LOGINNapas Tristan terasa panas dan beraroma alkohol tipis, memburu di atas permukaan kulit Briana yang mulai meremang. Briana memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan predator suaminya, namun jemari kuat Tristan mencengkram rahangnya, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya."Kau ingin tahu rasanya disakiti, Ana?" bisik Tristan rendah, suaranya parau oleh perpaduan antara kemarahan dan gairah yang meledak-ledak. "Atau kau ingin aku memperlakukanmu seperti pria-pria yang kau temui di luar sana?"Tanpa menunggu jawaban, Tristan merenggut kerah gaun Briana. Suara kain sutra yang robek terdengar nyaring di kamar yang sunyi itu, mengekspos kulit bahu Briana yang putih pucat ke udara dingin kastil. Briana tersentak, namun sebelum ia sempat memprotes, bibir Tristan sudah menerjang bibirnya dengan kasar. Tidak ada kelembutan di sana—hanya ada klaim kepemilikan yang destruktif.“Emphh…” ia memukul dada Tristan agar pria itu tidak melanjutkan, “D-Dasar brengsek kau
Derap kuda itu berhenti tepat di depan gerbang besi taman, memecah kabut yang menyelimuti Swan Lake. Debu beterbangan, menari-nari tertiup angin dingin yang tiba-tiba terasa lebih tajam. Briana menegakkan punggungnya, topeng ketenangannya terpasang kembali dengan sempurna. Ia tidak menoleh, namun telinganya menangkap suara langkah sepatu bot yang berat dan berirama tegas di atas jalan setapak berbatu. "Yang Mulia Duchess," sebuah suara pria yang berat dan familiar menyapa. Laura segera bergeser, berdiri sedikit di belakang Briana sebagai pelindung, sementara gadis itu akhirnya berbalik. Di hadapannya berdiri Duke Obsidian, “Duke Obsidian, dia bangsawan dari Inggris, Duchess. Sir Obsidian adalah salah satu keturunan dari orang kepercayaan ratu.” Bisik Laura menjelaskan. “Duke Obsidian,” Briana menaikkan sebelah alisnya, suaranya sedingin es. Obsidian menunduk dalam, sebuah gerakan hormat yang kaku. "Maafkan saya mengganggu waktu Anda, Duchess Briana. Namun, saya melihat Anda
"Pungut kertas-kertas itu, Briana," perintahnya, suaranya kembali ke mode seorang Duke yang memberi perintah kepada bawahannya. "Kita punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, terlepas dari perasaanmu yang sedang kacau."Briana mencengkram pinggiran meja, buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Tristan sengaja melakukannya—memberinya perintah untuk mengalihkan gairah yang masih mengambang di udara menjadi sesuatu yang dingin dan teknis.Briana terpaku sejenak, membiarkan detak jantungnya yang berpacu melambat. Perintah itu—begitu dingin, begitu otoriter—adalah sebuah tamparan halus. Tristan tidak sedang memintanya bekerja; ia sedang mengembalikan batasan, menempatkan Briana kembali ke dalam tempat yang semestinya.Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak menunjukkan getaran, Briana membungkuk. Jemarinya yang masih sedikit gemetar memungut lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atas karpet beludru. Setiap kertas yang ia raih—laporan pajak, nota pengeluaran, angka-angka
Ketegangan di ruang kerja itu seakan memuncak hingga ke titik didih. Pernyataan Tristan bukan sekadar tawaran, melainkan sebuah pengakuan keputusasaan yang justru menghujam tepat di ulu hati Briana."Kau pikir semudah itu?" suara Briana bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia mendorong dada Tristan, namun pria itu justru mencengkeram pinggangnya lebih erat, mengunci posisinya di antara tubuh sang Duke dan meja kerja yang berantakan."Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Briana! Aku mencoba memberimu ruang, mencoba menjadi suami yang setidaknya tidak membebanimu dengan kehadiranku yang berantakan, tapi setiap langkah yang kuambil, kau memandangnya sebagai penghinaan," desis Tristan. Suaranya serak, matanya yang hazel berkilat dengan gairah sekaligus rasa frustrasi yang mendalam."Karena kau memang menghinaku!" balas Briana menantang. "Kau membawaku ke dunia ini… atau entah bagaimana takdir mempermainkanku, dan satu-satunya hal yang bisa kau tawa
Tristan melangkah menuruni tangga pualam dengan setelan formal yang rapi, namun wajahnya masih memancarkan sisa-sisa kelelahan. Aroma kopi dan roti panggang menyeruak saat ia memasuki ruang makan. Di sana, Briana sudah duduk dengan punggung tegak, jemarinya lincah membolak-balik lembaran surat kabar pagi.Begitu Tristan menarik kursi di seberangnya, Briana tidak mendongak. Ia justru menggeser sebuah piring kecil berisi potongan lemon dan air jahe hangat."Minum itu. Kepalamu tidak akan berhenti berdenyut hanya dengan melamun," cetus Briana dingin.Tristan menatap gelas itu, lalu beralih menatap istrinya. "Terima kasih. Dan soal yang terjadi semalam, Briana? Aku ingat ada keributan dan..."Briana meletakkan surat kabarnya dengan suara plak yang cukup keras. Matanya menatap tajam, berkilat penuh emosi yang tertahan."Kau ingin tahu seberapa buruknya? Dua wanita dari rumah bordir The Velvet datang ke Citadel menuntut bayaran yang kau janjikan saat mabuk. Mereka berteriak di depan para pe
Di balik pintu berwarna putih, dua orang tengah berdiri di dalamnya. Satu orang nampak menahan amarahnya mati-matian, sedangkan yang lainnya bertampang tenang; seperti tidak pernah melakukan kesalahan.“Welcome to my world, Ana…” suaranya terdengar serak, akibat hangover minuman yang ia konsumsi. Briana berbalik cepat, menatap dengan wajah dimiringkan, “Welcome to my world?” ulang Briana dengan dahi berkerut, “Kau pikir semua ini lucu, huh? Bagaimana kalau orang-orang di luar sana menyebarkan berita ini? Kau tak hanya mengacaukan akting honeymoon sialan kita ini. Tapi kau telah membuat skandal baru, Duke.” Kata Briana dengan jari telunjuk terangkat ke arah Tristan.Tristan melepaskan cotte biru dongker miliknya ke atas ranjang, ia membuka bajunya satu per satu dengan santai.“Eh, mau apa kau?” Briana mendadak kebingungan, suaranya tidak pernah didengar oleh Duke Tristan—suaminya.Tristan terkekeh rendah, hingga menyisakan celana dengan belt yang menggantung di pinggangnya. “Aku lelah
Tristan merapikan jubah hitamnya dengan sentakan kasar, seolah sedang membuang sisa-sisa gairah yang masih membakar urat nadinya. Ia tidak melepaskan pandangannya dari Briana, tatapan yang menjanjikan bahwa interupsi ini hanyalah penundaan, bukan pembatalan."Pergilah mandi, Briana," perintah Trist
Pertempuran di jalur belakang berakhir secepat badai yang berlalu. Pasukan bayaran Elian yang tersisa melarikan diri ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan mayat-mayat yang segera tertutup salju. Tristan berdiri mematung di hadapan Briana, napasnya yang berat menguap di udara dingin. Tristan mengu
“A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Mag
Tristan terdiam, tangannya masih tertahan di kerah kemeja yang setengah terbuka. Ketegangan di antara mereka kembali memadat, lebih menyesakkan daripada udara di katedral tadi sore. “Bersikaplah natural, Briana. Mereka semua sedang melihat ke arah kita, kiss me…” bisik Tristan yang jelas tahu, Bri







