Share

Bab 4. Kamar

last update Last Updated: 2025-12-26 07:07:08

Mega lalu menggelengkan kepalanya.

"Sudah aku duga, perempuan kampungan seperti kamu mana bisa!" remeh Awan yang kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Mega yang masih terduduk di atas lantai bersama Tomi yang masih berdiri diam di posisinya.

Melihat kepergian Awan, Tomi bergegas menghampiri Mega dan kemudian mengulurkan tangannya.

Mega tertegun sesaat, ada perasaan ragu dalam hati gadis desa itu membuatnya tidak langsung membelas uluran tangan Tomi, "mari aku bantu berdiri!" tawar Tomi.

Namun Mega masih diam dan hanya mengarahkan tatapannya pada kedua tangan Tomi.

Walau masih ada perasaan ragu, akhirnya Mega pun membalas uluran tangan Tomi, dan kini bisa kembali berdiri.

"Terimakasih, Pak! Maaf jadi merepotkan!" ucap Mega sedikit menundukkan kepalanya.

"Tidak masalah!" sahut Tomi.

"Saya permisi ...!" pamit Mega.

"Tunggu ....!" cegah Tomi secepat kilat.

Mega mengurungkan niatnya untuk pergi, ia lebih dulu kembali menoleh pada Tomi.

"Makanan yang di maksud Kak Awan tadi adalah steak!" jelas Tomi.

"Stick?" Mega terheran.

'Apa memang orang kota begini ya, maknannya aneh-aneh. Bukannya stick keras, lalu memang bisa di makan!' batin Mega tanpa ia sadari kepalanya menggeleng beberapa kali.

"Ada apa?" tanya Tomi lagi.

Kembali Mega mengarahkan tatapannya pada Tomi, "disini stick dimakan ya, Pak?, kalau di desa saya stick untuk memukul dram," tanya Mega masih dengan ekspresi terheran.

Tomi mengangguk ragu, "emm ... tunggu, steak yang aku maksud adalah sepotong daging yang dipotong sedikit besar lalu di masak dengan cara dipanggang, baru setelah makan diberikan sauce di atasnya!" jelas Tomi.

"Dan lagi masih ada jenis di setiap tingkatan kematangannya!" lanjut lelaki muda itu.

"Paham?" tanya Tomi lagi.

Mega mengangguk ragu, "kalau begitu saya permisi, Pak!" pamit Mega lagi.

"Emmm ... Tunggu!" cegah Tomi lagi.

Mega mengurungkan niatnya dan kembali menoleh, "bisa tidak jangan panggil aku, Pak. Rasanya umur kita tidak terpaut begitu jauh, dan sepertinya aku tidak setua itu!" pinta Tomi.

Mega menggeleng, lalu kembali menundukkan kepalanya, "maaf, Pak, tapi rasanya tidak sopan, saya hanya menghormati, Pak Tomi," jawab Mega yang kemudian melengos pergi meninggalkan Tomi.

Tomi menepuk keningnya sendiri, "Astaga, apa-apaan aku ini!" gumam Tomi.

******

Di dapur

Mega berjalan cepat untuk kembali ke kamarnya, namun niatan itu ia urungkan saat melihat seniornya sudah berada di dapur.

"Mbak disini?" tanya Mega.

Minah pun seketika menoleh "Iya, Mbak menunggu kamu. Jadi bagaimana? Tuan mau dimasakkan apa?" tanya Minah.

Mega menggeleng, "aku tidak tau, Mbak, nama masakannya susah!" jawab Mega.

"Tandon, class room, ah apalah itu!" Mega mengulang menirukan gaya sang majikan.

Minah tersenyum kecil, "ya sudah isitirahat saja sana, biar Mbak yang masak untuk makan malam!" ucap Minah.

"Tapi nanti ...!" Mega tampak ragu.

"Tidak apa-apa, nanti Mbak yang akan menjelaskan pada Tuan, istirahat saja, kamu pasti lelah!" perintah Minah yang segera di balas anggukkan oleh Mega.

******

Di lantai atas

"Kamu dari mana saja, Wan?" tanya Amelia.

"Tidak dari mana-mana!" jawab Awan singkat.

Amelia menghela nafas sesaat,, "emm, Wan!" panggil Amelia.

Awan yang awalnya berniat ingin mengecek kamar barunya lebih dulu menoleh, "apa!" sahut Awan sedikit sewot.

"Di rumah ini, kita kamarnya sendiri-sendiri saja ya!" pinta Amelia.

Awan terhenyak, tapi ia segera tersadar jika memang pernikahannya dan Amelia hanya pernikahan bisnis tanpa di dasari perasan cinta sedikitpun, "terserah kau saja!" jawab Awan singkat.

"Yesss! akhirnya aku bebas!" riang Amelia bersorak kecil.

Awan mendengar sorakan Amelia, tapi tak ia pedulikan. Awan terus melangkahkan kakinya menuju kamar yang tidak jauh dari tangga, kamar yang dituju Kristian itulah kamar utama di rumah itu.

"Stop, Awan!" cegah Amelia.

Kembali Awan menghentikan langkahnya, namun kali ini tanpa menoleh sedikitpun pada Amelia.

"Kamar itu aku yang pakai, kamu cari kamar lain ya!" pinta Amelia lagi.

"Itu kamarku, dan ini rumahku, kenapa tidak kamu saja yang mencari kamar lain!" sahut Awan.

Amelia bangkit dari duduknya, "ayolah, Wan, aku mohon, untuk kamar ini saja, biar kamar ini jadi kamarku!" rengek Amelia.

"Waannn ....!" Amelia memasang wajah memelas.

"Arrgghh ... Ambillah!" sewot Awan.

"Suruh pembantu baru itu mengambil barang-barangku dari kamar itu lalu bereskan kamar utama di lantai bawah!" perintah Awan.

******

Di kamar Mega

"Huftt ... Akhirnya bisa berbaring!" ucap Mega yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Walau kamar yang di tempatnya tidak besar, tapi kamar ini lebih bagus dari kamar yang dimilikinya di kampung halaman.

Rasa lelah dalam tubuhnya membuat Mega perlahan memjamkan matanya. Namun sayang, baru beberapa saat memjamkan mata, telinga Meha mendengar ketukan di pintu kamarnya.

Mega yang baru saja terlelap pun mendadak terpaksa membuka kedua matanya, Lesu Mega bangkit dari tidurnya.

Walau sesikit terhuyung, Mega tetap berusaha berjalan cepat untuk membuka pintu kamarnya, hingga nampaklah sang ART senior sudah berdiri di sana, "loh, Mbak Minah, Ada apa, Mbak?" tanya Mega.

"Kamu sedang tidur ya?" tanya Minah menydari mata Mega tampak memerah.

Mega menggeleng dengan sisa nyawa yang belum terkumpul sempurna, "hanya berbaring, Mbak!" sahut Mega beralasan, tak ingin membuat Minah merasa tidak enak hati padanya.

"Maaf ya, Mbak bangunkan, soalnya Nyonya memanggil, ada tugas untuk kamu. Cepat temui mereka di lantai atas!" perintah Minah.

Mega mengangguk lesu, "aku cuci muka dulu, Mbak!" jawab Mega.

******

Beberapa saat kemudian di Lantai atas

Awan bersandar di ambang pintu kamar Amelia, sembari bersedekap dengan tatapan tajam mengarah pada Mega yang baru saja tiba di lantai atas.

"Lambat sekali, kau pikir waktuku hanya untuk menunggu kedatanganmu!" omel Awan.

"Maaf, Pak, tadi ....!"

"Alah, tidak usah banyak bicara!" potong Awan mengomel. Wajah tampannya tampak garang seolah ingin melahap Mega.

"Cepat ikut aku!" perintah Awan.

Mega pun hanya patuh melangkahkan kakinya di belakang Awan.

"Itu semua barang-barangku!" Mega menunjuk dua buah koper bersar dengan dua koper kecil yang tergeletak di samping ranjang.

"Bawa ke kamar utama di lantai bawah, lalu bereskan. Dan ingat ....!" Awan mengarahkan sorot tajam pada Mega.

"Kau harus hati-hati, aku tidak mau ada barangku yang rusak, kamu pasti tau kan kalau barang-barangku semuanya mahal. Kalau sampai ada yang rusak, kamu harus menggantinya dengan yang baru!" tegas Awan..

"Jangan terlalu galak padanya, Wan, kasihan dia!" ucap Amelia merasa tak tega dengan sikap yang di tunjukkan Awan pada Mega.

Awan melirik tajam pada Amelia, "biar saja, kamu sudah membayar dia, Kan?" sahut Awan.

Kembali Awan menatap Mega yang masih terdiam, "tunggu apa lagi, cepat bereskan. Aku mau sebelum makan malam semua barang-barang ku ini sudah selesai di rapikan!" tegas Awan.

Mega menganggukkan kepalanya lalu perlahan ia mendekati koper milik Awan. Mega menarik satu koper besar di tangn kanannya dan satu tas kecil di tangan kirinya. Ia mengangguk pada Amelia dan segera di balas anggukan oleh sang majikan wanita.

Mega berusaha keras menarik koper besar milik Awan yang ternyata ia rasakan sedikit berat, tak ingin mendapat omelan dari majikan lelakinya, Mega tak berani berucap apapun, hingga tiba di ujung tangga Mega di buat kebingungan dengan cara membawa turun barang milik majikannya itu.

Menyadari Mega yang masih diam, Awan yang sudah menuruni anak tangga lebih dulu pun kembali menoleh, "tunggu apa lagi?" tanya Awan sedikit meninggikan suaranya.

Mega tesentak "bagaimana cara membawa ini turun, Pak!" tanya Mega ragu.

Awan mendengus kesal, "selain tuli, tenyata kau juga bodoh ya, pakai otakmu untuk berfikir, begitu saja kau tidak tau!" omel Awan lagi.

Mega cemberut, kembali ia mengarahkan tatapannya pada koper besar yang masih ia genggam di tangannya itu, "tapi koper ini berat!" gumam Mega.

"Cepat gadis kampungan!" sentak Awan lagi membuat Mega kembali terjingkat kaget.

"I ... iya, Pak!" jawab Mega tergagap.

Sejenak Mega menghela nafas, "aku kira Bi Romlah adalah manusia paling galak, ternyata ada lagi yang lebih galak! Bisa jantungan aku lama-lama disini!" grutu Mega bergumam.

"Siapa? Siapa yang jantungan?" sinis Awan yang tanpa Mega sadari, Awan sudah kembali menaiki anak tangga menghampiri dirinya.

"Aku heran, belum ada setengah hari tapi kamu sudah selalu membuat aku naik darah."

"Sini biar aku yang bawa, bisa-bisanya Amelia memilih perempuan lelet seperti ini!" omel Awan tepat di hadapan Mega.

Awan kemudian merebut gagang koper dari tangan Mega.

Mega kembali menghela nafas, tangannya mengepal geram saat Awan sudah berbalik membelakangi dirinya.

Awalnya semua berjalan lancar dan Mega kembali mengikuti Awan. Namun saat di pertengahan tangga, "awwwhh ...!" keluh Awan.

Mendengar suara keluhan dari Awan yang juga seketika melepaskan kopernya secara tiba-tiba, membuat Mega segera mendekat padanya.

"Ada apa, Pak?" tanya Mega.

"Tanganku, tanganku kram!" keluh Awan sembari memegangi tangannya.

Sontak Mega ikut memeganggi tangan majikan lelakinya itu.

BERSAMBUNG ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 5. Ingin Pulang

    Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu. Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa berucap sepatah katapun, lelaki garang itu hanya menurut. Mega berjalan lebih dulu masih sembari memegangi tangan Awan, hingga keduanya tiba di lantai bawah. "Bapak tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan air hangatnya!" pinta Mega. Ia mendudukkan tubuh Awan di kursi panjang di sebelah tangga. Awan masih tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Mega beranjak, Awan sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Mega, tanpa ia sadari, senyum manis tiba-tiba saja mengembang pada wajah tampannya, "dasar, yang sakit tanganku, tapi di memperlakukan aku seolah yang sakit adalah seluruh badanku!" Awan bergumam. Senyum yang awalnya manis pada wajah Awan, mendadak berubah menjadi

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 4. Kamar

    Mega lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah aku duga, perempuan kampungan seperti kamu mana bisa!" remeh Awan yang kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Mega yang masih terduduk di atas lantai bersama Tomi yang masih berdiri diam di posisinya. Melihat kepergian Awan, Tomi bergegas menghampiri Mega dan kemudian mengulurkan tangannya. Mega tertegun sesaat, ada perasaan ragu dalam hati gadis desa itu membuatnya tidak langsung membelas uluran tangan Tomi, "mari aku bantu berdiri!" tawar Tomi. Namun Mega masih diam dan hanya mengarahkan tatapannya pada kedua tangan Tomi. Walau masih ada perasaan ragu, akhirnya Mega pun membalas uluran tangan Tomi, dan kini bisa kembali berdiri. "Terimakasih, Pak! Maaf jadi merepotkan!" ucap Mega sedikit menundukkan kepalanya. "Tidak masalah!" sahut Tomi. "Saya permisi ...!" pamit Mega. "Tunggu ....!" cegah Tomi secepat kilat. Mega mengurungkan niatnya untuk pergi, ia lebih dulu kembali menoleh pada Tomi. "Makanan yang di ma

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 3. Majikan

    Di Area Kamar ART "Ehhh ... ada, Den Tomi!" seorang wanita setengah baya yang tidak lain adalah Art yang menjaga rumah Awan selama rumah itu tak ditinggali, wanita paruh baya itu segera menyapa kedatangan Tomi. "Iya, Mbak!" jawab Tomi singkat. Sang Art senior segera melongok ke arah belakang Tomi, "Den Tomi datang dengan siapa?" tanya Minah. Tomi menggeser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang agar Mega terlihat oleh Minah. Minah kemudian mengarahkan tatapannya pada gadis muda yang ada di belakang Tomi, "siapa ini, Den?" tanya Minah. "Namanya Mega, Mbak. Emmm ... mungkin sementara dia akan menjadi ART membantu Mbak Minah untuk sementara waktu, dan untuk kedepannya nanti Bu Amelia yang akan jelaskan!" jelas Tomi. "Tolong tunjukkan kamar untuk Mega ya, Mbak!" pinta Tomi. Minah mengangguk, ia lalu menggandeng tangan Mega dan membawa gadis desa itu menuju kamarnya. Di depan Mega dan Minah berderet dua pintu yang bersebelahan, "siapa tadi nama kamu?" ulang Minah. "Sa

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 2. Dingin

    Bentakkan dari sang Tuan rumah membuat Mega terkejut dan semakin takut, kembali wajah gadis desa itu tertunduk, "nama saya Mega, saya datang dari kampung atas perintah Bibi saya," jawab Mega, tak terasa begitu ketakutannya membuat mata Mega berkaca-kaca. Setelah mendengar jawaban dari Mega, Awan pun kembali melanjutkan langkahnya, "orang kampung ... pantas saja kampungan!" sindir Awan saat tepat melewati Mega. Namun Mega hanya diam tak berani menjawab. Beberapa menit kemudian merasa yakin jika Awan sudah menghilang, Mega pun memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah. Mega pijaki beberapa anak tangga, hingga kini ia tiba di pintu utama. "Dari mana saja, Mbak? Bu Amelia sudah menunggu!" ucap satpam yang hendak mencari keberadaan Mega. "Maaf, Pak!" ucap Mega terdengar lesu. "Cepat ajak masuk dia, Pak!" suara seorang perempuan terdengar menyahuti dari dalam. "Mari," Satpam penjaga rumah Awan mempersilahkan Mega masuk lebih dulu. ****** Di Ruang Tamu Tampaklah

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 1. Pergi

    "Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya. "tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir dengan cara apa untuk cepat mengumpulkan uang banyak sedangkan kamu sendiri tau pengobatan ibuku membutuhkan uang yang tidak sedikit," sinis sang Bibi. Pelan tapi pasti wanita bernama Romlah itu berjalan mendekati Mega dan sedikit membungkukkan tubuhnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Mega. "Kamu jual diri dengan 100 priapun tidak akan bisa langsung menutup semua biaya. Dan tentunya kamu menginginkan kesembuhan Nenekmu kan? Ingat! dialah orang yang paling berjasa dalam hidupmu?" tegas Romlah yang kemudian bangkit membetulkan posisinya. mega lebih dulu menyeka air mata yang membanjiri wajahnya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, 'apa tidak apa-apa?' batin Mega, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status