Share

Bab 3. Majikan

last update Last Updated: 2025-12-09 17:18:35

Di Area Kamar ART

"Ehhh ... ada, Den Tomi!" seorang wanita setengah baya yang tidak lain adalah Art yang menjaga rumah Awan selama rumah itu tak ditinggali, wanita paruh baya itu segera menyapa kedatangan Tomi.

"Iya, Mbak!" jawab Tomi singkat.

Sang Art senior segera melongok ke arah belakang Tomi, "Den Tomi datang dengan siapa?" tanya Minah.

Tomi menggeser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang agar Mega terlihat oleh Minah.

Minah kemudian mengarahkan tatapannya pada gadis muda yang ada di belakang Tomi, "siapa ini, Den?" tanya Minah.

"Namanya Mega, Mbak. Emmm ... mungkin sementara dia akan menjadi ART membantu Mbak Minah untuk sementara waktu, dan untuk kedepannya nanti Bu Amelia yang akan jelaskan!" jelas Tomi.

"Tolong tunjukkan kamar untuk Mega ya, Mbak!" pinta Tomi.

Minah mengangguk, ia lalu menggandeng tangan Mega dan membawa gadis desa itu menuju kamarnya.

Di depan Mega dan Minah berderet dua pintu yang bersebelahan, "siapa tadi nama kamu?" ulang Minah.

"Sa ... saya, Mega, Bu!" jawab Mega, ia merasa harus menghormati Minah karena nampak dari perawakannya, usia Minah sangat jauh di atasnya.

"Jangan, Bu! Panggil Mbak Minah saja ... biar tetap muda!" ucap Minah mencandai Mega.

Mega tersenyum, setidaknya orang di sampingnya bersikap ramah padanya.

"Nah, Megq, ini kamar saya dan Pak Joko, Kamar kamu di sebelah itu, ya!" Minah menunjuk pintu di sebalahnya.

"Mbak Minah disini kerja dengan suaminya?" tanya Mega.

Minah mengangguk, "rumah kami sebenarnya tidak terlalu jauh dari sini, tapi karena rumah ini kosong, Pak Awan dan Bu Amelia meminta kami untuk tinggal disini saja biar tidak repot kata mereka!" jelas Minah.

Mega mengangguk paham, "emm ... Mbak, boleh Mega istirahat, atau ada yang ingin dikerjakan biar Mega bantu!" tawar Mega.

"Kamu baru sampai, istirahatlah lebih dulu, atau mau Mbak Minah buatkan makanan, kamu pasti lapar kan?" tawar Minah.

Mega menggeleng, tentu saja selain memang belum lapar, Mega juga merasa segan pada wanita paruh baya di hadapannya itu.

"Mega masuk ya, Mbak!" pamit Mega lagi.

"Heh ... pembantu baru!" panggil sebuah suara dari belakang sana.

Mega yang baru saja akan memutar knop pintu kamarnya itu pun lebih dulu menoleh pada sumber suara.

Tampak dari ujung lorong, Awan sudah berdiri sembari menyedekapkan kedua tangan di depan dadanya.

"Ada apa, Tuan?" tanya Minah.

Awan menoleh sejenak lalu kembali menatap Mega, "aku memanggil pembantu baru, Mbak!" sahut Awan.

Segera Minah memberi isyarat pada Mega agar mendekat pada majikan lelakinya itu.

"Ada apa, Pak?" tanya Mega.

Awan lalu menoleh pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, "tidak lama lagi jam makan malam, untuk training aku mau kamu yang menyiapkan makan malam!" perintah Awan.

Mega terhenyak, "menyiapkan makan malam?" ulang Mega.

"Iya ... jangan bilang kamu tidak bisa memasak?!" sindir Awan.

Mega tak menjawab, 'bagaimana?, aku bisanya hanya merebus sayur dan membuat sambal, masak di rumah juga hanya tahu dan tempe,' batin Mega.

"Woyy ... bukannya menjawab malah melamun!" omel Awan membuat Mega tersentak kaget.

"Bi ... bisa, Pak, tapi saya hanya bisa memasak masakan kampung!" jawab Mega sedikit tergagap.

"Sudah aku duga! Dasar tidak berguna!" omel Awan lagi yang kemudian meninggalkan Mega begitu saja.

Mega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu menoleh pada Minah, "bagaimana ini, Mbak?" tanya Mega.

"Susul Tuan dan tanyakan mau makan apa, nanti biar Mbak Minah bantu siapkan!" perintah Minah.

Mega mengangguk paham, tanpa membuang waktu lagi, Mega berlari menyusul lelaki yang sementara ini akan menjadi majikannya itu.

"PAK ... Pak Awan,!" panggil Mega setengah berlari.

Beruntung langkah Awan kala itu tak begitu cepat, membuat Mega masih bisa menyusul majikan lelakinya itu.

Mendengar panggilan dari Mega, Awan pun menghentikan langkahnya dan segera berbalik.

Namun apa yang terjadi, saat Mega yang berlari cepat sementara Awan yang menghentikan langkahnya secara mendadak membuat Mega kehilangan kendali dan tanpa sengaja menabrak tubuh Awan yang sudah berbalik.

"Bbugghh" tabrakan antara Mega dan Awanpun tak terhindar lagi.

Dengan begitu sigap, Awan menangkap tubuh Mega yang hampir saja terjatuh ke atas lantai. Posisi itu begitu dekat membuat tubuh Mega begitu rapat dengan tubuh sang majikan.

Sejenak keduanya terdiam bersamaan saling mengadu pandang satu sama lain.

'Gadis kampung ini ....!' batin Awan mengagumi kecantikan wajah Mega yang berada begitu dekat dengan wajahnya.

"Kak Awan, Mbak Mega kalian sedang apa?" tanya Tomi yang datang secara tiba-tiba memergoki Mega dan Awan yang tidak sengaja berpelukan.

Kehadiran Tomi membuat Mega dan Awan segera tersadar dari ketidak sadaran meraka.

Awan terhenyak, tanpa aba-aba lelaki itu melepas pelukannya pada pinggang Mega yang kali ini membuat Mega benar-benar terjatuh di atas lantai.

"Awwww!" keluh Mega saat tubuhnya tidak terselamatkan dan jatuh begitu saja di atas lantai.

Awan segera mengibas-ngibaskan tanganya pada bagian tubuhnya yang bebrapa saat tadi sempat menempel dengan Mega, "dasar wanita murahan, apa seperti ini cara kamu untuk menggoda aku!" tuduh Awan.

Di sela kesakitannya Mega bergumam, "bukannya menolong malah mengomeli! ... dasar,"

Mega kemudian mendongak sembari memegangi pinggangnya, "maksud, Bapak apa, saya ini tidak sengaja!" sahut Mega sedikit sewot.

"Alasan!" sungut Awan.

"Bukannya menolong malah mengomeli, ini juga kesalahan Bapak kenapa tadi berhenti mendadak!" protes Mega, entah tiba-tiba saja ia mendapat keberanian untuk melwan omongan Awan.

"Berani kau me ....!" Awan tak melanjutkan ucapannya namun ia mengepalkan tangannya tepat di depan wajah Mega.

"Aku tidak suka di bantah, PAHAM!" tegas Awan memasang wajah garang.

"Saya hanya ingin bertanya, Pak Awan mau di masakkan apa!" jawab Mega singkat.

"Tidak perlu ... melihat tampangmu saja, aku sudah tidak yakin masakanmu akan enak!" hina Awan.

Tomi hanya diam menyimak perdebatan antar Mega dan Awan. Tomi dibuat sedikit terheran saat menyadari, sikap Awan yang sangat berbeda saat berbicara dengan Mega dan Amelia. Dengan Mega lelaki itu bisa bicara panjang lebar, namun dengan Amelia yang notabennya adalah istrinya Awan justru hanya sering berucap singkat.

Awan bersiap melangkah, namun Mega dengan begitu sigap memegangi kaki Awan, "saya bisa, Pak, saya akan memasak apa yang bapak minta!" ucap Mega mantap.

Awan erhenyak, lelaki dingin itu tampak berfikir sesaat, "oke, kalau begitu aku mau kau memasak tenderloin lengkap dengan mushroom sauce di atasnya!" printah Awan.

Mega terdiam sesaat mencerna apa yang baru saja di bicarakan oleh Awan.

"Kenapa diam, bisa kau membuatnya?" tanya Awan dengan senyum mengejek.

Mega masih diam, namun batinnya masih kebingungan, 'apa tadi, tandon, classroom? Makanan apa itu?' batin Mega tak paham.

"Bisa tidak?" sentak Awan lagi.

Bentakkan Awan seketika membuat Mega terjingkat kaget.

BERSAMBUNG ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 5. Ingin Pulang

    Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu. Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa berucap sepatah katapun, lelaki garang itu hanya menurut. Mega berjalan lebih dulu masih sembari memegangi tangan Awan, hingga keduanya tiba di lantai bawah. "Bapak tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan air hangatnya!" pinta Mega. Ia mendudukkan tubuh Awan di kursi panjang di sebelah tangga. Awan masih tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Mega beranjak, Awan sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Mega, tanpa ia sadari, senyum manis tiba-tiba saja mengembang pada wajah tampannya, "dasar, yang sakit tanganku, tapi di memperlakukan aku seolah yang sakit adalah seluruh badanku!" Awan bergumam. Senyum yang awalnya manis pada wajah Awan, mendadak berubah menjadi

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 4. Kamar

    Mega lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah aku duga, perempuan kampungan seperti kamu mana bisa!" remeh Awan yang kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Mega yang masih terduduk di atas lantai bersama Tomi yang masih berdiri diam di posisinya. Melihat kepergian Awan, Tomi bergegas menghampiri Mega dan kemudian mengulurkan tangannya. Mega tertegun sesaat, ada perasaan ragu dalam hati gadis desa itu membuatnya tidak langsung membelas uluran tangan Tomi, "mari aku bantu berdiri!" tawar Tomi. Namun Mega masih diam dan hanya mengarahkan tatapannya pada kedua tangan Tomi. Walau masih ada perasaan ragu, akhirnya Mega pun membalas uluran tangan Tomi, dan kini bisa kembali berdiri. "Terimakasih, Pak! Maaf jadi merepotkan!" ucap Mega sedikit menundukkan kepalanya. "Tidak masalah!" sahut Tomi. "Saya permisi ...!" pamit Mega. "Tunggu ....!" cegah Tomi secepat kilat. Mega mengurungkan niatnya untuk pergi, ia lebih dulu kembali menoleh pada Tomi. "Makanan yang di ma

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 3. Majikan

    Di Area Kamar ART "Ehhh ... ada, Den Tomi!" seorang wanita setengah baya yang tidak lain adalah Art yang menjaga rumah Awan selama rumah itu tak ditinggali, wanita paruh baya itu segera menyapa kedatangan Tomi. "Iya, Mbak!" jawab Tomi singkat. Sang Art senior segera melongok ke arah belakang Tomi, "Den Tomi datang dengan siapa?" tanya Minah. Tomi menggeser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang agar Mega terlihat oleh Minah. Minah kemudian mengarahkan tatapannya pada gadis muda yang ada di belakang Tomi, "siapa ini, Den?" tanya Minah. "Namanya Mega, Mbak. Emmm ... mungkin sementara dia akan menjadi ART membantu Mbak Minah untuk sementara waktu, dan untuk kedepannya nanti Bu Amelia yang akan jelaskan!" jelas Tomi. "Tolong tunjukkan kamar untuk Mega ya, Mbak!" pinta Tomi. Minah mengangguk, ia lalu menggandeng tangan Mega dan membawa gadis desa itu menuju kamarnya. Di depan Mega dan Minah berderet dua pintu yang bersebelahan, "siapa tadi nama kamu?" ulang Minah. "Sa

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 2. Dingin

    Bentakkan dari sang Tuan rumah membuat Mega terkejut dan semakin takut, kembali wajah gadis desa itu tertunduk, "nama saya Mega, saya datang dari kampung atas perintah Bibi saya," jawab Mega, tak terasa begitu ketakutannya membuat mata Mega berkaca-kaca. Setelah mendengar jawaban dari Mega, Awan pun kembali melanjutkan langkahnya, "orang kampung ... pantas saja kampungan!" sindir Awan saat tepat melewati Mega. Namun Mega hanya diam tak berani menjawab. Beberapa menit kemudian merasa yakin jika Awan sudah menghilang, Mega pun memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah. Mega pijaki beberapa anak tangga, hingga kini ia tiba di pintu utama. "Dari mana saja, Mbak? Bu Amelia sudah menunggu!" ucap satpam yang hendak mencari keberadaan Mega. "Maaf, Pak!" ucap Mega terdengar lesu. "Cepat ajak masuk dia, Pak!" suara seorang perempuan terdengar menyahuti dari dalam. "Mari," Satpam penjaga rumah Awan mempersilahkan Mega masuk lebih dulu. ****** Di Ruang Tamu Tampaklah

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 1. Pergi

    "Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya. "tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir dengan cara apa untuk cepat mengumpulkan uang banyak sedangkan kamu sendiri tau pengobatan ibuku membutuhkan uang yang tidak sedikit," sinis sang Bibi. Pelan tapi pasti wanita bernama Romlah itu berjalan mendekati Mega dan sedikit membungkukkan tubuhnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Mega. "Kamu jual diri dengan 100 priapun tidak akan bisa langsung menutup semua biaya. Dan tentunya kamu menginginkan kesembuhan Nenekmu kan? Ingat! dialah orang yang paling berjasa dalam hidupmu?" tegas Romlah yang kemudian bangkit membetulkan posisinya. mega lebih dulu menyeka air mata yang membanjiri wajahnya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, 'apa tidak apa-apa?' batin Mega, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status