Share

Bab 53

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-06-08 19:18:09

Aluna menatap potongan cake cokelat di depannya, lalu beralih menatap jemari Dirga yang masih bertengger hangat di bahunya. Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Aluna langsung menyadari sesuatu.

Aroma parfum maskulin Dirga yang begitu dekat dengannya, sentuhan lembut pria itu di bahunya, hingga air matanya yang baru saja dihapus oleh pria yang bukan suaminya seketika memicu alarm bahaya di dalam benak Aluna.

“Apa yang sedang kulakukan?” batin Aluna menjerit panik.

Ia adalah seor
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 75

    Wajah Ragil tampak begitu kusut. Setelan kemeja kerja mahalnya sudah berantakan dengan kancing atas yang terbuka, sedangkan dasinya pun sudah terlepas dan tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.Aluna yang masih berdiri mematung dengan sepasang mata membelalak sempurna di ambang pintu. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi ketika Ragil melangkah lebar dan langsung memeluk erat tubuhnya. Ragil mendekap Aluna begitu kencang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, seolah-olah dirinya sedang ketakutan yang akan kehilangan wanita itu dari hidupnya.“Mas…” lirih Aluna. Kedua tangannya menggantung kaku di udara dan tampak ragu untuk membalas dekapan tersebut.“Kamu dari mana saja? Aku sudah menunggu kamu di sini dari tadi, Luna,” bisik Ragil dengan suara yang serak dan bergetar tepat di telinga Aluna.Dahi Aluna mengernyit di balik dekapan hangat pria itu. Ia benar-benar tidak habis pikir melihat peruba

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 74

    Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan sindiran tajam dari Anggun terus berdenging berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa batin.Di tengah langkahnya yang tertatih, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti mendadak tepat di sampingnya yang membuat wanita itu tersentak kecil. Ketika pengendara itu membuka kaca helm hitamnya, barulah Aluna menyadari jika pria itu adalah pria yang sangat dikenalnya.“Al? Kamu kenapa? Ngapain siang-siang begini jalan kaki di trotoar? Ini lagi panas banget, Al. Nggak baik untuk kondisi kamu,” tanya Dirga beruntun dengan nada suara yang dipenuhi rasa panik sekaligus heran melihat kondisi kacau wanita di hadapannya.Aluna tidak langsung menjawab. Sepasang matanya mendadak berkaca-ka

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 73

    “Ini sudah hampir satu minggu, Mas. Bagaimana kelanjutannya? Kenapa sampai hari ini Anggun belum juga dipindahkan dari posisi sekretaris kamu?”“Bisa tidak, kita tidak usah membahas ini dulu?!”Ragil meletakkan sendoknya cukup keras ke atas piring porselen hingga menyebabkan bunyi denting yang nyaring dan memekakkan telinga. Suara yang tiba-tiba menggelegar di dalam keheningan ruangan itu seketika membuat Aluna terlonjak kaget. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan tangannya yang semula berada di atas pangkuan refleks mencengkeram kain gaun hamilnya sendiri.Badan wanita itu sempat gemetar halus. Ada kilat trauma yang merayap di dadanya, karena lagi-lagi dirinya harus melihat wajah Ragil yang mulai mengeras dengan urat-urat di sekitar rahang yang mengetat menahan amarah yang siap meledak. Namun sekuat tenaga Aluna menahan rasa takut itu jauh-jauh.Ia memaksa kedua matanya untuk tetap terbuka dan menatap lurus ke depan. Aluna sudah memutuskan di dalam hatinya bahwa dirinya tida

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 72

    Langkah kaki Aluna yang dibalut sepatu ber-hak rendah terdengar berketuk teratur di atas lantai marmer lobi yang mengkilap. Sesaat sebelum dirinya tiba di depan lift eksekutif yang akan membawanya ke lantai teratas, Aluna memilih untuk membelokkan arah langkahnya menuju meja resepsionis yang melingkar megah di tengah lobi utama gedung.Dua orang petugas resepsionis yang sedang sibuk menyortir dokumen seketika mendongak. Begitu menyadari siapa sosok wanita hamil bergaun putih gading yang sedang berjalan ke arah mereka, senyum profesional mereka langsung berubah menjadi senyum yang sangat ramah.“Siang, Bu Aluna,” sapa salah satu resepsionis wanita dengan sopan.Aluna membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman manis yang sangat hangat. “Siang, Mbak. Saya mau bertanya, apakah tadi ada kurir yang mengantarkan makanan pesanan atas nama saya ke sini?”Resepsionis itu mengangguk dengan cepat. “Oh, ada, Bu. Baru saja sekitar sepuluh menit yang lalu tiba. Sebentar ya, Bu, saya ambilkan dulu.”

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 71

    “Mbak, ini tolong dilanjutkan, ya. Tinggal tunggu sampai airnya sedikit menyusut dan matang saja, kok. Saya mau mandi dan bersiap-siap dulu di atas.”“Baik, Non Luna. Serahkan saja pada saya,” sahut sang ART sembari mengangguk patuh.Aluna bergegas melangkah naik ke lantai atas setelah menitipkan kompor yang masih menyala pada salah satu pekerja setia di rumah ayahnya itu. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit siang. Aluna tahu dirinya tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Ia harus segera bersiap diri agar bisa tiba di kantor Ragil tepat saat jam istirahat makan siang dimulai.Sejak mendapatkan suntikan semangat dan dukungan emosional dari Dirga di kantin rumah sakit kemarin, rasa percaya diri di dalam dada Aluna kian bertambah pesat. Ia semakin ingin melangkah maju dan menunjukkan dengan tegas kepada Anggun bahwa dirinya adalah tokoh utama wanita yang mutlak dalam cerita hidup Ragil. Aluna ingin menegaskan bahwa posisinya sebagai istri sah

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 70

    Mendengar nama yang disebut oleh Aluna membuat Dirga mengernyitkan dahinya beberapa saat. Lipatan tipis muncul di antara kedua alisnya, menandakan bahwa otak pria itu sedang menggali sesuatu dari ingatannya. Rasanya nama itu memang tidak asing di telinganya. Ada ingatan familiar yang melintas, tetapi Dirga tampak lupa di mana persisnya ia pernah mendengar atau bertemu dengan pemilik nama tersebut.“Dia sekretaris baru Mas Ragil,” sela Aluna cepat. Wanita itu paham betul bahwa Dirga sedang menerka-nerka dan berusaha mengingat, hingga akhirnya ia langsung memberikan penjelasan singkat untuk memotong kebingungan pria di hadapannya.“Ooh… iya, iya. Aku ingat sekarang,” sahut Dirga akhirnya, mengangguk lambat seiring ingatannya yang kembali pulih. “Memangnya kenapa dengan sekretarisnya itu?” tanya Dirga kemudian lalu menatap Aluna dengan sepasang mata yang dipenuhi rasa ingin tahu.Aluna mendadak dirayapi rasa ragu. Di bawah tatapan dalam Dirga, ia mendadak bimbang untuk menanyakan hal yan

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 65

    Bayangan dari untaian kata yang diucapkan oleh Anggun tadi siang masih membekas begitu dalam di ingatan Aluna. Luka itu terasa basah dan berdenyut nyeri. Bahkan hingga malam telah datang dan menyelimuti kota, Aluna masih memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya dalam kondisi yang gelap gulita.

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 64

    Anggun berjalan maju tanpa keraguan sedikit pun. Dengan dagu terangkat dan langkah kaki yang sengaja dihentak di atas lantai, ia ikut masuk ke dalam lift yang memang dikhususkan untuk para petinggi perusahaan dan tamu VIP itu. Wanita itu tidak mengambil jarak dengan istri atasannya itu. Wanita itu

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 63

    “Atau… aku minta sama ayah aja nanti.”“Stop, Lun. Kamu mau mempermalukan aku di depan ayah dan direksi lain?” Suara Ragil mulai meninggi.“Aku tidak pernah berniat untuk mempermalukan kamu, Mas. Aku melakukan ini demi kita,” jawab Aluna.“Demi kita? Apanya yang demi kita? Ini hanya demi ego kamu,

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 62

    “Aku hanya menegur apa yang seharusnya ku tegur, Mas.”Suara Aluna terdengar begitu tenang dan datar. Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh penekanan.Ia melangkah santai menuju sofa yang berada di tengah ruangan luas tersebut. Dengan gerakan anggun, ia meletakkan tas jinjingnya di atas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status