تسجيل الدخولAwan mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tau," jawab Awan singkat. Dahi Mega berkerut, "memang Pak Awan tidak bertanya?" "Untuk apa?" sahut Awan dengan nada malas. “Memang Pak Awan tidak mau tau Bu Amelia pergi kemana?” sahut Mega. "Biar saja, asal dia tidak banyak tingkah aku tidak mau terlalu mengikuti urusannya," jawab Awan. ** Saat detik berganti menjadi menit, menit bergerak menjadi jam, jam berputar menjadi hari dan hari pun berganti menjadi minggu. Dan selama bebrapa hari tanpa kehadiran Amellia, tanpa Mega dan Awan sadari jika hubungan mereka terjalin semakin dekat dan semakin hangat. Setelah kedekatannya dengan Awan membuat keadaan kehamilannya tak lagi merepotkan, Mega tak lagi meraskan mual hebat seperti sebelumnya. Pagi itu, Mega terbangun lebih dulu dari Awan, dan seperti biasanya ia akan melakukan persiapan kebutuhan Awan. Namun baru saja akan beranjank dari tempat tidurnya Mela merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan. Hal itu tentu saja m
'Ngidam?' batin Mega, sorot matanya tiba-tiba berubah nanar.Melihat perubahan wajah Mega, Awan pun bangkit berdiri tepat di hadapan Mega. Awan arahkan wajah Mega sedikit mendongak menatap dirinya."Kalau ada bilang saja!, apapun selagi aku mampu pasti aku turuti" lanjut Awan.Sejenak Mega menatap wajah Awan dengan lekat, lalu ia menggelengkan kepalanya.Awan menghela nafas lalu melepaskan wajah Mega. Awan mengambil dompet yang ia simpan di saku belakang celananya, Awan membuka dompet itu lalu mengambil selembar kartu dari sela kantung dompetnya dan meletakkan kartu itu di tangan Mega, "ambil kartu ini!, aku rasa kamu sungkan untuk meminta langsung padaku, jadi dengan kartu ini kamu bisa langsung membeli sendiri kalau kamu menginginkan sesuatu," jelas Awan.Mega segera mengembalikan kartu itu pada Awan, "tidak usah Pak, saya masih punya uang jatah bulanan yang diberi Bu Amel," tolak Mega."Itu pemberian Amelia, kalau ini pemberian dari aku untuk kamu, ambil saja," ucap Awan lagi.Mega
Beberapa waktu kemudian, Amelia tampak menggeliat di dalam balutan selimut tebal milik Aditya sementara Aditya masih terlelap disebelahnya.Amelia tersenyum, lalu miringkan tubuhnya menjadi menghadap Aditya, "bangun, Sayang!" ucap Amelia sembari mengelus lembut wajah Aditya.Aditya mengerjap lalu perlahan ia membuka kedua bola matanya, Aditya membelas senyuman Amelian lalu ia melingkarkan tagannya pada tubuh Amelia."Pagi ini harusnya aku sudah berada di ruanganku, gara-gara kamu aku jadi ketiduran sepertin ini," ucap Aditya menarik Amelia kedalam pelukannya."Tapi kamun yakinkan, Sayang, kali ini aku pasti akan hamil ... rasanya aku sudah malas melihat wajah perempuan kampungan itu," ucap Amelia.Aditya beberapa kali melayangkan kecupan lembut pada pipi Amelia, "kamu tenang saja ... aku sudah menghitung masa ovulasimu dan hari ini adalah waktu yang pas karena hari ini merupakan waktu kamu yang palingb subur," jawab Aditya."Nanti aku berikan beberapa vitamin dan obat penguat kandunng
"Memberi tau, Bu Amel ... apa tidak apa-apa?" tanya Mega, ada sebuah keraguan dari nada bicara Mega. "Ada apa lagi?' tanya Awan lagi, namun Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu masih ragu, tidak apa-apa lain kali saja kita beri tau Amelia," ucap Awan yang setidaknya sedikit mengobati kegundahan hati Mega. Mega mengangguk, "Pak Awan langsung sarapan saja, saya mau beberes kamar," pinta Mega. "Kamu tidak mau sarapan juga?" tanya Awan, dan lagi Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Saya benar-benar belum lapar," jawab Mega. "Kalau memang belum lapar, setidaknya temani aku sarapan, bisa?" pinta Awan. Mega tampak ragu, "saya ... benar-benar belum lapar, rasanya saya ingin jalan-jalan saja, boleh?" pinta Mega dengan tatapan penuh harap. "Jalan-jalan kemana?" "Hanya berkeliling di sekitar rumah, emmm ... sungai buatan juga, rasanya sudah lama tidak melihat ikan-ikan berenang," jelas Mega. Awan mengelus lembut pipi Mega, "ya sudah aku beri ijin tapi ingat tidak boleh kelu
Sama dengan Awan, Mega pun merasa terkejut melihat kehadiran Amelia yamg sudah tepat di depan pintu kamarnya.Mega segera menarik tangannya dari genggam tangan Awan lalu menundukkan kepalanya."Kalian semalam ...?!""Tidak, Bu, ini semua tidak seperti yang Bu Amel pikirkan," potong Mega sebelum Amelia sempat melanjutkan ucapannya.Awan menarik tubuh Mega agar berada di belakang tubuhnya, ":semalam aku memang menginap di kamar Mega, aku sengaja menjaga dia," jelas Awan.Amelia menatap Awan dengan mimik wajah tak senang, "ya sudah, ayo kita sarapan," ajak Amelia dengan nada sedikit sinis.Amelila memutar tubuhnya lalu berjalan lebih dulu, sementara Awan yang baru saja akan menyusul Amelia segera dihentiksn oleh Mega."Apa tidak apa-apa begini, Pak ... saya takut Bu Amellia marah," ucap Mega.Awan merangkul pundak Mega, "kamu tenang saja, soal Amelia biar menjadi urusanku."Awan lalu menggeser posisinya menjadi menghadap Mega, "tugasmu sekarang hanya menjaga calon anak kita dengan baik,
Mega terhenyak sesaat, perlahan Mega menegakkan pandangannya menatap pantulan wajahnya pada cermin besar yang ada di hadapannya. "Tes sekarang?" gumam Mega. "Ada apa, apa kamu keberatan?" tanya Awan menyadari perubahan pada wajah Mega yang tampak pada cermin kamar mandi. Mega menghela nafas, lalu menghembuskannya perlahan "tidak apa-apa, Pak. Emm ... bisa tolong ambilkan alat-alatnya biar saya tes sekarang?!" pinta Mega. Awan sangat girang senyumnya pun tampak sumringah, ia pun bergegas pergi untuk mengambilkan peralatan tes kehamilan untuk Mega. Karena begitu bersemangat, tak membutuhkan waktu lama, Awan pun telah kembali menemui Mega. "Ini!" ucap Awan sembari mengulurkan bungkusan plastik itu pada Mega. "Terimakasih!" jawab Mega sembari meraih plastik pemberian Awan. Keduanya sesaat saling terdiam larut dalam kecnggungan. "Emmm ... Maaf, Pak, Pak Awan bisa menunggu di luar saja!" pinta Mega. "Hah, Ahhh ... i, iya ... a aku menunggu di luar," jawab Awan tergagap lalu memundu
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Sesorang menyodorkan botol minuman pada Mega, "minum ini!", suara itu membuat Mega menoleh. "Pak Tomi!" ucapnya. Tomi lebih dulu mengangguk, "aku melihat saat kamu hampir tersrempet mobil tadi!" lanjutnya. "Minumlah, agar kamu lebih tenang!" lagi Tomi menyodorkan botol minum yang di genggamnya p
"Iya ... makanya cepat keluar, jangan buat mereka menunggu terlalu lama!" sahut Minah sedikit berseru. Mega lebih dulu menoleh pada jam dinding yang bertengger di atas dinding kamarnya. "Hah ... sudah setengah 8!" Mega terhenyak. Mega lalu turun dari ranjang, barulah kemudian berjalan cepat mer
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k







