MasukMega lalu menggelengkan kepalanya.
"Sudah aku duga, perempuan kampungan seperti kamu mana bisa!" remeh Awan yang kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Mega yang masih terduduk di atas lantai bersama Tomi yang masih berdiri diam di posisinya. Melihat kepergian Awan, Tomi bergegas menghampiri Mega dan kemudian mengulurkan tangannya. Mega tertegun sesaat, ada perasaan ragu dalam hati gadis desa itu membuatnya tidak langsung membelas uluran tangan Tomi, "mari aku bantu berdiri!" tawar Tomi. Namun Mega masih diam dan hanya mengarahkan tatapannya pada kedua tangan Tomi. Walau masih ada perasaan ragu, akhirnya Mega pun membalas uluran tangan Tomi, dan kini bisa kembali berdiri. "Terimakasih, Pak! Maaf jadi merepotkan!" ucap Mega sedikit menundukkan kepalanya. "Tidak masalah!" sahut Tomi. "Saya permisi ...!" pamit Mega. "Tunggu ....!" cegah Tomi secepat kilat. Mega mengurungkan niatnya untuk pergi, ia lebih dulu kembali menoleh pada Tomi. "Makanan yang di maksud Kak Awan tadi adalah steak!" jelas Tomi. "Stick?" Mega terheran. 'Apa memang orang kota begini ya, maknannya aneh-aneh. Bukannya stick keras, lalu memang bisa di makan!' batin Mega tanpa ia sadari kepalanya menggeleng beberapa kali. "Ada apa?" tanya Tomi lagi. Kembali Mega mengarahkan tatapannya pada Tomi, "disini stick dimakan ya, Pak?, kalau di desa saya stick untuk memukul dram," tanya Mega masih dengan ekspresi terheran. Tomi mengangguk ragu, "emm ... tunggu, steak yang aku maksud adalah sepotong daging yang dipotong sedikit besar lalu di masak dengan cara dipanggang, baru setelah makan diberikan sauce di atasnya!" jelas Tomi. "Dan lagi masih ada jenis di setiap tingkatan kematangannya!" lanjut lelaki muda itu. "Paham?" tanya Tomi lagi. Mega mengangguk ragu, "kalau begitu saya permisi, Pak!" pamit Mega lagi. "Emmm ... Tunggu!" cegah Tomi lagi. Mega mengurungkan niatnya dan kembali menoleh, "bisa tidak jangan panggil aku, Pak. Rasanya umur kita tidak terpaut begitu jauh, dan sepertinya aku tidak setua itu!" pinta Tomi. Mega menggeleng, lalu kembali menundukkan kepalanya, "maaf, Pak, tapi rasanya tidak sopan, saya hanya menghormati, Pak Tomi," jawab Mega yang kemudian melengos pergi meninggalkan Tomi. Tomi menepuk keningnya sendiri, "Astaga, apa-apaan aku ini!" gumam Tomi. ****** Di dapur Mega berjalan cepat untuk kembali ke kamarnya, namun niatan itu ia urungkan saat melihat seniornya sudah berada di dapur. "Mbak disini?" tanya Mega. Minah pun seketika menoleh "Iya, Mbak menunggu kamu. Jadi bagaimana? Tuan mau dimasakkan apa?" tanya Minah. Mega menggeleng, "aku tidak tau, Mbak, nama masakannya susah!" jawab Mega. "Tandon, class room, ah apalah itu!" Mega mengulang menirukan gaya sang majikan. Minah tersenyum kecil, "ya sudah isitirahat saja sana, biar Mbak yang masak untuk makan malam!" ucap Minah. "Tapi nanti ...!" Mega tampak ragu. "Tidak apa-apa, nanti Mbak yang akan menjelaskan pada Tuan, istirahat saja, kamu pasti lelah!" perintah Minah yang segera di balas anggukkan oleh Mega. ****** Di lantai atas "Kamu dari mana saja, Wan?" tanya Amelia. "Tidak dari mana-mana!" jawab Awan singkat. Amelia menghela nafas sesaat,, "emm, Wan!" panggil Amelia. Awan yang awalnya berniat ingin mengecek kamar barunya lebih dulu menoleh, "apa!" sahut Awan sedikit sewot. "Di rumah ini, kita kamarnya sendiri-sendiri saja ya!" pinta Amelia. Awan terhenyak, tapi ia segera tersadar jika memang pernikahannya dan Amelia hanya pernikahan bisnis tanpa di dasari perasan cinta sedikitpun, "terserah kau saja!" jawab Awan singkat. "Yesss! akhirnya aku bebas!" riang Amelia bersorak kecil. Awan mendengar sorakan Amelia, tapi tak ia pedulikan. Awan terus melangkahkan kakinya menuju kamar yang tidak jauh dari tangga, kamar yang dituju Kristian itulah kamar utama di rumah itu. "Stop, Awan!" cegah Amelia. Kembali Awan menghentikan langkahnya, namun kali ini tanpa menoleh sedikitpun pada Amelia. "Kamar itu aku yang pakai, kamu cari kamar lain ya!" pinta Amelia lagi. "Itu kamarku, dan ini rumahku, kenapa tidak kamu saja yang mencari kamar lain!" sahut Awan. Amelia bangkit dari duduknya, "ayolah, Wan, aku mohon, untuk kamar ini saja, biar kamar ini jadi kamarku!" rengek Amelia. "Waannn ....!" Amelia memasang wajah memelas. "Arrgghh ... Ambillah!" sewot Awan. "Suruh pembantu baru itu mengambil barang-barangku dari kamar itu lalu bereskan kamar utama di lantai bawah!" perintah Awan. ****** Di kamar Mega "Huftt ... Akhirnya bisa berbaring!" ucap Mega yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Walau kamar yang di tempatnya tidak besar, tapi kamar ini lebih bagus dari kamar yang dimilikinya di kampung halaman. Rasa lelah dalam tubuhnya membuat Mega perlahan memjamkan matanya. Namun sayang, baru beberapa saat memjamkan mata, telinga Meha mendengar ketukan di pintu kamarnya. Mega yang baru saja terlelap pun mendadak terpaksa membuka kedua matanya, Lesu Mega bangkit dari tidurnya. Walau sesikit terhuyung, Mega tetap berusaha berjalan cepat untuk membuka pintu kamarnya, hingga nampaklah sang ART senior sudah berdiri di sana, "loh, Mbak Minah, Ada apa, Mbak?" tanya Mega. "Kamu sedang tidur ya?" tanya Minah menydari mata Mega tampak memerah. Mega menggeleng dengan sisa nyawa yang belum terkumpul sempurna, "hanya berbaring, Mbak!" sahut Mega beralasan, tak ingin membuat Minah merasa tidak enak hati padanya. "Maaf ya, Mbak bangunkan, soalnya Nyonya memanggil, ada tugas untuk kamu. Cepat temui mereka di lantai atas!" perintah Minah. Mega mengangguk lesu, "aku cuci muka dulu, Mbak!" jawab Mega. ****** Beberapa saat kemudian di Lantai atas Awan bersandar di ambang pintu kamar Amelia, sembari bersedekap dengan tatapan tajam mengarah pada Mega yang baru saja tiba di lantai atas. "Lambat sekali, kau pikir waktuku hanya untuk menunggu kedatanganmu!" omel Awan. "Maaf, Pak, tadi ....!" "Alah, tidak usah banyak bicara!" potong Awan mengomel. Wajah tampannya tampak garang seolah ingin melahap Mega. "Cepat ikut aku!" perintah Awan. Mega pun hanya patuh melangkahkan kakinya di belakang Awan. "Itu semua barang-barangku!" Mega menunjuk dua buah koper bersar dengan dua koper kecil yang tergeletak di samping ranjang. "Bawa ke kamar utama di lantai bawah, lalu bereskan. Dan ingat ....!" Awan mengarahkan sorot tajam pada Mega. "Kau harus hati-hati, aku tidak mau ada barangku yang rusak, kamu pasti tau kan kalau barang-barangku semuanya mahal. Kalau sampai ada yang rusak, kamu harus menggantinya dengan yang baru!" tegas Awan.. "Jangan terlalu galak padanya, Wan, kasihan dia!" ucap Amelia merasa tak tega dengan sikap yang di tunjukkan Awan pada Mega. Awan melirik tajam pada Amelia, "biar saja, kamu sudah membayar dia, Kan?" sahut Awan. Kembali Awan menatap Mega yang masih terdiam, "tunggu apa lagi, cepat bereskan. Aku mau sebelum makan malam semua barang-barang ku ini sudah selesai di rapikan!" tegas Awan. Mega menganggukkan kepalanya lalu perlahan ia mendekati koper milik Awan. Mega menarik satu koper besar di tangn kanannya dan satu tas kecil di tangan kirinya. Ia mengangguk pada Amelia dan segera di balas anggukan oleh sang majikan wanita. Mega berusaha keras menarik koper besar milik Awan yang ternyata ia rasakan sedikit berat, tak ingin mendapat omelan dari majikan lelakinya, Mega tak berani berucap apapun, hingga tiba di ujung tangga Mega di buat kebingungan dengan cara membawa turun barang milik majikannya itu. Menyadari Mega yang masih diam, Awan yang sudah menuruni anak tangga lebih dulu pun kembali menoleh, "tunggu apa lagi?" tanya Awan sedikit meninggikan suaranya. Mega tesentak "bagaimana cara membawa ini turun, Pak!" tanya Mega ragu. Awan mendengus kesal, "selain tuli, tenyata kau juga bodoh ya, pakai otakmu untuk berfikir, begitu saja kau tidak tau!" omel Awan lagi. Mega cemberut, kembali ia mengarahkan tatapannya pada koper besar yang masih ia genggam di tangannya itu, "tapi koper ini berat!" gumam Mega. "Cepat gadis kampungan!" sentak Awan lagi membuat Mega kembali terjingkat kaget. "I ... iya, Pak!" jawab Mega tergagap. Sejenak Mega menghela nafas, "aku kira Bi Romlah adalah manusia paling galak, ternyata ada lagi yang lebih galak! Bisa jantungan aku lama-lama disini!" grutu Mega bergumam. "Siapa? Siapa yang jantungan?" sinis Awan yang tanpa Mega sadari, Awan sudah kembali menaiki anak tangga menghampiri dirinya. "Aku heran, belum ada setengah hari tapi kamu sudah selalu membuat aku naik darah." "Sini biar aku yang bawa, bisa-bisanya Amelia memilih perempuan lelet seperti ini!" omel Awan tepat di hadapan Mega. Awan kemudian merebut gagang koper dari tangan Mega. Mega kembali menghela nafas, tangannya mengepal geram saat Awan sudah berbalik membelakangi dirinya. Awalnya semua berjalan lancar dan Mega kembali mengikuti Awan. Namun saat di pertengahan tangga, "awwwhh ...!" keluh Awan. Mendengar suara keluhan dari Awan yang juga seketika melepaskan kopernya secara tiba-tiba, membuat Mega segera mendekat padanya. "Ada apa, Pak?" tanya Mega. "Tanganku, tanganku kram!" keluh Awan sembari memegangi tangannya. Sontak Mega ikut memeganggi tangan majikan lelakinya itu. BERSAMBUNG ....Rasa nyeri terasa menusuk hati Mega dengan begitu dalam, "tadi Mbak Minah yang menyambut saya kesini atas perintah Pak Awan...kalau kehadiran saya membuat Bu Amel terganggu biar saya kembali ke paviliun saja," pamit Mega. Amelia sini tersenyums, "baguslah kalau kamu sadar diri," Mega mengangguk, lalu memutar tubuhnya. “Tunggu, Mel… tadi memang aku yang meminta Mbak Minah memanggil Mega, mau bagimanapun Mega juga butuh asupan,” jelas Awan. Amelia menatap Mega dengan sedikit tajam. Ucapan Awan tak membuat Mega menghentikan langkah kakinya, dan Awan pun buru-buru mengejar Mega. Saat tepat di belakang Mega Awan segera meraih pergelangan tangan Mega dan sontak saja Mega pun menghentikan langkah kakinya namun tanpa menoleh ke Awan. "Kamu juga harus makan!" cegah Awan. "Saya belum lapar, lebih baik Bapak dan Ibu saja yang makan!" tolak Mega sedikit ketus. Awan menarik tangan Mega membuat Mega tersentak dan sontak saja tubuhnya berputar menghadap Awan. Sorot mata Awan tampak tajam me
Awan mengerutkan kening, sementara Mega menarik tangan hingga terlepas dari genggaman tangan Awan. “Maksudmu?” tanya Awan. Mega menghela nafas, “kemarin Bapak bilang Bu Amelia tidak bisa melayani selayaknya istri pada suaminya, itu alasan Bapak menjadikan saya sebagai penggantinya, bahkan sampai menyiapkan segala keperluan Anda pun juga saya yang lakukan, dan sepertinya sekarang Bu Amelia sudah bisa melayani Anda, jadi hari ini minta tolong pada Bu Amelia saja,” terang Mela yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Awan. Awan terhenyak sesaat, bukannya marah justru Awan mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. "Sikapnya ... apa itu artinya dia cemburu?!" gumam Awan, dada Awan seketika menghangat dan semburat merah tempak mengembang mewarnai wajah Awan kala itu.Awan lalu meneruska langkahnya, pelan ia susuri langkah demi langkah untuk menyusul Mega dan berutungnya dugaan Awan benar, ia bisa menemukan Mega yang tengah berdiri di tepian sungai buatan.Sebuah senyuma kembali te
"Mega!" Awan terkesiap. Awan lalu menoleh padan jam dinding yang ada di kamar Amelia, "sudah pagi ... jangan-jangan semalaman dia menunggu aku?" batin Awan. Awan pun bergegas bangkit dari ranjang Amelia, dan lebih dulu mengemasi pakaiannya untuk kembali ia kenakan. Namun baru saja Awan selesai berpakaian, Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali mencegah langkah Awan. "Loh ... kamu mau kemana, Wan?" tanya Amelia, rambutnya masih tampak basah dengan butiran air yang masih tampak menetes dari ujung rambutnya. Setelah kejadian semalam, bahkan Amelia pun sudah tak merasa malu mengenakan pakaian terbuka di depan Awan. "Sudah hampir siang ... aku harus bekerja," jawab Awan. Sembari menggosok rambutnya dengan handuk, Amelia berjalan mendekati Awan lalu berdiri tepat di hadapannya. "Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu langsung meninggalkan aku begini, Wan," ucap Amelia, wajahnya tampak memelas. "Atau jangan-jangan ....!" wajah yang awalnya memelas kini ber
Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe
Amelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja
Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k
"GADIS KAMPUNG!" seru Awan lagi. "Temui Tuan dulu, jangan buat Tuan menjadi marah lagi!" perintah Minah. "Tapi, Mbak ....!" Mega tampak ragu. Minah menganggukkan kepalanya, membuat Mega akhrinya mengalah dan kembali menemui Awan. Mega berjalan cepat, saat telinganya masih menangkap suara sang Tu
Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu. Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa ber







