Share

7. Menemui Rentenir Kejam

Author: Freyaa
last update publish date: 2026-06-13 23:41:11

Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya

"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya dengan senyum tipis.

"Hore! Di restoran western yang waktu itu ya, Mom?" seru Tachi antusias. 

Anak Jepang memang sangat menyukai menu barat.

Abah Rizal dan Bu Indar saling berpandangan, lalu mengangguk senang melihat keceriaan Tachi dan binar di mata Sarah, meskipun rona wajah putri angkat mereka itu masih tampak sedikit pucat.

Usai menyantap makan siang di restoran western langganan Sarah, mereka melangkah keluar menuju pelataran parkir.

"Kamu yakin akan langsung pulang ke rumahmu, Nak? Tidak mau kembali ke rumah kita dulu aja?" tanya Bu Indar dengan sorot mata cemas.

"Ibumu benar, Sarah. Pulanglah ke rumah kita. Abah kuatir kondisi fisikmu bisa drop lagi ..." Abah Rizal ikut menimpali.

Sarah tersenyum haru. Ia meraih jemari Abah Rizal dan menggenggamnya hangat, "Bukankah Abah yang selalu mengajarkan Sarah untuk tidak takut pada apa pun selama kita punya Allah?" ucapnya lembut, berusaha menenangkan. "Sarah harus segera pulang ke rumah itu, Abah. Ada beberapa hal penting yang harus Sarah selesaikan sendiri, termasuk mengurus perceraian."

Abah Rizal menghela napas panjang, lalu mengusap puncak kepala putri angkatnya itu, "Mengenai perceraianmu dengan Rafli, nanti biar Abah yang meminta pengacara perusahaan kita untuk mengurus seluruh berkasnya."

"Terima kasih banyak, Abah," ujar Sarah lega.

Mata Sarah menangkap mobil yang dikendarai Pak Donny baru saja memasuki halaman restoran untuk menjemput.

Sebelum mereka berpisah, Sarah menahan langkah Abahnya, "Abah ...Sarah boleh pinjam mobil Camry tua Abah dulu? Mobil yang dibawa Pak Donny terlalu mencolok untuk dilihat Rafli."

Abah Rizal mengangguk mengerti, langsung merogoh saku dan menyerahkan kunci mobil sedan lawasnya ke tangan Sarah. Di sebelahnya, Bu Indar masih menatap Sarah dengan tatapan rumit yang sulit diartikan.

"Tachi ikut Mommy dulu ya, Nenek, Kakek," pamit Tachi sopan sembari menggenggam erat jemari ibunya.

Sarah mengecup kedua pipi Bu Indar bergantian. "Jangan khawatir, Ibu. Sarah dan Tachi akan baik-baik saja. Doakan kami terus ya," bisiknya pelan.

"Ingat untuk langsung menghubungi Ibu atau Abah jika terjadi sesuatu di sana, oke?" pinta Bu Indar, yang langsung dijawab Sarah dengan anggukan cepat.

Sarah mengemudikan sedan Camry milik Abah Rizal dengan tenang. Walau mobil itu sudah berumur, mesinnya masih sangat terawat dan sanggup melaju kencang membelah jalanan ibu kota.

"Kita mau pergi ke mana, Mom?" tanya Tachi saat menyadari rute yang mereka lalui berlawanan arah dengan jalan pulang.

"Mommy mau menemui seseorang sebentar. Nanti Tachi tunggu di dalam mobil aja ya," jawab Sarah, yang langsung dihadiahi anggukan patuh dari anak lelaki cerdas itu.

Tak lama kemudian, kendaraan yang dikemudikan Sarah mulai memasuki kawasan industri tua yang sepi. Di kanan-kiri jalan, berjejer bangunan ruko terbengkalai yang sudah tidak lagi digunakan. Suasananya tampak mati.

Sarah menepikan mobil, lalu meraih ponselnya. Sebuah pesan singkat ia kirimkan ke nomor Dewa, rentenir kejam yang kontaknya didapatkan dari Catherine kemarin.

“Saya sudah sampai di titik lokasi. Di mana kantor Anda?”

Tak lama kemudian pesan balasan masuk ke ponsel Sarah, [Terus lurus sampai ujung, lalu belok kanan. Masuk ke pintu besi yang dicoret tanda X warna hitam.]

Sarah menelan ludah dan tengkuknya sempat meremang melihat sekelilingnya yang benar-benar sunyi tanpa ada tanda-tanda kehidupan manusia. Namun, demi memberikan pelajaran yang tak akan pernah dilupakan oleh Rafli serta keluarga benalunya, Sarah mengencangkan geraham. Ia menolak untuk gentar.

Sepanjang perjalanan tadi, ponsel Sarah yang sedang diisi daya terus berdering berulang kali, menampilkan nama Rafli. Namun, Sarah mengabaikannya.

Melihat bangunan tua bertanda X di depan mata, rasa protektif Sarah sebagai ibu mendadak bangkit. "Tachi, ikut Mommy masuk aja yuk. Agak seram kalau kamu ditinggal di mobil sendiri," bisik Sarah.

Tachi justru tertawa lebar, sama sekali tidak memperlihatkan raut takut atau kuatir. "Oke, Mommy!"

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan semen ekspos yang lembap, mereka langsung dihadang oleh seorang pria berbadan tegap.

"Saya mau bertemu Dewa," ucap Sarah lugas, menatap langsung pada pria di depannya.

Pria itu memperhatikan penampilan rapi Sarah dan Tachi sejenak dari ujung kepala hingga kaki. Tanpa bersuara, ia mengangguk dan membalikkan badan, memberikan isyarat dengan lambaian kepala agar Sarah mengikutinya berjalan ke area belakang.

Sarah mempererat genggamannya pada telapak tangan Tachi. Menariknya, anak lelaki yang sedang berulangtahun itu justru melangkah santai dengan mata bulatnya yang sibuk memindai sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu.

Begitu melewati sekat pintu tebal di bagian dalam, pemandangan di depan mereka berubah 180 derajat. Suasana kumuh di luar lenyap seketika, digantikan oleh ruangan interior mewah bergaya industrial-modern. Lantainya dilapisi karpet tebal, ada deretan sofa kulit premium, bar minuman mewah di sudut ruangan, serta beberapa pria berwajah sangar dengan tubuh penuh tato yang sedang duduk melingkar bermain kartu.

"Lady Sarah ..."

Sebuah suara bariton menyapa dari arah sofa utama. Seorang pria muda mengenakan kemeja putih bersih dengan tiga kancing atas dibiarkan terbuka tampak duduk santai sembari memegang sebatang rokok.

"Dewa?" balas Sarah, meneliti sosok di depannya.

Pria muda itu tersenyum tipis, lalu mengangguk mengiyakan. Kening Sarah sedikit mengernyit. Penampilan pria di hadapannya ini sangat jauh dari bayangannya tentang sosok rentenir kejam yang ditakuti di dunia hitam, meskipun aura dingin yang menguar dari tatapan matanya tidak bisa dibohongi.

Dewa mempersilakan Sarah dan Tachi untuk duduk, "Katakan, ada keperluan apa Anda menemui saya?" tanya Dewa langsung ke inti persoalan, seraya mematikan rokoknya di asbak. 

Sarah berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang mendadak kering. Ia menegakkan punggung, menatap lekat-lekat ke dalam netra Dewa yang kelam. "Aku butuh uang tunai satu miliar rupiah. Kudengar, kau bisa meminjamkannya dengan cepat."

Dewa terkekeh pendek, terdengar meremehkan. Matanya memindai sosok Sarah yang tetap menatapnya dengan dagu terangkat tegas. Ia juga melirik ke arah Tachi, yang anehnya, duduk dengan sangat santai seolah mereka sedang bertamu ke rumah kerabat biasa.

Melihat Dewa yang hanya diam mematung, gestur tubuh Sarah bergerak hendak bangkit dari sofa. "Apakah kau bisa atau tidak? Jika tidak, saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu Anda. Saya akan mencari pinjaman di tempat lain."

"Tunggu!" potong Dewa cepat.

Tangan Dewa bergerak memberi kode agar Sarah kembali duduk di tempatnya. Seringai tipis muncul di wajah tampan pria itu, "Apa jaminan yang Kakak bawa? Uang satu miliar tentu bukan jumlah yang sedikit." tanyanya dengan nada sopan juga terdengar akrab memanggil 'kakak' pada Sarah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Disava lasmawati
astagaaaa yang bener aja kamu dewa minta 1m kek minta daun tinggal metik . smoga aja bantuanmu itu berhasil bikin sarah aman dan dilindungi
goodnovel comment avatar
Paulina
tunggu sebentar lagi Rafli permainan baru saja di mulai dan kamu akan menikmati pertunjukan baru dari Sarah
goodnovel comment avatar
Paulina
1 M hei dewa astaga kira2 juga kalo minta bayaran ya kali uang turun dari langit ini astaga kamu ya ini, tapi penasaran sih ini kayanya Sarah bakal lakukan apa pun untuk kasih pelajaran buat Rafli ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    120.

    Dokter dan perawat terkejut melihat Ethan sudah siuman ketika mereka masuk untuk melakukan kunjungan pagi, setelah Brian memberitahukan kedatangan tim medis tersebut dan Sarah membukakan pintu ruangan."Kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh dan intensif... karena Mister Volkov siuman jauh lebih cepat dari waktu yang diperkirakan."Ethan tersenyum tipis. Ia meraih telapak tangan Sarah yang berdiri di samping brankarnya, tak membiarkan wanita itu menjauh seinci pun, terutama saat para perawat laki-laki di dalam ruangan diam-diam memperhatikan Sarah dengan tatapan memuja."Ditemani wanita yang menyenangkan seperti calon istriku ini, tentu saja saya tidak ingin berlama-lama tidak sadarkan diri," tutur Ethan santai. Namun, tak ada senyum atau tatapan lembut untuk siapa pun di ruangan itu selain hanya pada Sarah.Brian yang berdiri di bagian belakang para team medis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, turut merasa bosnya berubah 'aneh' setelah siuman dari koma. Terutama kini, Ethan m

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    119.

    Tiga puluh menit sebelum ibadah Subuh, alarm di ponsel Sarah berdering pelan. Wanita itu bergerak cepat mematikannya agar tidak mengganggu tidur Ethan.Di luar jendela yang gordennya sengaja dibiarkan terbuka lebar, langit Moskow masih pekat digelayuti dinginnya awal musim salju.Sarah melepaskan lengan Ethan yang melingkari tubuhnya secara perlahan. Lalu menjejakkan kaki ke lantai yang dingin, melangkah samar menuju kamar mandi.Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian di dalam kamar mandi area VVIP tersebut, Kini Sarah mengenakan baju kaus tebal berleher tinggi yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan pinggang minimalis, wanita itu pun bergegas menunaikan ibadah Subuhnya dengan khusyuk.Kini, usai beribadah dan memanjatkan doa keselamatan untuk orang-orang tersayang, serta tak lupa mendoakan kebahagiaan mendiang Sh

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    118.

    Sarah seperti merasa sedang bermimpi saat telapak tangan seseorang membelai kepalanya dengan sangat lembut."Ethan..." gumam Sarah lirih dengan kelopak mata masih terpejam rapat.Tiba-tiba Sarah tersentak dan terbangun, mengangkat wajahnya dari tepi brankar seraya berseru sedikit nyaring, "Ethan...!"Tubuh Sarah seketika seolah membeku. Mulutnya sedikit terbuka dan kelopak matanya terbeliak, beradu pandang langsung dengan manik biru gelap milik Ethan yang sudah terbuka menatapnya dengan sudut bibir mengukir senyum tipis."Ethan... kau... sudah bangun?" Sarah berkata terbata-bata, "Ta-tapi ini belum 48 jam..." cicitnya lirih.Sarah bergerak hendak menekan tombol pemanggil perawat dan dokter, tetapi tangan Ethan yang tidak dipasangi jarum infus bergerak cepat mencekal lembut pergelangan tangan Sarah."Aku baik-baik aja. Besok pagi aja panggil mereka," bisik Ethan dengan suara sedikit parau."Apakah kau... baik-baik aja? Apakah ada yang luka selain ini?" tanya Ethan pelan dengan sorot ma

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    117.

    Baru saja mereka selesai makan malam, tiba-tiba ponsel Sarah berdering nyaring. Pada layarnya tertera nama Grandma."Halo, Grandma..."[Sarah, Sayang... helikopter sudah menuju rumah sakit. Kamu istirahat pulang ya, Nak. Bawa Tachi dan Indar. Biarkan Brian yang menjaga Ethan di rumah sakit.]Belum sempat Sarah menjawab, ponsel di tangannya sudah diambil oleh Mister Konstantin. "Maria..."[A-ayah...?]"Ya, Maria. Ini aku. Kau terkejut kenapa aku bisa bersama Sarah?" dengkus Mister Konstantin sedikit kesal. "Jika Brian tidak datang ke kediamanku, mungkin kau tak akan memberitahuku bahwa cicitku ada di Moskow, bukan?""Ethan bahkan berencana menikahi Sarah dan pestanya akan dilangsungkan sebulan lagi, tapi k

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    116.

    Tachi menoleh memandang Sarah dengan sorot mata tajam menunggu jawaban, begitu pula Bu Indar dan Brian. Sarah melepaskan genggaman tangan Mister Konstantin, kemudian memeluk pundak kakek buyutnya itu dengan mesra, seperti yang biasa ia lakukan pada Abah Rizal ketika sedang bermanja. "Aku mau, Praded. Aku mau menikah dengan Ethan. Bahkan begitu dia siuman pun, aku siap untuk dinikahi olehnya jika dia mau." "Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak. Praded akan pastikan pernikahanmu dengan Ethan berjalan lancar dan kalian hidup bahagia bersama." Mister Konstantin menepuk-nepuk sayang tangan Sarah yang melingkar di depan dadanya. Sudah sangat lama Mister Konstantin tak merasakan pelukan hangat dari seseorang, terutama sejak Anna, yang dulu sangat senang bermanja padanya, memilih menikah dengan Raphael hingga keluar dari keluarga Volkov karena Madam Maria tidak menyetujui hubungan kedua orang tua Sarah tersebut. Tanpa menoleh, Mister Konstantin berkata tenang namun penuh penekanan,

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    115.

    Mister Konstantin perlahan mengendurkan kekehannya, lalu matanya berganti menatap Sarah dengan sorot yang sangat lembut. "Dari mana kau mendapatkan racikan Serein Blue ini, Nak?" tanya Mister Konstantin pada Sarah, yang segera mendekat ke arah kakek buyutnya itu. "Dulu saat kecil... Ibu dan Abah sering memberikan berbagai jenis bunga padaku, sampai akhirnya aku menyukai salah satunya. Bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba aku ingin meracik parfum, dan parfum pertama yang aku buat adalah ini, yang kuberi nama Serein Blue," tutur Sarah menceritakan awal mula ia meracik parfum pada Mister Konstantin seraya melirik Bu Indar yang tersenyum tipis. "Serein Blue..." gumam Mister Konstantin mengulang perkataan Sarah. Pria tua yang masih terlihat sehat dan berwibawa tersebut kemudian melirik Bu Indar yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Indar, Anna gagal membuat Siniy Seraphim, bukan?" tanya Mister Konstantin dengan senyum tipis. "Maaf, Mister... Lady Anna tidak gagal. Hanya kurang

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    2.

    Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    1.

    "Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    6.

    Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    5.

    Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status