MasukPagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.
Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ruangan luas bernuansa putih dengan pencahayaan temaram yang nyaman.
"Mommy..." panggil Tachi pelan. Tangan kecilnya menggenggam jemari Sarah.
Sarah mengerjapkan kelopak mata, lalu mengulas senyuman tipis untuk menenangkan Tachi yang memandangnya cemas. Saat mencoba menggerakkan tangan, ia baru menyadari salah satu punggung tangannya telah ditusuk oleh jarum infus.
"Maaf, ya... Tachi semalam tidak bisa tidur? Kemarilah, berbaring di samping Mommy," bisik Sarah lembut.
Tachi segera naik ke atas brankar dengan hati-hati, lalu melabuhkan kepalanya di atas pundak Sarah sembari memeluk Mommynya itu erat.
Sarah bisa merasakan tubuh kecil Tachi sedikit bergetar. Ia pun mendengarkan dengan saksama saat Tachi menceritakan kejadian semalam dengan suara parau menahan tangis.
"Mommy muntah-muntah darah hitam lagi...?" tanya Sarah, mengulangi perkataan putranya itu seraya mengernyitkan kening dalam.
Dari cerita Tachi, Sarah baru mengetahui kalau dirinya sempat kepayahan dan memuntahkan darah hitam kental dalam perjalanan menuju hotel. Sarah sama sekali tidak bisa mengingat, dirinya dibawa ke rumah sakit dan tadi malam ia sempat kehilangan kesadaran murni, meraung menangis sembari meraih benda apa saja di dekatnya untuk melukai diri sendiri.
Beruntung, dr. Ali bersiaga sepanjang waktu di dalam ruangan. Dokter tampan berperawakan garis wajah Arab yang tegas itu seolah sudah menduga hal ekstrem seperti ini akan menimpa Sarah.
"Tachi takut, Mom..." Tachi semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Sarah.
"Maafkan Mommy, ya, My Bear. Maaf juga, kita tidak jadi menginap di hotel, malah berakhir tidur di rumah sakit," bisik Sarah balas memeluk punggung anaknya dengan perasaan bersalah.
Sarah melabuhkan kecupan dalam di pelipis Tachi, "Selamat ulang tahun yang ketujuh, My Bear. Nanti kita berdoa untuk Papa, ya, agar Papa tenang di alam sana."
"Tachi tidak mau Mommy pergi ikut Papa ke dunia sana. Tachi sayang Mommy. Tachi mau belajar masak yang banyak, biar bisa masakin Mommy makanan enak setiap hari, Tachi mau..." Kalimat Tachi terputus oleh isakan kecil.
Sarah semakin mendekap erat tubuh putranya itu. "Iya, Sayang. Maafkan Mommy sudah membuat Tachi kuatir. Percayalah, meskipun kelak suatu saat Mommy pergi menemui Papa, cinta dan sayang Mommy serta Papa akan selalu menjaga Tachi dari sana, hm?"
Shigeki Tashiro, papa kandung Tachi, meninggal dunia dalam kecelakaan maut saat Tachi baru berusia dua tahun.
Namun sebelum kepergiannya, Tashiro yang merupakan pengusaha sukses telah mewariskan seluruh harta kekayaannya yang berlimpah untuk Sarah dan Tachi. Dan alasan itulah yang membuat Sarah memutuskan membawa Tachi pulang dari Jepang ke Jakarta.
Sarah ingin Tachi mengenal budaya Indonesia sebelum kelak kembali lagi ke Jepang untuk mengurus warisan leluhurnya yang kini ditangani oleh tangan kanan kepercayaan Tashiro.
Namun sialnya, kepulangan janda kaya yang cantik, mandiri dan awet muda ini terendus oleh radar keluarga Rafli. Di lingkungan pertemanan Rafli, nama Sarah berembus sebagai target paling manis.
Sudah tak terhitung banyaknya pria mapan yang datang terang-terangan melamar Sarah, namun semuanya selalu ditolak secara halus.
Sampai akhirnya... pertemuan 'tak sengaja' dengan Rafli terjadi satu tahun lalu. Sarah mengira itu adalah takdir, padahal kenyataannya, Rafli telah memperhitungkan segalanya dengan matang.
Rafli sengaja mencegat langkah Sarah demi menjerat wanita itu lewat tatapan matanya yang membius yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan logis di dalam diri Sarah. Tetapi, kebiasaan 'jajan' Rafli yang nakal, membuat jerat mistis yang ia tembakkan ke Sarah, efeknya hilang timbul karena di batas ambang kesadarannya, Sarah juga masih bisa kuat menolak untuk tidak berhubungan intim tanpa pernikahan.
Meskipun begitu, Rafli tetap bak kupu-kupu yang terus berterbangan di sekeliling Sarah, memberikannya perhatian palsu, termasuk kepada Tachi. Membantu di toko sepatu impor yang dikelola Sarah juga membawa banyak teman-temannya agar membeli sepatu di toko Sarah.
Walau awalnya Tachi kurang menyukai Rafli, namun demi melihat senyum lebar dan tawa renyah mommynya yang tampak sangat kasmaran, Tachi memilih menelan semua keluhannya.
"Mommy... Mommy melamun lagi?" Tachi mengguncang pelan lengan Sarah, mendongak menatap netra Mommynya itu yang sempat berkabut memandang kosong ke langit-langit ruangan.
Sarah tersentak, kesadarannya ditarik kembali dari pusaran masa lalu. Bibir Sarah tersenyum tipis memandang Tachi dan menggunakan tangan yang tidak terpasang infus, ia membelai lembut rambut hitam putranya itu.
"Tachi mau makan apa hari ini? Mommy sepertinya sudah baikan. Bagaimana kalau kita langsung check-in ke hotel, jalan-jalan, lalu makan di restoran?" tanya Sarah, yang langsung dibalas gelengan kepala cepat oleh Tachi.
"Kakek dan Nenek mau datang ke sini, Mom. Tadi malam, Tachi menelepon kakek karena Mommy ..."
Belum selesai Tachi berbicara, suara ketukan di daun pintu terdengar pelan. Detik berikutnya pintu terbuka, menampilkan Abah Rizal dan Bu Indar yang berjalan cepat dengan wajah sarat akan kecemasan.
"Oh, Tuhan... Sarah, bagaimana keadaanmu, Nak? Maaf, Ibu dan Abah baru bisa datang pagi ini. Tadi malam sudah terlalu larut, dan Tachi bilang sebaiknya pagi saja ke mari. Ibu dan Abah sampai tidak bisa tidur memikirkanmu," ucap Bu Indar panjang lebar, langsung menghambur ke sisi brankar, membelai lembut pipi Sarah yang masih tampak pucat.
Sarah tersenyum hangat, menggenggam tangan wanita yang telah membesarkannya sejak bayi itu, lalu beralih menatap Abah Rizal yang berdiri di sisi ranjang dengan sorot mata juga sangat cemas.
"Maaf ya sudah membuat Ibu dan Abah cemas. Sarah gak apa-apa, kok. Tadi malam Tachi hanya panik, jadi ..."
"Jangan menyembunyikan apa pun lagi dari kami, Sarah," potong Abah Rizal tegas namun lembut.
Pria berwibawa itu duduk di kursi dekat brankar, lalu membawa Tachi ke dalam pelukannya, yang sudah ia anggap seperti cucu kandungnya sendiri, "Donny sudah menceritakan semuanya kepada Abah tadi malam."
Sarah menggigit bagian dalam bibirnya, seketika disergap rasa sesal yang mendalam. Ia tahu, dirinya telah melakukan kesalahan fatal dengan menerima pernikahan bersama Rafli, pria yang tak lebih dari benalu parasit, menumpang hidup, menghisap energinya dan merongrong jiwanya lahir batin.
"Maafkan Sarah, Abah... Ibu... Sarah bodoh dan tidak bisa berpikir panjang. Tapi, tolong beri Sarah sedikit waktu untuk menyelesaikan ini secepatnya. Rafli dan keluarganya harus menerima ganjaran setimpal atas apa yang sudah mereka lakukan pada Sarah dan Tachi."
Bu Indar merapikan anak rambut di dahi Sarah yang sedikit basah oleh keringat dingin, "Kamu tidak bodoh, Sayang. Tapi kamu diperdaya... kamu sedang ditundukkan menggunakan ilmu hitam," ceplos Bu Indar, yang seketika terhenti karena menyadari perubahan ekspresi wajah putrinya itu.
Kening Sarah berkerut dalam, "Ilmu hitam?" gumamnya, dengan bola mata memancarkan ketidakpercayaan.
Selama hidupnya, Sarah adalah wanita modern yang rasional. Ia tidak pernah percaya pada takhayul atau ilmu hitam, mengira hal mistis seperti itu hanya bisa menjerat orang-orang yang lemah iman. Sedangkan dirinya? Ia rajin salat, berpuasa, giat bersedekah dan konsisten menjalankan sunnah-sunnah lainnya.
Abah Rizal tersenyum samar, menangkap gejolak skeptis di wajah Sarah, "Ilmu hitam atau bukan, segala sesuatunya di dunia ini terjadi atas izin Allah, Nak," ucap Abah Rizal dengan sorot mata tenang, seolah mampu membaca relung jiwa Sarah yang sedang rapuh.
"Ketika seseorang merasa dirinya terlalu kuat dan tak mungkin terkena ilmu hitam karena ibadahnya, justru di situlah ia bisa diuji. Ingat, tugas utama kita di dunia ini hanyalah taat dan berlindung pada Allah, bukan takabur atas keshalehan kita."
"Bapak...!" Bu Indar berseru tertahan, menegur suaminya agar tidak terlalu keras pada Sarah yang baru siuman.
Namun, Sarah justru menepuk lembut punggung tangan ibunya, "Benar kata Abah, Bu. Sarah sadar... selama ini Sarah sempat berpikir takabur, merasa ilmu hitam hanya menjerat orang-orang yang jauh dari agama. Ternyata, Sarah sendiri yang sebenarnya rapuh dan lalai ..."
"Oh, Sayang..." Bu Indar merunduk, mencium puncak kepala Sarah penuh kasih sayang, "Maafkan Ibu juga yang lalai mengingatkanmu, Sayang," bisik wanita paruh baya itu dengan penyesalan mendalam.
Tachi yang sejak tadi menyimak, mendongak dari pelukan Abah Rizal, "Dokter Ali tadi malam bilang, Mommy harus menyadari kalau kondisi Mommy sedang tidak baik-baik aja dan membutuhkan bantuan. Bukankah kalau kita tahu kita sedang sakit, ada hal yang harus dilakukan agar tubuh bisa sembuh?" tutur Tachi polos yang tentu saja kalimat terakhirnya berasal dari pemikiran kepala anak jenius itu sendiri.
Sarah tersenyum tipis, hatinya menghangat mendengar kedewasaan putranya. Ia mengangguk mantap, "Iya, Sayang. Mommy saat ini sedang sakit. Mommy janji akan berobat sampai sembuh. Agar tidak membuat Tachi, Kakek dan Nenek cemas lagi, hm?"
Bisnis V.M Company kembali pulih setelah pemerintah Dubai menandatangani kontrak kerja sama pasokan modular AC dari Tashiro Corp.Meskipun Mister Hiraga sudah menyarankan agar Tashiro Corp digabung saja dengan V.M Company, Sarah masih menunda untuk mengambil keputusan.Kini, Sarah dan Ethan sudah dalam perjalanan pulang menuju Moskow dari Dubai. Sementara itu, Abah Rizal masih tinggal di Dubai untuk menyambut pengiriman pertama modular AC."Istirahatlah, sebentar lagi kita sampai di rumah," ucap Ethan sambil melirik Sarah yang menyandarkan punggungnya ke kursi.Ethan mengemudikan mobilnya sendiri dari bandara tanpa bantuan Brian yang sedang sibuk mengurus Volkov Holdings selama ditinggal perjalanan bisnis menemani Sara
Sarah terkekeh rendah melirik Ethan di depannya. "Kau mengaku kalau dirimu itu setan? Pfft...!"Ethan mendengkus, tidak menanggapi godaan Sarah. Ia menekan bel di tepi meja dan pelayan bergegas datang menghampiri."Pesanannya sama dengan istriku," pinta Ethan, sengaja menegaskan status Sarah pada sang pelayan. Pasalnya, sejak kedatangannya tadi, beberapa wanita di cafe tersebut terus memandangnya dengan tatapan mendamba.Gadis pelayan itu tersenyum tipis, mengangguk sopan, lalu bergegas pergi menyiapkan pesanan."Sarah... kau..." kedua bola mata Ethan terbeliak. Tangannya dengan cepat menyambar tisu di meja dan terulur ke depan wajah Sarah, "...kau mimisan."Sarah yang memang merasa agak aneh usai menerima telepon dari Desy tadi kini bernapas sedikit tersengal. Ia mengusap darah hangat yang me
"Mister Volkov! Sungguh kejutan yang luar biasa," sapa seorang pria paruh baya tersenyum semringah begitu melihat Ethan membawa Sarah memasuki sebuah butik gaun pengantin.Mata pria pemilik butik itu beralih memindai Sarah di samping Ethan, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dengan binar kagum, "And this must be the lovely bride...""Kami hanya mampir," ucap Ethan tanpa basa-basi, "Wanitaku ingin melihat gaun. Jika dia suka, kami akan membelinya," tambahnya lagi, tetap dengan nada suara dingin.Ethan menoleh pada Sarah yang sedang memperhatikan deretan gaun di manekin, "Pergilah lihat gaun selimutmu, atau terima pilihan Krista yang sudah dipesan Grandma."Sarah memang sudah melihat gaun pengantin yang disiapkan Krist
Sebelumnya di penerbangan, Ethan membiarkan Sarah dengan pikirannya yang berpikir jika dirinya memiliki keturunan di luar sana. Baginya, kelak Sarah akan tahu kenyataannya tanpa perlu dijelaskan.Kali ini pun Ethan tidak menjawab, namun jemarinya terkepal kuat di atas paha di bawah meja."Kalian bisik-bisik apa?" Madam Maria bertanya, memindai wajah Sarah dan Ethan dengan kelopak mata menyipit tersenyum tipis.Di sebelah Madam Maria, Bu Indar bangkit dari duduknya, membantu Krista menyiapkan hidangan ke atas meja."Kami membicarakan tentang bunga pilihan
Sepekan berlalu sejak kedatangan Sarah, Tachi, dan Bu Indar di Moskow. Angin dingin khas akhir musim gugur yang menusuk kulit perlahan mulai bisa diadaptasi oleh tubuh mereka.Mansion Volkov yang megah tak lagi terasa kaku dan asing, berganti menjadi hangat oleh riuh tawa Tachi yang hampir setiap hari dimanja habis-habisan oleh Madam Maria. Anak lelaki itu juga sangat mudah akrab dengan Krista, Pachito, dan para pelayan lainnya.Nuansa kebangsawanan keluarga Volkov semakin terasa. Tachi bahkan mulai diajarkan membaca bagan silsilah keluarga yang walaupun para leluhurnya telah meninggal, warisan kekuasaannya masih sangat kental di seantero Rusia."Kenapa Tachi belajar ini, Grandma?" tanya Tachi dalam bahasa Inggris fasih, sewaktu Madam Maria membawanya ke
"Nanti saja tanya jawabnya, mari turun!" sahut Sarah cepat berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan memperhatikan sekeliling, di mana Tachi tampak melambaikan tangan memintanya bergegas menyusul.Dari belakang, Ethan menyampirkan jubah tebal panjangnya ke pundak Sarah. "Udaranya lumayan dingin, kancingkan jubahnya."Benar saja, begitu Sarah berdiri di depan tangga turun, udara dingin ekstrem langsung menyapa kulitnya. Sementara Tachi dan Bu Indar sudah dibimbing cepat oleh Brian masuk ke dalam mobil yang memiliki pemanas ruangan."Belum musim dingin tapi udaranya sudah menusuk kulit," ucap Sarah begitu ia dan Ethan melangkah masuk ke dalam mobil."Ma boy dan Ibu baik-baik aja?" tanya Sarah pada Tachi dan Bu Indar yang rupanya sudah memakai jubah tebal menutupi tubuh
Sarah mengemudikan Lexus ES miliknya membelah jalanan malam yang mulai lengang, menuju ke sebuah kafe remang-remang yang letaknya tidak jauh dari area mall. Di kursi penumpang sampingnya, Tachi duduk tenang sembari memeluk tas kecil Sarah, sesekali memandangi lampu-lampu jalanan dari balik kaca jen
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







