Share

MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU
MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU
Author: Ariess_an

Bab satu

Author: Ariess_an
last update Last Updated: 2026-01-09 18:29:52

Ayura membereskan alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas dengan tergesa. Pandangannya melirik seorang pria yang baru saja berdiri dan melangkah keluar kelas di tengah keramaian murid lain. Kening Ayura berkerut, rasa kesal menyeruak.

“Brian, tunggu aku!” pekiknya sambil menyampirkan tas ke bahu dan berlari menyusul pria itu.

Brian sudah berjalan cukup jauh dengan langkah panjangnya. Ayura berusaha mengejar, meski sebelah kakinya membuat langkahnya tak pernah benar-benar seimbang. Ia sedikit terseok, namun tak berhenti mengejar. Tak peduli meski tatapan murid-murid di sepanjang koridor tertuju padanya. Tawa mengejek, pandangan jijik, hingga bisik-bisik hinaan sudah terlalu sering ia terima. Baginya, semua itu tak lagi terasa menyakitkan. Mungkin perasaannya memang sudah lama mati.

Samar-samar dari dalam kelas, Ayura mendengar suara ketua kelas berseru,

“Jangan lupa, mantan anggota ekstrakurikuler fashion harap berkumpul di ruang pameran.”

Ayura menggigit bibir. Dadanya berdenyut nyeri. Jika ada satu hal yang benar-benar melukainya, inilah itu—kenyataan bahwa ia tak pernah bebas melakukan hal yang ia sukai. Ia masih terikat pada perintah paman dan bibinya, dipaksa mengejar pria yang sedang berjalan di depannya sekarang.

Sejak awal masuk SMA hingga menjelang kelulusan, Ayura tak pernah benar-benar fokus pada pelajaran ataupun kegiatan yang bisa membantunya meraih cita-cita sebagai desainer. Mimpinya seolah hanya boleh menjadi angan. Ia bahkan tak pernah punya kesempatan bergabung dengan ekstrakurikuler fashion yang selalu ia dambakan.

“Brian!”

Dengan napas terengah dan peluh tipis di dahinya, Ayura akhirnya berhasil meraih ujung pakaian pria itu. Namun, tangannya segera ditepis kasar hingga tubuhnya terdorong ke belakang.

Brian menoleh dengan tatapan tajam, lalu kembali melangkah tanpa sepatah kata.

Ayura menarik napas, menebalkan wajah, lalu kembali meraih lengannya.

“Bolehkah aku pulang bersamamu? Hari ini kau tidak ada jadwal lagi, kan?”

Langkah Brian tetap cepat. Dengan tubuh yang lebih pendek dan kaki yang tak sepenuhnya normal, Ayura hampir tak mampu mengimbangi langkah Brian.

“Kudengar ada kafe baru di seberang alun-alun. Gimana kalau kita ke sana? Kau tidak lapar? Tidak penasaran?” Ayura berbicara dengan wajah ceria, menutupi perasaan kesalnya yang kian menumpuk.

'Akan lebih baik kalau dia menolak. Aku ingin langsung pulang.'

Begitu pikir Ayura.

Paman dan bibinya mungkin akan kembali mengomel karena ia gagal mendekati Brian, tapi Ayura bisa beralasan akan berusaha lebih keras besok. Hari ini ia masih harus bekerja lembur, mengingat kakak Brian, Girsa Gray Widjaya, baru saja pulang dari Swiss setelah lima tahun. Ada bonus yang menunggunya jika ia menyelesaikan semua tugas.

Seperti dugaannya, Brian tetap bungkam. Ayura diam-diam menghela napas lega. Meski begitu, ia tetap berbicara tanpa henti, berlagak seperti penggemar fanatik.

“Brian, bukankah kau masuk final voli besok? Mau aku bawakan makanan? Aku juga akan memberimu hadiah. Aku yakin kau akan menang.”

Brian hanya meliriknya sekilas dengan tatapan dingin.

Ayura membalasnya dengan senyum lebar.

“Aku akan menonton pertandinganmu lagi besok! Kau keren sekali. Pastinya banyak yang ingin jadi kekasihmu, tapi aku tidak mau kau punya kekasih selain aku. Brian, dengar, kan? Aku menyukaimu!”

Jika dihitung, mungkin Ayura sudah mengucapkan kalimat itu lebih dari sepuluh kali hari ini. Brian tak pernah tahu betapa keras Ayura menahan rasa geli pada dirinya sendiri. Ia bukan tipe orang yang gemar membicarakan perasaan atau mendengar kata-kata manis. Semua itu terasa canggung baginya.

Ucapan-ucapan penuh pengakuan jelas bukan hal yang ia sukai.

Brian menghela napas lelah. Telinganya seakan berdengung mendengar kalimat yang sama berulang-ulang sepanjang masa SMA-nya. Ia tahu Ayura tak menonton pertandingannya tadi. Entah apa tujuan gadis itu sebenarnya.

Ayura bilang menyukainya, tapi ada sesuatu yang terasa janggal.

“Brian, kau mendengarkanku, tidak?”

Ayura memutar bola mata. Ia benar-benar lelah. Ingin pulang dan tidur.

Brian mungkin sudah menempati urutan teratas dalam daftar orang paling menyebalkan dalam hidupnya.

Jika bukan karena paksaan paman dan bibinya, Ayura tak akan mau berurusan dengan pria seperti Brian.

Namun sekarang, ia justru terus berceloteh. Jika Brian terganggu, biarlah. Ayura malah berniat mengganggunya lebih jauh.

Mereka tiba di parkiran sekolah. Brian tetap acuh. Ayura menahan tangan pria itu saat hendak membuka pintu mobil. Brian yang tak siap, terhenti sesaat. Dalam detik singkat itu, Ayura berjinjit dan mengecup pipinya.

Ayura tersenyum lebar meski dibalas tatapan tajam. Di dalam hatinya, ia justru ingin segera menghapus jejak bibirnya sendiri.

Brian mengusap pipinya, merasa gatal.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya tidak tahan. Hari ini kau tampan sekali,” jawab Ayura ringan sembari tertawa kecil.

Brian menatapnya lama dengan tatapan yang sulit di baca Ayura.

Apa yang kulakukan barusan? Ayura merutuki diri sendiri. 'Masih untung aku tidak ditendang.'

Ia benar-benar tidak tahu cara merayu seorang pria. Kata-katanya terdengar payah dan memalukan. Ayura memang tidak pernah berpengalaman dalam urusan seperti ini.

“Ayo! Kita bisa mengantre lama kalau terus saling tatap,” ujarnya.

Ayura hendak masuk ke mobil, namun tubuhnya terdorong hingga jatuh terduduk ke belakang. Brian sempat tampak terkejut sesaat sebelum wajahnya kembali dingin.

Ayura meringis. Bokongnya terasa nyeri. Ia mencoba memasang ekspresi sedih, meski gagal membuat matanya berkaca-kaca.

“Kenapa kau mendorongku? Ini sakit.”

Brian tak menjawab. Ia masuk ke mobil dan pergi begitu saja.

Ayura tetap duduk beberapa saat, memeriksa sikunya yang lecet. Begitu mobil itu menghilang, ia berdiri dan menghapus seluruh ekspresi yang sedati tadi dibuat-buat. Wajahnya kembali datar.

Ia menarik napas dalam-dalam, berulang kali, menenangkan diri.

“Aku lelah.”

Dari saku rok seragamnya yang sengaja dipendekkan oleh bibinya, Ayura mengambil kartu bus. Pandangan mata hijau tuanya menyapu sekitar sebelum ia melangkah menuju halte.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab delapan

    Sebuah teriakan nyaring membangunkan Girsa yang masih terlelap setelah semalaman penuh menggempur sendirian. Matanya membelalak, terkejut, menoleh ke sekeliling sembari sesekali menyipitkan mata menyesuaikan cahaya lampu yang masih menyala hingga pagi hari. Ironisnya, wajah bantalnya terlihat bagus dipandang terlepas dari bagaimana dia bertindak ketika kehilangan kendali. "Apa-apaan ini, Girsa?!" Pekikan itu kembali menyentaknya. Girsa mengerjap, belum sepenuhnya sadar. "Ibu?" Sorot lampu yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata. Perlahan lahan, kesadarannya pulih. Ibunya berdiri di hadapannya dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan marah. Bukan hanya Elena. Ayahnya, Brian, serta beberapa pelayan juga berada di sana, menatapnya dengan pandangan ngeri. Terutama Tuan Darren—tatapan ayahnya itu tajam dengan sorot yang penuh amarah, seakan ingin menebasnya saat itu juga. "Kenapa kalian berkumpul disini?" tanya Girsa, berusaha terdengar tenang meski kebingungan jela

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tujuh

    Ayura sontak menoleh. "Kemari, bawakan tehnya." "Brian?" Shanina menatap bingung, alih-alih beristirahat di kamarnya, Brian justru ada di kamar Girsa di ujung sana. Bagi Ayura, Kamar Tua Girsa menjadi tempat yang pantang untuk dilewati semenjak kepulangan putra sulung keluarga Wijaya itu. Meski hanya pernah bertemu beberapa kali, Ayura bisa merasakan Girsa tidak menyukainya, tatapan Girsa juga membuat Ayura merasa diintimidasi. "Ayura, bawa sini!" Perintah itu menyadarkan Ayura dari lamunan. Dengan hati-hati Ayuraa berjalan menghampiri Brian. "Ini, teh madu untukmu." "Berikan saja pada kakakku." "Tapi katanya-" Ayura menghentikan ucapannya. "Baiklah." Ujarnya lagi. Ia tidak ingin berdebat atau berlama lama dengan Brian. Ia menyodorkan nampan tersebut. "Taruh sendiri di sana." Brian menunjuk ke dalam kamar kakaknya-Girsa. "Tapi-" Ayura ingin protes tapi suara dering ponsel Briann memotong ucapannya. Ayura menghentikana memutar bola mata saat Brian tidak menghadapnya. "H

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab enam

    "Yura!" Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?" Ayura berdehem pelan menyamarkan rasa gugupnya. Namun tiba-tiba Resy mengamit lengan Ayura dan membuat gadis itu kebingunagan, "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Resy menunjuk ke arah perkumpulan para gadis. Ayura mengangguk. Resy kembali menariknya menuju ke sudut area food stall. Mereka yang sudha lebih dulu disana langsung menyambut Resy dan Ayura. "Ayura, kau cantik sekali!" "Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!" Ayura tersenyum mendengar pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan." "Eh, tapi benar, 'kan? Ayura memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga can

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Lima

    “Apa yang terjadi di sini?!” Seorang bartender bertubuh kekar menerobos kerumunan dengan wajah garang. Begitu melihat kondisi bar yang porak-poranda—bangku terbalik, pecahan gelas dan botol alkohol berserakan—emosinya langsung memuncak. Seorang pria tergeletak dengan wajah babak belur, sementara beberapa orang lain sibuk menahan seorang pria yang mengamuk, berusaha terus menghajarnya. Kerugian itu membuat darah sang bartender mendidih. “Hentikan! Jangan membuat kekacauan di sini! Kalian harus mengganti semua kerusakan ini! Sialan!” Pengunjung lain berseru gaduh. Beberapa wanita memekik ngeri menyaksikan perkelahian brutal tersebut. “Girsa! Girsa, kendalikan dirimu!” Girsa sama sekali tidak mendengar teriakan temannya. Ia masih sibuk memukuli pria yang sudah tak berdaya. Empat orang temannya segera datang menahan tubuh Girsa. Namun, tenaga pria itu terasa tidak masuk akal, terlebih dalam kondisi mabuk dan kehilangan kendali sepenuhnya. “Sialan! Bajuku basah karena kec

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab empat

    Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian. Tapi Ayura tidak mau! "Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencoba cara lain saja. Yura pasti bisa membuat Brian suka dan jatuh cinta tapi Yura butuh waktu, dia pasti tertarik meski hanya sedikit, atau mungkin Brian hanya malu mengungkapkan perasaannya." Ucap Ayura sambil menatap bibinya dengan pandangan memohon "Ayura, ingat kesepakatan kita. Kau berjanji akan menurutiku dan suamiku jika kau ingin ayahmu selamat." Ayura berusaha menahan air matanya, jangan sampai riasannya berantakan karena sudah susah payah ia merias wajahnya sendiri disaat dirinya tidak pandai berias. Namun beberapa tetes tetap mengalir di pipinya. Dari awal Ayura tidka setuju dengan ide paman dan bibinya. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada siapa pun sebelum menikah, itu me

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tiga

    "Sayang, lihat pelayan itu!" Mendengar ucapan wanita yang menjadi kekasihnya, Girsa yang sedang memeriksa pesan masuk dari kolega bisnis mendongak. "Ya? Oh, ya. Aku melihatnya. Kenapa?" Heidy menjilat sebentar selai raspberry di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kurasa dia sedikit pincang." Girsa kembali menjatuhkan pandang pada gadis yang baru saja mengantarkan makanan mereka. Jika dilihat lagi, cara berjalannya memang terlihat sedikit kesulitan. Namun, Girsa merasa tidak ada yang penting dan kembali berkutat pada ponselnya. "Ya, mungkin memang seperti itu cara berjalannya," kata Girsa acuh. Sedetik kemudian, ponsel yang dipegang Girsa direnggut Heidy. Girsa melemparkan tatapan protes ke arah gadis itu. "Kenapa kamu terus bermain ponselmu saat kita sedang menikmati waktu bersama?" Heidy terlihat kesal meski nada bicaranya masih terdengar manja. “Ada urusan kantor di Swiss yang harus tetap kupantau dari sini. Beberapa laporan belum selesai,” jaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status