登入Jam di dinding baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Gatra menguap lebar sambil duduk di kursi belakang counter.
Suara pintu yang terbuka membuat Gatra mengangkat kepala. Seorang perempuan masuk sambil menenteng tas kain besar. Wajahnya bulat, rambutnya diikat tinggi. Ia berhenti di ambang pintu begitu melihat Gatra duduk di balik counter.
"Pagi. Pagi sekali kau sudah siap," sapanya.
"Aku belum tidur sejak semalam," jawab Gatra jujur.
Perempuan itu meletakkan tasnya di atas meja, lalu tersenyum.
"Kantung matamu sudah menunjukkannya. Aku Namira. Tunangan Yasser, sekaligus membantu mengurus toko ini."
"Gatra."
"Aku tahu. Yasser sudah cerita kalau pengganti Uzair akhirnya datang. Tugasku membantumu mengurus toko ini dan semua isinya. Jadi, kalau ada apa-apa, jangan sungkan bertanya padaku. Oke?"
"Oke."
"Bagus. Kalau begitu aku siap-siap dulu. Jam sembilan nanti kita buka tokonya."
Gatra bangkit. Kakinya pegal setelah semalaman duduk menekuri kitab. Ia mengikuti Namira untuk membersihkan toko sebelum buka.
"Tolong buka tirai etalasenya," kata Namira sambil memakai apron dan mengambil lap dari bawah meja counter.
Gatra melakukan perintah Namira tanpa membantah. Ia memperhatikan Namira mengelap kaca-kaca rak yang berisi keris kecil, boneka porselen, patung kayu, dan beberapa lampu minyak tua.
"Setiap hari banyak yang membeli barang antik di sini?" tanya Gatra.
"Lumayan. Toko ini tidak hanya menjual barang antik tapi juga membelinya. Kalau ada barang yang unik, kami akan datang dan membeli dari pemiliknya," jelas Namira.
"Barang yang kelihatannya sudah lama tak terjual di toko ini kelihatannya sudah cukup banyak, bahkan ada yang sudah berdebu. Apa gunanya membeli lagi?" tanya Gatra tak mengerti.
Namira berhenti di mengelap dan menatap Gatra. Banyak hal yang harus ia beritahukan pada penjaga baru ini. Hanya saja Namira tak tahu harus memulai dari mana.
"Kami membeli bukan hanya untuk sekadar menambah koleksi. Ada banyak barang yang kami beli untuk disegel supaya aman. Kau sudah membaca kitab tentang ruang segel kan? Banyak barang yang memang harus disegel dan disembunyikan karena sangat berbahaya. Namun, ada juga yang tidak. Lihat ini. Boneka porselen dengan benang merah seperti ini bukan dagangan. Tidak boleh dijual berapa pun tinggi orang menawar. Benda ini hanya sebagai pajangan."
"Kenapa tidak disimpan di ruang segel?"
"Meskipun cukup berbahaya, tapi boneka ini tak sampai mengambil korban jiwa. Makanya hanya sebagai pajangan. Boneka ini pun tidak sekadar dipajang tapi disimpan dalam rak kaca khusus," jelas Namira panjang lebar.
Mereka melanjutkan pekerjaannya dalam diam. Sesekali Namira menjelaskan sesuatu yang hanya ditanggapi Gatra dengan anggukan kepala padahal ia juga tak seberapa paham maksudnya.
Tepat pukul sembilan toko dibuka. Tak berapa lama lonceng di pintu berbunyi. Seorang ibu masuk membawa tas belanja, matanya langsung menyapu rak berisi guci-guci antik.
Gatra maju lebih dulu. "Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Ibu itu tidak menjawab. Ia berjalan melewatinya dan berhenti di depan sebuah guci di rak tengah. Ia mengangkatnya, memutarnya, lalu melihat label harga di bagian bawah guci.
"Itu tiga ratus lima puluh ribu, Bu," kata Gatra. "Guci tua, tapi polesannya bagus."
Ibu itu menoleh, tapi bukan kepada Gatra. Ia menatap Namira yang berdiri beberapa langkah di belakang Gatra. "Mbak, ini harganya bisa kurang?"
Gatra mengerjap. Namira tersenyum ramah pada pembeli pertama pagi itu.
"Bisa, Bu. Tapi nggak banyak?"
"Seratus lima puluh, ya?"
"Kalau segitu masih belum bisa, Bu. Bagaimana kalau ibu tambah sedikit lagi?"
Tawar menawar terjadi antara si ibu dan Namira. Tak butuh waktu lama ibu itu tertawa senang dan mengeluarkan uang.
Ia menyerahkannya kepada Namira, bukan kepada Gatra yang berdiri tepat di depannya. Gatra hanya bisa mencatat transaksi itu di buku, sementara ibu itu keluar sambil memeluk gucinya.
"Sombong sekali," gumam Gatra sebal.
"Tak usah diambil hati. Urusan pengunjung serahkan saja padaku. Kau tinggal mencatat penjualan hari ini," sahut Namira.
Menjelang siang, seorang mahasiswa masuk dengan ransel di punggung. Ia mencari buku sastra lama. Gatra langsung menyambutnya dan menunjuk rak yang penuh tumpukan buku-buku lama.
Mahasiswa itu mengangguk-angguk, tapi saat hendak bertanya harga, ia justru menengok ke arah meja kasir tempat Namira sedang duduk di sana.
"Mbak, yang ini berapa?"
"Dua puluh ribu."
"Wah, boleh kurang?"
"Itu sudah murah sekali, lho, Mas. Di tempat lain malah dua kali lipat hargnya."
Transaksi selesai dalam beberapa menit. Gatra berdiri di dekat dinding sambil memegang rak. Ia tak senang dengan pengunjung yang seolah-olah meremehkannya.
Pembeli ketiga datang. Seorang laki-laki tua berjas lusuh dengan tongkat hitam. Ia melihat-lihat barang antik di setiap rak. Kali ini Gatra sengaja diam di tempat dan menunggu sampai ditanya. Laki-laki tua itu berhenti di depan sebuah teko perunggu, lalu berkata pelan, "Ini kelihatannya sudah cukup tua, ya?"
Gatra segera maju. "Iya, Pak. Bahan perunggunya juga masih bagus. Katanya dari…"
Laki-laki itu mengangkat kepala, melewati bahu Gatra, dan menatap Namira. "Nak, berapa harga teko ini?"
Namira menyebut harga. Laki-laki itu membayar tanpa menawar dan mengucapkan terima kasih kepada Namira. Tongkatnya mengetuk lantai saat ia pergi.
Gatra menatap pintu yang tertutup. Ia tertawa kecil, getir. "Tiga orang. Tiga-tiganya tak menoleh sedikit pun padaku. Apa dikiranya aku tidak tahu apa-apa," gerutu Gatra makin kesal.
"Gatra."
"Aku bicara dengan jelas, kan? Suaraku terdengar, kan?"
"Terdengar olehku," kata Namira.
"Tapi tidak oleh mereka." Gatra mengusap wajahnya. "Aku dianggap seperti angin lalu saja. Padahal toko ini sekarang milikku. Apa mereka kira aku nggak bisa menjelaskan barang antik di sini seperti Pak Uzair?"
Namira tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang dan suaranya melunak saat menaggapi omelan Gatra.
"Orang lebih percaya pada wajah yang sudah mereka kenal. Aku sudah di sini bertahun-tahun. Kamu baru sehari. Itu saja."
"Kamu yakin cuma itu?"
"Yakin," jawab Namira cepat.
Gatra tak percaya denga ucapan Namira, tapi ia terlalu lelah dan kesal untuk berdebat. Ia mengangguk saja, lalu berjalan ke balik meja counter dan duduk.
"Aku ke belakang sebentar, menyeduh teh," kata Namira. "Jaga kasir. Kalau ada yang datang, panggil aku."
"Tentu. Aku kan cuma bisa panggil kamu."
Namira menatapnya sesaat, tidak membalas, lalu masuk ke ruang belakang.
Tak punya kegiatan lain, Gatra menarik kitab tebal dari laci meja paling bawah. Ia membawanya dari basement tadi pagi. Gatra membukanya di halaman yang terakhir ia tandai.
Huruf-huruf di dalam kitab itu tak beraturan. Bentuk dan ukuran hurufnya berbeda-beda. Di beberapa halaman menggunakan huruf mesin ketik kuno. Di halaman lain berupa tulisan tangan. Bahkan ada tulisan tangan yang susah dibaca karena ukurannya tertalu kecil dan kalimatnya saling berdempetan.
Gatra membaca satu halaman dengan tulisan tangan kuno yang melingkar-lingkar, tapi pikirannya melayang pada kejadian sebelumnya. Rasa kesalnya makin menjadi-jadi. Gatra sangat tidak suka disepelekan.
Gatra membalik halaman kitab itu. Lalu satu lembar lagi. Dan satu lagi.
Matanya hanya menyapu baris demi baris. Sesekali ia berhenti pada simbol-simbol yang tampak asing, lalu melanjutkan membaca begitu saja.
Kenapa semua orang lebih menyukai Namira? Pikiran itu menggerogoti kepalanya. Apa yang salah denganku?
Halaman demi halaman dibalik. Di satu lembar, ada bagian yang dicetak lebih tebal dan dikelilingi garis merah tipis. Gatra hanya melirik tanpa membaca dengan teliti. Ia terlalu sibuk dengan kekesalannya sendiri. Di tepi halaman itu ada tulisan kecil yang nyaris pudar, tapi ia tidak membaca peringatan itu.
Ia terus membalik kitab itu. Tanpa sadar bahwa ia baru saja melakukan satu hal yang tidak pernah boleh dilakukan penjaga toko ini: membuka kitab itu tanpa sungguh-sungguh membaca dan memahami isinya. Gatra tak tahu bahwa penyesalannya baru akan dimulai.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Gatra menguap lebar sambil duduk di kursi belakang counter.Suara pintu yang terbuka membuat Gatra mengangkat kepala. Seorang perempuan masuk sambil menenteng tas kain besar. Wajahnya bulat, rambutnya diikat tinggi. Ia berhenti di ambang pintu begitu melihat Gatra duduk di balik counter."Pagi. Pagi sekali kau sudah siap," sapanya."Aku belum tidur sejak semalam," jawab Gatra jujur.Perempuan itu meletakkan tasnya di atas meja, lalu tersenyum."Kantung matamu sudah menunjukkannya. Aku Namira. Tunangan Yasser, sekaligus membantu mengurus toko ini.""Gatra.""Aku tahu. Yasser sudah cerita kalau pengganti Uzair akhirnya datang. Tugasku membantumu mengurus toko ini dan semua isinya. Jadi, kalau ada apa-apa, jangan sungkan bertanya padaku. Oke?""Oke.""Bagus. Kalau begitu aku siap-siap dulu. Jam sembilan nanti kita buka tokonya."Gatra bangkit. Kakinya pegal setelah semalaman duduk menekuri kitab. Ia mengikuti Namira untuk membersihkan tok
"Awas kepala," kata Yasser mengingatkan Gatra saat mereka melewati lorong suram toko barang antik itu.Gatra menunduk. Sebatang balok kayu melintang rendah di atas lorong, nyaris menyentuh ujung kepalanya. Lampu di langit-langit bersinar suram.Ini lorong yang sama dengan yang ia lewati tadi menuju toilet. Bedanya, Yasser tidak berbelok ke pintu toilet. Ia terus berjalan sampai ke ujung, tempat sebuah tangga besi menurun ke bawah lantai yang gelap."Mau ke mana?" tanya Gatra."Basement. Kau akan tinggal di sana." Yasser mulai turun sambil tangan kananya meraih sakelar yang ada di dekat pintu basement. Nyala lampunya tidak sesuram lorong di atas.Gatra melangkah pelan. Anak tangga yang terbuat dari besi hitam berderit keras begitu diinjak. Di bawah, Yasser kembali menekan sakelar dan sebuah bohlam kuning menyala.Ruangan di basement itu cukup besar. Di dekat tangga ada ruang santai dengan sofa tunggal berlapis beludru. Di sisi sofa ada meja katu berukir yang cukup besar. Di sisi lain a
Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko i
”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.”Ane
Sudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.”Saudara Gatra?” tanya pria itu.”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?””Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hu
Gatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan. Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot d







