Share

5. Semakin Sadar

Author: Freyaa
last update publish date: 2026-06-06 09:08:08

Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.

Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ruangan luas bernuansa putih dengan pencahayaan temaram yang nyaman.

"Mommy..." panggil Tachi pelan. Tangan kecilnya menggenggam jemari Sarah.

Sarah mengerjapkan kelopak mata, lalu mengulas senyuman tipis untuk menenangkan Tachi yang memandangnya cemas. Saat mencoba menggerakkan tangan, ia baru menyadari salah satu punggung tangannya telah ditusuk oleh jarum infus.

"Maaf, ya... Tachi semalam tidak bisa tidur? Kemarilah, berbaring di samping Mommy," bisik Sarah lembut.

Tachi segera naik ke atas brankar dengan hati-hati, lalu melabuhkan kepalanya di atas pundak Sarah sembari memeluk Mommynya itu erat.

Sarah bisa merasakan tubuh kecil Tachi sedikit bergetar. Ia pun mendengarkan dengan saksama saat Tachi menceritakan kejadian semalam dengan suara parau menahan tangis.

"Mommy muntah-muntah darah hitam lagi...?" tanya Sarah, mengulangi perkataan putranya itu seraya mengernyitkan kening dalam.

Dari cerita Tachi, Sarah baru mengetahui kalau dirinya sempat kepayahan dan memuntahkan darah hitam kental dalam perjalanan menuju hotel. Sarah sama sekali tidak bisa mengingat, dirinya dibawa ke rumah sakit dan tadi malam ia sempat kehilangan kesadaran murni, meraung menangis sembari meraih benda apa saja di dekatnya untuk melukai diri sendiri.

Beruntung, dr. Ali bersiaga sepanjang waktu di dalam ruangan. Dokter tampan berperawakan garis wajah Arab yang tegas itu seolah sudah menduga hal ekstrem seperti ini akan menimpa Sarah.

"Tachi takut, Mom..." Tachi semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Sarah.

"Maafkan Mommy, ya, My Bear. Maaf juga, kita tidak jadi menginap di hotel, malah berakhir tidur di rumah sakit," bisik Sarah balas memeluk punggung anaknya dengan perasaan bersalah.

Sarah melabuhkan kecupan dalam di pelipis Tachi, "Selamat ulang tahun yang ketujuh, My Bear. Nanti kita berdoa untuk Papa, ya, agar Papa tenang di alam sana."

"Tachi tidak mau Mommy pergi ikut Papa ke dunia sana. Tachi sayang Mommy. Tachi mau belajar masak yang banyak, biar bisa masakin Mommy makanan enak setiap hari, Tachi mau..." Kalimat Tachi terputus oleh isakan kecil.

Sarah semakin mendekap erat tubuh putranya itu. "Iya, Sayang. Maafkan Mommy sudah membuat Tachi kuatir. Percayalah, meskipun kelak suatu saat Mommy pergi menemui Papa, cinta dan sayang Mommy serta Papa akan selalu menjaga Tachi dari sana, hm?"

Shigeki Tashiro, papa kandung Tachi, meninggal dunia dalam kecelakaan maut saat Tachi baru berusia dua tahun.

Namun sebelum kepergiannya, Tashiro yang merupakan pengusaha sukses telah mewariskan seluruh harta kekayaannya yang berlimpah untuk Sarah dan Tachi. Dan alasan itulah yang membuat Sarah memutuskan membawa Tachi pulang dari Jepang ke Jakarta.

Sarah ingin Tachi mengenal budaya Indonesia sebelum kelak kembali lagi ke Jepang untuk mengurus warisan leluhurnya yang kini ditangani oleh tangan kanan kepercayaan Tashiro.

Namun sialnya, kepulangan janda kaya yang cantik, mandiri dan awet muda ini terendus oleh radar keluarga Rafli. Di lingkungan pertemanan Rafli, nama Sarah berembus sebagai target paling manis.

Sudah tak terhitung banyaknya pria mapan yang datang terang-terangan melamar Sarah, namun semuanya selalu ditolak secara halus.

Sampai akhirnya... pertemuan 'tak sengaja' dengan Rafli terjadi satu tahun lalu. Sarah mengira itu adalah takdir, padahal kenyataannya, Rafli telah memperhitungkan segalanya dengan matang.

Rafli sengaja mencegat langkah Sarah demi menjerat wanita itu lewat tatapan matanya yang membius yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan logis di dalam diri Sarah. Tetapi, kebiasaan 'jajan' Rafli yang nakal, membuat jerat mistis yang ia tembakkan ke Sarah, efeknya hilang timbul karena di batas ambang kesadarannya, Sarah juga masih bisa kuat menolak untuk tidak berhubungan intim tanpa pernikahan. 

Meskipun begitu, Rafli tetap bak kupu-kupu yang terus berterbangan di sekeliling Sarah, memberikannya perhatian palsu, termasuk kepada Tachi. Membantu di toko sepatu impor yang dikelola Sarah juga membawa banyak teman-temannya agar membeli sepatu di toko Sarah. 

Walau awalnya Tachi kurang menyukai Rafli, namun demi melihat senyum lebar dan tawa renyah mommynya yang tampak sangat kasmaran, Tachi memilih menelan semua keluhannya.

"Mommy... Mommy melamun lagi?" Tachi mengguncang pelan lengan Sarah, mendongak menatap netra Mommynya itu yang sempat berkabut memandang kosong ke langit-langit ruangan.

Sarah tersentak, kesadarannya ditarik kembali dari pusaran masa lalu. Bibir Sarah tersenyum tipis memandang Tachi dan menggunakan tangan yang tidak terpasang infus, ia membelai lembut rambut hitam putranya itu.

"Tachi mau makan apa hari ini? Mommy sepertinya sudah baikan. Bagaimana kalau kita langsung check-in ke hotel, jalan-jalan, lalu makan di restoran?" tanya Sarah, yang langsung dibalas gelengan kepala cepat oleh Tachi.

"Kakek dan Nenek mau datang ke sini, Mom. Tadi malam, Tachi menelepon kakek karena Mommy ..."

Belum selesai Tachi berbicara, suara ketukan di daun pintu terdengar pelan. Detik berikutnya pintu terbuka, menampilkan Abah Rizal dan Bu Indar yang berjalan cepat dengan wajah sarat akan kecemasan.

"Oh, Tuhan... Sarah, bagaimana keadaanmu, Nak? Maaf, Ibu dan Abah baru bisa datang pagi ini. Tadi malam sudah terlalu larut, dan Tachi bilang sebaiknya pagi saja ke mari. Ibu dan Abah sampai tidak bisa tidur memikirkanmu," ucap Bu Indar panjang lebar, langsung menghambur ke sisi brankar, membelai lembut pipi Sarah yang masih tampak pucat.

Sarah tersenyum hangat, menggenggam tangan wanita yang telah membesarkannya sejak bayi itu, lalu beralih menatap Abah Rizal yang berdiri di sisi ranjang dengan sorot mata juga sangat cemas.

"Maaf ya sudah membuat Ibu dan Abah cemas. Sarah gak apa-apa, kok. Tadi malam Tachi hanya panik, jadi ..."

"Jangan menyembunyikan apa pun lagi dari kami, Sarah," potong Abah Rizal tegas namun lembut.

Pria berwibawa itu duduk di kursi dekat brankar, lalu membawa Tachi ke dalam pelukannya, yang sudah ia anggap seperti cucu kandungnya sendiri, "Donny sudah menceritakan semuanya kepada Abah tadi malam."

Sarah menggigit bagian dalam bibirnya, seketika disergap rasa sesal yang mendalam. Ia tahu, dirinya telah melakukan kesalahan fatal dengan menerima pernikahan bersama Rafli, pria yang tak lebih dari benalu parasit, menumpang hidup, menghisap energinya dan merongrong jiwanya lahir batin.

"Maafkan Sarah, Abah... Ibu... Sarah bodoh dan tidak bisa berpikir panjang. Tapi, tolong beri Sarah sedikit waktu untuk menyelesaikan ini secepatnya. Rafli dan keluarganya harus menerima ganjaran setimpal atas apa yang sudah mereka lakukan pada Sarah dan Tachi."

Bu Indar merapikan anak rambut di dahi Sarah yang sedikit basah oleh keringat dingin, "Kamu tidak bodoh, Sayang. Tapi kamu diperdaya... kamu sedang ditundukkan menggunakan ilmu hitam," ceplos Bu Indar, yang seketika terhenti karena menyadari perubahan ekspresi wajah putrinya itu.

Kening Sarah berkerut dalam, "Ilmu hitam?" gumamnya, dengan bola mata memancarkan ketidakpercayaan.

Selama hidupnya, Sarah adalah wanita modern yang rasional. Ia tidak pernah percaya pada takhayul atau ilmu hitam, mengira hal mistis seperti itu hanya bisa menjerat orang-orang yang lemah iman. Sedangkan dirinya? Ia rajin salat, berpuasa, giat bersedekah dan konsisten menjalankan sunnah-sunnah lainnya.

Abah Rizal tersenyum samar, menangkap gejolak skeptis di wajah Sarah, "Ilmu hitam atau bukan, segala sesuatunya di dunia ini terjadi atas izin Allah, Nak," ucap Abah Rizal dengan sorot mata tenang, seolah mampu membaca relung jiwa Sarah yang sedang rapuh.

"Ketika seseorang merasa dirinya terlalu kuat dan tak mungkin terkena ilmu hitam karena ibadahnya, justru di situlah ia bisa diuji. Ingat, tugas utama kita di dunia ini hanyalah taat dan berlindung pada Allah, bukan takabur atas keshalehan kita."

"Bapak...!" Bu Indar berseru tertahan, menegur suaminya agar tidak terlalu keras pada Sarah yang baru siuman.

Namun, Sarah justru menepuk lembut punggung tangan ibunya, "Benar kata Abah, Bu. Sarah sadar... selama ini Sarah sempat berpikir takabur, merasa ilmu hitam hanya menjerat orang-orang yang jauh dari agama. Ternyata, Sarah sendiri yang sebenarnya rapuh dan lalai ..."

"Oh, Sayang..." Bu Indar merunduk, mencium puncak kepala Sarah penuh kasih sayang, "Maafkan Ibu juga yang lalai mengingatkanmu, Sayang," bisik wanita paruh baya itu dengan penyesalan mendalam.

Tachi yang sejak tadi menyimak, mendongak dari pelukan Abah Rizal, "Dokter Ali tadi malam bilang, Mommy harus menyadari kalau kondisi Mommy sedang tidak baik-baik aja dan membutuhkan bantuan. Bukankah kalau kita tahu kita sedang sakit, ada hal yang harus dilakukan agar tubuh bisa sembuh?" tutur Tachi polos yang tentu saja kalimat terakhirnya berasal dari pemikiran kepala anak jenius itu sendiri. 

Sarah tersenyum tipis, hatinya menghangat mendengar kedewasaan putranya. Ia mengangguk mantap, "Iya, Sayang. Mommy saat ini sedang sakit. Mommy janji akan berobat sampai sembuh. Agar tidak membuat Tachi, Kakek dan Nenek cemas lagi, hm?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
ahhh tachi , kicik2 tapi pemikirannya udah dewasa
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
ini bapak sama ibuk oeang tua angkat sarah ya
goodnovel comment avatar
Hum Hum
semoga ilmu hitam di diri Sarah perlahan" hilang, yang penting selalu ingat berdoa minta perlindungan yg kuasa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    173. Karma Tak Pernah Salah Alamat

    Setelah tarian poco-poco berakhir meriah, di mana para tamu undangan elit di pesta bangsawan itu tampak seperti melakukan senam malam bersama-sama, suasana kembali mencair dengan tawa dan obrolan hangat.Beberapa pasangan muda masih terlihat berdansa mengikuti alunan musik orkestra, yang lain menikmati hidangan, minum serta memanfaatkan bertemu serta berkenalan dengan tamu lainnya juga ada yang berbincang dengan Mister Konstantin yang akan selalu membawa Tachi bersamanya untuk diperkenalkan. "Indonesia benar-benar negeri yang indah. Tariannya pun tak kalah menarik dan kompak dari tarian tradisional di Eropa," puji seorang bangsawan asal London sambil mengelap keringat di wajahnya dengan sehelai saputangan sutra para orang di sebelahnya yang mengangguk setuju seraya terseyum puas. Di sisi lain, Ethan menggandeng Sarah untuk berkeliling dan memperkenalkan sang istri kepada beberapa tamu penting yang belum sempat menyapa."Halo, terima kasih banyak sudah hadir," sapa Sarah ramah, mengu

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    172. Poco-poco di Pesta Bangsawan Rusia

    Setelah dansa pembuka dari Sarah dan Ethan yang sangat manis, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ikut jatuh cinta oleh energi pasangan pengantin itu.Kini, musik telah berganti, dan para tamu mulai ikut berdansa dengan pasangan masing-masing. Sarah berdansa dengan Mister Konstantin, sementara Ethan berdansa bersama Madam Maria.Tachi tidak mau ketinggalan. Anak lelaki itu menarik pergelangan tangan Catherine, "Maket, ajarin Tachi dansa juga."Dokter Ali tergelak renyah melihat keponakannya yang memang sangat akrab dan manja kepada Catherine, "Papali juga mau ikut berdansa dengan Tachi dan Maket, boleh?"Tachi mengangguk dan tertawa lebar tanpa suara, lalu mengalungkan lengan gempalnya dengan manja pada leher Dokter Ali yang langsung mengangkat dan menggendongnya.Di sisi lain lantai aula, Dewa duduk santai menikmati orang-orang berdansa di depannya. Tiba-tiba seorang gadis bergaun elegan mengulurkan tangan ke hadapan Dewa, "Mau berpasangan denganku?" tanyanya dalam bahasa Inggri

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    171.

    Para tamu membaur, saling mengobrol, dan bersulang minuman sambil menikmati hidangan mewah yang terus disajikan oleh para pelayan tanpa henti setiap kali piring saji mulai menipis, juga berkeliling membawa baki minuman untuk 300 undangan yang semuanya hadir bersama pasangan masing-masing.Catherine dan Dokter Ali sudah berada di dalam ruangan, bergabung bersama Dewa dan Brian di meja bundar berlapis taplak sutra."Lady Catherine, silakan nikmati hidangannya dulu. Saya mau menemui Mister Konstantin," tutur Brian setelah meminta pelayan menghidangkan makanan untuk Catherine, Dokter Ali, serta Dewa.Brian memang sengaja mencari alasan untuk 'menyingkir' sejenak guna menata hatinya yang perih melihat Dokter Ali begitu posesif merangkul pinggang Catheri

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    170. Keberanian Dewa

    "Kau tak mengenalku?" dengkus Viktoria sambil terus melangkah maju, yang langsung dihadang oleh Dewa dengan merentangkan kedua tangan lebar-lebar."Ya, saya tidak mengenal Anda berdua. Karena itu, mohon perlihatkan undangan!" ucap Dewa tak gentar menghadapi sikap arogan Viktoria dan Ksenia."Aku adalah Viktoria, ibunya Ethan Volkov..."Belum sempat Viktoria merampungkan kalimatnya, Brian yang sudah memanggil beberapa pengawal segera menahan wanita itu dan Ksenia.Ksenia langsung menjerit jijik begitu salah satu pengawal menyentuh pundaknya."Jangan sentuh aku! Aku saudarinya Ethan Volkov!" seru Ksenia sambil berdecih mual, menatap tajam penuh keangkuhan kepada para pengawal yang mengepung ia dan ibunya.Dewa sedikit mengernyit ragu, menoleh pada Brian yang melangkah ke sampingnya, lalu menatap Viktoria dan Ksenia dengan pandangan datar tanpa emosi."Anda memang ibunya Bos Ethan, tetapi ibu tiri yang paling tak ingin dilihat oleh seluruh keluarga besar Volkov di pesta ini. Silakan perg

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    169. Dedikasi Cinta Ethan Untuk Sarah

    Sarah memiringkan tubuhnya, menangkup wajah Ethan dan memaksa pria itu menatap matanya, "Aku juga ikut klimaks tadi, Ethan. Aku tidak kecewa.""Kau bilang sangat suka bercinta...""Kalau begitu, mari kita lakukan lagi... milikmu bahkan sudah mengeras lagi. Mau?"Netra biru Ethan langsung berkabut, menatap lekat manik mata Sarah saat jemari lembut istrinya mulai mengelus perlahan batangnya yang kembali menegang."Kau benar-benar membuatku gila, Zaika," bisik Ethan serak. Sarah memberikan kecupan kilat di sudut bibir Ethan tanpa memberi kesempatan suaminya itu membalas dengan lumatan. Bibir Sarah bergerak turun, mengecup dan menjilat lembut tonjolan di leher Ethan, membuat lelaki itu mengerang manja sedikit parau."Oh, Zaika... kau benar-benar!" Ethan membalikkan tubuh Sarah yang tertawa nakal, kembali merentangkannya di atas ranjang dan menaungi tubuh istrinya itu.Sarah mengangkat sebelah kakinya, melingkarkannya di pinggang liat Ethan untuk menuntun pria itu masuk kembali ke dalam k

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    168. Asah Dulu

    "Lelah?" tanya Ethan begitu ia dan Sarah sudah berada di dalam kamar suite bulan madu mereka."Sedikit. Tapi kekenyangan... banyak." jawab Sarah tertawa kecil ditanggapi Ethan juga tertawa rileks.Sarah memperhatikan ruang suite yang begitu luas dan terbagi ke dalam beberapa ruangan.Di hadapan mereka terdapat ruang tamu yang lapang, lengkap dengan sofa empuk yang di atas meja utamanya tersedia wadah penghangat, membuat makanan di dalamnya tetap terjaga kehangatannya hingga enam jam. Tak jauh dari sana, sekeranjang buah-buahan tropis yang segar tertata rapi, bersanding dengan bar mini elegan yang siap digunakan untuk meracik berbagai minuman hangat."Kau ingin kubuatkan kopi, teh, atau susu?" tawar Ethan saat melihat pandangan Sarah tertuju pada bar mini tersebut.Sarah menoleh, mengulum senyum tipis di bibirnya, "Sepertinya segelas susu hangat bisa membuat kita beristirahat sejenak, hm?"Sarah melangkah mendekati bar mini, mengisi termos portabel dengan air mineral, lalu menempatkann

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    7.

    Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    6.

    Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    4.

    Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    3.

    Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status