Mag-log in'Jadi perhatiannya hanya karena anak yang ada di dalam perutku?' batin Mega. Mega menggelengkan kepalanya perlahan, "tidak apa-apa, saya sudah kenyang," jawab Mega singkat. "Kenapa ... apa buburnya ada yang kurang, padahal bubur itu masih sama dengan yang tadi," jawab Awan lagi. "Sudah larut malam lebih baik Bapak istirahat saja," "Tapi kamu belum menjawab besok minta di masakan apa, biar besok ku bangun pagi dan menyiapkan untukmu," tagih Awan. Mega menarik kedua sudut bibirnya, "tidak usah, Pak, Pak Awan tidak perlu repot, saya bisa siapkan sendiri," tegas Mega. Awan menggeleng lalu menarik bahu Mega agar menghadap pada dirinya, "Mbak Minah bilang kamu tidak bisa makan masakannya, kamu hanya bisa makan masakan buatankku," ucap Awan kali ini dengan nada kemmbali tegas. "Mbak Minah hanya asal bicara," singkat Mega tanpa berani menatap Awan. "Tidak Mega ... jangan siksa anak kita ... kalau kamu tidak mau makan setidaknya isilah perutmu demi anak yang ada di dalam kandun
Mega membuang tatapannya menghindari tatpan Awan, Mega merasa takut jika membalas tatapan Awan akan membuat ia tak bisa menutupi perasaan aslinya."Mega!" panggil Awan, namun Mega msih engan menoleh."Apa tampilan dinding itu lebih menarik dari pada menatap suamimu sendiri?" tanya Awan.Ucapan itu sektika membuat Mega menoleh pada Awan, "Pak Awan masih ada keperluan apa lagi disini ... kalau memang sudah tidak ada keperluan sebaiknya Bapak segera keluar saja dari kamar ini," usir Mega.Awan mengangkat sebelah alisnya, terbesit rasa kecewa dalam hati Awan. Awan merasa Mega tak menghargai usahanya.Awan mengangguk, "baiklah ... aku akan keluar dari kamar ini, tapi ingat ini terakhir kalinya aku berbaik hati dan ini terakhir kalinya aku memperhatikan kamu," tegas Awan. Dengan kesal Awan memutar tubuhnya membelakangi Mega.Sesaat Awan berdiri mematung berharap Mega akan merengek bahkan memohon agar ia mencabut ucapannya. Namun harapan Awan lagi-lagi hanya tinggal harapan, Awan sama sekali
Dengan kepala tertunduk Mega melebarkan pintu kamarnya. "Mbak Minah boleh kembali!" perintah Awan. Minah mengangguk, lalu pergi meninggalkan Awan yang masih berdiri di depan kamar Mega. "Mbak Minah sudah memanggil kenapa kamu tidak keluar?" tanya Awan dengan nada datar. "Saya sudah bilang pada Mbak Minah saya tidak lapar," jawab Mega. "Kenapa tidak lapar?" tanya Awan lagi. Mela mengangkat pandangannya menatap Awan, "Pak Awan makan saja, tidak usah pedulikan saya nanti kalau saya lapar pasti saya makan!" tegas Mega. Awan tersenyum tipis, lalu mengulurkan tanagnnya pada Mega, "ayo makan, untuk kesehatanmu ... soal buket bunga aku juga sudah membelikan untukmu," jelas Awan. Tatapan tajam seketika Mega arahkan pada Awan, "saya sudah bilang saya tidak lapar ... permisi, Pak Awan!" tegas Mega yang kemudian menutup rapat pintu kamarnya. Awan menghela nafas, "dia marah?" gumam Awan penuh tanya. Sementara di dalam kamarnya, dada Mega tampak kembang kempis menahan kekesalan, "dia pikir
Awan lebih dulu memutar tubuhnnya, kini Awan dan Amelia pun menjadi berhadapan. "Bunnga ini ...." Awan tampak bimbang sembari melirik Mega dengan ekor matanya. "Bunga ini ... tentu untukmu," ucap Awan yang kemudian memberikan buket bunga itu pada Amelia tepat di hadapan Mega dan Minah. Awan masih sangat penasaran dengan perasaan Mega padanya dan ingin menguji Mega. Mega terpaku menyaksikan Awan dan Amelia tampak begitu harmonis, namun tak bisa ia pungkiri hati kecilnya merasakan sakit yang luar biasa. "Emmm ... Mbak Minah, Mbak yang lanjutkan ya, tiba-tiba badanku rasanya tidak enak," ucap Mega. Lagi-lagi Minah merasa iba melihat Mega, "i ... iya, kamu istirahat saja, biar Mbak Minah yang selesaikan," jawab Minah. Ada perasaan tidak enak dalam hati Minah, apa lagi setelah apa yang ia obrolkan dengan Mega pagi tadi dimana ia begitu percaya diri membela Awan. Mega berjalan cepat untuk kembali ke kamarnya, dan mau tidak mau Mega harus mekewati Awan dan Amelia yang masih ber
Kembali Mega mengusap air mata yang telah meleleh membasahi pipinya dan barulah menoleh pada sumber suara."Mbak Minah," sapa Mega saat melihat Minah sudah berdiri.Minah pun mendekati Mega, melihat wajah Mega yang tampak sembab Minah merasa iba. Minah lalu merengkuh kedua pipi Mega mengarahkan wajah Mega padanya, "ada apa? apa Tuan dan Nyonya memarahimu lagi?" tanya Minah.Mega menggeleng tanpa memberikan jawaban apapun.Minah menghela nafas, lalu melepas tangannya dari wajah Mega."Ayo, Mbak bentu membereskan barang-barangmu yang belum terbawa ke rumah utama," tawar Minah."Tidak usah, Mbak, biar saja, nanti biar aku bereskan sendiri," tolak Mega, wajahnya tampak murung.Minah mengelus lembut lengan Mega, "ada apa? cerita saja, jangan dipendam sendiri seperti ini?" tanya Minah lagi.Pelan Mega membalas tatapan Minah, ada semburat keraguan dari sorot Mega kala itu, namun perlahan Mega mengikis keraguan itu dan berusaha merubahnya menjadi rasa percaya.Mega mengedarkan pandangannya ke
"Kamu ini bagaimana, Wan! aku kan sudah bilang kamu harus memastikan kalau dia meminum obat itu," kesal Amelia dengan raut wajah penuh amarah. "Jangan marahi Pak Awan, saya yang salah, saya yang lupa," ucap Mega. Awan seketika terhenyak, perasaan haru mencuat dari dalam dadanya setelah mendepat pembelaan dari Mega. Amelia menatap Awan dan Mega secara bergantian, nafasnya kembang kempis menahan kekesalan namun segera ia berusaha meredam amarahnya agar Awan tak merasa curiga. "Sekarang ambil dan segera minum obat itu. Memangnya kamu mau seperti ini terus," ucap Amelia dengan nada mengomel. Mega mengangguk, baru saja akan melangkah namun Awan segera mencegahnya, "biar aku saja yang ambil," Mega menoleh pada Awan lalu perlahan ia gelengkan kepalanya, "tidak apa-apa, biar saya ambil sendiri," tolak Mega. Mega pun melanjutkan langkahnya, dan langkah itu ia bawa menuju paviliun. Setelah tiba di kamarnya, sejenak Mega terduduk di pinggiran ranjang. Ia edarkan pandanggannya men
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Sesorang menyodorkan botol minuman pada Mega, "minum ini!", suara itu membuat Mega menoleh. "Pak Tomi!" ucapnya. Tomi lebih dulu mengangguk, "aku melihat saat kamu hampir tersrempet mobil tadi!" lanjutnya. "Minumlah, agar kamu lebih tenang!" lagi Tomi menyodorkan botol minum yang di genggamnya p
"Iya ... makanya cepat keluar, jangan buat mereka menunggu terlalu lama!" sahut Minah sedikit berseru. Mega lebih dulu menoleh pada jam dinding yang bertengger di atas dinding kamarnya. "Hah ... sudah setengah 8!" Mega terhenyak. Mega lalu turun dari ranjang, barulah kemudian berjalan cepat mer
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k







