ログインAmelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja
Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m
Awan mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tau," jawab Awan singkat. Dahi Mega berkerut, "memang Pak Awan tidak bertanya?" "Untuk apa?" sahut Awan dengan nada malas. “Memang Pak Awan tidak mau tau Bu Amelia pergi kemana?” sahut Mega. "Biar saja, asal dia tidak banyak tingkah aku tidak mau terlalu mengikuti urusannya," jawab Awan. ** Saat detik berganti menjadi menit, menit bergerak menjadi jam, jam berputar menjadi hari dan hari pun berganti menjadi minggu. Dan selama bebrapa hari tanpa kehadiran Amellia, tanpa Mega dan Awan sadari jika hubungan mereka terjalin semakin dekat dan semakin hangat. Setelah kedekatannya dengan Awan membuat keadaan kehamilannya tak lagi merepotkan, Mega tak lagi meraskan mual hebat seperti sebelumnya. Pagi itu, Mega terbangun lebih dulu dari Awan, dan seperti biasanya ia akan melakukan persiapan kebutuhan Awan. Namun baru saja akan beranjank dari tempat tidurnya Mela merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan. Hal itu tentu saja m
'Ngidam?' batin Mega, sorot matanya tiba-tiba berubah nanar.Melihat perubahan wajah Mega, Awan pun bangkit berdiri tepat di hadapan Mega. Awan arahkan wajah Mega sedikit mendongak menatap dirinya."Kalau ada bilang saja!, apapun selagi aku mampu pasti aku turuti" lanjut Awan.Sejenak Mega menatap wajah Awan dengan lekat, lalu ia menggelengkan kepalanya.Awan menghela nafas lalu melepaskan wajah Mega. Awan mengambil dompet yang ia simpan di saku belakang celananya, Awan membuka dompet itu lalu mengambil selembar kartu dari sela kantung dompetnya dan meletakkan kartu itu di tangan Mega, "ambil kartu ini!, aku rasa kamu sungkan untuk meminta langsung padaku, jadi dengan kartu ini kamu bisa langsung membeli sendiri kalau kamu menginginkan sesuatu," jelas Awan.Mega segera mengembalikan kartu itu pada Awan, "tidak usah Pak, saya masih punya uang jatah bulanan yang diberi Bu Amel," tolak Mega."Itu pemberian Amelia, kalau ini pemberian dari aku untuk kamu, ambil saja," ucap Awan lagi.Mega
Beberapa waktu kemudian, Amelia tampak menggeliat di dalam balutan selimut tebal milik Aditya sementara Aditya masih terlelap disebelahnya.Amelia tersenyum, lalu miringkan tubuhnya menjadi menghadap Aditya, "bangun, Sayang!" ucap Amelia sembari mengelus lembut wajah Aditya.Aditya mengerjap lalu perlahan ia membuka kedua bola matanya, Aditya membelas senyuman Amelian lalu ia melingkarkan tagannya pada tubuh Amelia."Pagi ini harusnya aku sudah berada di ruanganku, gara-gara kamu aku jadi ketiduran sepertin ini," ucap Aditya menarik Amelia kedalam pelukannya."Tapi kamun yakinkan, Sayang, kali ini aku pasti akan hamil ... rasanya aku sudah malas melihat wajah perempuan kampungan itu," ucap Amelia.Aditya beberapa kali melayangkan kecupan lembut pada pipi Amelia, "kamu tenang saja ... aku sudah menghitung masa ovulasimu dan hari ini adalah waktu yang pas karena hari ini merupakan waktu kamu yang palingb subur," jawab Aditya."Nanti aku berikan beberapa vitamin dan obat penguat kandunng
"Memberi tau, Bu Amel ... apa tidak apa-apa?" tanya Mega, ada sebuah keraguan dari nada bicara Mega. "Ada apa lagi?' tanya Awan lagi, namun Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu masih ragu, tidak apa-apa lain kali saja kita beri tau Amelia," ucap Awan yang setidaknya sedikit mengobati kegundahan hati Mega. Mega mengangguk, "Pak Awan langsung sarapan saja, saya mau beberes kamar," pinta Mega. "Kamu tidak mau sarapan juga?" tanya Awan, dan lagi Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Saya benar-benar belum lapar," jawab Mega. "Kalau memang belum lapar, setidaknya temani aku sarapan, bisa?" pinta Awan. Mega tampak ragu, "saya ... benar-benar belum lapar, rasanya saya ingin jalan-jalan saja, boleh?" pinta Mega dengan tatapan penuh harap. "Jalan-jalan kemana?" "Hanya berkeliling di sekitar rumah, emmm ... sungai buatan juga, rasanya sudah lama tidak melihat ikan-ikan berenang," jelas Mega. Awan mengelus lembut pipi Mega, "ya sudah aku beri ijin tapi ingat tidak boleh kelu
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Sesorang menyodorkan botol minuman pada Mega, "minum ini!", suara itu membuat Mega menoleh. "Pak Tomi!" ucapnya. Tomi lebih dulu mengangguk, "aku melihat saat kamu hampir tersrempet mobil tadi!" lanjutnya. "Minumlah, agar kamu lebih tenang!" lagi Tomi menyodorkan botol minum yang di genggamnya p
"Iya ... makanya cepat keluar, jangan buat mereka menunggu terlalu lama!" sahut Minah sedikit berseru. Mega lebih dulu menoleh pada jam dinding yang bertengger di atas dinding kamarnya. "Hah ... sudah setengah 8!" Mega terhenyak. Mega lalu turun dari ranjang, barulah kemudian berjalan cepat mer
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k







