chatrine tercekat. Hanya aku.

Kenapa dua kata itu terdengar... berbahaya sekaligus mendebarkan?

"Aku tahu," jawab Chatrine pelan, tapi dengan tatapan membara. "Semua sudah aku perhitungkan saat memutuskan datang padamu!"

Tanpa harus banyak bicara sekalipun, hati Chatrine sudah seperti dilucuti di hadapan Liam. Dan jika Liam tetap tidak menerimanya maka...

Hening lagi.

Liam menatapnya lama, begitu lama sampai Chatrine nyaris menjerit, 'Cium saja aku atau marahi aku, asal jangan menatapku begitu!' otak Chatrine makin sinting.

Tapi Liam malah mundur setengah langkah, mendengus, lalu kembali meraih botol air di meja. Ia meneguk tanpa bicara, seakan mencoba memadamkan sesuatu yang nyaris meledak di sekujur tubuhnya.

Sementara itu Chatrine masih berdiri dengan dada bergerak naik-turun, jantung berdebar cepat, dan sekarang sedang mencoba mengembalikan oksigen ke otaknya.

Sial.

Sungguh sial.

Bahkan ketika ditolak, diabaikan, atau disindir, pria ini masih mampu membuatnya... semakin jatuh... lebih dalam...

Otot lengan Liam nampak menegang, mencengkeram bodi botol, meneguk banyak-banyak agar otaknya tidak panas.

Liam menutup botol airnya, lalu pura-pura kembali fokus menandai papan panjang dengan pensil tukang.

"Kalau kau datang hanya untuk mengganggu pekerjaanku, pintu masih terbuka nona pirang," katanya datar.

"Aku tidak akan mengganggu, aku akan duduk di sini menunggumu sampai selesai!" Chatrine Madison jelas bukan tipe wanita yang mau kalah.

Chatrine benar-benar duduk di atas balok kayu yang sudah terpotong, tidak perduli lagi dengan fashion mahalnya yang jadi kotor.

"Kau harus menerimaku bekerja di sini!"

Sebenarnya jika galeri Liam memiliki marketing seperti Chatrine, dia bisa segera jadi pengusaha galeri seni terkenal. Chatrine memiliki banyak relasi, hubungannya luas. Pandai negosiasi.

Tapi masalahnya pria mana yang tahan bekerja di gudang panas dengan mahluk seperti Chatrine. Cantik tapi suka mengatur.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status