Share

6. Dokter Ali

Penulis: Freyaa
last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 22:54:16

Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini.

"Selamat pagi. Wah, tampaknya pasien saya sudah jauh lebih segar hari ini," sapa dr. Ali hangat.

Dokter tampan itu sempat mengusap bahu Tachi sekilas sebelum mendekati brankar Sarah untuk memeriksa denyut nadi dan pupil matanya menggunakan penlight.

"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi malam." tutur Sarah seraya tersenyum tipis. 

Dokter Ali mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah Abah Rizal dan Bu Indar, seolah tahu bahwa keluarga ini sudah mulai membuka tabir rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sarah.

"Hasil lab Anda menyatakan tubuh Anda bersih dari zat adiktif medis, Nona Sarah. Tapi, gumpalan darah hitam dan dorongan lepas kendali semalam menunjukkan adanya 'benturan energi' yang sangat hebat di dalam kepala Anda," ujar dr. Ali dengan nada suara yang sengaja direndahkan agar tidak membuat Tachi ketakutan.

"Sekarang bagaimana perasaanmu?" tanya dokter Ali setelah beberapa detik kemudian. 

"Saat ini pikiranku jauh lebih tenang. Hanya saja masih merasa sedikit sesak, sesuatu yang kosong dan hampa." jawab Sarah jujur.

Sarah menatap dr. Ali lekat-lekat, "Apakah ada obat yang bisa membuatku terbebas total dan sembuh dari ...kekacauan ini, Dok?"

Dokter Ali tersenyum samar, sebuah senyuman penuh makna yang mendalam. Ia mengedarkan pandangan pada Tachi, Abah Rizal dan Bu Indar sekilas, lalu meletakkan map laporan medis Sarah di atas meja, kemudian ia menatap lurus ke dalam netra jernih Sarah.

"Obat terbaiknya tidak ada di dalam botol kimia rumah sakit ini, Nona Sarah. Dan obat itu juga tidak bisa diberikan oleh orang luar," jawab dr. Ali tenang juga terdengar akrab. 

Bibir Sarah sedikit terbuka, hendak bertanya tetapi ia urungkan.

"Bantuan dari saya, atau bahkan doa-doa dari orangtua, sifatnya hanya stimulan sementara. Pengaruh buruk yang sempat meretakkan benteng pikiran Nona mungkin saat ini sedang melemah karena suatu alasan. Namun, untuk bisa sembuh dan terlepas total, kuncinya ada pada kedaulatan diri Nona Sarah sendiri," lanjut dr. Ali, menjabarkan filosofi penyembuhan yang sesungguhnya.

Kelopak mata Sarah mengerjap pelan. Bu Indar meraih telapak tangan putrinya yang tidak ditusuk jarum infus, menggenggamnya erat, seolah menyalurkan kekuatan untuk Sarah. 

"Sakit apa pun di dunia ini, musuh terbesarnya adalah kelalaian kita, dan obat paling mujarabnya adalah bagaimana kita mengelola pikiran serta kesadaran kita sendiri. Nona Sarah harus sadar utuh, mengakui dan menerima bahwa diri Nona sedang tidak baik-baik aja, lalu bangun kekuatan kesadaran murni itu dari dalam. Jiwa adalah rumah." ucap dr. Ali yang kemudian ia melirik Tachi dan anak lelaki itu membalasnya dengan senyuman lebar. 

"Jika pemilik rumahnya sendiri yang berdiri tegak mengunci pintu dari dalam dengan kesadaran penuh, maka tidak akan ada satu pun entitas asing atau manipulasi luar yang bisa menembusnya lagi. Apakah Nona paham maksud saya?"

Kepala Sarah mengangguk dan bibirnya kembali tersenyum tipis, "Dokter Ali tidak seperti dokter pada umumnya. Anda sangat berpengalaman." puji Sarah tulus. 

Kini, Sarah sangat mengerti. Ia tidak akan menunggu diselamatkan orang lain. Tetapi, dirinya sendiri yang harus bangkit dari dalam. Perlahan, ia menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya yang semula terasa berat dan hampa, dengan kekuatan baru yang terasa hangat juga kokoh.

"Terima kasih banyak, dokter Ali. Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika tanpa bantuan Anda." 

Dokter Ali tersenyum tipis, "Mungkin itu yang di sebut takdir. Takdir jika Nona Sarah sudah harus kembali ke diri sendiri ...juga ada putra yang jenius selalu mendampingi."

**

Rafli pulang ke rumah tinggalnya bersama Sarah saat matahari sudah terang setelah semalaman memadu kasih bersama Vania, wanita blasteran Turki yang bekerja di perusahaan besar, V.M Company. 

Wajah Rafli terlihat puas dan cerah. Bibirnya tak bisa berhenti untuk tersenyum lebar, masih membayangkan malam indahnya bersama wanita cantik, muda dan menawan juga berkelas seperti Vania.

Namun, senyum di wajah pria yang menurut sebagian wanita menyebutnya tampan tersebut, memudar seketika begitu mendengar suara notifikasi ponselnya yang menampilkan kontak dengan nama 'Ibu' di layarnya.

[Rafli, Ibu butuh uang untuk bayar arisan lima juta rupiah. Tolong nanti mintain ke Sarah ya.]

Ibu, Ayah dan kakak perempuan Rafli akan selalu meminta uang dengan nominal lumayan setelah malam ritualnya mengendalikan Sarah. Mereka juga tahu jika Sarah tidak akan bisa berkutik untuk menolak apapun permintaan sesudah dilakukan malam ritual. 

Tetapi, Rafli tidak melakukan ritual dengan Sarah tadi malam, melainkan dengan Vania, wanita baru yang telah lama memberikan kode 'terbuka' padanya.

“Ya. Sarah masih belum bangun. Nanti aku coba bilang padanya.” 

[Kok coba bilang padanya? Biasanya Sarah 'kan selalu menurut, apa kau semalam tidak sukses menjalani ritual?] balas pesan dari Ibunya Rafli. 

“Sarah masih belum bangun, Bu. Kelelahan tadi malam. Ibu paham kan, soal ritualnya?” Rafli memberikan balasan pendek tanpa menjelaskan jika ia berbohong. 

Uang seratus juta yang ia pinjam ke Sarah kemarin, sudah hampir habis ia pakai untuk foya-foya mentraktir Vania yang mengajaknya makan malam di restoran mewah, membayarkan belanjaan wanita itu senilai puluhan juta dan berakhir mereka menginap di hotel yang juga tidak main-main mewahnya.

Rafli memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu berjalan mondar-mandir di depan kamar Tachi. Berkali-kali tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, namun ia urungkan kembali.

Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa Sarah dan Tachi tidak pulang ke rumah semalaman.

Rafli mungkin akan terkena serangan jantung seketika seandainya ia tahu bahwa tindakannya yang kerap melanggar pantangan, berhubungan intim terlalu larut menggunakan perasaan dengan wanita lain selain Sarah, telah memicu sihir Bulu Perindu di tubuh Sarah retak, hingga membuat istrinya memuntahkan gumpalan darah hitam dan memicu dorongan bunuh diri akibat benturan energi gaib.

Merasa tidak ada suara dari dalam, Rafli akhirnya memutuskan mengirimkan pesan singkat ke nomor Sarah.

[Sarah Sayang, kamu belum bangun? Sudah salat dhuha belum? Hari ini aku ada janji bertemu dengan pelanggan sepatu, mungkin baru pulang ke rumah agak sore. Nanti kita jalan-jalan, ya.]

[Oh iya, hari ini Tachi ulang tahun, kan? Bagaimana kalau nanti kita main salju-saljuan aja di mall. Tachi suka salju, bukan?] tambah Rafli, baru teringat kalau hari ini adalah hari jadi anak tirinya, putra Sarah dengan pria Jepang sebelum dirinya.

Rafli menunggu selama lima menit, namun pesan yang dikirimkannya tidak kunjung menunjukkan tanda centang dua biru, bahkan centang dua abu-abu pun tidak. Kesal karena diabaikan, Rafli akhirnya menekan handle pintu kamar Tachi.

Cklek! Pintu itu terkunci rapat dari dalam dan tidak bisa dibuka.

Rafli menempelkan telinganya ke daun pintu, mencoba mendengarkan lamat-lamat. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan atau suara napas Sarah yang biasanya masih mendengkur halus bersama Tachi di dalam kamar.

Sambil mendengus kesal karena mengira istrinya sengaja mengunci diri akibat merajuk soal uang setengah miliar kemarin, Rafli melangkah mundur. Pria itu benar-benar belum memiliki firasat buruk apa pun, sama sekali tidak tahu bahwa kesadaran murni Sarah telah mulai kembali.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
nah tuh kelaurga toxic, moga aja sarah ceoat lepas dr jampi2 kel rafli, enak aja dijadikan dapi perah
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
sering2 aja rafli langgar pantangan nanti juga sarah bisa lepas sendiri kan
goodnovel comment avatar
Hum Hum
ya elahh ibunya Rafli duwit mulu, Rafli jg kebangetan uang ratusan juta hampir habis cuma buat foya" sama selingkuhanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    187.

    Sarah berjongkok di depan makam Shigeki Tashiro yang terawat sangat rapi dengan rumput hijau tumbuh halus."Assalamu'alaika, Shi-shi. Apa kabarmu dan putri kita di sana?" ucap Sarah sangat lirih seraya membasuh batu nisan Shigeki Tashiro yang bahkan tidak terdapat setitik debu pun."Maaf... aku mengkhianatimu, Shi-shi. Aku... aku menikah lagi," tambah Sarah sembari meraih jemari Ethan yang berdiri membisu di sebelahnya, menatap khidmat makam pria yang pernah begitu dicintai oleh Sarah."Namanya Ethan. Ethan Volkov. Dia sepupuku dari keluarga Mama kandungku. Oh ya, apakah kau sudah bertemu Mama dan Papaku di sana, Shi-shi? Jangan lupa ajak Isabella, putri kita, untuk bermain bersama Nenek dan Kakeknya, ya?""Aku mencintaimu, Shi-shi, sama seperti dulu. Dan cinta ini akan selalu tersimpan rapat dalam hatiku... meski kini aku juga mencintai Ethan Volkov.""Maafkan aku, Shi-shi..." lirih Sarah tak lagi sanggup menahan isak tangisnya dan air mata pun meluncur deras membanjiri pipinya.Etha

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    186. Welcome Paulina, Jepang!

    Setelah menempuh perjalanan panjang semalaman dari Moskow menggunakan penerbangan komersial kelas first class, Ethan dan Sarah akhirnya mendarat mulus di Bandara Haneda, Tokyo, saat matahari musim dingin baru saja membumbung di langit pagi. Aroma dingin yang menusuk khas akhir tahun di Jepang langsung menyambut begitu Ethan membimbing Sarah melangkah keluar dari area kedatangan. Sebuah mobil eksklusif sudah menunggu di pelataran. Di samping kendaraan tersebut, seorang gadis muda berbusana kerja rapi yang dibalut mantel musim dingin langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan Sarah dan Ethan. "Selamat datang di Jepang, Sarah Nee-chan," sapa gadis itu seraya mengulurkan tangan pada Sarah terlebih dahulu, sebelum kemudian memberi penghormatan sopan kepada Ethan. "Apa kabar, Paulina?" balas Sarah ramah, memandang gadis yang kini tampak jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka bertatap muka. "Sangat baik, Nee-chan. Obaachan sudah sering menanyakan Nee-chan dan beliau sep

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    185.

    Tak lama kemudian, pintu lounge bergeser terbuka. Udara dingin seakan ikut menyelinap masuk seiring kehadiran Ethan. Pria itu melangkah masuk dengan setelan jas formal yang coat-nya sedikit terbuka. Aura dominan dan ketegasannya masih menguar pekat, menandakan urusan "bersih-bersih" di kantor pusat telah tuntas sepenuhnya.Di belakang Ethan, Madam Maria melangkah tenang didampingi Disava, sementara Brian dan Sergei mengekor rapat dengan ekspresi kelegaan yang nyata di wajah mereka.Sarah langsung bangkit berdiri, melangkah cepat ke arah Madam Maria dan segera memeluk neneknya itu erat-erat. Ini adalah pelukan paling erat, paling tulus, dan paling penuh kasih yang pernah Sarah berikan untuk Madam Maria."Maafkan Grandma, Sayang..." bisik Madam Maria dengan isak tangis tertahan."Maafkan Sarah juga yang sempat berburuk sangka... berpikir Grandma tidak menyukai Papa dan berniat membunuhnya agar Mama kembali ke keluarga Volkov," cicit Sarah pelan, ikut berurai air mata."Itu tidak benar,

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    184.

    Malam pun berangsur turun, menyelimuti VDNKh Park dalam keindahan lampu-lampu kristal salju yang berkilauan bagai ribuan berlian.Di tengah udara malam yang semakin menggigit, rombongan keluarga kecil dari Indonesia itu memilih untuk beristirahat di sebuah VIP lounge eksklusif berpenghangat ruangan yang menyuguhkan pemandangan malam taman salju yang begitu menakjubkan melalui dinding kaca raksasanya."Ini benar-benar sangat indah..." bisik Catherine sambil merangkul pundak Sarah yang duduk di sofa tunggal, menatap takjub pemandangan di luar jendela kaca raksasa."Terima kasih banyak, Ra," tambah wanita yang kini telah resmi menjadi saudari ipar Sarah tersebut seraya mengecup lembut pipi sahabatnya.Dewa mendudukkan dirinya tepat di sebelah sofa tempat Sarah duduk, membawa dua gelas sbiten, minuman madu hangat tradisional Rusia, lalu menyerahkan satu gelas kepada Sarah."Keindahan ini tiada artinya jika tidak bersama kalian. Sungguh, ini adalah pengalaman yang tak akan bisa aku lupakan

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    183. Jalan-jalan

    Sarah akhirnya terbangun dari lelapnya ketika mendengar dering ponselnya sendiri, meskipun Bu Indar dengan sigap sudah lebih dulu mengangkat dan menjawab panggilan yang ternyata dari Ethan tersebut."Ibu... kapan Ibu datang?" tanya Sarah begitu melihat Bu Indar sudah memutuskan panggilan di ponselnya."Sudah dari tadi. Ethan meminta Ibu datang bersama Tachi, agar kau tidak kesepian di kamar atau menemanimu jika ingin pergi jalan-jalan keluar."Sarah langsung menoleh ke sisi ranjang, melihat Tachi yang berbaring miring dengan posisi seolah masih memeluk erat tubuhnya. Sangat manis dan menggemaskan. "Kau ingin makan siang sekarang? Tadi Ethan menghubungi, katanya dia belum bisa pulang untuk makan siang bersamamu.""Belum terlalu lapar," sahut Sarah malas-malasan, lalu kembali merebahkan tubuhnya untuk memeluk Tachi yang masih tertidur pulas."Tadi Ibu memijat kaki Sarah, ya? Terima kasih banyak, Bu..." tambah Sarah ketika Bu Indar turut mendudukkan diri di tepi ranjang, lanjut memijat p

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    182.

    Kantor pusat Volkov Holdings tampak sibuk seperti biasa, seluruh aktivitas berjalan normal. Namun, suasana itu sama sekali tidak berlaku di dalam ruang rapat utama.Para pemegang saham berkumpul, duduk melingkar dengan ketegangan yang bisa dirasakan oleh siapa saja yang bernapas di dalam ruangan itu, termasuk tim legal independen asal Jenewa, Swiss, yang beranggotakan Disava.Suasana di dalam ruang rapat mendadak berubah beku begitu Ethan melangkah masuk. Aura dingin dan dominan langsung menguar dari sosok pria itu, seolah menegaskan bahwa sang pemimpin singa yang sering mendelegasikan rapat pada Brian kini hadir sepenuhnya untuk mengintimidasi.Wajah manja dan konyol yang diperlihatkan Ethan beberapa menit lalu saat bersama Sarah di kamar hotel telah lenyap tanpa sisa. Sorot mata lembut penuh kasih yang biasa ia berikan pada Tachi juga tergantikan oleh tatapan tajam, setajam pisau bedah.Ethan mengedarkan pandangan dinginnya memindai seluruh penjuru ruangan, sepenuhnya mengabaikan sen

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    7.

    Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    5.

    Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    4.

    Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    3.

    Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status