MasukSarah terduduk di tepi ranjang dalam kamarnya. Sentuhan kenangan tentang orang tua yang tak pernah sempat ia dekap membuat dadanya berdenyut nyeri.Tak lama kemudian, pintu kamar terdorong pelan. Madam Maria melangkah masuk dengan tatapan serba salah dan penuh penyesalan. Wanita tua itu mendekat, lalu duduk di samping Sarah dan membawa tubuh cucunya ke dalam pelukan hangat yang erat."Maafkan Grandma, Sayang... Maafkan Grandma yang sudah membuatmu menangis..." bisik Madam Maria lirih, suaranya bergetar menahan sebak.Sarah menyandarkan kepalanya di bahu sang nenek, membiarkan air matanya membasahi pakaiannya."Semua ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Grandm
Matahari masih memancarkan sinarnya yang terang menjelang sore. Abah Rizal berjalan santai mengelilingi pekarangan rumahnya yang telah dirapikan oleh para tetangga. Namun, mereka tampaknya sengaja tidak memetik buah-buahan dan sayuran yang sudah siap panen."Kakek, jambu airnya sudah merah-merah sekali!" pekik Tachi antusias seraya membuntuti di belakang Abah Rizal.Abah Rizal tersenyum bahagia melihat binar ceria di mata Tachi yang akan selalu menjadi cucunya. Ia memetik sebuah jambu air merah ranum dan menyerahkannya kepada Tachi. Anak lelaki itu dengan sigap membawanya ke keran halaman, mencucinya hingga bersih, lalu menggigitnya diliputi rasa gembira."Manis, Kek!" seru anak lelaki itu riang.Air jambu yang manis meleleh di sudut bibir Tachi saat ia mengunyahnya dengan ekspresi begitu nikmat.
Setelah seluruh rangkaian urusan penggabungan perusahaan di gedung Tashiro Corp dan liburan awal tahun usai, kini saatnya Sarah beserta rombongan keluarga besar bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.Pagi itu, suasana haru mewarnai private lounge Tokyo Disneyland hotel tempat mereka menginap. Sarah dan keluarga besar saling berpamitan dengan keluarga Sato, keluarga Keisuke, beserta anak-anak mereka yang selama liburan menjadi teman bermain Tachi. Pelukan hangat, senyuman rasa syukur, dan ucapan terima kasih tulus terucap di antara mereka atas kebersamaan yang begitu indah."Nee-chan titip perusahaan, ya, Eiji," ucap Sarah seraya menyalami Eiji, yang langsung disambut anggukan sopan oleh pria muda itu.Di rapat restrukturisasi kemarin, Sarah menunjuk Eiji sebagai asisten Mister Hiraga di Tashiro Corp untuk membantu mengelola dua perusahaan sekaligus, Tashiro Corp dan V.M Company. Tak hanya posisi strategis, Sarah juga telah menyiapkan fasilitas lengkap berupa unit apartemen nyaman di pu
Liburan tahun baru telah usai. Pada tanggal 4 Januari, hari pertama di mana operasional perusahaan kembali aktif, Sarah secara langsung memimpin rapat pagi perdana di awal tahun baru dari gedung perkantoran utama peninggalan Shigeki Tashiro di pusat kota Tokyo, didampingi Catherine, Disava, serta Abah Rizal.Sedangkan Ethan berada dalam ruangan kerja Sarah, juga memimpin rapat Volkov Holdings tanpa didampingi Brian di sisinya.Rapat strategis yang dipimpin oleh Sarah ini diselenggarakan secara hybrid (tatap muka dan online) serta dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan inti perusahaan.Di samping Sarah, hadir Catherine, Disava, Abah Rizal, serta Mister Hiraga yang duduk tegap mendampingi di sebelah Sarah.Di jajaran kursi lainnya, beberapa kepala divisi manajerial dan perwakilan tim HRD senior turut hadir menyimak dengan penuh khidmat.Melalui layar video conference raksasa di dinding ruang rapat, terhubung para pimpinan kunci dari Jakarta, Pak Budi selaku Director Operasional V.M Comp
Malam harinya, usai prosesi pemberkatan sakramen pernikahan yang sakral dan khidmat di gereja Katolik di kawasan Minato, Sarah dan rombongan termasuk pasangan pengantin, Paulina dan Brian kembali ke Tokyo Disneyland Hotel.Head butler sudah menyambut di depan lobi hotel dan mengarahkan rombongan keluarga besar Sarah tersebut ke sebuah private ballroom yang mewah dan telah disulap anggun oleh pihak hotel, sesuai dengan pesanan catering dan dekorasi khusus atas permintaan Sarah secara mendadak namun sempurna."Wah ini sangat indah..." lirih Paulina dengan mata berkaca-kaca memandang Brian yang turut mengusap kedua matanya dengan jemari karena terharu."Lady Sarah...""Nikmatilah semuanya Brian. Jangan katakan apapun yang bisa merusak suasana." potong Sarah cepat sambil ters
Paulina, yang telapak tangannya digenggam erat oleh Brian, mengerutkan kening bingung memandang Sergei dan Brian bergantian."Uhm... bukankah mengurus dokumen pernikahan di Jepang butuh waktu lama? Pengecekan paspor, surat izin kedutaan, registrasi di City Hall... apalagi..." Paulina menghentikan perkataannya sejenak, menoleh pada Brian, lalu melanjutkan pelan, "Apalagi kita berdua adalah warga asing dari dua negara berbeda."Sergei tersenyum tipis, "Semua itu bisa diatur, Nona Paulina. Sekarang, apakah Nona membawa paspor?" tanya Sergei, yang dijawab anggukan cepat dari Paulina."Ambil dulu paspormu, Babe," bisik Brian lembut di telinga Paulina.Seketika wajah Paulina merona merah mendengar panggilan manis yang begitu mendadak dari calon suaminya.Tak lama kemudian, Paulina sudah kembali dengan paspor di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Sergei."Besok pagi kupastikan semuanya sudah siap. Nona Paulina hanya perlu beristirahat yang cukup malam ini. Dan..." Sergei menoleh ke arah Br
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar







