LOGINTak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini.
"Selamat pagi. Wah, tampaknya pasien saya sudah jauh lebih segar hari ini," sapa dr. Ali hangat.
Dokter tampan itu sempat mengusap bahu Tachi sekilas sebelum mendekati brankar Sarah untuk memeriksa denyut nadi dan pupil matanya menggunakan penlight.
"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi malam." tutur Sarah seraya tersenyum tipis.
Dokter Ali mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah Abah Rizal dan Bu Indar, seolah tahu bahwa keluarga ini sudah mulai membuka tabir rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sarah.
"Hasil lab Anda menyatakan tubuh Anda bersih dari zat adiktif medis, Nona Sarah. Tapi, gumpalan darah hitam dan dorongan lepas kendali semalam menunjukkan adanya 'benturan energi' yang sangat hebat di dalam kepala Anda," ujar dr. Ali dengan nada suara yang sengaja direndahkan agar tidak membuat Tachi ketakutan.
"Sekarang bagaimana perasaanmu?" tanya dokter Ali setelah beberapa detik kemudian.
"Saat ini pikiranku jauh lebih tenang. Hanya saja masih merasa sedikit sesak, sesuatu yang kosong dan hampa." jawab Sarah jujur.
Sarah menatap dr. Ali lekat-lekat, "Apakah ada obat yang bisa membuatku terbebas total dan sembuh dari ...kekacauan ini, Dok?"
Dokter Ali tersenyum samar, sebuah senyuman penuh makna yang mendalam. Ia mengedarkan pandangan pada Tachi, Abah Rizal dan Bu Indar sekilas, lalu meletakkan map laporan medis Sarah di atas meja, kemudian ia menatap lurus ke dalam netra jernih Sarah.
"Obat terbaiknya tidak ada di dalam botol kimia rumah sakit ini, Nona Sarah. Dan obat itu juga tidak bisa diberikan oleh orang luar," jawab dr. Ali tenang juga terdengar akrab.
Bibir Sarah sedikit terbuka, hendak bertanya tetapi ia urungkan.
"Bantuan dari saya, atau bahkan doa-doa dari orangtua, sifatnya hanya stimulan sementara. Pengaruh buruk yang sempat meretakkan benteng pikiran Nona mungkin saat ini sedang melemah karena suatu alasan. Namun, untuk bisa sembuh dan terlepas total, kuncinya ada pada kedaulatan diri Nona Sarah sendiri," lanjut dr. Ali, menjabarkan filosofi penyembuhan yang sesungguhnya.
Kelopak mata Sarah mengerjap pelan. Bu Indar meraih telapak tangan putrinya yang tidak ditusuk jarum infus, menggenggamnya erat, seolah menyalurkan kekuatan untuk Sarah.
"Sakit apa pun di dunia ini, musuh terbesarnya adalah kelalaian kita, dan obat paling mujarabnya adalah bagaimana kita mengelola pikiran serta kesadaran kita sendiri. Nona Sarah harus sadar utuh, mengakui dan menerima bahwa diri Nona sedang tidak baik-baik aja, lalu bangun kekuatan kesadaran murni itu dari dalam. Jiwa adalah rumah." ucap dr. Ali yang kemudian ia melirik Tachi dan anak lelaki itu membalasnya dengan senyuman lebar.
"Jika pemilik rumahnya sendiri yang berdiri tegak mengunci pintu dari dalam dengan kesadaran penuh, maka tidak akan ada satu pun entitas asing atau manipulasi luar yang bisa menembusnya lagi. Apakah Nona paham maksud saya?"
Kepala Sarah mengangguk dan bibirnya kembali tersenyum tipis, "Dokter Ali tidak seperti dokter pada umumnya. Anda sangat berpengalaman." puji Sarah tulus.
Kini, Sarah sangat mengerti. Ia tidak akan menunggu diselamatkan orang lain. Tetapi, dirinya sendiri yang harus bangkit dari dalam. Perlahan, ia menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya yang semula terasa berat dan hampa, dengan kekuatan baru yang terasa hangat juga kokoh.
"Terima kasih banyak, dokter Ali. Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika tanpa bantuan Anda."
Dokter Ali tersenyum tipis, "Mungkin itu yang di sebut takdir. Takdir jika Nona Sarah sudah harus kembali ke diri sendiri ...juga ada putra yang jenius selalu mendampingi."
**
Rafli pulang ke rumah tinggalnya bersama Sarah saat matahari sudah terang setelah semalaman memadu kasih bersama Vania, wanita blasteran Turki yang bekerja di perusahaan besar, V.M Company.
Wajah Rafli terlihat puas dan cerah. Bibirnya tak bisa berhenti untuk tersenyum lebar, masih membayangkan malam indahnya bersama wanita cantik, muda dan menawan juga berkelas seperti Vania.
Namun, senyum di wajah pria yang menurut sebagian wanita menyebutnya tampan tersebut, memudar seketika begitu mendengar suara notifikasi ponselnya yang menampilkan kontak dengan nama 'Ibu' di layarnya.
[Rafli, Ibu butuh uang untuk bayar arisan lima juta rupiah. Tolong nanti mintain ke Sarah ya.]
Ibu, Ayah dan kakak perempuan Rafli akan selalu meminta uang dengan nominal lumayan setelah malam ritualnya mengendalikan Sarah. Mereka juga tahu jika Sarah tidak akan bisa berkutik untuk menolak apapun permintaan sesudah dilakukan malam ritual.
Tetapi, Rafli tidak melakukan ritual dengan Sarah tadi malam, melainkan dengan Vania, wanita baru yang telah lama memberikan kode 'terbuka' padanya.
“Ya. Sarah masih belum bangun. Nanti aku coba bilang padanya.”
[Kok coba bilang padanya? Biasanya Sarah 'kan selalu menurut, apa kau semalam tidak sukses menjalani ritual?] balas pesan dari Ibunya Rafli.
“Sarah masih belum bangun, Bu. Kelelahan tadi malam. Ibu paham kan, soal ritualnya?” Rafli memberikan balasan pendek tanpa menjelaskan jika ia berbohong.
Uang seratus juta yang ia pinjam ke Sarah kemarin, sudah hampir habis ia pakai untuk foya-foya mentraktir Vania yang mengajaknya makan malam di restoran mewah, membayarkan belanjaan wanita itu senilai puluhan juta dan berakhir mereka menginap di hotel yang juga tidak main-main mewahnya.
Rafli memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu berjalan mondar-mandir di depan kamar Tachi. Berkali-kali tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, namun ia urungkan kembali.
Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa Sarah dan Tachi tidak pulang ke rumah semalaman.
Rafli mungkin akan terkena serangan jantung seketika seandainya ia tahu bahwa tindakannya yang kerap melanggar pantangan, berhubungan intim terlalu larut menggunakan perasaan dengan wanita lain selain Sarah, telah memicu sihir Bulu Perindu di tubuh Sarah retak, hingga membuat istrinya memuntahkan gumpalan darah hitam dan memicu dorongan bunuh diri akibat benturan energi gaib.
Merasa tidak ada suara dari dalam, Rafli akhirnya memutuskan mengirimkan pesan singkat ke nomor Sarah.
[Sarah Sayang, kamu belum bangun? Sudah salat dhuha belum? Hari ini aku ada janji bertemu dengan pelanggan sepatu, mungkin baru pulang ke rumah agak sore. Nanti kita jalan-jalan, ya.]
[Oh iya, hari ini Tachi ulang tahun, kan? Bagaimana kalau nanti kita main salju-saljuan aja di mall. Tachi suka salju, bukan?] tambah Rafli, baru teringat kalau hari ini adalah hari jadi anak tirinya, putra Sarah dengan pria Jepang sebelum dirinya.
Rafli menunggu selama lima menit, namun pesan yang dikirimkannya tidak kunjung menunjukkan tanda centang dua biru, bahkan centang dua abu-abu pun tidak. Kesal karena diabaikan, Rafli akhirnya menekan handle pintu kamar Tachi.
Cklek! Pintu itu terkunci rapat dari dalam dan tidak bisa dibuka.
Rafli menempelkan telinganya ke daun pintu, mencoba mendengarkan lamat-lamat. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan atau suara napas Sarah yang biasanya masih mendengkur halus bersama Tachi di dalam kamar.
Sambil mendengus kesal karena mengira istrinya sengaja mengunci diri akibat merajuk soal uang setengah miliar kemarin, Rafli melangkah mundur. Pria itu benar-benar belum memiliki firasat buruk apa pun, sama sekali tidak tahu bahwa kesadaran murni Sarah telah mulai kembali.
Ketika Brian kembali ke Yaroslavl dengan wajah berseri-seri, Mister Konstantin justru sedang sibuk membantu merapikan mantel tebal di tubuh Tachi yang akan ia bawa menemaninya pulang ke Moskow."Kenapa kau tersenyum-senyum? Kau senang tim independen menemukan transaksi mencurigakan dari akun atas nama Grandma? Cepat sana bersiap-siap, ikut Praded pulang ke Moskow!" tegur Ethan dingin, melirik Brian dari sudut matanya."Baik, Bos!" sahut Brian patuh, "Tapi, Madam Maria tidak mungkin melakukan kecurangan itu, seperti mengeluarkan sejumlah dana untuk membayar pembunuh demi melenyapkan Anda dan Lady Sarah...""Praded tak berpikiran begitu. Sudahlah, kau temani saja beliau. Duduk seperti patung, jangan bicara jika tidak diminta, tetapi laporkan semuanya padaku!" potong Ethan cepat. Ethan sangat paham akan hubungan kakek buyut dan neneknya memang tidak pernah membaik sejak bertahun-tahun lalu, dimana mereka memutuskan tinggal terpisah, hampir tak pernah saling bertemu atau berkunjung.Bria
Sudah seminggu Sarah, Ethan, Tachi, Bu Indar, Mister Konstantin, dan Brian berada di Yaroslavl. Hari-hari mereka berjalan dengan sangat menyenangkan. Hanya Brian yang harus bolak-balik ke Moskow menggunakan helikopter untuk menghadiri rapat di Volkov Holdings sebagai perwakilan Ethan, sekaligus menemani Madam Maria.Audit internal yang diminta oleh Madam Maria masih berjalan alot. Namun, tim independen menemukan kejanggalan transaksi keuangan yang justru mengarah pada Madam Maria... dan Ethan sendiri.Sebelum hal tersebut dibawa ke rapat pemegang saham, Madam Maria memanggil Brian terlebih dahulu untuk berbicara empat mata."Mengenai hal ini, Saya bisa jelaskan," ucap Brian tenang begitu melihat berkas transaksi besar yang dilakukan Ethan saat mengakuisisi El Man Company milik Ted Mansouri."Ya, kau memang harus menjelaskan!" seru Madam Maria tegas. Saat ini, hanya ada dirinya dan Brian di dalam ruangan rapat yang luas tersebut."Bos Ethan mengakuisisi El Man Company semata-mata bukan
Sarah sudah selesai meracik satu botol parfum menggunakan instingnya, setelah mencium aroma dasar dari setiap parfum di dalam drawer."Ini... sangat lembut dan wangi. Ada kehangatan yang membuat pikiran merasa damai dalam seketika setelah menghirup aromanya," tutur Mister Konstantin setelah Sarah memberikan sampel di atas kertas uji pada kakek buyutnya itu."Kau sungguh berbakat, Nak."Kalimat itu bukan sekadar pujian, melainkan sebuah pernyataan. Mister Konstantin merasa sangat bangga pada Sarah."Praded akan buatkan satu, khusus hanya untukmu," bisik Mister Konstantin.Kakek buyutnya Sarah dan Ethan yang masih sehat tersebut, bergerak penuh keanggunan, meraih pipet dan mencium setiap aroma di dalam botol dengan khusyuk sambil memejamkan mata, sebelum meramunya ke dalam satu botol kosong.Tak lama kemudian, satu botol ramuan khusus pun selesai. Mister Konstantin menyerahkannya pada Sarah, yang langsung menyemprotkannya ke pergelangan tangan."Oh..."Sarah memejamkan mata. Ia mengangka
Sudut bibir Mister Konstantin tertarik samar. Ia menarik lembut kepala Sarah agar bersandar ke pundaknya, "Indar memang pelayan pribadi yang sudah dianggap sahabat oleh Anna. Tetapi hati Praded tahu, Indar tak akan mungkin melakukan perbuatan terkutuk itu... meracuni Anna atau pun Raphael."Tangan tua Mister Konstantin membelai lembut rambut Sarah, "Otak boleh jenius, Nak, tetapi kepekaan hati harus tetap dijaga dengan baik. Apakah kau pernah merasa Ibumu tidak menyayangimu dengan tulus?"Sarah memutar wajahnya, menyusupkan kepalanya ke dada Mister Konstantin. Pundaknya gemetar dan tangisnya pun akhirnya pecah. Beberapa detik lalu, ia sempat membisikkan prasangka buruk atas kesetiaan orang yang telah membesarkan dan mempertaruhkan nyawa untuk mencintainya dengan tulus.Setelah beberapa saat dan tangis Sarah mulai mereda, Mister Konstantin membawa Sarah bangkit berdiri. "Mari, kita lihat ruangan tempat Adeline biasa meracik parfum," ajaknya lembut.Sambil melangkah menelusuri lorong ha
Awalnya Mister Konstantin merasa sangat terhibur bermain dengan Ethan dan Tachi. Ia mencurangi Ethan yang akhirnya tak bisa berkutik saat wajah tampannya ditempeli kertas warna-warni, serta melihat bagaimana Tachi tertawa meledak sangat lucu dan menggemaskan."Kalian bermainlah, aku mau melihat Sarah dulu," ucap Mister Konstantin sebelum bangkit dari duduknya, meninggalkan Ethan dan Tachi yang masih tergelak melihat sang Daddy benar-benar seperti boneka penuh warna.Brian yang baru saja tiba di ruang keluarga untuk mengantarkan tablet kerja pada Ethan, mati-matian menggigit bibirnya agar tidak ikut menertawakan bos dinginnya yang kini memasang tatapan tajam membunuh padanya."Sekali saja kau tertawa, kupatahkan gigi depanmu!" geram Ethan cepat dalam bahasa Rusia agar tidak dipahami oleh Tachi.Ethan lalu menoleh pada Tachi yang sedang menyusun kayu Uno, "Daddy periksa pekerjaan dulu sebentar, nanti kita main lagi. Atau Tachi mau makan camilan?"Mendengar kata camilan, Tachi mengangguk
Pagi di Yaroslavl menyapa dengan kesunyian yang menenangkan. Kelopak mata Sarah sudah terbuka sejak beberapa menit lalu. Namun kaki Tachi yang menimpa pinggang serta memeluknya dari belakang masih belum bergeser. Anak itu masih pulas dan Sarah pun enggan melepaskannya, khawatir anak lelaki yang super aktif tersebut akan terbangun dan susah ditidurkan kembali.Tiba-tiba pintu kamar tempat Sarah dan Tachi tertidur terbuka dari luar."Kau... kenapa kau kemari?" tanya Sarah berbisik pada Ethan yang langsung merebahkan tubuh di sebelahnya."Tidur," sahut Ethan pendek. Ia menarik bantal kepala Sarah lalu membaringkan kepalanya tepat di dekat pundak wanitanya itu."Jangan aneh-aneh, Ethan!" geram Sarah mendorong dada Ethan yang memiringkan tubuh ke arahnya dengan kelopak mata terpejam, "Cepat keluar sebelum Tachi ikut terbangun karena ulahmu!""Kalau dia bangun, nanti kutidurkan kembali," Ethan menjawab santai.Rahang Sarah benar-benar mengencang menahan geram melihat kelakuan Ethan yang sud
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru







