Home / Fantasi / MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN / 8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

Share

8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2026-02-06 20:11:29

“A-Ayah?”

Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal.

‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri).

Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak.

B
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

    “A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak. Briana menahan tawa yang hampir meledak di kerongkongannya. Melihat Lucius Maguy berjalan terengah-engah dengan baju zirah lengkap yang berderit di setiap langkah, ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan komedi di tengah drama operet yang serius. ​Cring. Cring. Cing. ​Suara logam yang saling beradu itu terdengar konyol di lorong kastil Ludwig yang elegan. Briana teringat akan karakter kaleng dalam cerita lama, namun ia segera memulihkan ekspresinya menjadi datar, meski binar jenaka di mat

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

    Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahka

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

    Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.​Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh.​"Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.​Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama.​"Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   5. SURAT BERSEGEL LILIN MERAH

    ​Tangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya.​"Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan."​Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu.​"Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?"​Briana tidak men

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   4. BRIANA ELEANOR MAGUY

    Langkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.​Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh.​"Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—"​Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke.​Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tida

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

    ​"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu." ​Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. ​Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status