Home / Horor / MISTERI TOKO KERAMAT / Bab 6 — Kitab Penjaga

Share

Bab 6 — Kitab Penjaga

Author: A. Rietha
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-22 13:39:21

"Awas kepala," kata Yasser mengingatkan Gatra saat mereka melewati lorong suram toko barang antik itu.

Gatra menunduk. Sebatang balok kayu melintang rendah di atas lorong, nyaris menyentuh ujung kepalanya. Lampu di langit-langit bersinar suram.

Ini lorong yang sama dengan yang ia lewati tadi menuju toilet. Bedanya, Yasser tidak berbelok ke pintu toilet. Ia terus berjalan sampai ke ujung, tempat sebuah tangga besi menurun ke bawah lantai yang gelap.

"Mau ke mana?" tanya Gatra.

"Basement. Kau akan tinggal di sana." Yasser mulai turun sambil tangan kananya meraih sakelar yang ada di dekat pintu basement. Nyala lampunya tidak sesuram lorong di atas.

Gatra melangkah pelan. Anak tangga yang terbuat dari besi hitam berderit keras begitu diinjak. Di bawah, Yasser kembali menekan sakelar dan sebuah bohlam kuning menyala.

Ruangan di basement itu cukup besar. Di dekat tangga ada ruang santai dengan sofa tunggal berlapis beludru. Di sisi sofa ada meja katu berukir yang cukup besar. Di sisi lain ada rak yang terisi buku, guci, dan kotak-kotak kayu berbagai ukuran.

Di sebelah rak ada pintu kayu hitam polos. Yasser membuka pintu hitam dan mempersilakan Gatra masuk ke dalamnya.

Di balik pintu hitam terdapat ruang kamar yang ukurannya tak seluas ruang sebelah. Ada ranjang kayu besar dengan kasur yang tertutup sprei kelabu, meja kayu, dan sebuah lemari tua. Tak ada jendela di ruangan basement itu. Hanya ada ventilasi sempit terpasang setinggi tanah. Lewat kacanya yang berdebu, Gatra bisa melihat bayangan kaki orang lewat di trotoar.

"Ini kamarmu," kata Yasser.

Gatra menurunkan tas ranselnya ke atas meja kayu dan duduk di tepi ranjang. Ranjangnya lebih empuk dan lebar daripada yang sering ia pakai di rumah susun.

"Tunggu di sini," kata Yasser. "Ada yang harus kuambil."

Yasser naik kembali ke atas. Sambil menunggu Yasser, Gatra mengelilingi kamar dan membuka lemari kayu kosong yang ada di sudut ruangan. Lemarinya cukup lebar untuk pakaian Gatra yang hanya beberapa potong.

Gatra mendengar langkah Yasser kembali ke basement. Tak berapa lama sosoknya muncul di ujung tangga dengan kedua tangan memeluk sebuah buku tebal.

Buku itu sampulnya kulit berwarna hitam dengan tulisan merah menyala, tebalnya melebihi kamus yang biasa Gatra lihat di perpustakaan sekolahnya dulu. Yasser meletakkannya di meja dengan hati-hati.

"Itu adalah Kitab Penjaga," katanya.

Gatra bangkit dan mendekat. Ia menyentuh sampulnya dengan ujung jari, lalu menarik tangannya. Buku itu terasa dingin namun tulisannya tajam saat diraba.

"Buku yang aneh," komentar Gatra tanpa sadar.

"Saat pertama kali melihatnya memang begitu," jawab Yasser singkat. "Nanti juga terbiasa."

"Aku harus ngapain dengan buku ini?"

"Kau harus membacanya. Halaman demi halaman, dari awal sampai akhir. Semua jawaban ada di sini. Tentang toko ini, tentang barang-barangnya, tentang kenapa kamu ada di sini." Yasser berhenti sebentar. "Aku dan Namira akan datang menuntunmu. Tapi kami tidak bisa menjelaskan semuanya sekaligus. Kitab ini yang akan menjelaskan semuanya padamu."

"Namira itu siapa?"

"Tunanganku. Dia juga penjaga toko, dia yang mengurus toko sehari-hari. Besok kau akan bertemu dengannya."

Gatra mengangguk, meski kepalanya masih dipenuhi dengan tanda tanya besar. Yasser menepuk bahu Gatra.

"Satu hal yang harus kauingat. Jangan lewati satu halaman pun. Aku serius. Kalau ada halaman yang hanya dipenuhi gambar, tetap baca. Kalau pun kau merasa bosan, tetap baca juga."

"Kenapa?"

"Karena Penjaga yang melewatkan satu halaman akan menyesal. Buku ini akan sangat membantumu. Istirahatlah, besok kita akan bertemu labi." Yasser menyerahkan buku itu ke tangan Gatra lalu berlalu meninggalkan kamar Gatra.

Ia naik kembali ke toko. Gatra mendengar langkahnya melewati lorong, lalu pintu di atas menutup.

Sepeninggal Yasser, Gatra hanya merasakan sunyi. Ia hanya seorang diri tanpa siapa pun di sana.

Gatra duduk di kursi kayu dan membuka kitab yang diberikan Yasser padanya. Beratnya membuat pahanya pegal. Halaman pertama buku hanya berisi ucapan selamat pada penjaga baru. Halaman kedua berisi gambar dan simbol-simbol yang tidak Gatra pahami artinya.

Gatra membuka halaman demi halaman kitab. Ia membaca kitab yang ternyata isinya tak membosankan. Saking asyiknya, Gatra nyaris menjerit saat sesuatu menyentuh kakinya.

Gatra melompat sampai kursinya bergeser. Di bawah meja, sepasang mata kuning menatapnya. Seekor kucing hitam duduk tenang di lantai, lalu berdiri dan menggosokkan badannya ke betis Gatra. Dari penampilannya yang gemuk Kucing itu terlihat bukan kucing liar.

"Kau kucing siapa? Dari mana kau masuk?" tanya Gatra.

Kucing itu mengeong pendek dan menggosokkan pipinya ke tulang kering Gatra. Gatra tertawa kecil, tawa pertamanya hari ini. Ia membungkuk dan mengusap kepala kucing itu. Bulunya halus dan hangat. Sedikit saja, hangat itu menenangkan.

"Setidaknya aku punya teman," gumamnya.

Kucing itu melompat ke ranjang, memutar dua kali, lalu meringkuk. Matanya tetap terbuka dan menatap Gatra, seolah menunggunya mulai membaca.

Gatra kembali membaca Kitab. Ia melanjutkan menekuni kalimat demi kalimat pada halaman yang terakhir ia buka.

Saat membalik ke halaman berikutnya, terdapat tulisan tangan seperti sebuah catatan harian. Catatan itu ditulis tangan dengan tinta hitam yang masih terlihat jelas meski kertasnya menguning. Tulisannya miring dan rapat, seperti ditulis orang zaman dulu.

Untuk penjaga berikutnya.

Jika kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak ada. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya, jadi simak baik-baik.

Toko ini bukan toko biasa. Di dalamnya ada ratusan benda antik. Kami menyebutnya relik. Relik-relik itu tersegel dan terkunci di Ruang Segel. Tugasmu adalah menjaganya jangan sampai segel itu rusak. Di dunia ini masih banyak relik yang belum tersegel. Tugasmu juga untuk menemukan dan menyegelnya. Jangan sampai relik terkutuk itu memakan korban.

Gatra berhenti. Bulu kuduknya berdiri. Ia melirik kucing hitam yang matanya masih menatap Gatra tajam.

Ia menunduk lagi.

Relik yang kautemukan harus kausimpan di Ruang Segel sebelum memakan banyak jiwa. Relik yang telah tersegel jangan sampai rusak karena nyawa manusia tak berdosa menjadi tanggung jawabmu jika segelnya rusak.

Gatra membaca catatan itu sekali lagi. Dan semakin ia pahami, semakin membuat nyalinya ciut. Telapak tangannya basah.

"Ini gila," katanya pelan.

Gatra hendak menutup kitab itu. Jarinya sudah menyentuh ujung kitab ketika ia sadar ada sesuatu yang aneh di bawah catatan itu. bagian ujung catatan itu nampak seperti bagian kertas kosong, namun saat tersentuh tangan terlihat guratan kasar tak terlihat yang membentuk sebuah kalimat.

Gatra menyapukan ujung jemarinya. Meraba dan mengira-ngira huruf apa yang tertoreh.

Namun, satu tiba-tiba titik hitam muncul di kertas. Titik itu melebar, kemudian memanjang, dan menjadi garis. Garis itu menekuk menjadi huruf. Tidak ada pena, tidak ada tangan. Tinta itu mengalir sendiri dari dalam serat kertas, seolah ada yang menulis dari sisi lain halaman.

S.

E.

L.

A.

M.

A.

T.

Gatra ingin menutup kitab itu. Namun, tangannya tidak mau bergerak. Huruf demi huruf terus muncul, lambat tetapi rapi.

Saat huruf terakhir selesai tertulis, tinta itu berhenti bergerak. Kalimatnya berbunyi.

Selamat datang, Penjaga Ketiga Belas.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 6 — Kitab Penjaga

    "Awas kepala," kata Yasser mengingatkan Gatra saat mereka melewati lorong suram toko barang antik itu.Gatra menunduk. Sebatang balok kayu melintang rendah di atas lorong, nyaris menyentuh ujung kepalanya. Lampu di langit-langit bersinar suram.Ini lorong yang sama dengan yang ia lewati tadi menuju toilet. Bedanya, Yasser tidak berbelok ke pintu toilet. Ia terus berjalan sampai ke ujung, tempat sebuah tangga besi menurun ke bawah lantai yang gelap."Mau ke mana?" tanya Gatra."Basement. Kau akan tinggal di sana." Yasser mulai turun sambil tangan kananya meraih sakelar yang ada di dekat pintu basement. Nyala lampunya tidak sesuram lorong di atas.Gatra melangkah pelan. Anak tangga yang terbuat dari besi hitam berderit keras begitu diinjak. Di bawah, Yasser kembali menekan sakelar dan sebuah bohlam kuning menyala.Ruangan di basement itu cukup besar. Di dekat tangga ada ruang santai dengan sofa tunggal berlapis beludru. Di sisi sofa ada meja katu berukir yang cukup besar. Di sisi lain a

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 5 — Rumah yang Terbakar

    Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko i

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 4 — Empat Puluh Hari

    ”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.”Ane

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 3 — Kedatangan Yasser

    Sudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.”Saudara Gatra?” tanya pria itu.”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?””Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hu

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 2 — Toko di Ujung Jalan

    Gatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan. Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot d

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 1 — Hari yang Buruk

    Gatra baru saja keluar dari gang sempit menuju jalan raya ketika bemper motornya menyerempet bagian belakang mobil sedan hitam.Bukan kecelakaan besar, hanya sedikit tersenggol. Tapi pengemudi mobil itu langsung berhenti mendadak dan turun dengan wajah merah padam.”Kamu nggak lihat apa gimana?!””Maaf, Pak. Saya nggak sengaja.””Nggak sengaja gimana? Lihat nih catnya!” Pria itu menunjuk goresan yang sebenarnya nyaris tak terlihat. ”Kamu tahu ini mobil baru?”Gatra melirik jam tangannya. Tujuh lewat empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan.”Pak, saya buru-buru. Kita tukeran kontak aja, nanti saya…””Enak aja mau kabur! Kamu kira aku bego?”Sepuluh menit habis hanya untuk berdebat di pinggir jalan. Pria itu akhirnya melepaskannya dengan gerutuan panjang setelah Gatra merelakan KTP-nya dibawa laki-laki ituGatra tancap gas secepat mungkin, tapi kemacetan lalu lintas pagi itu tidak peduli kalau Gatra terlambat. Ia sampai kantor jam delapan lewat dua puluh.Pak Hardi, atasannya, sudah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status