LOGINAyura Nayara pernah menjadi korban tabrak lari empat tahun lalu. Malam itu, ia dan ayahnya baru saja pulang dari karnaval di tengah kota. Saat itu mereka masih tinggal di sebuah kota kecil yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk. Malam ulang tahunnya yang ketiga belas seharusnya menjadi kenangan bahagia—hingga segalanya berubah menjadi petaka.
Mereka terlalu larut menikmati karnaval hingga baru pulang lewat tengah malam. Hujan turun deras tanpa peringatan. Jalanan licin, sementara rumah mereka berada di pelosok, melewati jalur panjang yang dikelilingi pohon-pohon pinus dengan penerangan seadanya. Petir menyambar, membelah langit dengan cahaya menyilaukan, disusul suara guntur yang menggelegar. Meski begitu, ayah Ayura masih mampu mengendalikan kemudi dengan tenang. Sampai dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju kencang, seolah tak terkendali. Mobil itu oleng, membanting setir, lalu menghantam kendaraan mereka dengan keras. Sejak malam itu, hidup Ayura berubah. Ayahnya tak pernah benar-benar kembali sadar. Belakangan diketahui, pria itu mengidap kanker usus stadium tiga. Sementara Ayura harus menerima kenyataan pahit bahwa kaki kanannya tak akan pernah pulih sepenuhnya. Dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi rasa nyeri kerap muncul jika ia terlalu memaksakan diri. Saraf di kakinya mengalami kerusakan. Tanpa biaya terapi, kondisinya dibiarkan begitu saja. Dokter pernah mengatakan, jika terus dibiarkan, kakinya bisa semakin memburuk. Lambat laun, Ayura terbiasa. Rasa sakit itu seolah menjadi bagian dari dirinya, meski sesekali ia merasa malu saat orang memperhatikan cara jalannya yang sedikit pincang. Banyak yang tak menyadari, namun mereka yang menyadari sering memandangnya dengan tatapan aneh. Untuk membiayai perawatan ayahnya, Ayura—yang saat itu masih duduk di bangku SMP—terpaksa menghabiskan seluruh tabungan orang tuanya. Ia tak bisa bekerja karena usianya belum cukup. Uang itu menipis, sementara kondisi ayahnya tak juga membaik. Satu-satunya harapan Ayura adalah paman dan bibinya yang tinggal di kota besar. Mereka adalah keluarga terdekat yang tersisa. Ayura tahu mereka tidak tulus membantunya, tetapi tetap menerima dengan syarat setelah lulus SMP, Ayura harus ikut bekerja bersama mereka di Mansion Widjaja. Ayahnya dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik, tetapi paman dan bibinya tak pernah memberi tahu di mana ia dirawat. Ayura baru menyadari kemudian—mereka bersedia membantu bukan karena belas kasihan, melainkan karena rupa Ayura. Bagi mereka, kecantikan yang tak dimanfaatkan adalah sesuatu yang sia-sia. Ayura pun bekerja sebagai pelayan di Mansion Widjaja, mengikuti jejak paman dan bibinya. Ia juga mendapat kesempatan bersekolah di sekolah elit dengan biaya dari Widjaja Foundation, berkat kedekatan paman dan bibinya dengan keluarga Widjaja. Mereka telah mengabdi pada keluarga itu hampir separuh hidupnya. Di tengah segala kemalangan, Ayura merasa dirinya masih beruntung—tanpa menyadari niat buruk yang tersembunyi. Niat itu akhirnya terungkap. Paman dan bibinya memintanya mendekati Brian Rey Widjaja, anak bungsu keluarga Widjaja yang seusia dengannya. Ayura menolak keras, tetapi ancaman penghentian biaya pengobatan ayahnya membuatnya tak punya pilihan. Penolakannya terhenti di tenggorokan. Ayura hanya bisa menguatkan diri. Ia berjanji pada dirinya sendiri, setelah lulus nanti, ia akan bekerja keras dan membiayai perawatan ayahnya sendiri—berapa pun biayanya. Untuk sekarang, ia masih terikat. Bahkan, ia tak tahu di rumah sakit mana ayahnya dirawat. Ayura sadar, itu sengaja dirahasiakan. Pagi hingga sore hari ia bersekolah. Malam dan hari libur dihabiskannya bekerja di mansion. Para pelayan di sana cukup banyak, namun pamannya adalah kepala pelayan. Sebagian bersikap ramah padanya, berharap mendapat keuntungan. Ayura tak peduli, selama mereka tidak menyulitkannya. Sore itu, Ayura berganti pakaian sebelum membantu bibinya menyiapkan makan malam. Dapur jauh lebih sibuk dari biasanya karena kepulangan anak sulung Widjaja. Makanan utama sudah siap, masih mengepul, namun dessert dan hidangan pembuka belum selesai. “Maaf aku terlambat,” ujar Ayura sambil mengenakan apron. “Oh, Yura, pas sekali. Piring kotor belum sempat dibersihkan. Tolong cuci semuanya, ya,” kata bibinya. “Baik, Bi.” Ayura tak terkejut melihat tumpukan piring dan peralatan masak yang menggunung. Ia langsung bekerja, mencuci dengan cekatan. Di saat itulah obrolan para pelayan mulai terdengar. Ayura memilih diam, mendengarkan sekilas. “Kudengar Tuan Girsa pulang bersama tunangannya. Aku belum sempat melihatnya.” “Aku sudah! Cantik sekali, seperti bidadari. Pembawaannya anggun, kelihatan berkelas. Nona Heidy benar-benar sempurna.” “Mereka cocok sekali. Tuan Girsa tampan, tunangannya cantik. Kalau nanti mereka jadi majikan, kita bakal sering cuci mata.” “Olive, pelan-pelan bicara!” Seorang pelayan yang lebih tua menegur Olive, wanita yang usianya diatas Ayura 2 tahun. “Ah, mana mungkin mereka ke dapur.” Olive mengangkat bahu tak peduli. Ayura hanya mendengar sepintas. Namun, entah mengapa rasa penasarannya muncul. Ia belum pernah melihat Tuan Girsa secara langsung—hanya dari foto-foto yang terpajang di mansion. Bukan karena tertarik, hanya sekadar ingin tahu. Sejak diminta mendekati Brian, perasaan Ayura terhadap keluarga Widjaja berubah. Dalam benaknya, Brian adalah sumber masalah. Andai pria itu tak ada, ia tak perlu menjalani masa remaja dengan tekanan dan kepura-puraan, apalagi menghadapi penggemar fanatik Brian. Ayura menghela napas. Semua itu sudah terlanjur. “Tapi menurut kalian, Nona Heidy bisa mengalahkan kecantikan Yura kita?” Ayura mengerutkan kening. “Aku tidak mau dibandingkan. Siapa yang senang disandingkan dengan pelayan? Jangan libatkan aku.” Kata Ayura pelan. Para pelayan saling berpandangan. Mereka tahu Ayura memang menawan—bahkan terlalu menonjol untuk sekadar pelayan. Wajah Ayura sangat cocok menjadi model atau selebriti. Sayangnya, kakinya tak lagi sempurna. Ayura memiliki rambut cokelat gelap yang bergelombang halus, serta mata hijau bening yang kontras dengan kulitnya. Wajahnya lembut, feminin, dengan fitur yang seimbang. Ia pendiam, tenang—tak banyak bicara. Tak seorang pun tahu bahwa di sekolah, ia dipaksa memainkan peran gadis ceria yang centil demi menarik perhatian Brian. Di rumah, Ayura memilih cara berbeda. Ia menjaga jarak dari Brian, justru berusaha mengambil hati orang tua pria itu dengan sikap hormat yang santun. Sikapnya yang berubah antara di sekolah dengan di rumah sempat membuat Brian heran. “Aku sudah selesai mencuci piring. Masih ada pekerjaan lain?” tanya Ayura. “Tidak. Sisanya biar kami selesaikan. Kau bisa istirahat.” “Baik.” Ayura melepas apron, namun seseorang memanggilnya. “Tunggu, Ayura.” Ia menoleh. “Nyonya tadi meminta aku mengantarkan teh untuk Tuan Girsa, tapi pekerjaanku belum selesai. Kau sedang luang, kan? Bisa tolong antarkan?” Ayura mengangguk. Ia menerima nampan berisi dua cangkir teh melati dan sepiring pai raspberry kecil. Dengan langkah hati-hati, ia menuju taman samping, tempat Girsa dan kekasihnya sedang bersantai. Meski kaki kanannya terasa sedikit berat, Ayura tetap melangkah hati-hati sambil menyeimbangkan nampan di tangannya. Ia menyusuri jalan setapak berbatu kapur menuju taman samping. Udara sore terasa sejuk, diiringi kicauan burung yang terdengar samar dari kejauhan. Di dalam sebuah paviliun yang dikelilingi pepohonan rindang dan semak hijau yang tertata rapi, Ayura melihat seorang pria berambut hitam legam duduk di bangku taman bersama seorang wanita di hadapannya. Dari kejauhan, keduanya tampak serasi—wajah mereka dipenuhi kebahagiaan, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Mereka tampak beruntung. Entah kenapa, dada Ayura terasa sedikit sesak. Apa suatu hari nanti ia juga bisa tertawa lepas tanpa beban seperti itu? Tak terasa, ia sudah berdiri di hadapan mereka. Ayura menunduk sopan, memasang senyum profesional yang biasa ia gunakan saat bekerja. “Permisi, saya membawakan teh dan camilan untuk Anda berdua.” Ia meletakkan nampan di atas meja dengan hati-hati. “Terima kasih,” ucap Heidy ramah. Matanya berbinar ketika melihat camilan di atas meja. “Oh, ada pai raspberry.” Heidy segera mengambil satu dan mencicipinya. “Makanlah sepuasmu,” ujar Girsa sambil tersenyum lembut, tatapannya penuh perhatian pada kekasihnya. Ayura sempat melirik pria itu sekilas. Tatapan Girsa begitu teduh, penuh rasa sayang yang tidak dibuat-buat. Ia mengerti mengapa pria itu mencintai Heidy. Wanita itu memang cantik—terawat, anggun, dan memikat. Perbandingan yang sering dilontarkan para pelayan terasa tidak masuk akal. Dirinya jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Heidy. Heidy membalas senyumnya, dan Ayura membalasnya dengan anggukan sopan. “Kalau begitu, saya permisi,” kata Ayura. “Apakah ada lagi yang Anda butuhkan?” “Oh, tidak. Terima kasih sudah membawakannya,” jawab Heidy. “Sudah tugas saya, Nona,” balas Ayura tenang. Sesaat, tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan mata biru Girsa yang tajam. Ada sesuatu dalam sorot mata itu yang membuat tubuh Ayura menegang. Bukan marah, bukan pula dingin—namun cukup membuatnya merasa kecil tanpa alasan yang jelas. Ayura segera menunduk dan undur diri.Sebuah teriakan nyaring membangunkan Girsa yang masih terlelap setelah semalaman penuh menggempur sendirian. Matanya membelalak, terkejut, menoleh ke sekeliling sembari sesekali menyipitkan mata menyesuaikan cahaya lampu yang masih menyala hingga pagi hari. Ironisnya, wajah bantalnya terlihat bagus dipandang terlepas dari bagaimana dia bertindak ketika kehilangan kendali. "Apa-apaan ini, Girsa?!" Pekikan itu kembali menyentaknya. Girsa mengerjap, belum sepenuhnya sadar. "Ibu?" Sorot lampu yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata. Perlahan lahan, kesadarannya pulih. Ibunya berdiri di hadapannya dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan marah. Bukan hanya Elena. Ayahnya, Brian, serta beberapa pelayan juga berada di sana, menatapnya dengan pandangan ngeri. Terutama Tuan Darren—tatapan ayahnya itu tajam dengan sorot yang penuh amarah, seakan ingin menebasnya saat itu juga. "Kenapa kalian berkumpul disini?" tanya Girsa, berusaha terdengar tenang meski kebingungan jela
Ayura sontak menoleh. "Kemari, bawakan tehnya." "Brian?" Shanina menatap bingung, alih-alih beristirahat di kamarnya, Brian justru ada di kamar Girsa di ujung sana. Bagi Ayura, Kamar Tua Girsa menjadi tempat yang pantang untuk dilewati semenjak kepulangan putra sulung keluarga Wijaya itu. Meski hanya pernah bertemu beberapa kali, Ayura bisa merasakan Girsa tidak menyukainya, tatapan Girsa juga membuat Ayura merasa diintimidasi. "Ayura, bawa sini!" Perintah itu menyadarkan Ayura dari lamunan. Dengan hati-hati Ayuraa berjalan menghampiri Brian. "Ini, teh madu untukmu." "Berikan saja pada kakakku." "Tapi katanya-" Ayura menghentikan ucapannya. "Baiklah." Ujarnya lagi. Ia tidak ingin berdebat atau berlama lama dengan Brian. Ia menyodorkan nampan tersebut. "Taruh sendiri di sana." Brian menunjuk ke dalam kamar kakaknya-Girsa. "Tapi-" Ayura ingin protes tapi suara dering ponsel Briann memotong ucapannya. Ayura menghentikana memutar bola mata saat Brian tidak menghadapnya. "H
"Yura!" Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?" Ayura berdehem pelan menyamarkan rasa gugupnya. Namun tiba-tiba Resy mengamit lengan Ayura dan membuat gadis itu kebingunagan, "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Resy menunjuk ke arah perkumpulan para gadis. Ayura mengangguk. Resy kembali menariknya menuju ke sudut area food stall. Mereka yang sudha lebih dulu disana langsung menyambut Resy dan Ayura. "Ayura, kau cantik sekali!" "Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!" Ayura tersenyum mendengar pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan." "Eh, tapi benar, 'kan? Ayura memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga can
“Apa yang terjadi di sini?!” Seorang bartender bertubuh kekar menerobos kerumunan dengan wajah garang. Begitu melihat kondisi bar yang porak-poranda—bangku terbalik, pecahan gelas dan botol alkohol berserakan—emosinya langsung memuncak. Seorang pria tergeletak dengan wajah babak belur, sementara beberapa orang lain sibuk menahan seorang pria yang mengamuk, berusaha terus menghajarnya. Kerugian itu membuat darah sang bartender mendidih. “Hentikan! Jangan membuat kekacauan di sini! Kalian harus mengganti semua kerusakan ini! Sialan!” Pengunjung lain berseru gaduh. Beberapa wanita memekik ngeri menyaksikan perkelahian brutal tersebut. “Girsa! Girsa, kendalikan dirimu!” Girsa sama sekali tidak mendengar teriakan temannya. Ia masih sibuk memukuli pria yang sudah tak berdaya. Empat orang temannya segera datang menahan tubuh Girsa. Namun, tenaga pria itu terasa tidak masuk akal, terlebih dalam kondisi mabuk dan kehilangan kendali sepenuhnya. “Sialan! Bajuku basah karena kec
Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian. Tapi Ayura tidak mau! "Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencoba cara lain saja. Yura pasti bisa membuat Brian suka dan jatuh cinta tapi Yura butuh waktu, dia pasti tertarik meski hanya sedikit, atau mungkin Brian hanya malu mengungkapkan perasaannya." Ucap Ayura sambil menatap bibinya dengan pandangan memohon "Ayura, ingat kesepakatan kita. Kau berjanji akan menurutiku dan suamiku jika kau ingin ayahmu selamat." Ayura berusaha menahan air matanya, jangan sampai riasannya berantakan karena sudah susah payah ia merias wajahnya sendiri disaat dirinya tidak pandai berias. Namun beberapa tetes tetap mengalir di pipinya. Dari awal Ayura tidka setuju dengan ide paman dan bibinya. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada siapa pun sebelum menikah, itu me
"Sayang, lihat pelayan itu!" Mendengar ucapan wanita yang menjadi kekasihnya, Girsa yang sedang memeriksa pesan masuk dari kolega bisnis mendongak. "Ya? Oh, ya. Aku melihatnya. Kenapa?" Heidy menjilat sebentar selai raspberry di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kurasa dia sedikit pincang." Girsa kembali menjatuhkan pandang pada gadis yang baru saja mengantarkan makanan mereka. Jika dilihat lagi, cara berjalannya memang terlihat sedikit kesulitan. Namun, Girsa merasa tidak ada yang penting dan kembali berkutat pada ponselnya. "Ya, mungkin memang seperti itu cara berjalannya," kata Girsa acuh. Sedetik kemudian, ponsel yang dipegang Girsa direnggut Heidy. Girsa melemparkan tatapan protes ke arah gadis itu. "Kenapa kamu terus bermain ponselmu saat kita sedang menikmati waktu bersama?" Heidy terlihat kesal meski nada bicaranya masih terdengar manja. “Ada urusan kantor di Swiss yang harus tetap kupantau dari sini. Beberapa laporan belum selesai,” jaw







