LOGINMatahari masih memancarkan sinarnya yang terang menjelang sore. Abah Rizal berjalan santai mengelilingi pekarangan rumahnya yang telah dirapikan oleh para tetangga. Namun, mereka tampaknya sengaja tidak memetik buah-buahan dan sayuran yang sudah siap panen."Kakek, jambu airnya sudah merah-merah sekali!" pekik Tachi antusias seraya membuntuti di belakang Abah Rizal.Abah Rizal tersenyum bahagia melihat binar ceria di mata Tachi yang akan selalu menjadi cucunya. Ia memetik sebuah jambu air merah ranum dan menyerahkannya kepada Tachi. Anak lelaki itu dengan sigap membawanya ke keran halaman, mencucinya hingga bersih, lalu menggigitnya diliputi rasa gembira."Manis, Kek!" seru anak lelaki itu riang.Air jambu yang manis meleleh di sudut bibir Tachi saat ia mengunyahnya dengan ekspresi begitu nikmat.
Setelah seluruh rangkaian urusan penggabungan perusahaan di gedung Tashiro Corp dan liburan awal tahun usai, kini saatnya Sarah beserta rombongan keluarga besar bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.Pagi itu, suasana haru mewarnai private lounge Tokyo Disneyland hotel tempat mereka menginap. Sarah dan keluarga besar saling berpamitan dengan keluarga Sato, keluarga Keisuke, beserta anak-anak mereka yang selama liburan menjadi teman bermain Tachi. Pelukan hangat, senyuman rasa syukur, dan ucapan terima kasih tulus terucap di antara mereka atas kebersamaan yang begitu indah."Nee-chan titip perusahaan, ya, Eiji," ucap Sarah seraya menyalami Eiji, yang langsung disambut anggukan sopan oleh pria muda itu.Di rapat restrukturisasi kemarin, Sarah menunjuk Eiji sebagai asisten Mister Hiraga di Tashiro Corp untuk membantu mengelola dua perusahaan sekaligus, Tashiro Corp dan V.M Company. Tak hanya posisi strategis, Sarah juga telah menyiapkan fasilitas lengkap berupa unit apartemen nyaman di pu
Liburan tahun baru telah usai. Pada tanggal 4 Januari, hari pertama di mana operasional perusahaan kembali aktif, Sarah secara langsung memimpin rapat pagi perdana di awal tahun baru dari gedung perkantoran utama peninggalan Shigeki Tashiro di pusat kota Tokyo, didampingi Catherine, Disava, serta Abah Rizal.Sedangkan Ethan berada dalam ruangan kerja Sarah, juga memimpin rapat Volkov Holdings tanpa didampingi Brian di sisinya.Rapat strategis yang dipimpin oleh Sarah ini diselenggarakan secara hybrid (tatap muka dan online) serta dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan inti perusahaan.Di samping Sarah, hadir Catherine, Disava, Abah Rizal, serta Mister Hiraga yang duduk tegap mendampingi di sebelah Sarah.Di jajaran kursi lainnya, beberapa kepala divisi manajerial dan perwakilan tim HRD senior turut hadir menyimak dengan penuh khidmat.Melalui layar video conference raksasa di dinding ruang rapat, terhubung para pimpinan kunci dari Jakarta, Pak Budi selaku Director Operasional V.M Comp
Malam harinya, usai prosesi pemberkatan sakramen pernikahan yang sakral dan khidmat di gereja Katolik di kawasan Minato, Sarah dan rombongan termasuk pasangan pengantin, Paulina dan Brian kembali ke Tokyo Disneyland Hotel.Head butler sudah menyambut di depan lobi hotel dan mengarahkan rombongan keluarga besar Sarah tersebut ke sebuah private ballroom yang mewah dan telah disulap anggun oleh pihak hotel, sesuai dengan pesanan catering dan dekorasi khusus atas permintaan Sarah secara mendadak namun sempurna."Wah ini sangat indah..." lirih Paulina dengan mata berkaca-kaca memandang Brian yang turut mengusap kedua matanya dengan jemari karena terharu."Lady Sarah...""Nikmatilah semuanya Brian. Jangan katakan apapun yang bisa merusak suasana." potong Sarah cepat sambil ters
Paulina, yang telapak tangannya digenggam erat oleh Brian, mengerutkan kening bingung memandang Sergei dan Brian bergantian."Uhm... bukankah mengurus dokumen pernikahan di Jepang butuh waktu lama? Pengecekan paspor, surat izin kedutaan, registrasi di City Hall... apalagi..." Paulina menghentikan perkataannya sejenak, menoleh pada Brian, lalu melanjutkan pelan, "Apalagi kita berdua adalah warga asing dari dua negara berbeda."Sergei tersenyum tipis, "Semua itu bisa diatur, Nona Paulina. Sekarang, apakah Nona membawa paspor?" tanya Sergei, yang dijawab anggukan cepat dari Paulina."Ambil dulu paspormu, Babe," bisik Brian lembut di telinga Paulina.Seketika wajah Paulina merona merah mendengar panggilan manis yang begitu mendadak dari calon suaminya.Tak lama kemudian, Paulina sudah kembali dengan paspor di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Sergei."Besok pagi kupastikan semuanya sudah siap. Nona Paulina hanya perlu beristirahat yang cukup malam ini. Dan..." Sergei menoleh ke arah Br
Brian yang sempat pasrah, langsung bangkit berdiri dengan cepat. Ia merengkuh tubuh Paulina ke dalam pelukannya, dan tanpa diduga menempelkan bibirnya ke bibir Paulina, melumatnya pelan dengan penuh rasa syukur."Oh, oops... Anak-anak, ayo kembali ke kamar. Ada adegan dewasa di lounge malam ini!" kekeh Praded Konstantin lantang, lalu berseru, "Selamat, Brian! Selamat, Paulina!"Tachi dan semua anak-anak tergelak renyah. Tidak ada seorang pun yang beranjak masuk ke dalam kamar. Sarah dan Madam Maria saling berpandangan dengan senyum bahagia. Tak lama kemudian, kembang api besar berbentuk hati tampak meluncur membelah langit malam, terlihat sangat jelas dari balik jendela kaca raksasa dan atap transparan lounge.Brian dan Paulina menatap takjub pada kembang api yang kembali meledak megah di udara, membentuk tulisan indah, 'Selamat Paulina & Brian'."Dasar konyol...!" dengkus Ethan begitu melihat Brian dan Paulina yang akhirnya benar-benar berciuman di bawah pendar cahaya kembang api ya
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa







