LOGINKini, Mister Konstantin bertugas 'melayani' para tamu kehormatan, duduk di ujung meja panjang jamuan sebagai kepala keluarga Volkov yang agung dan disegani.Suasana jamuan yang awalnya tenang mendadak hening begitu Mister Konstantin berdiri di depan kursi duduknya, mengangkat tangan kanan, memberi gestur agar para tamu sejenak memperhatikan."Di hari baik ini, sebelum kita menyantap hidangan lezat yang tersaji, saya ingin menyampaikan satu hal yang sederhana... tetapi mungkin efeknya tidak sederhana," ucap Mister Konstantin dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa, pun bibirnya mengulum senyuman tipis.Perdana Menteri yang duduk tidak jauh dari posisi Mister Konstantin langsung tertawa kecil, "Sejak kapan urusan keluarga Volkov menjadi sederhana, Mister Konstantin? Cepatlah katakan, kasihan pengantin kita sudah kelaparan dan setelah ini mereka harus beristirahat, bukan?" seloroh sang pejabat tinggi itu yang langsung disambut gelak tawa renyah dari para tamu elit lainnya.Te
Abah Rizal membawa Sarah melangkah ke hadapan Ethan, yang sudah berdiri menanti di atas panggung dengan tatapan lurus, seolah tak berkedip memandang wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya secara agama dan hukum negara Rusia.Semua tamu dalam ruangan turut berdiri memberikan penghormatan pada Sarah dan Abah Rizal. Di sudut ruangan, alunan musik orkestra klasik mengalun lembut, membuat suasana terasa begitu khidmat di setiap langkah Abah Rizal membimbing putri asuhnya tersebut."Ehem..." Abah Rizal berdehem pelan untuk melegakan tenggorokan sekaligus 'mengingatkan' Ethan agar ingat cara berkedip begitu mereka telah tiba di hadapan Ethan."Saya memang bukan ayah kandungnya, tapi sejak kecil sayalah yang mengasuhnya dengan penuh cinta kasih. Jika kelak ada hal dari Sarah yang kurang berkenan di hati Mister Volkov, mohon beritahu saya agar saya bisa menasihatinya. Namun..." Abah Rizal berkata dalam bahasa Rusia yang lancar.Abah Rizal menghentikan ucapannya sejenak, melirik sekilas
Di luar ruang tunggu privat, suasana aula utama terasa begitu khidmat, privat, namun memancarkan kekuasaan mutlak para kaum elit.Dewa duduk bersanding dengan Brian di barisan kursi tamu, tepat di belakang kursi Mister Konstantin, Tachi dan Abah Rizal.Mata Dewa diam-diam memindai sekeliling dengan decak kagum, sementara Brian membisikkan detail-detail eksklusif tamu yang hadir.Hanya ada 50 kursi tersusun rapi di ruangan itu. Kursi-kursi tersebut diisi secara eksklusif oleh keluarga inti, para pemimpin klan bangsawan Rusia terkemuka, dua jenderal besar militer federal, serta seorang perdana menteri yang hadir sebagai wujud penghormatan mutlak kepada pengaruh raksasa keluarga Volkov."Apakah mereka akan mengadakan rapat kenegaraan di sini?" bisik Dewa yang ditanggapi kekehan rendah Brian di sebelahnya. "Pria itu memang layak untuk sombong dan dingin... akad nikahnya saja dihadiri para tokoh hebat seperti ini!" dengkus Dewa seraya melirik Ethan di atas panggung dengan senyum takjub.
Sergei membawa Sarah dan Ethan pulang ke mansion, sementara Rubi dan Owen langsung berpamitan kepada Sarah dan undur diri untuk menuntaskan sisa urusan mereka.Di ruang istirahat staf Volkov Holdings, Brian tertinggal seorang diri, fokus merekam adegan menjijikkan di hadapannya. Igor dan Ksenia masih bergulat liar di atas karpet. Bibir wanita itu tak henti-hentinya mendesah, menyerukan nama Ethan dengan penuh nafsu."Kau ingin mencicipinya?" tawar Igor menyeringai lebar, mengelap air liur yang membanjir di sudut bibirnya sembari menoleh pada Brian yang tengah mengarahkan kamera ponsel untuk menyorot bagian tubuh pria itu yang keluar-masuk pada kemaluan Ksenia."Lanjutkan saja! Aku tidak tertarik pada wanita murahan!" dengkus Brian, mati-matian menahan rasa mual yang bergelung hebat di dalam perutnya, alih-alih merasa terangsang.Gigi Igor yang tampak kehitaman menyeringai puas ke arah kamera, sementara air liurnya terus meleleh. Tubuh besar pria itu sudah basah oleh keringat, mendesak
Setelah mengantarkan Catherine, Ali dan Dewa ke hotel yang tentu saja harus beristirahat dari perjalanan panjang mereka dulu sebelum esoknya ikut dalam persiapan terakhir pernikahan, Ethan membawa Sarah dan Tachi pulang ke mansion.Tetapi, baru saja Ethan mematikan mesin mobil di halaman utama mansion ketika ponselnya berdering nyaring.Setelah menjawab panggilan singkat itu, Ethan menoleh kepada Sarah dan Tachi, "Ada pekerjaan mendesak yang harus kutangani dulu di kantor. Brian masih sibuk dengan urusan lain," ucap Ethan pelan menatap Sarah."Aku mengerti. Pergilah," tanggap Sarah tenang.Sarah mengajak Tachi turun dari mobil, lalu berjalan beriringan masuk ke dalam mansion sementara SUV hitam Ethan langsung melaju meninggalkan halaman luas tersebut.Tidak lama berselang, Sarah yang sudah berganti pakaian santai melihat Tachi tengah bercengkrama riang bersama Bu Indar. Anak lelaki itu duduk antusias di atas meja marmer pantry sambil menikmati camilan khusus yang dibuatkan Bu Indar.S
Jelang hari pernikahan Sarah dan Ethan yang semakin dekat, Catherine, Ali, serta Dewa akhirnya tiba di Moskow.Sarah, Tachi, Ethan, dan para pengawal langsung menjemput ketiganya secara langsung di bandara. Sementara itu, Brian yang masih belum tahu tentang pernikahan Catherine dan Ali, tengah bersenang-senang membeli berbagai keperluan di pusat perbelanjaan, di sela-sela kesibukannya menyiapkan hotel dengan kamar terbaik bagi Catherine, Ali, dan Dewa untuk menginap sebagai 'keluarga' Sarah."Cathy!" pekik Sarah begitu melihat Catherine keluar dari pintu khusus kedatangan, tampak celingak-celinguk memperhatikan sekeliling.Catherine mengangkat wajahnya, lalu wanita cantik itu langsung berlari riang ke arah Sarah yang menyongsongnya dengan langkah cepat."Ra! Aku di Moskow!" pekik Catherine girang, langsung berpelukan erat dengan Sarah yang tertawa lepas menyambut sahabatnya itu, bagaikan dua gadis kecil. "Selamat datang di Moskow, iparku tersayang!" ujar Sarah setelah merenggangkan p
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se







