Mag-log inPara tamu membaur, saling mengobrol, dan bersulang minuman sambil menikmati hidangan mewah yang terus disajikan oleh para pelayan tanpa henti setiap kali piring saji mulai menipis, juga berkeliling membawa baki minuman untuk 300 undangan yang semuanya hadir bersama pasangan masing-masing.
Catherine dan Dokter Ali sudah berada di dalam ruangan, bergabung bersama Dewa dan Brian di meja bundar berlapis taplak sutra.
Para tamu membaur, saling mengobrol, dan bersulang minuman sambil menikmati hidangan mewah yang terus disajikan oleh para pelayan tanpa henti setiap kali piring saji mulai menipis, juga berkeliling membawa baki minuman untuk 300 undangan yang semuanya hadir bersama pasangan masing-masing.Catherine dan Dokter Ali sudah berada di dalam ruangan, bergabung bersama Dewa dan Brian di meja bundar berlapis taplak sutra."Lady Catherine, silakan nikmati hidangannya dulu. Saya mau menemui Mister Konstantin," tutur Brian setelah meminta pelayan menghidangkan makanan untuk Catherine, Dokter Ali, serta Dewa.Brian memang sengaja mencari alasan untuk 'menyingkir' sejenak guna menata hatinya yang perih melihat Dokter Ali begitu posesif merangkul pinggang Catheri
"Kau tak mengenalku?" dengkus Viktoria sambil terus melangkah maju, yang langsung dihadang oleh Dewa dengan merentangkan kedua tangan lebar-lebar."Ya, saya tidak mengenal Anda berdua. Karena itu, mohon perlihatkan undangan!" ucap Dewa tak gentar menghadapi sikap arogan Viktoria dan Ksenia."Aku adalah Viktoria, ibunya Ethan Volkov..."Belum sempat Viktoria merampungkan kalimatnya, Brian yang sudah memanggil beberapa pengawal segera menahan wanita itu dan Ksenia.Ksenia langsung menjerit jijik begitu salah satu pengawal menyentuh pundaknya."Jangan sentuh aku! Aku saudarinya Ethan Volkov!" seru Ksenia sambil berdecih mual, menatap tajam penuh keangkuhan kepada para pengawal yang mengepung ia dan ibunya.Dewa sedikit mengernyit ragu, menoleh pada Brian yang melangkah ke sampingnya, lalu menatap Viktoria dan Ksenia dengan pandangan datar tanpa emosi."Anda memang ibunya Bos Ethan, tetapi ibu tiri yang paling tak ingin dilihat oleh seluruh keluarga besar Volkov di pesta ini. Silakan perg
Sarah memiringkan tubuhnya, menangkup wajah Ethan dan memaksa pria itu menatap matanya, "Aku juga ikut klimaks tadi, Ethan. Aku tidak kecewa.""Kau bilang sangat suka bercinta...""Kalau begitu, mari kita lakukan lagi... milikmu bahkan sudah mengeras lagi. Mau?"Netra biru Ethan langsung berkabut, menatap lekat manik mata Sarah saat jemari lembut istrinya mulai mengelus perlahan batangnya yang kembali menegang."Kau benar-benar membuatku gila, Zaika," bisik Ethan serak. Sarah memberikan kecupan kilat di sudut bibir Ethan tanpa memberi kesempatan suaminya itu membalas dengan lumatan. Bibir Sarah bergerak turun, mengecup dan menjilat lembut tonjolan di leher Ethan, membuat lelaki itu mengerang manja sedikit parau."Oh, Zaika... kau benar-benar!" Ethan membalikkan tubuh Sarah yang tertawa nakal, kembali merentangkannya di atas ranjang dan menaungi tubuh istrinya itu.Sarah mengangkat sebelah kakinya, melingkarkannya di pinggang liat Ethan untuk menuntun pria itu masuk kembali ke dalam k
"Lelah?" tanya Ethan begitu ia dan Sarah sudah berada di dalam kamar suite bulan madu mereka."Sedikit. Tapi kekenyangan... banyak." jawab Sarah tertawa kecil ditanggapi Ethan juga tertawa rileks.Sarah memperhatikan ruang suite yang begitu luas dan terbagi ke dalam beberapa ruangan.Di hadapan mereka terdapat ruang tamu yang lapang, lengkap dengan sofa empuk yang di atas meja utamanya tersedia wadah penghangat, membuat makanan di dalamnya tetap terjaga kehangatannya hingga enam jam. Tak jauh dari sana, sekeranjang buah-buahan tropis yang segar tertata rapi, bersanding dengan bar mini elegan yang siap digunakan untuk meracik berbagai minuman hangat."Kau ingin kubuatkan kopi, teh, atau susu?" tawar Ethan saat melihat pandangan Sarah tertuju pada bar mini tersebut.Sarah menoleh, mengulum senyum tipis di bibirnya, "Sepertinya segelas susu hangat bisa membuat kita beristirahat sejenak, hm?"Sarah melangkah mendekati bar mini, mengisi termos portabel dengan air mineral, lalu menempatkann
Kini, Mister Konstantin bertugas 'melayani' para tamu kehormatan, duduk di ujung meja panjang jamuan sebagai kepala keluarga Volkov yang agung dan disegani. Suasana jamuan yang awalnya tenang mendadak hening begitu Mister Konstantin berdiri di depan kursi duduknya, mengangkat tangan kanan, memberi gestur agar para tamu sejenak memperhatikan. "Di hari baik ini, sebelum kita menyantap hidangan lezat yang tersaji, saya ingin menyampaikan satu hal yang sederhana... tetapi mungkin efeknya tidak sederhana," ucap Mister Konstantin dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa, pun bibirnya mengulum senyuman tipis. Perdana Menteri yang duduk tidak jauh dari posisi Mister Konstantin langsung tertawa kecil, "Sejak kapan urusan keluarga Volkov menjadi sederhana, Mister Konstantin? Cepatlah katakan, kasihan pengantin kita sudah kelaparan dan setelah ini mereka harus beristirahat, bukan?" seloroh sang pejabat tinggi itu yang langsung disambut gelak tawa renyah dari para tamu elit lainnya.
Abah Rizal membawa Sarah melangkah ke hadapan Ethan, yang sudah berdiri menanti di atas panggung dengan tatapan lurus, seolah tak berkedip memandang wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya secara agama dan hukum negara Rusia.Semua tamu dalam ruangan turut berdiri memberikan penghormatan pada Sarah dan Abah Rizal. Di sudut ruangan, alunan musik orkestra klasik mengalun lembut, membuat suasana terasa begitu khidmat di setiap langkah Abah Rizal membimbing putri asuhnya tersebut."Ehem..." Abah Rizal berdehem pelan untuk melegakan tenggorokan sekaligus 'mengingatkan' Ethan agar ingat cara berkedip begitu mereka telah tiba di hadapan Ethan."Saya memang bukan ayah kandungnya, tapi sejak kecil sayalah yang mengasuhnya dengan penuh cinta kasih. Jika kelak ada hal dari Sarah yang kurang berkenan di hati Mister Volkov, mohon beritahu saya agar saya bisa menasihatinya. Namun..." Abah Rizal berkata dalam bahasa Rusia yang lancar.Abah Rizal menghentikan ucapannya sejenak, melirik sekilas
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







